Demi sebuah kekayaan dan ketenaran, wanita yang sudah berusia 28 tahun itu dengan tega menjual jiwa-jiwa orang yang tidak berdosa.
Bukan tak berdosa, hanya saja Kinan ingin membalas dendam atas sakit hati nya kepada penduduk kampung yang selalu menghina keluarga nya. Bahkan, ayah Kinan meninggal secara tragis di tangan kepala desa hingga membuat Kinan semakin yakin untuk membalas dendam.
Sangat mulus, ketika Kinan menumbalkan satu nyawa, maka harta kekayaan nya akan semakin bertambah. Namun, seiring berjalan nya waktu sesuatu yang instan itu tidak akan bertahan lama.
Tanpa sengaja, seorang anak pemuka agama dari kota sebelah jatuh cinta pandangan pertama pada Kinan. Di mulai dari perkenalan itu lah yang membuat hidup Kinan perlahan menjadi hancur.
Jangan lupa baca karya aku ya😊😊
Jangan lupa juga Like Vote Rate and Coment terimakasih😊😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28.Aku Tidak Peduli
"Cukup Kinan, cukup lah malam ini mereka tidak tidur dengan nyenyak." kata mbah Joyo tertawa.
"Tapi aku belum puas mbah!"
"Kita lakukan besok malam lagi, istirahat lah biar aku yang melakukan sisa nya." ujar mbah Joyo.
Kinan langsung tidur, entah kenapa wanita itu langsung terlelap begitu saja. Malam semakin larut, mbah Joyo kembali ke perapian nya untuk memulai satu ritual. Mantra di baca komat kamit, entah kepada siapa santet itu tertuju.
Ciat...ciat...ciat....
Tepat pukul tiga pagi dini hari bunyi burung gagak saling bersahutan memutari kampung. Para orang tua langsung memeluk anak nya, karena ada sebagian kepercayaan yang mengatakan jika ada bunyi burung gagak pasti akan ada orang yang meninggal.
Benar saja, menjelang subuh ada siaran di masjid. Setelah azan subuh para warga berbondong-bondong pergi ke rumah warga yang sedang berduka termasuk pak Rahmat dan Pandu.
Pandu dapat mendengar dengan jelas desas desus jika orang yang meninggal ini tidak memiliki penyakit apa pun.
"Kata nya terpeleset di dapur terus meninggal." bisik dua orang ibu-ibu.
Pandu tidak mau berpikir terlalu jauh, namun hati kecil nya mengatakan jika ini bukan kematian biasa. Pemakaman di lakukan seperti biasa, namun yang membuat heran ketika selesai pemakaman hujan turun beserta angin kencang. Seharian ini hujan lebat hingga membuat aktifitas warga menjadi terganggu.
Kembali malam, Kinan dan mbah Joyo kembali melakukan ritual. Tidak ada warga yang keluar rumah karena cuaca masih gerimis.
Duaaar....tiba-tiba ada petir yang menyambar salah satu pohon mangga milik salah satu warga. Satu persatu pemilik rumah keluar membawa payung untuk melihat apa yang sudah terjadi.
Mereka tidak berani mendekat bahkan beberapa warga langsung masuk ke dalam rumah ketika mendengar bunyi burung gagak. Para warga mulai menebak-nebak siapa yang akan meninggal malam ini.
"Kekayaan mu semakin bertambah Kinan. Warga yang mati di anggap sebagai jiwa yang sudah kau jual. Aku bangga pada mu Kinan, selama ini kau sudah banyak menjual jiwa-jiwa untuk sebuah kekayaan." tutur mbah Joyo lalu tertawa keras.
"Aku tidak peduli jiwa siapa yang aku jual sekarang mbah. Aku hanya dendam pada mereka yang dulu selalu menghina dan memandang rendah keluarga ku!" kata Kinan dengan sorot mata tajam.
Benar saja, setelah azan subuh ada lagi pemberitahuan orang meninggal. Seperti biasa para warga saling bergotong royong untuk membantu pemakaman. Cuaca juga terlihat mendung, setelah pemakaman buru-buru para warga pulang.
"Ini pasti kerjaan perempuan keji itu pak." kata Pandu geram.
"Jangan seperti itu Pandu, sama saja kau memfitnah orang lain." ujar Rahmat memperingatkan.
"Pandu benar paman, selama kita tinggal di sini banyak hal aneh yang terjadi. Sebenarnya, sebab apa hingga membuat perempuan itu menjadi marah kepada warga?" Rizal mulai penasaran dengan masa lalu Kinan.
"Jangan berpikir terlalu jauh, sebaiknya kita banyak-banyak meminta pada Allah agar di jauhkan dari hal buruk."
Malam kembali datang, suasana kampung tidak begitu sepi karena malam ini berbintang. Ada beberapa penjual makanan keliling, seperti nasi goreng yang setiap hari berkeliling kampung.
Penjual nasi goreng tersebut merasa heran karena gerobak yang dia bawa tiba-tiba terasa berat. penjual tersebut sudah mengecek ban gerobak tapi tidak kempes.
"Berat ya mas?" suara perempuan seperti mengolok-olok penjual nasi goreng itu.
"Iya mbak!" sahut penjual tersebut yang belum melihat siapa yang bicara, "Mbak, jangan tertawa terus. Mengejek saya saja!"
"Berat ya mas? hihihi....!" tawa cekikikan membuat bulu kuduk nasi goreng berdiri. Ketika dia melihat ke atas gerobak nya penjual nasi goreng tersebut langsung berteriak kemudian berlari meninggalkan gerobak nya.
Tanpa melihat jalan, penjual nasi goreng tersebut menabrak pak Rahmat yang sedang berjalan pulang dari masjid dengan beberapa orang warga.
"Ada apa mas, kok lari-lari?" tanya pak Mawan penasaran.
"Anu pak, ada kuntilanak di atas gerobak saya." jawab nya dengan wajah ketakutan.
"Di mana pak?" tanya pak Darto.
"Di sana pak, jalan dekat kebun kosong itu." jawab nya masih ketakutan, "Pak, bantuin saya buat ambil gerobak saya pak. Saya takut!"
"Jangan takut, mereka hanyalah Jin yang menguji iman kita. Mari kita ke sana!" ujar pak Rahmat.
Mau tidak mau warga yang penasaran ikut bersama penjual nasi goreng tersebut untuk mengambil gerobak nya. Sekilas, pak Rahmat melihat sosok wanita yang terbang dari satu pohon ke pohon lain nya namun dia hanya diam saja.
Baru saja pak Rahmat menginjakan kaki di halaman rumah, terdengar kembali bunyi burung gagak yang terbang mengitari perkampungan.
"Astagfirullahalazdim, kali ini siapa lagi? Ya Allah, lindungi lah para warga. Lindungi lah kami semua." Pak Rahmat memanjatkan doa sebentar kemudian masuk ke dalam rumah.
..aku sukaaa 🥰