NovelToon NovelToon
Miranda Istri Yang Diabaikan

Miranda Istri Yang Diabaikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Nikah Kontrak
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Miranda menikah selama 2 tahun berbakti pada suami
membantu suami keluar dari kebangkrutan
sayang sekali setelah sukses suaminya selingkuh
bagaimana kehidupan miranda selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MIA 17

Makan malam berakhir dengan suasana yang tidak sepenuhnya tenang. Wajah Saras tampak jelas menahan kecewa saat mengetahui Miranda akan ikut dalam pertemuan dengan Karman Wijaya. Padahal sejak sore ia sudah menyusun rencana untuk mendekati pria itu dengan pesonanya. Namun rencana itu runtuh begitu saja ketika pamannya lebih dulu menjadwalkan pertemuan resmi bersama Miranda dan Rizki. Hatinya panas, tetapi ia hanya bisa menunduk, menelan rasa kesal sendirian.

Miranda tetap memilih tidur di kamar tamu malam itu. Ia belum bersedia satu kamar dengan Rizki. Anehnya, Rizki tidak memprotes. Tepat pukul sembilan malam, listrik tiba-tiba padam.

Beberapa detik kemudian terdengar ketukan di pintu.

“Mir, tolong hubungi teknisi,” suara Raka terdengar dari balik pintu.

Miranda menghela napas. Selama dua tahun ini, hampir semua urusan rumah tangga memang berada di tangannya. Ia bangkit dari kasur, membuka pintu, menyalakan lampu ponsel, lalu berjalan ke ruang tengah sambil mencari kontak teknisi listrik.

Belum sempat menelepon, terdengar suara klakson dari depan gerbang.

Miranda melangkah keluar. Di halaman tampak sebuah mobil pikap berlogo PLN berhenti.

“Mbá, ada konsleting. Diduga dari rumah ini,” ujar salah seorang teknisi.

“Baik, silakan masuk,” jawab Miranda.

Ada tiga orang teknisi malam itu. Mereka membawa senter, alat pendeteksi, dan sebuah tangga. Karena gelap, Miranda tidak begitu memperhatikan wajah mereka.

Rizki, Saras, Anton, dan Raka ikut keluar dari kamar.

“Kami perlu mengecek semua ruangan,” kata salah satu teknisi.

“Cepatlah. Kami bayar rutin, tapi masih saja mati lampu,” ketus Anton.

Teknisi mulai memeriksa satu per satu ruangan. Mereka masuk ke kamar, ke ruang tamu, ke koridor, hingga ke dapur. Lampu senter bergerak ke sana kemari, suara alat pendeteksi sesekali berbunyi pelan.

Beberapa menit berlalu, tetapi sumber konsleting belum ditemukan.

“Kalian ini bisa kerja atau tidak?” bentak Anton tidak sabar.

“Sabar, Pak. Kami cari lagi,” jawab teknisi dengan tenang.

Tak lama kemudian salah seorang teknisi berhenti di dapur.

“Sepertinya dari sini, Pak,” ucapnya.

Alat pendeteksi menyala lebih terang. Miranda menahan napas. Jantungnya berdegup keras.

Itu dekat tempat ia memasang kamera kecil sore tadi.

Dalam gelap, keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.

“Ini, Pak, penyebabnya,” ucap teknisi sambil memutar dudukan bohlam.

“Kenapa?” tanya teknisi yang lain mendekat.

“Salah pasang bohlam,” jawab teknisi itu singkat.

“Ya sudah, perbaiki saja,” sahut rekannya.

Miranda menahan napas. Matanya mengikuti setiap gerakan tangan teknisi itu. Ia melihat jelas, kamera kecil yang tadi dipasang di dekat lampu sama sekali tidak disentuh. Teknisi hanya melepas bohlam, memeriksanya sebentar, lalu memasang kembali dengan lebih hati-hati.

Tak lama kemudian salah seorang teknisi keluar dan menyalakan saklar utama. Lampu-lampu rumah kembali menyala.

“Maaf, Pak, atas ketidaknyamanannya,” ucap teknisi sopan.

Miranda menghela napas panjang. Dadanya terasa jauh lebih ringan. Kamera itu aman. Tidak ada yang menyadari apa pun.

Teknisi pamit dan meninggalkan rumah.

“Masak cuma karena salah pasang bohlam bisa konslet,” gumam Anton tidak puas.

“Sudahlah, Yah. Yang penting sekarang sudah nyala,” jawab Rizki singkat.

Rizki melirik sekilas ke arah Miranda. Tatapan itu masih menyimpan sisa dendam, dingin dan tajam. Namun Miranda tidak gentar. Ia membalasnya dengan pandang yang sama tenangnya.

Satu per satu mereka kembali ke kamar masing-masing.

Miranda masuk ke kamar tamu. Ia duduk di tepi ranjang, meraih ponsel, dan menemukan satu pesan baru dari Nabil. Bibirnya melengkung tipis. Ia mengetik balasan singkat, “Terima kasih.”

Waktu berlalu tanpa terasa. Pagi datang lebih cepat dari dugaannya.

Sejak subuh Miranda sudah bangun. Ia mengurus Amora sebentar, lalu bersiap pergi. Ia mengenakan blazer biru, kemeja putih, dan rok selutut. Rambutnya dibiarkan terurai rapi. Setelah sarapan bersama, ia berangkat dengan Rizki.

