Satu tahun menikah, tapi Sekar (Eka) tak pernah disentuh suaminya, Adit. Hingga suatu malam, sebuah pesan mengundangnya ke hotel—dan di sanalah hidupnya berubah. Ia terjebak dalam permainan kejam Adit, tetapi justru terjatuh ke pelukan pria lain—Kaisar Harjuno, CEO dingin yang mengira dirinya hanya wanita bayaran.
Saat kebenaran terungkap, Eka tak tinggal diam. Dendamnya membara, dan ia tahu satu cara untuk membalas, menikahi lelaki yang bahkan tak percaya pada pernikahan.
"Benihmu sudah tertanam di rahamiku. Jadi kamu hanya punya dua pilihan—terima atau hadapi akibatnya."
Antara kebencian dan ketertarikan, siapa yang akhirnya akan menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Eka akhirnya bisa bernapas lega. Setelah sarapan bersama, Kai pergi bekerja, meninggalkan rumah dalam keheningan seperti semula. Ia menghela napas panjang, merasakan kelegaan yang aneh setelah pagi yang begitu mengejutkan.
Tatapannya jatuh pada meja makan yang masih menyisakan jejak keberadaan Kai—secangkir kopi yang hanya diminum setengah, piring kosong, dan serbet yang terlipat rapi di sisinya. Pagi tadi, meski terasa canggung, Kai tetap bertindak seperti biasa. Santai, tenang, dan... menyebalkan.
Eka mengusap wajahnya, pipinya masih terasa panas saat mengingat bagaimana ia terbangun dan mendapati Kai di sampingnya. Begitu dekat, begitu nyata. Jantungnya hampir melompat keluar saat itu.
"Apa dia sengaja melakukan itu hanya untuk menggodaku?" gumamnya pelan, lalu menghela napas dalam-dalam.
Berusaha mengusir rasa gugup yang masih tersisa, ia berjalan menuju ruang tamu. Tatapannya menyapu interior rumah mewah yang kini ia tempati—lampu gantung kristal yang berkilauan, sofa berbahan kulit mahal yang terasa begitu empuk, dan jendela besar yang memperlihatkan taman luas dengan air mancur di tengahnya. Semua ini tampak begitu indah, tapi juga begitu asing.
Sebuah pertanyaan terlintas di benaknya. Apakah aku harus menghentikan rencana balas dendam ini dan menikmati semua yang kudapat secara tidak sengaja?
Namun, secepat itu pula ia menggeleng. "Tidak! Ini semua hanya karena benihnya ada di perutku. Aku yakin lelaki itu tidak mungkin menyukaiku, kan?" bisiknya, mencoba meyakinkan diri sendiri.
Tapi kata-kata Kai sebelum pergi masih terngiang di kepalanya.
"Siapkan barang yang akan kamu bawa untuk orang tuamu di kampung. Gunakan kartu ini untuk berbelanja sepuasnya. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku, dan nanti malam kita bisa berangkat ke sana."
Eka menggigit bibirnya. Ada sesuatu dalam nada suara Kai yang membuat dadanya terasa hangat. Perlahan, ia menatap kartu di tangannya.
"Kenapa semua ini terasa seperti dongeng? Aku yang awalnya dikhianati, justru mendapatkan sosok yang lebih baik?" lirihnya, seolah masih sulit mempercayai apa yang kini sudah ia genggam.
Saat pikirannya masih kacau, ponselnya tiba-tiba berdering. Layar menampilkan nama kontak "Adik Ipar."
Eka menatapnya sejenak, lalu menghela napas pelan sebelum akhirnya menggeser tombol hijau.
"Eka, kita ketemu di kafe X." Suara Rina terdengar tegas, seperti perintah, tanpa basa-basi.
Eka mendengus, jemarinya mencengkeram ponsel lebih erat. Ingin rasanya ia menyumpal mulut wanita itu agar tidak selalu berbicara seenaknya. Namun, ia menahan diri. Kali ini, ia harus tetap elegan, menunjukkan bahwa dirinya tak mudah terpancing.
