Kisah ini Terinspirasi dari Lengenda Urban Nenek Gerandong Di Banten Indonesia
Dulu kala Ada Ibu Muda yang sedang menyusui bayi, tiba tiba sosok nenek menyeramkan hadir membuat si ibu muda ketakutan dan pingsan. si nenek seram itu lalu menculik bayinya dan masuk ke dalam hutan dengan cara melayang
Jika bayi Ibu menyusui tak cepat ditemukan apa yang akan terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SARUNG GAME, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Perburuan Malam
Malam itu desa Durian Berduri terbungkus kegelapan yang tebal, seperti kain hitam yang ditarik rapat oleh tangan tak kasat mata. Bulan sabit tipis menggantung rendah di langit, cahayanya samar-samar menyusup melalui kabut tipis yang naik dari tanah, membuat bayang-bayang pohon durian liar tampak lebih panjang, lebih tajam, seperti jari-jari kerangka yang menunggu mangsa. Angin malam bertiup pelan, membawa bau kemenyan yang masih tersisa—bau yang kini tak lagi menyengat ganas, tapi seperti hembusan napas seseorang yang sedang menunggu, ragu, dan mungkin... lelah.
Di rumah Sari Wangi, lampu minyak menyala redup di teras. Sari berdiri di ambang pintu, memeluk Lilis erat-erat. Bayi itu tertidur pulas di gendongannya, pipinya montok merah jambu, napas kecilnya hangat menyentuh leher Sari. Ibu Sari—nenek kecil berambut putih—berdiri di samping, tangannya gemetar memegang selimut wol lusuh.
“Neng... kau yakin mau ikut malam ini?” tanya ibunya, suaranya bergetar. “Lilis baru kembali. Kalau ada apa-apa...”
Sari mencium kening Lilis pelan, air matanya jatuh ke rambut bayi itu. “Bu... aku harus ikut. Aku tidak bisa diam di rumah sementara yang lain pergi. Lilis aman bersama Ibu. Aku percaya Ibu jagain dia seperti dulu jagain aku.”
Ia menyerahkan Lilis ke pelukan ibunya. Bayi itu menggeliat pelan tapi tak bangun. Sari mencium pipi Lilis sekali lagi, lalu memeluk ibunya erat. “Jaga dia, Bu. Kalau aku tidak pulang... bilang ke Lilis bahwa ibunya sayang sama dia.”
Ibu Sari menangis pelan, tapi mengangguk. “Pergilah, Neng. Semoga Allah melindungi mu.”
Di rumah Siti Aisyah, suasana tak kalah berat. Tiga anaknya—Cecep, Ratih, dan Lila—sudah tidur di bale besar, selimut menutupi tubuh kecil mereka. Siti Aisyah berdiri di depan bale itu, tangannya menyentuh pipi Cecep yang tembem. Bapak dan ibunya—Mas Karta dan Mbak Wulan, orang tua yang dulu mengingkari janji darah dengan Mbah Saroh—berdiri di belakang, wajah mereka penuh penyesalan yang tak pernah benar-benar hilang.
“Mak... Pak... tolong jagain anak-anak,” kata Siti Aisyah pelan. “Cecep sudah besar, tapi dia masih takut gelap. Ratih suka nangis kalau mimpi buruk. Lila... dia masih kecil. Jangan biarin mereka takut.”
Mbak Wulan memeluk anaknya erat, air mata jatuh ke bahu Siti Aisyah. “Nen... ini salah kami. Dulu kami ingkar janji sama Mbah Saroh. Kami pikir dia jahat. Tapi kami yang jahat. Maafkan kami, Nak.”
Siti Aisyah menggeleng pelan. “Mak... Pak... itu masa lalu. Malam ini aku pergi untuk akhiri semuanya. Bukan balas dendam, tapi minta maaf atas nama kita semua.”
Mas Karta memegang tangan anaknya, suaranya serak. “Kami jagain anak-anak. Pulanglah, Nen. Kami tunggu dirimu.”
Siti Aisyah mencium kening ketiga anaknya satu per satu—Cecep menggeliat pelan tapi tak bangun, Ratih tersenyum dalam tidur, Lila menggumam kecil. Ia berbalik, matanya basah tapi tekadnya mantap.
Di lapangan depan rumah Pak Kades, rombongan besar sudah berkumpul. Obor-obor bambu menyala, cahayanya kuning-Jingga menerangi wajah-wajah tegang. Daeng Tasi memimpin, badik sakti leluhur tergantung di pinggang. Sari Wangi berdiri di sampingnya, jarik batiknya dililit ketat, matanya penuh tekad meski masih ada bayang trauma. Kang Mamat memegang golok besar, Bang Jaim membawa botol air suci dan tas kain berisi mantra tertulis di daun lontar. Pak Kades, Kang Asep, Kang Ujang, dua hansip desa, dan beberapa warga tangguh lainnya ikut—total hampir dua puluh orang. Semua bersenjata sederhana: golok, tombak bambu, parang, dan doa di hati.
