NovelToon NovelToon
Dulu Guruku, Sekarang Istriku

Dulu Guruku, Sekarang Istriku

Status: tamat
Genre:Tamat / Berondong / Nikahmuda / Cintamanis / Crazy Rich/Konglomerat / Beda Usia / Romansa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Grace caroline

'GURUKU ISTRIKU, SURGA DUNIAKU, DAN BIDADARI HATIKU.'

***

Dia adalah gurunya, dia adalah muridnya. Sebuah cinta terlarang yang berakar di antara halaman-halaman buku teks dan derap langkah di koridor sekolah. Empat tahun lebih mereka menyembunyikan cinta yang tak seharusnya, berjuang melawan segala rintangan yang ada. Namun, takdir, dengan segala kejutannya, mempertemukan mereka di pelaminan. Apa yang terjadi selanjutnya? Petualangan cinta mereka yang penuh risiko dan janji baru saja dimulai...

--- INI ADALAH SEASON 2 DARI NOVEL GURUKU ADALAH PACARKU ---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Grace caroline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. Bak Perangko

Sudah lima bulan berlalu sejak pernikahan Kaesang dan Tyas. Mereka makin lengket bak perangko, Kaesang sekarang jauh lebih terbuka menunjukkan kemesraannya, tak peduli di depan siapa.

Bayangkan, pria yang dulu dikenal pendiam dan dingin kini selalu ceria dan murah senyum! Senyumnya bahkan memikat banyak orang, terutama kaum hawa. Tentu saja, Tyas, sang istri, sesekali merasa cemburu melihatnya. Ia kerap menarik Kaesang menjauh atau sekadar melirik tajam para wanita yang terpesona oleh suami tercintanya.

Sekarang adalah hari Minggu pagi, Tyas sedang berada di dapur ingin membuatkan sarapan untuk suaminya. Sebelumnya para art sudah meminta Tyas untuk pergi saja ke ruang makan agar mereka yang memasak. Tapi Tyas menolak dan tetap bersikukuh untuk membuatkan sarapan untuk Kaesang.

"Mungkin masakanku nggak akan seenak masakan restoran atau mungkin makanan mewah yang biasa dimakan Kaesang, tapi Kaesang nggak akan pernah menolak masakan aku. Masakan aku kan juara di mulut dia," gumam Tyas, sambil terus mengaduk ayam goreng tumis pedas campur brokoli di wajan. Entah kenapa, pagi ini ia ingin sekali memasak menu pedas itu, padahal Kaesang kan tidak biasa makan pedas! Perutnya pasti sakit nanti.

Tiba-tiba, Kaesang datang dan memeluknya dari belakang. "Sayang, aku kaget loh!" pekiknya pelan, hampir membuat Tyas menjatuhkan spatula. Kejutannya cukup berhasil.

Kaesang terus memeluk pinggang Tyas dari belakang, sambil tersenyum jahil. "Aku kangen sama kamu," bisiknya manja.

Tyas, yang sedang sibuk mengaduk masakan, mengerutkan dahi tanpa menoleh. "Kangen? Bukannya tiap hari kita ketemu ya? Tadi aja aku baru nyamperin kamu di kamar. Kok udah kangen aja sih?" tanyanya heran.

"Emang nggak boleh ya kangen sama istri sendiri?" tanya Kaesang.

"Boleh-boleh aja sih, justru yang nggak dibolehin itu kamu yang jelas-jelas suami aku malah kangen sama perempuan lain. Kalau sampai itu terjadi awas aja ya!" desis Tyas, suaranya lembut namun menyimpan ancaman yang menusuk.

Kaesang sedikit mendongak, mengerutkan kening, "Awas kenapa emangnya?" tanyanya bingung.

"Oh, jadi kamu mau kangen-kangenan sama perempuan lain? Iya?!" Suara Tyas meninggi, tajam bak pisau. Ia mematikan kompor, spatula tergeletak di wajan. Dengan cepat ia berbalik, tatapannya yang tajam membuat Kaesang, yang memeluknya manja dari belakang, langsung melonggarkan pelukannya dan mundur beberapa langkah.

"Padahal aku nggak ngomong apa-apa loh. Aku cuma nanya aja tadi," kata Kaesang.

Tyas menghela nafas kasar, ia berdecak, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain. "Halah alasan kamu doang itu! Kamu mau kangen-kangenan sama perempuan lain kan? Jujur kamu!" Napasnya tersengal, ia memalingkan wajahnya ke arah lain, tatapannya masih sangat tajam, dan bibirnya mengerucut.

