Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Panggilan yang Tak Pernah Siap Diterima
Bus melaju perlahan di bawah terik matahari siang.
Yura duduk di dekat jendela, napasnya masih belum sepenuhnya tenang. Tangannya memeluk tas di pangkuan, sementara matanya menatap keramaian jalan yang bergerak mundur di balik kaca.
Baru beberapa menit lalu ia membantu seorang ibu hamil menyebrang jalan. Sekarang, tubuhnya mulai terasa lelah bukan karena fisik, tapi karena pikirannya tak berhenti bergerak.
Ia menempelkan kening ke kaca bus yang hangat.
Kota tetap sibuk. Klakson bersahutan. Orang-orang berlalu dengan urusannya masing-masing. Dunia tidak berhenti hanya karena seseorang hampir kehilangan pegangan.
Getaran di ponselnya memecah lamunan.
Yura menurunkannya dari telinga, lalu terdiam saat melihat nama yang tertera di layar.
Ayah.
Alisnya sedikit mengernyit.
Ayahnya jarang menelepon di siang hari. Seorang chef di restoran bintang lima, ayah Yura lebih sering berangkat pagi dan pulang tengah malam. Kadang, Yura hanya menemukan sisa aroma masakan di dapur tanpa sempat bertemu langsung. Bahkan pernah, seharian penuh mereka tak saling melihat meski tinggal serumah.
Yura menekan tombol hijau.
“Yah?” panggilnya pelan.
Tidak ada suara ayahnya.
Hanya jeda singkat… lalu suara seorang perempuan terdengar di seberang.
“Apakah ini dengan Mbak Yura?”
Jantung Yura berdegup keras.
“Iya… saya sendiri.”
“Maaf mengganggu, Mbak. Saya perawat dari Rumah Sakit Harapan Sehat.”
Yura menegakkan tubuhnya.
“Ayah Mbak saat ini sedang berada di rumah sakit.”
Kalimat itu jatuh pelan tapi menghantam keras.
“Ayah saya kenapa?” suara Yura bergetar tanpa bisa ditahan.
“Beliau pingsan di dapur saat bekerja. Sekarang sedang ditangani dokter. Mohon Mbak bisa datang secepatnya.”
Ponsel di tangannya terasa berat.
“Di mana?” tanyanya lirih.
Alamat rumah sakit disebutkan. Yura mengangguk meski perawat itu tak bisa melihatnya.
“Iya… saya ke sana sekarang.”
Panggilan terputus.
Yura menatap layar ponselnya yang menghitam. Tangannya dingin. Napasnya pendek-pendek. Bus tetap melaju, seolah tak peduli bahwa dunia seseorang baru saja berguncang.
“Pak!” Yura berdiri mendadak. “Pak, saya mau turun!”
Beberapa penumpang menoleh. Sopir melirik lewat kaca spion.
“Halte masih jauh, Mbak.”
“Pak, tolong… saya harus turun sekarang.”
Bus melambat dan menepi. Begitu pintu terbuka, Yura turun hampir berlari. Panas aspal menyengat telapak kakinya, tapi ia tak peduli.
Di pinggir jalan yang ramai, Yura berhenti sejenak.
Ayahnya. Dapur. Rumah sakit.
Untuk pertama kalinya di siang bolong yang terang itu, Yura merasa dunia terasa gelap.
Dan ia belum tahu panggilan barusan bukan hanya mengubah arah langkahnya, tapi juga seluruh hidup yang selama ini ia jalani.
Yura berdiri di pinggir jalan hanya beberapa detik sebelum kesadarannya kembali. Ia segera melambaikan tangan saat sebuah taksi melambat di depannya.
“Rumah Sakit Harapan Sehat, Pak. Tolong cepat,” ucapnya begitu pintu tertutup.
Mobil melaju membelah siang yang terasa terlalu terang untuk kabar seburuk itu. Yura menggenggam tasnya erat. Pikirannya kosong, lalu penuh, lalu kosong lagi. Bayangan ayahnya berseliweran senyum tipis saat pulang larut, aroma masakan yang selalu tertinggal di rumah, dan kalimat sederhana yang sering ayahnya ucapkan, ‘Jaga diri kamu baik-baik, Yura.’
