NovelToon NovelToon
Warisan Saudara Kembar

Warisan Saudara Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Janda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Musik techno yang berdentum keras di sebuah bar eksklusif di Jakarta Selatan tidak mampu meredam kekesalan yang meluap dari dada Celine. Di depannya, dua botol minuman keras sudah terbuka. Teman-temannya, sekelompok sosialita yang hanya peduli pada gosip dan barang branded, mendengarkan dengan tatapan ngeri sekaligus penasaran.

"Masa ya, guys. Awan yang biasanya selalu manjain gue! Sekarang malah jadi kacung dari istri kembarannya yang udah mati itu!" Celine berteriak di antara dentuman musik, wajahnya memerah karena alkohol dan amarah.

Ia menyentuh sudut bibirnya yang sudah tidak sakit, tapi harga dirinya masih terasa hancur. "Dia kayak nggak ada harga diri. Dia kemarin nampar gue cuma gara-gara gue bilang kalau Jasmine ngasih tubuhnya buat dia!"

Teman-temannya saling berpandangan. "Serius, Cel? Awan yang kaku itu nampar lo demi si janda?"

"Iya! Gue rasa gue perlu sedikit ngasih si Jasmine itu pelajaran biar dia nggak seenaknya," desis Celine sambil mencengkeram gelasnya kuat-kuat. Mata liciknya berkilat di bawah lampu diskotik yang berkelap-kelip. "Dia pikir dengan hamil anak Hero, dia bisa ambil Awan dari gue? Mimpi!"

Seminggu telah berlalu sejak tanah makam Hero mengering. Di rumah besar yang kini terasa sepi itu, Jasmine perlahan mulai mencoba bangkit dari tempat tidur. Meski setiap sudut ruangan masih menyisakan perih, ia tahu ada nyawa di dalam perutnya yang harus terus tumbuh.

Pagi itu, Jasmine menuruni anak tangga dengan perlahan. Ia mengenakan dress panjang serba hitam, kontras dengan kulitnya yang pucat. Rambutnya diikat sederhana, dan matanya masih menyimpan gurat kesedihan yang mendalam.

Di ruang tamu, Awan sedang duduk di sofa dengan sebuah buku laporan perusahaan di tangannya. Begitu mendengar langkah kaki, Awan langsung menutup bukunya dan berdiri. Matanya yang tajam memindai penampilan Jasmine dari atas sampai bawah.

"Mau ke mana lo?" tanya Awan dingin. Suaranya yang berat memecah keheningan rumah.

Jasmine sedikit terperanjat. "Mau ke makam Mas Hero, Kak. Udah seminggu, dan aku mau bikin acara doa kecil-kecilan nanti di panti asuhan langganan Mas Hero."

"Gue temenin." Kalimat itu bukan tawaran, melainkan perintah.

"Gak usah Kak... aku bisa naik taksi atau diantar supir. Kak Awan kan harus ke kantor," tolak Jasmine halus. Ia merasa tidak enak terus-menerus merepotkan pria itu.

Awan melangkah mendekat, berdiri tepat di depan Jasmine hingga bayangannya yang tinggi menyelimuti perempuan itu. "Gue nggak nerima komplen lo, Jasmine. Ati-ati kalo jalan, nanti lo kepleset ponakan gue bisa kenapa-kenapa."

Awan tidak menunggu jawaban. Ia menyambar kunci mobil di atas meja dan berjalan mendahului Jasmine menuju pintu depan. Jasmine hanya bisa menghela napas pasrah dan mengikuti langkah lebar pria itu dari belakang.

Perjalanan menuju pemakaman berlangsung sunyi. Awan fokus menyetir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali memijat pelipisnya. Jasmine hanya menatap keluar jendela, memandangi kemacetan Jakarta yang terasa begitu asing baginya sekarang.

Sesampainya di makam, Jasmine segera bersimpuh di samping pusara Hero. Ia menaburkan bunga mawar yang baru dibelinya dengan tangan gemetar.

"Mas... aku datang lagi," bisik Jasmine lembut. "Hari ini aku mau ke panti asuhan seperti biasa. Doakan aku kuat ya, Mas..."

Awan berdiri agak jauh di belakang Jasmine. Ia mengenakan kacamata hitam, namun tatapannya tak pernah lepas dari Jasmine. Ia melihat bagaimana tangan Jasmine mengusap nisan kayu itu dengan penuh kasih, sebuah keintiman yang membuatnya merasa sedikit asing dan... sesak.

