Geun hanya ingin cepat kaya dan hidup nyaman.
Tapi setiap kebohongan kecil dan pertarungan nekat demi uang justru melahirkan legenda baru.
Saat dunia bela diri mulai menyebutnya monster dan iblis, Geun sendiri hanya sibuk mencari kerja dengan bayaran tinggi.
Geun yang awalnya hanyalah pemuda gelandangan yang ingin hidup bebas dan nyaman, namun tanpa sadar meninggalkan jejak yang mengubah dunia bela diri selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drunk Cats, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #23: The Corpse Collector
Malam di Distrik Gudang Kota Jeokha tidak lagi sama.
Tiga hari telah berlalu sejak Peristiwa Gudang Silvercrane, namun udara di tempat itu masih terasa berat. Bukan karena debu reruntuhan atu bau hangus sisa kebakaran yang belum sepenuhnya hilang.
Hawa kematian.
Gudang utama Grup Dagang Silvercrane kini hanyalah kerangka bangunan yang menyedihkan. Atapnya runtuh, dinding batunya retak, dan lantai utamanya ternoda oleh bercak-bercak hitam kering sisa darah Jiangshi yang telah membusuk. Bendera-bendera jimat dan kertas-kertas jimat berwarna kuning yang dipasang oleh penjaga kota berkibar lemah tertiup angin malam.
Kumpulan jimat itu seolah memperingatkan siapapun untuk tidak mendekat.
Namun, peringatan itu tidak berlaku bagi sosok yang sedang berjongkok di tengah reruntuhan.
Sosok itu mengenakan jubah abu-abu lusuh yang terbuat dari kain kasar, jenis yang biasa dipakai oleh pengurus jenazah miskin. Matanya ditutupi kain jimat yang lebar hingga menutupi hidung dan mulut, hanya memperlihatkan dagu yang runcing. Di punggungnya, tergantung sebuah keranjang anyaman bambu besar yang tertutup kain hitam, mengeluarkan bunyi keretek-keretek halus setiap kali dia bergerak.
Dia adalah The Corpse Collector.
Dia bukan anggota Silvercrane. Dia bukan bandit. Dia adalah Petugas Kebersihan yang dikirim langsung dari Provinsi Guryong, pusat dari segala mimpi buruk yang sedang merayap naik ke permukaan Murim.
"Berantakan sekali..." desisnya. Suaranya kering, seperti gesekan dua batu nisan.
Tangan kurusnya yang dibaluti kulit yang sudah mengendor, menyapu debu di lantai. Dia tidak mencari harta rampasan, tapi mencari jejak.
Di matanya, gudang ini bukan sekadar reruntuhan. Ini adalah buku sejarah yang ditulis dengan darah dan Qi. Dia bisa melihat sisa-sisa pertempuran tiga hari lalu sejelas melihat lukisan.
"Di sini..." jarinya menelusuri goresan dalam di pilar batu. "Bekas tebasan pedang Jian. Bersih. Lurus. Mengandung Qi murni yang lembut tapi tajam."
Dia mengendus udara.
"Wudang. Tidak salah lagi. Bau yang suci."
Dia bergerak lagi, kali ini ke tempat di mana tumpukan daging busuk bekas Jiangshi pernah berada sebelum dibersihkan oleh pihak kota.
Dia mengambil sejumput debu yang masih berwarna gelap. Dia meremasnya, lalu mendekatkannya ke hidung.
"Sayang sekali..." gumamnya kecewa. "Lima unit Jiangshi hancur total. Persendian dipotong rapi. Siapa pun yang melakukan ini tahu cara kerja boneka kami. Wudang biasanya bodoh soal ini, mereka selalu mencoba menusuk jantung dengan teknik indah. Tapi kali ini... mereka belajar memotong engsel?"
Corpse Collector berdiri, lalu berjalan menuju pusat ruangan.
Di sana, ada kawah kecil di lantai batu. Bekas hantaman benda tumpul yang sangat berat. Dan di tengah kawah itu, ada noda darah yang berbeda.
Darah itu sudah kering, menghitam, dan menyatu dengan debu. Tapi bagi hidung sensitif sang Pengumpul, darah itu berteriak.
"Ini dia," bisiknya.
Dia berjongkok. Kemudian dengan hati-hati, dia mengorek sedikit tanah yang bercampur darah kering itu menggunakan kuku jari kelingkingnya yang berdaki.
Dia memasukkan serpihan tanah berdarah itu ke dalam mulutnya.
Dia mengecapnya.
Detik berikutnya, mata di balik jimat itu terbelalak lebar.
"Ugh!"
Tubuhnya tersentak mundur. Rasa yang meledak di lidahnya bukanlah rasa besi anyir darah manusia biasa.
Rasanya... panas.
Pahit.
Kasar.
Seperti menelan serpihan kaca yang dibakar api neraka.
"Apa ini?!"
Corpse Collector meludah, tapi rasa itu menempel di langit-langit mulutnya tidak mau hilang.
Dia sudah mencicipi darah ribuan pendekar, dari Third-Rate sampai Master. Dia tahu rasa Qi murni Wudang yang sejuk seperti air, Qi panas Shaolin yang hangat seperti matahari, atau Qi racun Tang yang pedas menyengat.
Tapi ini?
Ini bukan Qi atau energi manusia.
Ini juga bukan Qi dari seni sesat pengorbanan darah.