Sesampainya di rumah sakit, Yura hampir berlari masuk.
Langkahnya tergesa, napasnya tidak teratur. Bau khas antiseptik langsung menyambutnya dingin, asing, dan menakutkan.
Ia berhenti di depan meja resepsionis.
“Permisi,” suaranya bergetar. “Ayah saya… Rahardian. Tadi saya dapat telepon katanya dirawat di sini.”
Resepsionis mengetik cepat, lalu mendongak.
“Pasien atas nama Bapak Rahardian, ya? Silakan tunggu sebentar.”
Detik-detik terasa lebih lama dari biasanya.
“Pasien sedang dirawat di lantai tiga. Akan ada perawat yang mengantar.”
Belum sempat Yura mengucapkan terima kasih, seorang perawat sudah menghampirinya.
“Mbak Yura?” tanyanya lembut.
Yura mengangguk cepat.
“Mari ikut saya.”
Mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang panjang dan sunyi. Sepatu Yura terasa berat di setiap langkah. Jantungnya berdebar semakin kencang mendekati ruangan ayahnya.
Di tengah perjalanan, perawat itu membuka suara.
“Mbak Yura… sebelumnya, apakah Mbak sudah tahu kondisi kesehatan ayah?”
Yura menggeleng pelan.
“Ayah saya jarang mengeluh,” jawabnya lirih. “Beliau bilang cuma capek.”
Perawat itu menarik napas pelan, seolah menimbang kata.
“Bapak Rahardian sudah cukup lama menjalani pengobatan. Beliau didiagnosis kanker… dan saat ini sudah berada di stadium akhir.”
Langkah Yura terhenti.
“Apa…?” suaranya hampir tak terdengar.
Perawat ikut berhenti, menatapnya dengan empati.
“Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Mbak. Tapi… kami juga ingin keluarga bersiap.”
Kata-kata itu menghantam lebih keras dari apapun.
Kanker.
Stadium akhir.
Yura menutup mulutnya, menahan napas yang nyaris pecah. Dunia seolah mengecil di lorong putih itu. Semua suara terdengar jauh.
Ayahnya.
Sendirian.
Menanggung semua ini tanpa pernah bilang apa-apa.
“Ruangan ada di depan,” ucap perawat pelan.
Yura mengangguk, meski matanya mulai basah.
Ia melangkah lagi. Kali ini lebih pelan. Lebih berat. Di balik pintu ruangan itu, ada kenyataan yang selama ini tak pernah ia bayangkan
dan hidup Yura tidak akan pernah sama setelah pintu itu terbuka.
Pintu ruangan itu terbuka perlahan.
Yura melangkah masuk dengan langkah ragu, seolah takut apa yang akan ia lihat di dalam akan benar-benar menghancurkan sisa ketenangannya.
Ruangan itu sunyi. Hanya terdengar bunyi alat medis yang berdetak pelan, teratur, namun terasa dingin.
Di atas ranjang, ayahnya terbaring.
Tubuh Rahardian tampak jauh lebih kurus dari terakhir kali Yura melihatnya. Wajah yang biasanya tegas dan hangat itu kini pucat. Selang infus terpasang di tangannya. Napasnya naik turun pelan, seolah setiap tarikan membutuhkan usaha.
Yura berhenti di ambang pintu.
Dadanya terasa sesak.
Itu… ayahnya?
Orang yang selalu berdiri lama di dapur panas demi menyajikan hidangan terbaik. Orang yang jarang istirahat, jarang mengeluh, dan selalu bilang dirinya baik-baik saja.
Kakinya bergetar saat ia mendekat.
“Ayah…” panggilnya lirih.
Tidak ada jawaban.
Yura duduk di sisi ranjang. Tangannya perlahan meraih tangan ayahnya yang dingin dan kurus. Jari-jari itu terasa rapuh di genggamannya.
Air mata jatuh tanpa izin.
