Dalam dunia bisnis yang kejam, Alara Davina—seorang desainer berbakat—terjebak dalam pernikahan kontrak dengan Nathan Erlangga, CEO dingin yang menyimpan luka masa lalu. Yang Alara tidak tahu, wanita yang selama ini ia anggap sahabat—Kiara Anjani—adalah cinta pertama Nathan yang kembali untuk merebut segalanya.
Ketika pengkhianatan datang dari orang terdekat, air mata menjadi teman, dan hati yang rapuh harus memilih. Bertahan dalam cinta yang menyakitkan, atau pergi dengan luka yang tak pernah sembuh.
*Cinta sejati bukan tentang siapa yang datang pertama, tapi siapa yang bertahan hingga akhir.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Amal Pertama
Undangan itu dateng seminggu yang lalu, amplop mewah dengan tulisan emas. "Pesta Amal Tahunan Erlangga Group."
Richard yang ngasih langsung ke Naura pas dia lagi main ke mansion. "Naura, kamu harus ikut ya, ini debut kamu sebagai Nyonya Erlangga di depan publik, semua relasi bisnis akan hadir."
Naura cuma bisa ngangguk meski jantungnya dag dig dug keras. Sekarang dia berdiri didepan cermin kamarnya, menatap pantulan dirinya yang hampir ga dia kenal.
Gaun malam biru laut dengan model sabrina yang elegan, kain sutranya ngalir indah sampe ke lantai, ada payet payet kecil yang berkilau setiap Naura gerak, makeup di wajahnya perfect banget hasil kerja makeup artist profesional yang Richard kirim, rambut di sanggul tinggi dengan beberapa helai dibiarikan jatuh natural.
Dia cantik.
Sangat cantik.
Tapi tetep aja Naura ngerasa hampa karena dia tau Nathan gak akan peduli.
"Nyonya cantik sekali!" Bi Ijah berkaca kaca liat Naura. "Tuan Nathan pasti terpesona!"
Naura tersenyum pahit "Makasih Bi."
Jam tujuh malem Nathan ketuk pintu kamar Naura, pertama kalinya dia lakuin itu.
"Kita berangkat sekarang."
Naura buka pintu, Nathan berdiri disitu dengan tuxedo hitam sempurna, rambut rapi, wangi cologne yang bikin Naura pengen cium lehernya tapi dia tahan.
Nathan ngeliatin Naura sekilas dari atas ke bawah, wajahnya ga berubah sama sekali, ga ada tatapan kagum, ga ada senyum, ga ada apapun.
"Bagus, kita pergi " Nathan berbalik duluan.
Bagus.
Cuma bagus.
Bukan cantik, bukan memukau, cuma bagus kayak ngomongin desain presentasi.
Naura ngikutin Nathan ke bawah dengan hati yang udah retak sebelum pesta dimulai.
***
Ballroom hotel bintang lima itu mewah banget, lampu kristal raksasa di langit langit, meja meja bundar dengan taplak putih bersih dan bunga bunga mawar merah, panggung besar di depan buat acara nanti.
Naura masuk sambil pegangan lengan Nathan, tapi Nathan ga menggenggam balik tangannya, cuma biarin Naura pegangan sendiri kayak pegangan tiang.
Semua mata langsung ngeliatin mereka, bisik bisik mulai terdengar dimana mana.
"Itu istri Nathan Erlangga?"
"Cantik juga ya."
"Tapi keliatan biasa aja, ga seheboh yang aku bayangin."
"Emang Nathan nikah kapan sih? kok tiba tiba aja?"
Naura nyoba senyum ramah meski dalemnya pengen lari keluar.
Nathan ngenalin Naura ke relasi relasi bisnisnya satu persatu dengan nada datar. "Ini istri saya, Naura."
Ga ada kata kata manis, ga ada kebanggaan di suaranya, cuma perkenalan formal kayak kenalin pegawai baru.
Naura jabat tangan sama puluhan orang yang namanya langsung lupa, semua keliatan sama di mata Naura yang mulai pusing karena lampu yang terlalu terang dan parfum parfum mahal yang bercampur jadi bau menyengat.
Setengah jam berlalu, Naura duduk sendirian dimeja sementara Nathan ngobrol dengan klien pentingnya, dia minum air putih pelan pelan sambil ngeliatin orang orang yang ketawa riang.
