NovelToon NovelToon
Kami Lahir Tanpa Namamu

Kami Lahir Tanpa Namamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Anak Genius / CEO / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Satu malam.
Tanpa rencana.
Tanpa nama.
Tanpa masa depan.
Aluna tidak pernah berniat masuk ke dalam hidup pria itu. Ia hanya menggantikan sahabatnya yang sakit, mengenakan seragam hotel, dan berharap bisa pulang dengan selamat. Namun di balik pintu kamar hotel mewah, ia terjebak dalam situasi berbahaya—tarikan paksa, ketakutan, dan batas yang nyaris hancur.
Malam itu bukan tentang cinta.
Bukan tentang rayuan.
Melainkan tentang dua orang asing yang sama-sama terperangkap dalam keadaan salah.
Aluna melawan. Menolak. Tak pasrah.
Namun ketika segalanya berhenti di titik abu-abu, sebuah keputusan keliru tetap tercipta—dan meninggalkan luka yang tak langsung terlihat.
Ia pergi tanpa menoleh.
Tanpa tahu nama pria itu.
Tanpa ingin mengingat malam yang hampir menghancurkan dirinya.
Lima tahun kemudian, Aluna telah menjadi wanita tangguh—cantik, elegan, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Ia membesarkan tiga anak kembar dengan kelebihan luar biasa, tanpa sosok ayah, tanpa cerita masa lalu. Bersa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Sore itu, grup keluarga Arka kembali ramai.

Bukan drama.

Bukan tuduhan.

Tapi pembahasan serius.

Alden yang pertama buka suara.

“Arka nggak main-main. Dia stay di kota itu hampir dua minggu.”

Ibunya jawab santai.

“Dan kamu pikir itu kebetulan?”

Alden geleng.

“Enggak. Makanya aku bilang kita harus dukung dengan cara yang benar, bukan cara keluarga kita yang biasa.”

Ayah Arka duduk lebih tenang dari biasanya.

“Kita terlalu lama hidup dengan prinsip nama lebih penting dari rasa.”

Ibunya menatap suaminya.

“Kamu berubah.”

Ayahnya cuma senyum tipis.

“Karena saya lihat anak itu berubah.”

Sunyi sebentar.

Lalu ibu Arka lanjut pelan.

“Aruna itu bukan perempuan yang cari aman. Dia hidup tanpa sandaran keluarga. Tanpa orang tua. Tanpa warisan. Dia bangun semuanya sendiri.”

Alden menambahkan,

“Dan dia nggak pernah datang minta apa pun.”

Kalimat itu penting.

Karena itu yang bikin keluarga Arka mulai melunak.

Bukan karena kasihan.

Tapi karena hormat.

–––

Di kota Aruna.

Arka lagi duduk di teras sama ayahnya yang sengaja datang sendirian kali ini.

Bukan untuk interogasi.

Bukan untuk menguji.

Tapi untuk bicara sebagai laki-laki.

“Kamu sadar konsekuensinya?” tanya ayahnya pelan.

Arka angguk.

“Nama keluarga akan ikut.”

“Bukan cuma nama. Tanggung jawab.”

“Aku tahu.”

Ayahnya menatapnya lama.

“Dulu kamu lari.”

“Iya.”

“Sekarang?”

“Aku capek lari.”

Sunyi.

Ayahnya nggak marah.

Nggak juga memuji.

“Hidup tanpa keluarga itu keras. Kamu nggak tahu karena kamu selalu punya kita.”

Arka menunduk sedikit.

“Aku lagi belajar tahu.”

Ayahnya lanjut,

“Kalau kamu serius dengan Aruna, jangan cuma jadi tamu di hidupnya. Jadi rumah.”

Kalimat itu nggak tinggi nadanya.

Tapi dalam.

–––

Di dalam rumah, ibu Arka duduk bareng Aruna di ruang tengah.

Nggak ada nada dingin lagi.

“Kamu nggak perlu takut kami akan ambil anak-anak,” katanya pelan.

Aruna langsung jawab jujur.

“Saya sempat takut.”

“Wajar.”

Ibunya Arka menatap anak-anak yang lagi debat soal siapa paling pintar matematika.

“Kami bukan keluarga sempurna. Tapi kami bukan keluarga yang merampas.”

Aruna mengangguk.

“Saya cuma nggak mau mereka merasa jadi rebutan.”

Ibunya tersenyum tipis.

“Mereka bukan barang. Mereka cucu.”

Lalu ibu Arka menambahkan pelan,

“Kami mendukung hubungan kalian. Tapi kami juga mau lihat prosesnya benar.”

“Proses?” tanya Aruna.

“Pernikahan bukan solusi panik.”

Aruna angguk pelan.

“Saya nggak mau menikah karena tekanan.”