Hari itu Saras tidak ikut satu mobil.

Anton tampak sangat berhati-hati. Semua hal kecil yang berpotensi merusak suasana hati Miranda sengaja dijauhkan, termasuk memisahkan Saras dari Rizki.

Di dalam mobil, tak ada satu pun percakapan.

Rizki hanya menatap jalan dengan rahang mengeras. Dalam hatinya bergolak amarah. Begitu kontrak ditandatangani dan uang masuk, ia bertekad mencari orang untuk menghajar Miranda sampai wajahnya tak bisa dikenali.

Miranda melirik sekilas ke arah suaminya.

Tatapan itu membuat Rizki bergidik. Refleks ia menyentuh pipinya. Memar memang sudah menghilang, tetapi nyerinya masih terasa.

Perjalanan memakan waktu satu jam. Mereka tiba di sebuah gedung tinggi bertuliskan Karmanjaya, empat belas lantai menjulang di hadapan mereka.

Di lobi, seorang satpam segera membuka pintu dan menawarkan memarkirkan mobil.

Kemarin, saat datang bersama Saras, Rizki tidak mendapat perlakuan seperti ini. Ia bahkan harus menunggu hampir satu jam, hanya untuk mendengar jawaban dingin, “Semuanya terserah Miranda.”

Seorang wanita berbusana elegan menghampiri mereka.

“Pak Rizki dan Nyonya Miranda, silakan. Pak Karman sudah menunggu,” ucapnya ramah.

Sampai di ruang rapat lantai satu, seorang lelaki tua dengan rambut yang sudah memutih seluruhnya telah menunggu. Ia mengenakan jas abu-abu dengan bros naga emas tersemat di dada kiri, dasi senada, dan kemeja putih yang rapi. Wajahnya tenang, sorot matanya tajam namun hangat.

“Miranda, anak nakal, masuk kamu,” ucap Karman sambil tersenyum ramah.

Miranda tersenyum balik. “Sepanjang malam saya memimpikan Anda sampai sulit tidur,” katanya ringan.

Rizki mengerenyit. Dalam hati ia mendengus, apa-apaan Miranda sok akrab begini.

“Memangnya kamu mimpi apa, Mir?” tanya Karman tertawa kecil.

“Aku mimpi dapat warisan dari Anda,” jawab Miranda tanpa ragu.

Wajah Rizki seketika memucat. Dadanya terasa tercekat. “Jangan-jangan Miranda mau mengacau,” batinnya gelisah. Mendapatkan warisan bukankah Karman harus meninggal dulu baru membagikan warisan

“Kurang ajar, dasar anak nakal,” Karman terkekeh. “Jadi kamu mendoakan aku mati, begitu?”

Miranda sudah lebih dulu duduk, padahal belum dipersilakan. Sikap itu jelas tidak sopan bagi orang lain, apalagi di hadapan pemilik perusahaan sebesar Karman Wijaya.

“Jangan terlalu dipikirkan,” sahut Miranda santai. “Semua orang pasti mati. Sebelum mati, sebaiknya Anda banyak bersenang-senang, Tuan Karman.”

Rizki makin kesal.Miranda ini benar-benar tidak sopan padahal Karman Wijaya dikenal dengan sikap dingin banyak tatakramanya tapi hari miranda justru berbuat jauh dari kesopanan

Dan perkataan miranda selanjutnya sungguh membuat Rizki kesal, dengan penuh wibawa miranda berkata“Silakan duduk, Pak Karman,”

Rizki terperangah. Tuan rumah justru dipersilakan duduk oleh tamunya sendiri.

Anehnya, Karman tertawa kecil. “Baiklah, karena katanya kamu calon pewaris hartaku, aku duduk saja,” katanya sambil menarik kursi.

Rizki nyaris tak percaya. Harusnya lelaki itu tersinggung, marah, atau setidaknya menegur. Tapi Karman justru menurut.

“Pak Rizki, silakan duduk,” ujar Karman kemudian, kini kembali formal.

“Susi,” panggil Karman.

Seorang wanita cantik segera masuk membawa beberapa berkas tebal. Ia menatanya rapi di atas meja.

“Pak Rizki, mari kita lakukan kerja sama ini,” ujar Pak Karman sambil berdiri di depan berkas, bolpoin sudah di tangannya. “Sejak kemarin saya ingin segera berinvestasi, tapi anak nakal ini selalu menghindar,” tambahnya sambil melirik Miranda.

Rizki tercengang. Selama berminggu-minggu ia berjuang mencari jalan, menunggu, membujuk, bahkan merendahkan diri. Namun semua terasa sia-sia dibandingkan hasil hari ini.

“Pak Rizki, kenapa kamu melamun saja?” tanya Pak Karman.

Rizki tersentak. Ia segera berdiri, meraih bolpoin, dan dengan tangan sedikit gemetar bersiap menandatangani kontrak yang akan mengubah nasib perusahaannya.

1
partini
beguna lah banyak video itu
partini
wow bisa bela diri teryata Very good 👍👍👍👍
partini
OMG mau eksekusi
Ma Em
Miranda makanya kamu hrs pintar dan cerdas jgn mau di manfaatkan .
partini
good story
partini
OMG kadal semua
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!