(Novel ini mengandung unsur sensual dan adegan kekerasan)
"Kamu milikku. Aku akan melakukan apapun yang kuinginkan, denganmu. I will give you heaven and i will give you hell"
Setelah bangun dari koma karena percobaan bunuh diri, aku terkejut karena statusku menjadi menikah. Ternyata sebuah rahasia yang disembunyikan suamiku bahwa dia seorang profesional pembunuh bayaran.
Aku tak menyangka lelaki yang ku ketahui sebagai Vice President adalah anggota elite organisasi hitam yang menjadi buronan negara.
Teror demi teror datang. Beberapa pihak punya rencana jahat untuk menyingkirkan ku demi harta dan cinta, termasuk ibu tiri dan adikku.
Aku bersedia menukar tubuhku pada lelaki yang menjadi suami kontrak itu untuk sebuah komitmen balas dendam kematian sang ibu.
Akankah kebenaran tentang masa lalu menghancurkan rumah tangga kami? Penuh ketegangan berbalut kisah romansa yang sensual, ikuti cerita ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Prabowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Program Hamil
Aku punya ide!
Aku sudah memikirkan bagaimana cara menarik perhatiannya sekaligus terhindar dari masalah absensi. Berpura-pura sakit kaki sehingga aku harus memakai kursi roda. Bantuan supir mempermudah aku untuk berakting, dia membantu membuat perban di kaki kanan.
Begitu tiba di kantor aku sudah menjadi pusat perhatian. Orang-orang bertanya 'kenapa', aku menanggapinya cukup tersenyum. Semua khawatir, tak biasanya nona yang selalu tampil stylish dan energik kini duduk lesu di kursi roda.
"Aduh, sakit..."
Kumulai akting ini dengan mengaduh sambil memegangi kaki saat Vice President lewat di depan meja. Satu kali, tidak ada respon. Dua kali, masih tidak dilirik. Kali ketiga mengaduh cukup keras dia akhirnya melihatku dengan tatapan dingin.
"Saya sakit," ucapku membuka percakapan.
"Kenapa?"
"Jatuh dari tangga. Makanya saya tidak bisa masuk kantor kemarin karena fokus memulihkan diri."
"Oh, okay."
Oh? Respon macam apa itu? Seharusnya dia panik, memastikan keadaan, lalu menyuruhku istirahat dengan baik.
"Pak Raskin tidak peduli dengan keadaan saya?"
Dia mengerutkan dahi, menatapku dengan mata yang memicing. "Lalu harus bagaimana saya merespon?"
Lelaki ini memang minim empati, hatinya benar-benar batu. Ah sudahlah, salahku karena sudah berekspektasi tinggi tentangnya.
Berpura-pura sakit kaki hanya membuat hidupku makin rumit. Harus meminta tolong sekitar untuk bantu mendorong, mengambil sesuatu, bahkan untuk ke toilet pun harus diantar. Aku yang biasa mandiri kini harus bersosial dengan karyawan lain. Mungkin sebaiknya sandiwara ini cepat diakhiri saja.
Vice President memanggilku ke ruangan. Itu membuatku senang, mungkin dia sadar kalau sikapnya tadi menyakitkan jadi sekarang mau meminta maaf. Aku membuka tas makeup lalu menempelkan bedak padat ke bibir untuk membuat wajah lebih pucat. Dia harus iba padaku!
Melihat aku muncul di pintu, Kin beranjak dari kursi lalu menghampiriku dengan wajah cemas.
"Kamu kok kesini sendiri? Kan bisa panggil aku untuk menemani, masa dorong kursi roda sendiri?" tanya dia sambil memegang tanganku.
Eh, mengapa respon cemas ini seperti dibuat-buat? Setelah melihat ke samping kiri, barulah aku tahu kenapa sikapnya berubah. Papa ada di ruangan sambil menyeruput kopi.
"Kenapa kamu? Jatuh darimana?" tanya papa padaku yang sedang dituntun untuk duduk di sofa. "Hanya jatuh dari tangga, terkilir."
"Papa antar ke dokter ya, biar diperiksa lebih detail."
"Tidak usah! Besok juga sembuh, aku sudah ke ortopedi juga kok."
"Maksud papa ke obgyn, kalian coba ikut program hamil. Papa punya kenalan dokter kandungan bagus."
Program hamil?
Tak hanya aku yang kaget, lelaki di sebelahku ikut tercengang. Satu ucapan yang menusuk sampai relung jiwa.
"Papa ragu dengan kami?" tanya Kin santai, tangannya memijat pelan bahuku.
"No, bukan ragu. Hanya khawatir ada gangguan dari tubuh yang menyebabkan proses pembuahan sulit terjadi. Tidak salah kan kalau diperiksa dulu?"
"Kalau aku menolak?"
"Papa sudah membuat janji, ini lokasinya..."
Dia menyerahkan sebuah business card pada Kin. Aku mendengar suara Kin menelan ludah, dia pasti punya kepanikan yang sama denganku tapi tetap berusaha santai tersenyum.
***
Edelweiss Mother and Child Hospital.
Tidak pernah menyangka aku akan masuk ke tempat ini selain untuk mejenguk rekan yang melahirkan. Monster tua itu benar-benar ingin punya cucu, akhir-akhir ini dia selalu share video lucu bayi dan anak-anak di grup whatsapp keluarga.
Kemarin aku sempat tenang karena keinginan itu mungkin bisa direalisasikan oleh Luisa dan Leon, tapi kini papa kembali mengusik agar aku cepat mempunyai anak.