“Kita masuk malam ini,” kata Daeng Tasi, suaranya tegas tapi tenang. “Bukan untuk membantai. Bukan untuk balas dendam. Kita masuk untuk bicara, untuk minta maaf, untuk akhiri kutukan ini. Badik ini, air suci, mantra—itu senjata kita. Tapi hati kita yang akan menang.”
Mereka bergerak pelan menyusuri jalan setapak yang gelap. Obor menerangi pohon durian liar yang duri-durinya seperti taring mengancam. Bau kemenyan semakin kuat saat mereka mendekati bagian hutan yang lebih dalam. Angin malam menderu pelan, membawa suara tawa serak samar—tapi kali ini suara itu terdengar ragu, seperti seseorang yang sedang menangis di balik tawa.
Setelah hampir satu jam berjalan, mereka sampai di mulut gua rahasia—lubang gelap di sisi bukit yang tersembunyi di balik semak durian dan akar-akar besar. Bau kemenyan menyengat keluar dari dalam, bercampur amis sungai purba. Pak Kades mengangkat obor lebih tinggi. “Ini... ini tempatnya. Gua yang katanya Mbah Saroh sembunyi setelah dibakar. Di sini dia ‘simpan’ jiwa-jiwa dalam ilusi.”
Mereka masuk pelan. Gua itu lembab, dindingnya berlumut hijau kehitaman, air menetes dari stalaktit di atas. Di dalam, ruangan membesar menjadi aula bawah tanah. Di tengahnya, air hitam menggenang seperti cermin gelap—sungai bawah tanah yang mengalir pelan. Dan di permukaannya, ilusi besar muncul: sungai darah merah pekat bergolak, bayang-bayang anak-anak kecil tenggelam di dalamnya, tangan-tangan mungil mencoba meraih permukaan, mulut mereka terbuka menjerit tanpa suara. Bayang itu berputar seperti pusaran, menarik pandangan semua orang.
Sari Wangi menjerit pelan, “Lilis... itu seperti Lilis...”
Daeng Tasi maju, badik sakti di tangan kanan, botol air suci di kiri. “Ini ilusi! Jangan percaya itu tipuan mata!”
Bang Jaim mulai melantunkan mantra Bugis-Makassar keras-keras:
“Bismillah... ya Allah, potong tali dendam yang mengikat jiwa tersiksa. Lunakkan hati yang keras, kembalikan kedamaian pada yang hilang. Ya Rahman, ya Rahim... lepaskan ilusi dari mata hamba-Mu...”
Daeng Tasi menyemprotkan air suci ke permukaan sungai darah itu. Air bertemu ilusi—dan permukaan bergoyang hebat. Bayang anak-anak menjerit lebih keras, tapi suara mereka mulai pecah. Kang Asep maju, mengeluarkan golok Ciomas milik leluhurnya—golok besar dengan bilah lebar yang konon ditempa dari besi meteor, diwariskan turun-temurun untuk memotong ilmu hitam. Ia menebas udara di atas sungai sambil berdoa keras.
Ilusi sungai darah mulai retak seperti kaca. Bayang anak-anak memudar satu per satu, jeritan mereka berubah menjadi isak pelan, lalu lenyap. Air hitam di gua kembali jernih, mengalir tenang seperti sungai biasa.
Rombongan bernapas lega. Di ujung gua, dari kegelapan yang tersisa, sosok Nenek Gerandong muncul pelan—rambut kelabu panjang menjuntai, mata merah redup, tubuh kurusnya melayang samar. Ia tak menyerang. Hanya menatap mereka dengan tatapan yang campur antara lelah, sedih, dan... harapan kecil.
Daeng Tasi maju selangkah, badik masih di tangan tapi tak diacungkan. “Mbah Saroh... kami datang bukan untuk melawan. Kami datang untuk bicara. Kami tahu penderitaanmu. Kami tahu kesalahan kami. Malam ini... kami minta maaf. Atas nama desa, atas nama leluhur kami. Lepaskan dendam itu. Biarkan kau istirahat.”
Nenek Gerandong diam lama. Angin di gua berhembus pelan, membawa bau kemenyan yang kini terasa lebih ringan. Matanya merah mulai berkedip pelan, seperti bara yang hampir padam.
Dan di mulut gua, suara tawa serak yang dulu mengerikan kini terdengar seperti isak tangis yang tertahan.
***