"Oke," jawabnya singkat, datar, tapi cukup tajam.
***
Di Kafe X, Eka tidak datang sendirian. Setelah menyetujui ajakan Rina, ia langsung menghubungi Ita untuk menemaninya.
“Jadi dia mulai terpancing?” tanya Ita dengan nada penuh rasa ingin tahu.
“Sepertinya begitu. Baru saja dia meneleponku dan meminta bertemu di sini,” sahut Eka yang kini sudah duduk nyaman, jemarinya membelai permukaan cangkir kopi di hadapannya.
Tak lama kemudian, dari kejauhan, Eka melihat Rina berjalan mendekat. Langkahnya angkuh seperti biasa, namun ada sesuatu dalam sorot matanya yang terasa berbeda kali ini. Begitu tiba di hadapan mereka, bibir Rina melengkung membentuk seringai tajam.
“Apa kamu takut aku akan memakanmu sampai-sampai selalu membawa pengawal?” sindirnya sambil melirik Ita sekilas.
Ita mendengus, menyilangkan tangan di depan dada. “Kenapa? Iri karena kamu nggak punya seseorang sepertiku di sisimu?”
Rina tersenyum sinis. “Aku tidak butuh hewan peliharaan.”
“Apa kamu bilang?” Ita langsung tersulut emosi.
“Hewan peliharaan yang suka menggonggong saat majikannya disentuh,” balas Rina dengan nada mengejek, bahkan sempat menjulurkan lidahnya seperti anak kecil yang menang dalam permainan.
Ita hampir saja berdiri, tangannya terkepal, siap memberikan pelajaran pada Rina. Namun, Eka menahannya dengan santai, meletakkan tangan di lengannya seolah menyuruhnya tetap duduk.
“Tidak perlu meladeni anjing liar,” ucap Eka tenang, tapi menusuk. “Bagaimanapun juga, anjing peliharaan lebih dihargai daripada anjing liar yang akhirnya akan diburu dan mati di jalanan.”
Rina mendelik. “Eka!”
Eka tersenyum tipis. “Kalau kamu hanya ingin bermain kata-kata, aku bisa meladenimu, tapi sayang sekali, aku tidak punya banyak waktu untuk itu.” Ia hampir saja berdiri dari kursinya.
“Tunggu!” Rina buru-buru menahan. “Aku ingin membicarakan hal lain.”
Eka mengamati wajah Rina dengan tatapan penuh penilaian. Ada sesuatu di sana—keraguan yang bercampur dengan gengsi. Seolah ia ingin berbicara, tapi juga tidak ingin kehilangan harga dirinya.
“Aku tidak bisa menunggu lebih lama,” ujar Eka, nadanya mulai kehilangan kesabaran.
Rina menatapnya tajam. Seakan ingin menunjukkan bahwa ia tidak gentar, tapi napasnya sedikit tersengal ketika akhirnya mengumpulkan keberanian untuk berbicara. “Apa tawaranmu waktu itu masih berlaku?”
Eka menaikkan alis. “Tawaran? Tawaran yang mana?”
“Jangan pura-pura bodoh, Eka! Kamu mempermainkanku?” tanya Rina, suaranya dipenuhi frustrasi.
Eka hanya tersenyum santai. “Kamu ingin uang lebih, kan?”
Rina mengepalkan tangannya di bawah meja. “Kamu tahu jawabannya.”
Eka menyandarkan punggungnya, menatap Rina dengan sorot mata penuh kemenangan. “Aku bisa memberimu berapa pun yang kamu inginkan… tapi aku punya satu syarat.”
Rina mendengus. “Sudah kuduga. Kamu tidak akan memberikan sesuatu secara cuma-cuma.”