“Bagus.”

Ada jeda kecil.

Lalu ibu Arka bertanya lebih lembut,

“Kamu masih marah sama Arka?”

Aruna nggak langsung jawab.

“Saya nggak marah lagi. Tapi saya belum sepenuhnya percaya.”

“Dan itu wajar.”

Nggak ada drama.

Nggak ada tangisan besar.

Cuma dua perempuan yang sama-sama tahu rasanya mempertahankan keluarga.

–––

Malamnya, keluarga Arka makan malam bareng.

Bukan acara resmi.

Bukan meja panjang penuh formalitas.

Cuma meja biasa, agak sempit, tapi ramai.

Arkana duduk di sebelah neneknya.

“Papa dulu ranking berapa?”

Alden langsung jawab,

“Dua puluh dua.”

“Eh!” Arka protes.

Semua ketawa.

Ayah Arka melihat itu semua dengan diam yang hangat.

Bukan karena dia baru tahu.

Bukan karena dia terkejut.

Tapi karena akhirnya—

Hubungan ini bukan lagi dibicarakan dari jauh.

Sudah dijalani.

–––

Setelah makan, Alden narik Arka ke samping.

“Lo tahu kan, keluarga kita nggak bakal ganggu selama lo serius?”

Arka angguk.

“Tapi kalau lo sakiti dia lagi…”

Arka potong pelan.

“Gue tahu.”

Alden senyum kecil.

“Bagus. Karena kali ini bukan cuma Aruna yang lo hadapi.”

Arka paham.

Kali ini ada tiga anak.

Ada ibu yang membesarkan sendiri.

Ada keluarga besar yang mulai menerima.

Ini bukan lagi hubungan diam-diam.

Ini keluarga.

–––

Di kamar, Aruna duduk sendirian sebentar.

Ibunya Arka masuk pelan.

“Kamu nggak sendiri lagi. Jangan biasakan menahan semuanya sendiri.”

Aruna menatapnya.

“Saya terbiasa.”

“Sekarang pelan-pelan biasakan berbagi.”

Dan itu bukan nasihat keras.

Tapi ajakan.

–––

Keluarga Arka bukan lagi pihak luar yang curiga.

Mereka sudah tahu.

Sudah melihat.

Sudah menilai.

Dan sekarang—

Mereka memilih mendukung.

Bukan karena terpaksa.

Bukan demi nama baik.

Tapi karena Arka akhirnya berdiri sebagai ayah.

Dan Aruna berdiri sebagai perempuan yang nggak pernah minta diselamatkan—

Tapi akhirnya layak ditemani.

Cerita ini nggak mundur.

Nggak mengulang.

Tapi maju pelan.

Karena keluarga bukan dibentuk oleh satu keputusan besar.

Tapi oleh keberanian kecil yang diulang setiap hari.

Dan sekarang—

Semua pihak sudah masuk.

Bukan sebagai lawan.

Tapi sebagai lingkaran yang mulai menyatu.

Hari itu nggak ada drama besar.

Tapi ada satu hal yang beda.

Semua orang mulai bergerak, bukan cuma ngomong.

–––

Pagi di rumah Aruna lebih ramai dari biasanya.

Ibunya Arka bantu di dapur.

Bukan karena nggak ada ART di rumahnya sendiri.

Tapi karena dia mau tahu cara Aruna hidup.

“Kamu biasa masak sendiri?” tanyanya sambil potong sayur.

“Iya. Anak-anak lebih suka rasa rumah.”

Ibunya senyum kecil.

“Arka dulu juga susah makan kalau nggak masakan saya.”

Aruna sedikit kaget.

“Dia nggak pernah cerita.”

“Karena dia jarang cerita yang lembut.”

Kalimat itu bikin Aruna mikir.

Mungkin Arka memang selalu menyimpan sisi rapuhnya terlalu dalam.

–––

Di ruang tamu, ayah Arka lagi duduk bareng Arven.

Bukan ngobrol berat.

Cuma main catur kecil.

“Kamu tahu aturan mainnya?” tanya ayah Arka.

“Tahu. Tapi aku suka ubah strategi.”

Ayah Arka senyum tipis.

“Bagus. Hidup juga begitu.”

Arven nengok.

“Kakek marah nggak kalau aku kalah?”

“Kenapa harus marah?”

“Kadang orang dewasa nggak suka kalah.”

Ayah Arka diam sebentar.

“Kakek lebih takut kalau kamu nggak mau belajar.”

Percakapan kecil itu sederhana.

Tapi perlahan jarak mulai hilang.

–––

Sementara itu, Arka dan Alden berdiri di teras.

“Lo sadar nggak,” Alden ngomong pelan, “ini pertama kalinya keluarga kita benar-benar datang bukan buat bisnis?”