Dia ngerasa kayak alien di planet asing. Tiba tiba suara ribut dari pintu masuk, semua orang noleh kesana
Dan Naura ngeliat Mahira.
Mahira masuk dengan gaun merah menyala yang pas banget ditubuhnya, model gaun itu berani dengan belahan dada yang rendah dan slit tinggi di paha, rambutnya terurai bergelombang indah, makeupnya bold dengan bibir merah yang menggoda.
Dia keliatan kayak dewi yang turun dari langit.
Semua mata tertuju padanya, termasuk mata Nathan yang dari tadi kusam tiba tiba berbinar. Naura ngeliat perubahan di wajah Nathan dari jarak sepuluh meter.
Cara rahang Nathan mengendur, cara napasnya tertahan sebentar, cara tangannya yang tadi menggenggam gelas jadi gemetar dikit. Mahira ngelirik keliling sampe matanya ketemu Nathan, dia senyum lebar dan lambaikan tangan kecil.
Nathan gak melambai balik, tapi senyumnya muncul tipis, senyum yang ga pernah dia kasih ke Naura. Dada Naura sakit, sakit banget sampe dia harus tarik napas dalam dalam biar ga nangis disitu juga.
Mahira jalan mendekati, keliatan percaya diri dengan setiap langkahnya yang bikin gaun merah itu bergoyang seksi.
"Nathan!" Mahira nyapa dengan suara riang. "Ga nyangka kita ketemu lagi disini!"
Ketemu lagi katanya, padahal mereka pasti udah janjian kan? gak mungkin kebetulan.
"Mahira, kamu cantik malam ini." Nathan ngomong dengan nada yang beda, nada lembut yang bikin Naura pengen muntah.
"Makasih." Mahira cekikikan sambil putar putar badan. "Kamu juga ganteng banget, tuxedo hitam emang paling cocok di kamu."
Mereka ngobrol kayak Naura ga ada disitu, kayak Naura cuma furniture, cuma hiasan yang ga perlu diperhatiin.
Naura berdiri dengan kaki gemetar. "Nathan, aku ke toilet sebentar."
Nathan cuma ngangguk tanpa lihat Naura.
Naura jalan ke toilet sambil nahan air mata yang udah ngumpul di pelupuk mata, begitu masuk ke toilet dan pastikan gak ada orang lain, dia nangis di depan wastafel.
Nangis sambil ngeliat pantulan dirinya yang katanya cantik tapi ternyata ga cukup buat bikin Nathan lirik. Makeup mulai luntur karena air mata, Naura cepet cepet bersihin dan touch up lagi, ga boleh keliatan abis nangis, harus kuat.
Harus tegar. Harus jaga image sebagai Nyonya Erlangga yang sempurna. Meski dalemnya hancur berantakan.
***
Pas Naura balik ke ballroom, acara udah mulai, ada sambutan dari Richard di panggung.
Naura duduk di kursinya lagi, Nathan duduk disebelahnya tapi perhatiannya ga ke panggung, matanya terus ngikutin Mahira yang duduk lima meja dari mereka.
Mahira sesekali ngelirik Nathan dan senyum, Nathan bales dengan senyum tipis. Naura ngeliat semua itu, ngeliat suaminya flirting sama wanita lain di depan matanya sendiri, di acara umum dimana semua orang bisa liat.
Memalukan.
Menyakitkan.
Menghancurkan.
"Dan sekarang, mari kita sambut pasangan tuan rumah malam ini, Nathan Erlangga dan istrinya Naura Erlangga!"
Suara MC mengagetkan Naura, semua orang tepuk tangan, spotlight diarahin ke meja mereka. Nathan berdiri, ngulurkan tangan ke Naura dengan wajah datar.
Naura terima tangannya dan berdiri, mereka jalan ke panggung sambil pegangan tangan tapi tangannya Nathan dingin banget, kaku kayak pegang tangan mayat. Di panggung, fotografer udah siap dengan kamera
"Tuan Nathan, Nyonya Naura, bisa berfoto bersama?"
Nathan merangkul pinggang Naura, narik Naura ke tubuhnya tapi ga ada kehangatan disitu, cuma rangkulan mekanis buat keperluan foto. Naura nyoba senyum natural tapi yang keluar cuma senyum paksa yang kayaknya keliatan banget palsu.