“Di dunia ini, apa ada yang gratis?” sahut Eka, suaranya lebih dingin. “Bahkan untuk sampai di titik ini, banyak hal yang harus kubayarkan.”
Rina terdiam, memperhatikan wajah Eka dengan penuh kewaspadaan. Kenangan masa lalu melintas di benaknya—bagaimana ia dan keluarganya memperlakukan Eka dengan tidak adil, menjadikannya seperti pembantu, dan yang terakhir… ikut tertawa di atas penderitaannya. Ada sesuatu dalam diri Rina yang mengingatkan bahwa Eka bisa saja membalas dendam.
“Langsung saja, apa yang kamu inginkan?” tanya Rina akhirnya, suaranya sedikit bergetar.
Eka menyeringai. “Kamu tahu kan, keluargamu sampai seperti ini karena Nadin?”
Ekspresi Rina berubah. “Maksudmu?”
“Seandainya Nadin tidak ada dalam hidup kakakmu, semua tidak akan menjadi berantakan seperti sekarang. Karier kakakmu di perusahaan mungkin masih berkembang, keuangan keluargamu tidak akan tersendat. Tapi karena pengaruh Nadin yang serakah dan ingin menjualku demi satu proyek, semuanya hancur.”
Rina menegang. Tangannya di pangkuan mengepal erat. “Ka… Kamu bicara omong kosong apa?”
Eka hanya tersenyum samar, menatap Rina dengan sorot mata yang sulit diartikan. “Kamu sendiri yang tahu jawabannya.”
Rina terdiam. Rahangnya mengeras, matanya berkilat penuh emosi yang tertahan. Seakan ada banyak hal yang ingin ia lontarkan, tetapi tak satu pun keluar dari bibirnya.
Eka tidak terburu-buru. Ia menikmati momen ini, menyesap kopinya dengan santai sebelum kembali berbicara. “Kamu masih menyangkal? Atau kamu hanya takut mengakui bahwa aku benar?”
Rina menghela napas tajam. “Kakakku… tidak mungkin setolol itu,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.
Eka tersenyum tipis. “Tapi faktanya, kakakmu memang sudah hancur. Dan siapa penyebabnya? Nadin. Dia memperalat keluargamu, mengambil keuntungan dari posisinya, dan pada akhirnya… membuat kalian terjerembab ke titik ini.”
Rina menggeleng, seperti ingin menolak realitas yang baru saja dilemparkan Eka ke hadapannya. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu kata-kata Eka tidak sepenuhnya salah.
Ita, yang sejak tadi hanya menjadi penonton, menatap Eka dengan pandangan penuh ketertarikan. “Jadi, apa rencanamu sekarang?” tanyanya, akhirnya angkat bicara.
Eka menatap Rina tajam. “Aku akan memberimu uang. Sebanyak yang kamu mau. Tapi, aku ingin kamu melakukan satu hal.”
Rina menggertakkan giginya. “Apa?”
“Singkirkan Nadin dari hidup kakakmu.”
Rina membelalak. “Apa?”
“Buat dia pergi. Entah bagaimana caranya, aku tidak peduli. Tapi dia harus keluar dari hidup kakakmu untuk selamanya.”
Rina terkesiap. “Kamu pikir aku bisa melakukan itu begitu saja?”
“Kamu tidak punya pilihan lain, Rina.”
Kata-kata Eka membuat Rina terdiam. Ia tahu Eka benar. Saat ini, keluarganya berada dalam kondisi paling sulit. Jika ada cara untuk keluar dari kesulitan ini, maka itu adalah dengan menerima tawaran Eka.
Namun, harga yang harus dibayarkan begitu tinggi.
Rina menelan ludah. “Dan jika aku setuju… kamu benar-benar akan memberiku uang?”
Eka menyeringai. “Aku selalu menepati janjiku.”
Rina terdiam lama. Sorot matanya penuh pertimbangan, keraguan, dan ketakutan. Tapi di balik itu semua, ada satu hal yang paling kentara—keputusasaan.