Antares Bagaskara adalah dosen dan ilmuwan antariksa yang hidup dengan logika dan keteraturan. Cinta bukan bagian dari rencananya—hingga satu malam tak terduga memaksanya menikah dengan Zea Anora Virel, mahasiswi arsitektur yang ceria dan sulit diatur.
Pernikahan tanpa cinta.
Perbedaan usia.
Status dosen dan mahasiswi.
Terikat oleh tanggung jawab, mereka dipaksa berbagi hidup di tengah batas moral, dunia akademik, dan perasaan yang perlahan tumbuh di luar kendali.
Karena tidak semua cinta lahir dari rencana.
Sebagian hadir dari orbit yang tak terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Rahasia di Balik Mual dan Sakit yang Tak Biasa
Pagi di Tromsø seharusnya menjadi pagi yang paling romantis. Cahaya matahari musim dingin yang pucat mulai menyelinap masuk melalui kubah kaca kabin mereka, memantul di hamparan salju yang berkilauan. Namun, kedamaian itu pecah saat Zea tiba-tiba terduduk tegak dengan wajah seputih kertas.
"Zea? Ada apa?" Antares yang sudah bangun sejak tadi langsung sigap memegang bahu istrinya.
Zea tidak sempat menjawab. Ia menutup mulutnya rapat-rapat, matanya terbelalak panik, dan sedetik kemudian ia berlari kencang menuju kamar mandi kabin.
Hoeeekk!
Suara mual yang menyiksa terdengar dari balik pintu yang tidak sempat dikunci. Antares menyusul dengan langkah seribu. Ia menemukan Zea sedang berlutut di depan kloset, memuntahkan cairan bening karena perutnya memang masih kosong. Seluruh tubuhnya bergetar hebat.
"Sshh... tenang, Zea. Saya di sini," ucap Antares lembut sambil mengumpulkan rambut panjang Zea ke belakang dan memijat tengkuknya dengan gerakan mantap namun penuh kasih.
"Mas... capek... hiks... perutku kayak diaduk-aduk," rintih Zea setelah serangan mualnya sedikit mereda. Ia menyandarkan kepalanya yang lemas di dada bidang Antares. Air mata sudah membasahi pipinya.
Antares membersihkan sisa muntah Zea dengan tisu basah, lalu menggendongnya kembali ke tempat tidur. "Mungkin kamu masuk angin karena cuaca ekstrem di sini. Saya buatkan teh hangat dulu ya?"
Saat Antares hendak berdiri, Zea menahan ujung kaos suaminya dengan kuat. "Jangan! Jangan pergi! Mas di sini aja, jangan jauh-jauh!" rengek Zea dengan nada yang sangat manja, hampir seperti anak kecil yang takut ditinggal ibunya.
"Hanya ke dapur sebentar, Sayang. Cuma lima meter dari sini," bujuk Antares.
"Enggak mau! Bau dapurnya bikin aku mual lagi! Mas di sini aja peluk aku!" Zea menarik tangan Antares agar kembali berbaring. Perubahan sifat Zea yang mendadak sangat "nempel" ini membuat alarm di otak profesor Antares makin berbunyi nyaring. Ini bukan sekadar masuk angin biasa, pikirnya.
Sentuhan yang Berbeda
Beberapa jam kemudian, setelah Zea merasa sedikit lebih baik dan mualnya mereda, suasana di dalam kabin menjadi sangat intim. Suhu udara di luar yang mencapai minus sepuluh derajat membuat kehangatan di bawah selimut menjadi candu.
Zea memeluk Antares erat, seolah ingin menyerap seluruh suhu tubuh suaminya. "Mas... aku kangen..." bisik Zea manja. Ia mulai mencium rahang tegas Antares, memancing suaminya yang memang selalu punya gairah tinggi jika sudah menyangkut Zea.
Antares menanggapi dengan lembut. Mengingat kondisi Zea yang baru saja muntah, Antares bergerak dengan sangat hati-hati. Tidak ada gerakan brutal, tidak ada tuntutan posesif seperti malam-malam biasanya. Ia memperlakukan Zea seolah istrinya itu terbuat dari kaca yang sangat rapuh.
Namun, saat kontak fisik itu menjadi lebih dalam, Zea tiba-tiba mengerang dan mendorong bahu Antares pelan.
"Aw! Mas... sakit..." rintih Zea, wajahnya mengernyit menahan nyeri.
Antares langsung berhenti total. Ia menumpu tubuhnya dengan kedua tangan agar tidak menindih Zea. "Sakit? Di mana? Saya bahkan belum melakukan apa-apa, Zea. Saya sangat pelan tadi."
"Nggak tau... di bawah sini... rasanya nyeri banget, kayak ada yang ketarik," Zea memegang perut bagian bawahnya dengan wajah cemas. "Biasanya nggak sesakit ini kalau Mas pelan... ini kenapa ya?"
Antares terdiam. Wajahnya yang tadi penuh gairah mendadak berubah menjadi sangat serius dan penuh perhitungan. Nyeri saat berhubungan badan, mual hebat, sensitif terhadap bau, dan emosi yang meledak-ledak. Semua variabel itu menunjuk pada satu kesimpulan medis yang sangat kuat.
"Zea, kamu tunggu di sini. Jangan turun dari kasur," perintah Antares dengan nada otoritas yang tidak bisa dibantah.
"Mas mau ke mana?! Tadi katanya nggak boleh jauh-jauh!" rengek Zea lagi, matanya mulai berkaca-kaca lagi karena merasa ditinggalkan.
"Hanya ke meja depan, saya mau telepon layanan kamar untuk minta air hangat tambahan," bohong Antares.
Sebenarnya, Antares mengambil ponselnya dan segera mencari apotek terdekat di kota Tromsø yang masih buka. Ia juga menghubungi asisten pribadinya di Jakarta melalui pesan singkat.
“Cari tahu apakah Ibu saya sempat masuk ke ruang kerja saya sebelum saya berangkat ke Norwegia. Cek CCTV ruang penyimpanan.”
Antares kembali ke kasur dan memeluk Zea yang masih merajuk. Ia mengusap perut Zea dengan tangan hangatnya, mencoba meredakan nyeri yang dirasakan istrinya.
"Mas... aku kenapa sih? Apa aku sakit parah?" tanya Zea lirih, ketakutan mulai menyergapnya.
"Kamu tidak sakit, Sayang. Mungkin... ada 'tamu' kecil yang sedang mencoba menetap di dalam sana," gumam Antares pelan, suaranya terdengar antara bahagia dan khawatir.
"Hah? Tamu apa?" Zea yang polos sama sekali tidak menangkap maksud Antares.
"Besok pagi kita akan tahu jawabannya. Sekarang kamu tidur ya? Saya akan jaga kamu sepanjang malam."
Malam itu, di tengah indahnya Aurora yang menari di atas kabin kaca mereka, Antares tidak bisa tidur. Ia menatap wajah Zea yang tertidur pulas dalam pelukannya. Jika benar Zea hamil karena sabotase ibunya, Antares tidak tahu harus marah atau bersyukur. Satu hal yang pasti, ia akan melindungi Zea—dan mungkin anak mereka—dari siapa pun, termasuk dari ambisi keluarganya sendiri.