Klik klik klik
Beberapa foto diambil.
"Boleh ciuman di pipi?" fotografer minta.
Nathan menegang, Naura ngerasain tubuh Nathan kaku banget. Tapi Nathan tetep nunduk dan cium pipi Naura sekilas, bibirnya dingin dan ga ada perasaan apapun, kayak cium boneka.
Klik.
Foto terakhir diambil.
Mereka turun dari panggung, balik ke meja sambil tetep pegang tangan buat jaga image, tapi begitu sampe meja. Nathan langsung lepas genggamannya kayak pegang sesuatu yang panas.
Naura duduk dengan tangan gemetar di pangkuan, dia ngeliatin Nathan yang sekarang lagi ngobrol sama tamu di meja sebelah, sesekali ketawa halus, ekspresinya hidup. Ekspresi yang ga pernah dia tunjukin pas sama Naura.
Sisa malem berlangsung kayak siksaan, Naura harus senyum-senyum ke tamu yang nanya nanya tentang pernikahannya. Harus bohong bilang mereka bahagia, harus pura pura jadi istri yang dicintai. Padahal kenyataannya Nathan bahkan ga ngeliatin Naura sekalipun kecuali pas foto tadi.
Matanya terus ke Mahira.
Terus.
Dan terus.
Jam sebelas malem acara selesai, orang orang mulai pulang, Nathan ngajak Naura pulang juga.
Di mobil mereka diam, ga ada percakapan sama sekali, Nathan nyetir sambil sesekali lihat hape yang nyala nyala kayaknya ada yang chat.
Naura ngelirik, di layar hape Nathan keliatan nama Mahira dengan chat. "Malem yang menyenangkan, terima kasih udah ada disana."
Nathan ketik balasan, tapi Naura gabisa liat apa. Mobil sampai di mansion, Naura turun duluan tanpa tunggu Nathan bukain pintu, dia masuk ke rumah dan langsung naik ke kamar
Begitu pintu ketutup, Naura robek gaun malam itu sampe resleting belakang turun. Dia lempar gaunnya sembarangan, hapus makeup kasar sampe wajahnya merah, copot sanggul rambutnya sampe rambut jatuh berantakan. Terus dia duduk di lantai sambil meluk lutut, nangis dalam diam.
"Aku cantik ga sih malam ini?" Dia nanya pada dirinya sendiri sambil nangis. "Aku udah usaha banget, udah dandan sebaik mungkin, tapi kenapa Nathan tetep ga lihat aku?"
Ga ada yang jawab.
Cuma keheningan kamar yang dingin.
"Kenapa aku ga secantik Mahira? ga semenarik Mahira? kenapa aku cuma Naura yang biasa aja?"
Air matanya ngalir makin deres.
"Ibu bilang kecantikan bukan dari luar tapi dari dalam, tapi kenapa Nathan tetep pilih Mahira yang cantik di luar meski mungkin jelek di dalam?"
Pertanyaan pertanyaan itu ga ada jawaban, cuma bikin Naura nangis makin keras sampe suaranya serak.
Diluar kamar, Nathan lewat di koridor, dia denger isakan dari kamar Naura. Kakinya berhenti sebentar. Tangannya setengah terangkat mau ketuk pintu, tapi dia urungkan
Dia jalan terus ke kamarnya sendiri dan tutup pintu. Biarin Naura nangis sendirian. Biarin Naura hancur sendiri
Karena Nathan ga peduli.
Atau lebih tepatnya, dia ga mau peduli.
Karena kalau dia mulai peduli, semuanya bakal complicated. Jadi lebih gampang pura pura ga denger, pura-pura ga tau, dan pura-pura istrinya gak lagi patah hati di kamar sebelah.
Dan malem itu, dua orang yang tidur di kamar bersebelahan sama sama ga bisa tidur. Nathan mikirin Mahira yang cantik di gaun merah tadi.
Naura nangis sampe ketiduran di lantai karena capek. Ironis betapa deketnya mereka secara fisik tapi jauhnya secara emosional. Kayak dua planet yang orbit nya ga akan pernah ketemu, meski mereka di galaksi yang sama.