Aku ingin child free, aku ingin fokus karir dan talenta. Aku belum siap untuk sebuah keluarga, apalagi melihat situasi internal keluargaku yang kacau, memang lebih baik sendiri seumur hidup.
Akupun tidak yakin mau hidup selamanya dengan lelaki di sebelah ini. Aku melirik Kin yang sedang membaca artikel kriminal di media online melalui handphone nya. Lelaki ini tampan, pintar, kaya, tapi... entahlah masih ada keraguan yang mengganjal untuk aku bisa tulus menyukainya. Sepertinya respon dia terhadapku juga sama.
"Ibu Keana Hana Mulia, silakan masuk."
Seorang perawat memanggil kami masuk ke ruangan Obstetrics and Gynecology, bertemu dokter Karina. Ah, aku sepertinya tahu, dia istri salah satu teman main golf pap.
"Jadi kalian sudah siap program hamil? Boleh saya ajukan beberapa pertanyaan dulu ya?"
Dokter bertanya tentang hal-hal seputar gaya hidup dan riwayat penyakit. Konsumsi obat, alkohol, rokok, penyakit, dan jadwal menstruasi. Tapi beberapa pertanyaan akhir cukup mencengangkan.
"Kapan jadwal biasanya kalian berhubungan?"
"Berhubungan... apa?"tanyaku polos.
"Ya berhubungan suami istri," ujar dokter menjelaskan.
"Seminggu tiga kali sih, dok." jawab Kin dengan senyum meyakinkan.
"Sudah tahu kan kalau jadwal berhubungan itu ada masa oke, yaitu di masa subur berkisar empat belas hari sebelum menstruasi. Sebaiknya sih instal aplikasi period tracker ya untuk mempermudah penghitungan masa subur."
"Kalau masa subur laki-laki kapan ya?"
"Laki-laki itu kesuburannya sangat ditentukan faktor gaya hidup. Merokok dan alkohol sebaiknya dihindari karena sangat berpengaruh pada sperma. Tapi ada waktu-waktu yang dianggap masa subur laki-laki itu saat pagi hari, setelah bangun tidur."
"Oh gitu, jadi pagi hari itu bagus ya untuk program hamil?" tanya Kin dengan usil. Dia tahu kalau aku sedang risih karena terjebak topik yang tabu.
Dokter akan melakukan pemeriksaan usg untuk memeriksa keadaan organ reproduksi wanita dari dalam, apakah ada diagnosis kelainan yang mempengaruhi infertilitas. Astaga, aku yakin tidak ada masalah dengan diriku. Alasan tidak hamil ya karena kami tidak pernah berhubungan seksual.
Maksudku, hanya sekali. Se-ka-li.
"Boleh ya kita USG transvaginal saja biar lebih akurat?" tanya dokter sambil mengangkat probe, alat yang dimasukkan ke bagian dalam alat reproduksi untuk menghasilkan gambaran ultrasonografi.
Apa? Jenis USG macam apa ini? Bukankah USG biasanya dilakukan pemeriksaan hanya dari luar perut? Apa aku yang kurang pengetahuan ya?
Tidak ada alasan untuk menolak dan menghindar. Aku duduk di atas ranjang ginekologi setelah mengganti baju khusus pemeriksaan. Dokter Karina meminta aku untuk berbaring di atas ranjang dan melepas celana dalam. Dia juga meminta Kin untuk membantu istrinya yang sulit bergerak karena kaki sedang diperban.
Lelaki itu senyam-senyum sendiri saat aku menitipkan celana dalam padanya. Argh, sebenarnya aku malu dan kesal tapi aku tidak bisa apa-apa. Aku tahu apa isi pikiran kotornya!
Dokter kemudian memasukkan probe USG ke dalam bagian kewanitaan. Lelaki itu sempat terpaku melihat bagaimana probe itu masuk ke dalam, tapi mendengar suara aku berdehem, ia langsung memalingkan wajahnya yang merah.
Pervert! Idiot! Lihat saja pembalasanku di rumah!
"Maaf, ini mungkin sedikit tidak nyaman," kata dokter sambil menggerakkan probe USG untuk mendapatkan gambaran yang jelas.
Aku mengangguk, terlihat sedikit tegang. Dokter Karina memeriksa gambaran USG dengan teliti, mencari tahu apakah ada masalah pada organ reproduksi.
Setelah beberapa menit, dokter mengeluarkan probe USG dan memintaku untuk duduk kembali.
"Keana, saya telah melihat hasil USG mu," katanya dengan ekspresi serius. "Ternyata, kamu memiliki miom ringan di dalam rahimmu."
Aku terkejut. "Miom? Apa itu?"
"Miom adalah tumor otot yang tumbuh di dalam rahim. Tapi jangan khawatir, miom bukanlah kanker dan tidak berbahaya. Namun, miom dapat menyebabkan gejala-gejala seperti nyeri perut, pendarahan berat, dan kesulitan hamil."
Setelah mendapat penjelasan yang menenangkan akupun sedikit lega. "Jadi, miom ini tidak berbahaya kan?"
Dokter Karina mengangguk. "Benar, Keana. Miom ini tidak berbahaya. Namun, kita perlu memantau perkembangannya agar tidak menjadi lebih besar dan menyebabkan gejala-gejala yang lebih parah."
"Baik, Dok."
Dokter Karina tersenyum. "Kita akan bekerja sama untuk mengatasi miom ini dan memastikan bahwa kamu tetap sehat dan subur, sehingga program hamil bisa berjalan lancar."