“Ayah kenapa gak bilang?” suaranya pecah. “Kenapa Ayah selalu bilang capek biasa?”
Ia menunduk, dahi hampir menyentuh tangan itu.
“Ayah pikir aku kuat… tapi ternyata enggak,” bisiknya.
Seolah mendengar, Rahardian membuka matanya perlahan.
“Yura…” suaranya lemah, hampir tak terdengar.
Yura tersentak, cepat mengangkat kepala.
“Iya, Yah. Aku di sini.” Ia menggenggam tangan itu lebih erat. “Aku datang.”
Mata Rahardian berkaca-kaca. Senyum tipis muncul di wajahnya senyum yang sama seperti yang selalu Yura lihat setiap kali pulang malam.
“Kamu kelihatan capek,” ucapnya pelan.
Kalimat sederhana itu membuat Yura menangis lebih keras.
“Harusnya aku yang bilang gitu ke Ayah,” katanya terisak. “Bukan sebaliknya.”
Rahardian menghela napas panjang.
“Maaf… Ayah gak bilang apa-apa,” katanya terbata. “Ayah cuma… gak mau kamu berhenti ngejar hidup kamu.”
Yura menggeleng keras.
“Hidup aku itu Ayah,” katanya tanpa ragu. “Kalau Ayah kenapa-kenapa, semua yang aku kejar gak ada artinya.”
Rahardian menatapnya lama, seolah menghafal wajah putrinya.
“Dengerin Ayah,” katanya lemah tapi tegas. “Kalau suatu hari… Ayah gak ada, kamu jangan berhenti hidup.”
Air mata Yura jatuh membasahi seprai.
“Jangan ngomong gitu, Yah…”
Rahardian tersenyum lagi.
“Janji satu hal,” katanya. “Lakuin hal yang bikin kamu bahagia. Bukan yang bikin kamu terlihat kuat.”
Yura menggenggam tangan itu dengan putus asa.
“Aku janji,” bisiknya.
Di ruangan putih yang sunyi itu, Yura akhirnya mengerti
bahwa kehilangan tidak selalu datang dengan perpisahan,
kadang ia datang pelan,
sambil memaksa seseorang belajar melepaskan.
Malam datang tanpa permisi.
Cahaya lampu rumah sakit menyelimuti ruangan dengan warna kuning pucat. Hujan rintik terdengar samar di luar jendela, memantul pelan di kaca.
Yura masih duduk di kursi kecil di samping ranjang.
Di tangannya, sebuah buah pir sudah setengah terkupas. Pisau kecil ia gerakkan perlahan, hati-hati, seolah takut suara gesekan sekecil apa pun bisa mengusik ketenangan ruangan itu.
Ayahnya tertidur pulas.
Beberapa jam sebelumnya, dokter memberi suntikan agar Rahardian bisa beristirahat. Napasnya kini lebih teratur, meski wajahnya tetap terlihat lelah.
Yura menatapnya lama.
Ia baru sadar betapa kurus bahu ayahnya. Betapa sunyi ruangan ini tanpa suara ayahnya yang biasanya ringan meski lelah.
Kupasan pir terlepas sempurna. Yura memotongnya kecil-kecil, lalu menaruhnya di piring plastik. Ia tahu ayahnya belum tentu bisa memakannya nanti, tapi tangannya tetap ingin melakukan sesuatu apa saja asal tidak diam.
Diam membuat pikirannya terlalu ramai.
Yura menghela napas pelan.
Ia memejamkan mata sesaat, lalu membukanya kembali, menatap ayahnya yang tertidur.
“Aku di sini, Yah,” bisiknya. “Aku gak ke mana-mana.”
Tangannya terulur, merapikan selimut ayahnya yang sedikit bergeser. Sentuhan itu ringan, penuh kehati-hatian, seperti menyentuh sesuatu yang rapuh.
Di luar sana, dunia masih berjalan.
Mobil lalu-lalang. Orang-orang tertawa. Waktu terus bergerak. Tapi di ruangan kecil itu, Yura hanya ingin waktu berhenti setidaknya sampai ayahnya membuka mata lagi.