"Kacau..." gumamnya, napasnya memburu karena kegembiraan yang aneh. "Energi ini... tidak memiliki struktur. Tidak ada pola Yin atau Yang. Ini adalah Qi alam liar yang dipaksa masuk ke dalam darah, dihancurkan, lalu dipadatkan kembali dalam wadah yang rusak."
Dia tertawa kecil. Tawa yang mengerikan.
"Qi alam yang asli, mentah, kotor. Qi yang tidak diolah oleh teknik pernafasan atau pencerahan. Qi Kekacauan yang kasar dari alam. Chaos Qi."
Dia mengambil lagi sejumput tanah itu, kali ini menyimpannya ke dalam botol kaca kecil.
"Ini bukan karya Wudang. Wudang tidak akan sudi menyentuh energi sekotor ini. Terlebih, tidak ada satupun manusia yang mampu mengambil Qi alam yang mentah dan menampungnya ke dalam tubuh. Ini mungkin milik pihak ketiga. Orang yang menghancurkan kepala Jo Chil-sung."
Corpse Collector berdiri tegak. Dia memandang sekeliling gudang dengan pandangan berbeda.
Sekarang dia bisa melihat jejak yang ditinggalkan oleh pemilik darah ini.
Jejak kaki yang dalam tanda penggunaan otot berlebihan tanpa teknik meringankan tubuh.
Bekas hantaman di dinding sebagai tanda serangan yang tidak efisien, boros tenaga, tapi memiliki daya hancur mutlak.
"Bukan pendekar," analisisnya cepat. "Dia tidak punya teknik. Dia bertarung seperti binatang buas yang terluka. Wadahnya cacat. Meridiannya pasti hancur saat dia menyerap Qi alam. Tapi... bagaimana? Hal itu seharusnya mustahil..."
Tiba-tiba, keranjang di punggungnya berguncang.
Kruk... Kruk...
"Sabar, sayang," bisik Sang Pengumpul, menepuk keranjangnya. "Ayah menemukan sesuatu yang lebih menarik daripada mayat Jo Chil-sung."
Dia merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah jimat kertas berwarna hitam. Dia menggumamkan mantra tanpa suara, lalu membakar jimat itu dengan api biru yang muncul dari ujung jarinya.
Asap hitam mengepul, membentuk wajah samar di udara. Sebuah metode komunikasi jarak jauh kultus.
"Laporkan segera," suara berat dan kasar terdengar dari asap itu.
Corpse Collector berlutut satu kaki dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Master... Cabang Jeokha sudah bersih. Jejak ke Guryong sudah saya putus. Tapi saya menemukan keanehan."
"Apa?"
"Tampaknya ada seseorang... Identitas belum pasti, tapi kemungkinan besar dia dibawa oleh Wudang. Saya yakin kalau dia lah yang membunuh Jo Chil-sung dan menghancurkan Unit Besi. Darahnya... tubuhnya, mengandung Qi alam. Tubuhnya adalah wadah yang bisa menampung Qi alam mentah tanpa meledak seketika."
Hening sejenak di ujung sana, hanya suara gemeresik api yang terdengar.
"Menarik," suara itu akhirnya menjawab, nadanya terdengar lapar. "Percobaan Perfect Vessel kita selalu gagal karena tubuh subjek meledak saat diisi energi murni walau cuma sedikit. Jika ada manusia yang bisa menampung Qi alam, kekacauan itu sendiri..."
"Saya akan mencoba mencari jejaknya. Kemungkinan sebuah rumor besar soal dia sudah menyebar, saya hanya perlu bertanya kepada beberapa orang di jalan," sambung Corpse Collector cepat.
"Mungkin dia akan menjadi kunci keberhasilan ambisi semua leluhur kita yang tidak pernah tercapai."
"Baiklah," perintah suara itu tegas. "Ubah prioritas. Jangan bunuh dia. Pastikan bawa dia hidup-hidup ke Guryong."
"Siap laksanakan. Bagaimana dengan Wudang?"
"Mereka hanya gangguan kecil. Asalkan jangan konfrontasi langsung dengan Tetua besarnya. Gunakan metode kita. Buat mereka sibuk, sakit, lalu ambil target kita saat mereka lengah."
Asap itu menghilang, menyisakan bau belerang.
Corpse Collector berdiri. Senyum lebar terukir di wajahnya yang dibalik kain jimat.
Misi pembersihan sudah selesai. Sekarang saatnya berburu.
Dia mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil dari balik jubahnya.
Dia membuka tutupnya.
Di dalam kotak itu, meringkuk seekor kumbang hitam besar dengan cangkang yang berkilau seperti logam. Kumbang itu tidak bergerak, seolah mati.
Gu Pelacak Mayat.
Corpse Collector meneteskan sedikit darah kering Geun yang dia temukan tadi ke atas Gu itu.
"Makanlah," bisiknya. "Ingat rasanya. Cari pemilik darah ini."
Gu itu bergetar. Sebuah sayap tumbuh dari badannya. Sayapnya mendengung pelan.
"Di sana ya..." Corpse Collector menyeringai. "Bersama rombongan Wudang, menuju Balai Penjaga."
Dia menepuk keranjang besarnya lagi.
"Ayo, anak-anak. Kita punya perjalanan jauh."
Corpse Collector melompat ke atas dinding gudang, lalu menghilang ke dalam kegelapan malam, bergerak secepat bayangan, mengikuti jejak aroma yang ditinggalkan Geun.