"Kok kamu malah nuduh aku sih? Aku nggak kayak gitu loh!" tanya Kaesang, suaranya sedikit meninggi. Ia tak bermaksud marah, tapi tuduhan Tyas membuatnya emosi. Kaesang sama sekali tak melakukan apa yang dituduhkan padanya.

Tyas terkejut melihat Kaesang yang nyaris membentaknya. Ia menoleh, matanya berkaca-kaca, menahan air mata. Tanpa sepatah kata pun, ia berlari kecil meninggalkan dapur.

"Dear," panggil Kaesang, matanya mengikuti punggung Tyas yang perlahan menjauh dan menghilang. Ia menepuk jidatnya. "Haduh, dia pasti kecewa banget sama aku, aku kan udah bentak dia. Ck!" Kaesang berdecak kesal, lalu pergi dari dapur, berniat menyusul Tyas.

Tapi...

"Kae!" panggil Mama Zora dari tangga, langkahnya tegas menuruni anak tangga. Kaesang berhenti, menunggu hingga Mama Zora sampai di hadapannya. Tatapan Mama Zora tajam sekali. "Kamu apain Tyas?!" tanyanya, suaranya berwibawa.

Kaesang mengerutkan keningnya. "Emangnya Tyas kenapa? Dia di kamar kan?" tanyanya khawatir.

"Kamu ya Kae! Tyas nangis loh di kamar mama. Tadi Mama udah nanya sama dia kenapa nangis, tapi dia nggak jawab. Kamu apain Tyas tadi? Tyas nangis karena kamu kan?!" Cecar mama Zora, terkesan menuduh Kaesang. Suaranya pun semakin meninggi.

Kaesang lalu menepuk keningnya. "Maaf, Ma, tadi aku nggak sengaja bentak Tyas di dapur," jawabnya menyesal.

Mama Zora tertegun. Mulutnya menganga, matanya membulat, lalu ia menggeleng, menepuk jidatnya sendiri. "Ya Tuhan Kaesang. Kamu kenapa sih? Kenapa kamu bentak Tyas? Selama ini kalian mesra kan? Kalian nggak jarang pamerin kemesraan kalian di rumah. Kenapa hari ini kamu bentak Tyas?

Dia itu perempuan Kae, hati perempuan itu lemah. Disakiti dikit langsung hancur. Kamu jangan main-main ya! Mama kecewa banget sama kamu hari ini!" Omelnya panjang, lebar kali tinggi seperti rel kereta api.

"Mama dengerin aku dulu oke. Tadi itu Tyas tiba-tiba nuduh aku kangen-kangenan sama perempuan lain. Dia nuduh aku terus Ma, aku kan jadinya kesel ya dan nggak sengaja ngomong keras ke dia," jelas Kaesang, raut penyesalan jelas terpancar di wajahnya.

Mama Zora menatap Kaesang dengan serius, berusaha mencerna kata-katanya. Setelah beberapa saat, ia mengangguk. "Emang akhir-akhir ini mama lihat Tyas kayak... agak beda ya, dia itu kayak lebih sensitif, gampang cemburu, terus suka posesif gitu ke kamu. Ya, sebenarnya wajar-wajar aja sih kalau suami istri itu, cuma selama menikah Tyas bukan orang yang kayak gitu kan?

Yang Mama lihat sih Tyas itu perempuan yang ngerti, dia nggak neko-neko dan nggak cemburuan banget. Cuma akhir-akhir ini mama lihat...dia itu...agak berbeda gitu loh. Kamu ngerasain juga nggak?" tanyanya setelah memikirkannya beberapa saat.

Kaesang mengangguk setelah lama terdiam dan menyimak ucapan mamanya. "Mama ngerasa juga ya? Emang sih beberapa minggu ini aku ngerasa Tyas kayak...berbeda gitu. Cuma aku mau bilang ini ke mama dan yang lain takutnya kalian bilang aku berlebihan lagi," akunya.

Mama Zora langsung membelalak, senyum lebar mengembang di wajahnya. "Kae!!!" serunya, tampak bersemangat.

"Kenapa sih, Ma, kok tiba-tiba excited gitu?" tanya Kaesang heran.

"Mama tau kenapa Tyas bisa berubah gitu," kata Mama Zora penuh semangat.

"Emangnya kenapa?" tanya Kaesang masih terlihat biasa saja.

