Jian Yi secara tak terduga memperoleh sebuah pedang aneh yang mampu berbicara. Dari pedang itulah ia mempelajari teknik pedang kuno dan jalan kultivasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Saat kekuatannya dianggap cukup, pedang tersebut memerintahkannya untuk mengembara—mencari cara agar sang roh pedang dapat memperoleh wujud fisik.
Maka dimulailah perjalanan Jian Yi sebagai seorang pengembara, melangkah di antara bahaya, rahasia, dan takdir yang perlahan terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Pagi yang Berantakan
Cahaya matahari pagi menyengat mata Jian Yi yang terasa seperti ditusuk-tusuk.
Dengan rintihan pelan, ia mencoba duduk, namun kepalanya terasa berputar hebat.
Ia memijat pelipisnya, berusaha mengumpulkan kepingan ingatan semalam.
"Ugh... arak Pangeran itu benar-benar racun." gumamnya serak.
Jian Yi melihat ke arah cermin rias tua di sudut kamar dan langsung mematung.
Di leher dan dadanya yang terbuka, terdapat beberapa bercak merah keunguan—bekas gigitan dan hisapan yang sangat jelas.
Terlebih lagi, bibir bawahnya sedikit bengkak dan terasa perih, seperti baru saja digigit oleh binatang kecil yang ganas.
"Apa yang terjadi? Apa aku bertarung dengan monster semalam?" batinnya bingung.
Tepat saat itu, ia menoleh ke sudut ranjang. Ling'er duduk di sana, membelakangi Jian Yi.
Bahunya yang mungil bergetar, dan suara isakan pelan terdengar memenuhi ruangan.
Ia tidak lagi mengenakan jubah tidur perak yang longgar, melainkan sudah berganti pakaian namun tampak sangat berantakan.
"Ling'er? Kau kenapa?" tanya Jian Yi dengan suara bodohnya.
Ling'er berbalik, dan Jian Yi tersentak. Mata besar gadis itu sembab dan merah karena menangis.
Wajah imutnya menunjukkan perpaduan antara kemarahan yang meluap dan rasa malu yang mendalam.
"KAU... KAU BINATANG!" teriak Ling'er sambil melempar teko teh ke arah kepala Jian Yi.
Jian Yi menangkap teko itu dengan refleks Grand Master-nya, namun wajahnya tetap penuh tanda tanya. "Hei! Kenapa kau marah-marah pagi-pagi begini?"
"Kau tidak ingat?!" Ling'er berdiri, menunjuk-nunjuk bercak merah di leher Jian Yi dengan jari kecilnya yang gemetar. "Kau meremas-remas tubuhku sepanjang malam! Kau memperlakukanku seolah-olah aku ini adonan roti! Dan saat aku... saat aku sudah kehilangan akal karena ulahmu, kau malah... KAU MALAH TIDUR SEPERTI KERBAU!"
Tangis Ling'er pecah lagi, lebih keras. "Aku ini pusaka suci! Aku punya harga diri! Tapi semalam kau menghancurkannya, membuatku merasa... membuatku merasa sangat aneh, lalu meninggalkanku begitu saja dalam keadaan tersiksa! KAU HARUS TANGGUNG JAWAB, JIAN YI!"
Jian Yi melongo. Bayangan samar tentang bantal empuk yang sangat besar mulai melintas di otaknya. Ia menelan ludah dengan susah payah. "T-tunggu... jadi bercak di tubuhku ini..."
"Itu bekas gigitanku karena aku kesal kau tidak bangun-bangun, Dasar Pendekar Impoten!" maki Ling'er sambil menyembunyikan wajahnya di balik bantal.
Di ambang pintu yang terbuka setengah, Lu Feng bersandar dengan santai.
Ia menghisap rokok "Napas Naga"-nya dalam-dalam, lalu mengembuskan asap putih tebal ke udara.
Matanya menatap pemandangan kacau di dalam kamar dengan tatapan penuh penilaian.
"Wah, wah," suara serak Lu Feng memecah ketegangan. "Yi, aku tahu kau hebat dalam urusan pedang, tapi aku tidak menyangka kau seburuk itu dalam urusan 'servis' di ranjang. Membuat seorang gadis menangis karena kau ketiduran di tengah jalan? Itu adalah dosa besar bagi laki-laki."
"Lu Feng! Jangan ikut campur!" seru Jian Yi, wajahnya kini merah padam karena malu.
"Aku tidak ikut campur, aku hanya mengamati sejarah," balas Lu Feng sambil menyeringai nakal. "Ling'er benar, Yi. Kau sudah 'mencicipi' tapi tidak menyelesaikan hidangannya. Itu namanya tidak bertanggung jawab. Di duniaku, kau bisa dipancung karena hal seperti itu."
Jian Yi menatap Ling'er yang masih sesenggukan, lalu menatap Lu Feng yang tampak sangat menikmati penderitaannya. Kepalanya semakin pusing.
"Lalu... apa yang harus kulakukan?" tanya Jian Yi dengan pasrah.
Ling'er mengangkat kepalanya dari bantal, matanya yang berkaca-kaca menatap Jian Yi dengan tajam.
"Mulai sekarang, kau tidak boleh membantah permintaanku! Kau harus membelikanku baju-baju bagus, memberiku makan enak, dan... dan kau tidak boleh menyentuhku tanpa izinku sampai aku sendiri yang memintanya!"
"Hanya itu?" Jian Yi merasa sedikit lega.
"Dan kau harus membawaku mencari Mutiara Laut Abadi sekarang juga!" tambah Ling'er dengan nada memerintah. "Aku butuh raga yang lebih kuat agar tidak mudah... 'terpengaruh' oleh tangan mesummu itu!"
Jian Yi menghela napas panjang, lalu berdiri dan merapikan jubahnya. Ia mendekati Ling'er, lalu dengan ragu ia mengusap kepala gadis itu. "Baiklah, Bakpao. Aku minta maaf. Aku akan bertanggung jawab... dengan caraku."
Ling'er menepis tangan Jian Yi, meski wajahnya sedikit merona. "Jangan panggil aku Bakpao!"
Lu Feng tertawa terbahak-bahak hingga terbatuk asap. "Ayo berangkat, Pasangan Absurd! Lautan sudah menunggu, dan aku yakin di sana akan ada lebih banyak drama yang bisa kunikmati sambil merokok."