Tiba-tiba, Jasmine yang baru saja ingin berdiri kehilangan keseimbangannya. Efek anemia dan kurang tidur membuatnya merasa sekelilingnya berputar.

"Ah!" Jasmine memekik pelan saat tubuhnya limbung.

Dalam sekejap mata, Awan sudah berada di sampingnya, menangkap pinggang Jasmine dengan tangan kokohnya. Bau parfum maskulin Awan yang tajam menyerbu indra penciuman Jasmine—sangat berbeda dengan aroma Hero yang lembut.

"Gue bilang apa?" bentak Awan, meski suaranya terdengar lebih khawatir daripada marah. "Jangan sok kuat kalau kaki lo aja gemeteran kayak gitu!"

"Maaf, Kak... tadi cuma pusing sebentar," sahut Jasmine sambil mencoba melepaskan diri dari dekapan Awan.

"Diem dulu," ketus Awan. Ia tidak melepaskan rangkulannya sampai ia yakin Jasmine bisa berdiri tegak. "Ayo, langsung ke panti. Selesai itu lo harus makan siang yang bener. Gue nggak mau ponakan gue kekurangan gizi gara-gara ibunya hobi nangis di kuburan."

Di panti asuhan, suasana jauh lebih hangat. Anak-anak kecil berlarian menyambut Jasmine. Bagi mereka, Jasmine dan Hero adalah malaikat pelindung.

"Tante Jasmine! Om Hero mana?" tanya seorang anak kecil polos sambil menarik-narik ujung baju Jasmine.

Jasmine terdiam, senyumnya membeku. Sebelum ia sempat menjawab dengan tangis yang mungkin pecah, sebuah tangan besar mendarat di kepala anak itu.

"Om Hero lagi istirahat panjang," sahut Awan tiba-tiba. Ia berjongkok di depan anak itu, wajahnya yang biasanya judes kini tampak sedikit lebih lunak, meski tetap tanpa senyum. "Gue kembarannya. Panggil aja Om Awan."

Jasmine terpaku melihat pemandangan itu. Awan yang biasanya sombong dan dingin, kini tampak sabar membagikan bingkisan makanan kepada anak-anak panti. Meskipun ia melakukannya dengan gaya kaku dan perintah-perintah pendek seperti "Antre yang bener, jangan rebutan!", anak-anak itu tetap senang.

Dari kejauhan, Jasmine menyadari sesuatu. Awan tidak seburuk yang ia bayangkan. Di balik tembok tinggi yang pria itu bangun, ada rasa peduli yang ia tunjukkan dengan caranya sendiri.

Saat mereka hendak pulang, sebuah pesan masuk ke ponsel Jasmine dari nomor yang tidak dikenal.

“Nikmatin waktu lo sekarang, Jasmine. Karena setelah ini, lo bakal ngerasain gimana rasanya kehilangan sesuatu yang lebih berharga dari sekadar suami.”

Tubuh Jasmine mendadak kaku. Wajahnya yang mulai membaik kembali pucat pasi. Ia hampir menjatuhkan ponselnya jika tidak segera dimasukkan ke dalam tas.

"Kenapa lagi lo? Pucat lagi?" tanya Awan saat mereka sudah di dalam mobil.

"Nggak apa-apa, Kak. Mungkin cuma capek," bohong Jasmine. Ia tidak ingin menambah masalah antara Awan dan Celine, karena ia yakin pesan itu berasal dari sana.

Awan tidak bertanya lebih lanjut, tapi matanya melirik curiga ke arah tas Jasmine. Ia tahu ada yang tidak beres.

"Inget ya, Jas. Lo punya gue sekarang. Kalau ada apa-apa, ngomong. Jangan sok jagoan nanggung beban sendiri," ucap Awan sambil melajukan mobilnya dengan kencang.

Jasmine hanya mengangguk, tapi hatinya tidak tenang. Di luar sana, Celine sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih gelap, dan Jasmine mulai merasa bahwa perlindungan Awan mungkin akan menjadi satu-satunya benteng yang tersisa untuknya dan bayi yang ia kandung.

1
pdm
semangat lanjutkan💪
Reni Anjarwani
lanjutt thorrr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut trs thor makin seru ceritanya
Reni Anjarwani
lanjut thorr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up thor
Siti Dede
Ungkapin aja atuh Waaan...daripada senewen nggak keruan
pdm
aduh ini potongan bwg merahny bikin mata berair/Cry//Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!