Mama Zora berdecak, "Ish, kamu mah nggak ngerti. Sebentar lagi mama bakal punya cucu, Kae. Tyas hamil!!!" Senyumnya merekah lebar, penuh kegembiraan.

Kaesang terkejut mendengar pernyataan mamanya. "Hamil? Maksud Mama, Tyas hamil?" tanyanya dengan nada tidak percaya, matanya melebar.

"Iya! Coba deh kamu perhatiin, akhir-akhir ini dia pasti ngalamin perubahan, kan? Mungkin itu sebabnya dia lebih emosional dan cemburuan! Ini hal yang wajar buat perempuan hamil," jawab Mama Zora dengan antusias.

Kaesang masih terlihat bingung, tetapi secercah harapan mulai tumbuh di dalam hatinya. "Tapi, Ma, aku belum pernah denger Tyas cerita soal itu.  Apa dia belum tau kalau dia hamil?" tanyanya, masih ragu.

"Mungkin aja, Kae. Mungkin dia cuma ngerasa ada yang beda aja. Nah, sekarang tugas kamu bikin dia nyaman dan seneng. Ajak dia ke dokter buat mastiin, ya!" kata Mama Zora, berusaha meyakinkan Kaesang.

Kaesang mengangguk, mulai mengerti. "Oke, Ma. Aku akan segera ngajak Tyas ke dokter buat periksa. Aku juga harus minta maaf sama Tyas dan ngasih dia support yang dia butuhin," ujarnya dengan semangat baru.

Mama Zora tersenyum bangga. "Bagus, Kae! Ingat ya, komunikasi itu penting banget dalam pernikahan. Jangan sampai salah paham bikin hubungan kalian retak," pesannya.

Kaesang menghela napas dalam-dalam, bertekad untuk memperbaiki keadaan. Ia bergegas menuju kamar kedua orang tuanya, berharap bisa menemukan Tyas dan menjelaskan semuanya. Dalam hati, ia berdoa agar kabar baik ini bisa menjadi awal yang baru yang lebih indah bagi mereka berdua.

Sesampainya di depan pintu kamar kedua orang tuanya, Kaesang mengetuk pelan. "Dear, boleh aku masuk?" serunya lembut. Suasana hening sejenak, sebelum terdengar suara lirih dari dalam. "Masuk aja," jawab Tyas, suaranya sedikit sembab.

Kaesang membuka pintu dan melihat Tyas duduk di tepi tempat tidur, wajahnya masih basah oleh air mata. "Dear, aku minta maaf. Aku nggak bermaksud bentak kamu. Aku cuma...," Kaesang terhenti sejenak, mencari kata-kata yang tepat. "Aku cuma kesel aja karena kamu nuduh aku terus tadi."

Tyas menatap Kaesang dengan mata merah. "Maafin aku Yang, aku udah nuduh kamu. Sebenarnya bukan maksud aku buat nuduh kamu, aku percaya kok sama kamu. Cuma entah kenapa akhir-akhir ini aku ngerasa ada yang berubah dan aku takut kehilangan kamu," ucapnya, suaranya bergetar.

Kaesang mendekat dan duduk di samping Tyas. "Dear, aku janji nggak ada yang perlu kamu khawatirkan. Aku cuma cinta sama kamu, nggak ada yang lain. Remove all your fears, okay?" katanya dengan lembut.

Hening. Setelah beberapa saat, Kaesang melanjutkan, "Mama berpikir mungkin ada sesuatu yang lebih besar yang terjadi, dan kita perlu memeriksakannya. Apa kamu merasa berbeda belakangan ini?"

Tyas terkejut, tetapi raut wajahnya mulai berubah. "Apa maksud kamu?" tanyanya.

"Mama berpikir... mungkin kamu hamil," jawab Kaesang, menatap Tyas dengan penuh harap.

Mata Tyas membesar, dan senyumnya perlahan muncul. "Hamil? Aku... aku nggak tahu. Tapi mungkin aja," ucapnya, suaranya mulai ceria.

Kaesang tersenyum lebar, merasa lega. "Ayo kita pergi ke dokter buat pastiin ini. Kita akan menghadapi ini bersama, apapun hasilnya nanti," katanya, menggenggam tangan Tyas dengan lembut.

Tyas mengangguk, air mata di matanya kini berubah menjadi senyuman. "Makasih Yang, ayo kita pergi!" katanya.

Bersambung ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!