Arka ketawa kecil.

“Iya.”

“Dan jangan rusak itu.”

Arka jawab santai tapi serius.

“Gue nggak mau hidup gue cuma diukur dari rapat dan saham lagi.”

Alden meliriknya.

“Lo jatuh cinta lagi?”

Arka nggak langsung jawab.

“Gue lagi belajar cinta tanpa kabur.”

Alden angguk pelan.

“Itu baru lo.”

–––

Siangnya, anak-anak tiba-tiba bikin keributan kecil.

Arkana nangis karena Arsha nggak mau berbagi mainan.

Aruna reflek berdiri.

Tapi sebelum dia sampai, ibunya Arka sudah jongkok di depan mereka.

“Kalau marah, ngomong. Jangan tarik.”

Arsha cemberut.

“Takut diambil.”

Ibunya Arka nggak marah.

“Takut itu boleh. Tapi nggak semua orang mau ambil.”

Kalimat itu nggak cuma buat anak-anak.

Aruna yang dengar dari dapur tahu itu juga untuknya.

–––

Sore menjelang.

Semua duduk bareng.

Ayah Arka akhirnya buka topik yang selama ini mengambang.

“Kalian sudah pikir tanggal?”

Aruna dan Arka saling pandang.

Belum.

Bukan karena ragu.

Tapi karena nggak mau terburu-buru.

Aruna jawab pelan.

“Kami ingin anak-anak benar-benar siap dulu.”

Ayah Arka angguk.

“Itu keputusan dewasa.”

Ibunya menambahkan,

“Kami mendukung. Tapi jangan terlalu lama juga menunda karena takut.”

Arka menatap Aruna.

“Kita nggak lagi sembunyi.”

Aruna balas tatapannya.

“Iya.”

Dan untuk pertama kalinya, kalimat itu terasa ringan.

–––

Malamnya sebelum keluarga Arka pulang ke hotel, Arsha mendekat ke kakeknya.

“Kakek… kalau nanti Bunda nikah, kita pindah rumah besar?”

Ayah Arka tersenyum.

“Rumah besar belum tentu lebih hangat.”

Arsha mikir.

“Aku suka rumah ini.”

Aruna langsung terdiam.

Ibunya Arka menambahkan lembut,

“Kalian nggak akan dipaksa pindah kalau belum mau.”

Arven langsung nyeletuk,

“Kalau papa yang pindah ke sini aja?”

Semua ketawa.

Arka angkat bahu.

“Gue fleksibel.”

Alden langsung celetuk,

“CEO pindah rumah kontrakan. Breaking news.”

Arka santai.

“Lebih ribet ngatur hati orang daripada ngatur perusahaan.”

Ibunya cuma geleng kepala, tapi senyum.

–––

Setelah keluarga Arka pergi, rumah kembali tenang.

Aruna duduk di sofa.

Capek, tapi bukan capek yang berat.

Arka duduk di sebelahnya.

“Kamu oke?”

Aruna angguk.

“Aku nggak nyangka bakal semulus ini.”

“Karena kamu selalu siap perang.”

Aruna senyum tipis.

“Iya.”

Arka lanjut pelan,

“Keluargaku nggak sempurna. Tapi mereka nggak jahat.”

“Aku tahu sekarang.”

Sunyi yang nyaman.

Anak-anak sudah tidur.

Rumah hangat.

Arka akhirnya bicara lebih pelan lagi.

“Run.”

“Iya.”

“Kita nggak perlu buru-buru. Tapi aku mau pastikan satu hal.”

“Apa?”

“Aku nggak cuma datang untuk menikahimu. Aku datang untuk menetap.”

Aruna menatapnya lama.

“Kali ini aku percaya setengah.”

Arka tersenyum.

“Setengah dulu juga nggak apa-apa.”

Karena hubungan mereka bukan lagi tentang meyakinkan dunia.

Bukan tentang keluarga yang merestui.

Bukan tentang nama besar yang harus diselamatkan.

Sekarang—

Tentang dua orang yang sama-sama belajar nggak takut lagi punya rumah.

Dan keluarga Arka?

Mereka bukan lagi bayangan tekanan.

Mereka jadi jembatan.

Pelan.

Realistis.

Tanpa drama berlebihan.

Cerita ini nggak loncat.

Nggak muter.

Tapi maju perlahan—

Menuju keputusan besar yang kali ini nggak diambil karena terdesak.

Tapi karena semua pihak akhirnya siap berdiri di sisi yang sama.

1
Lisa
Kasihan y Mira..udh balik aj ke rmhnya Aruna..
Lisa
Bahagia selalu y Arka, Aruna & ketiga anaknya
Risal Fandi
rekomend banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!