Yun Luofeng dikenal sebagai sampah Klan Yun—tak bisa berkultivasi, tergila-gila pada Putra Mahkota, bahkan menjadi bahan tertawaan seluruh Kota Kekaisaran.
Namun setelah sebuah percobaan bunuh diri, Yun Luofeng yang lama telah tiada.
Kini, di dalam tubuhnya hidup seorang genius medis dari dunia lain, membawa Kitab Dewa Medis dan rahasia yang mampu mengguncang Benua Longxiao.
Mereka bilang dia sampah? Dia akan menjadi kultivator yang membuat para genius menundukkan kepala.
Mereka menghina keluarganya? Dia akan membuat mereka membayar.
Dan Putra Mahkota yang membuangnya?
Maaf, bahkan untuk menjadi pelayannya pun belum tentu memenuhi syarat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwinanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 — ORANG YANG HARUS PERGI
Percakapan antara Tetua Rong dan Tetua Ning terhenti ketika Lin Xiao memasuki ruangan dengan langkah cepat.
“Tetua Rong,” katanya sambil memberi hormat, “tabib kekaisaran Jing Lin datang dan meminta bertemu.”
Senyum Tetua Rong langsung menghilang.
“Bukankah sudah kukatakan aku tidak ingin menemui orang dari keluarga kekaisaran?”
“Jing Lin mengatakan dia membawa tanaman obat berusia beberapa ratus tahun sebagai hadiah.”
Tetua Rong mendengus.
“Tanaman obat beberapa ratus tahun? Hadiah yang sangat besar.”
Nada suaranya penuh ejekan. Benda seperti itu mungkin dianggap harta oleh orang lain, tetapi Paviliun Medis tidak kekurangan tanaman obat langka.
“Dia pasti datang karena Gao Ling.”
Lin Xiao mengangguk.
“Pagi ini tersebar kabar bahwa energi spiritual Putra Mahkota menghilang sepenuhnya dalam semalam. Jing Lin sudah mencoba berbagai cara, tetapi tidak mampu memulihkannya.”
Berita itu memang telah menyebar dengan sangat cepat ke seluruh Kota Kekaisaran.
Tentu saja, tidak banyak orang mengetahui bahwa Yun Luofeng ikut memastikan kabar tersebut tersebar luas.
“Suruh dia pulang,” perintah Tetua Rong. “Paviliun Medis tidak akan mengobati Putra Mahkota.”
Tetua Ning memandang sahabatnya dengan heran.
Paviliun Medis memang memiliki kedudukan khusus, tetapi biasanya mereka masih memberikan sedikit muka kepada keluarga kekaisaran. Kali ini Tetua Rong menolak bahkan tanpa mempertimbangkannya.
Tetua Rong memahami kebingungannya.
“Tabib genius yang tadi kuceritakan mempunyai permusuhan dengan Gao Ling. Kalau aku menyembuhkan Putra Mahkota lalu membuatnya tidak senang, bagaimana kalau dia menolak membantu seseorang yang jauh lebih penting bagiku?”
Tetua Ning tertegun.
“Kebetulan sekali. Tabib yang kutemui juga bermusuhan dengan Gao Ling. Bahkan tadi malam aku menyaksikan sendiri bagaimana dia membuat Putra Mahkota menderita.”
Tetua Rong mengangkat alis.
Sebelum keduanya sempat menyadari keanehan itu, keributan terdengar dari aula depan.
“Apa yang terjadi?” Tetua Rong mengerutkan kening. “Lin Xiao, periksa.”
***
Di aula utama Paviliun Medis, Jing Lin sedang menatap Yun Luofeng dengan penuh kemarahan.
“Yun Luofeng! Setelah membuat Wushuang dipermalukan tadi malam, kau masih berani muncul di hadapanku?”
Yun Luofeng yang baru tiba hanya mengangkat alis.
“Pertama, yang menampar Mu Wushuang adalah Gao Ling, bukan aku. Kedua, aku tidak datang untuk menemuimu. Tetua Rong yang memintaku datang.”
Jing Lin mencibir.
Dia datang ke Paviliun Medis karena tidak mampu mengetahui penyebab hilangnya energi spiritual Gao Ling. Namun bertemu Yun Luofeng di sini membuat suasana hatinya semakin buruk.
“Setiap hari tak terhitung orang ingin bertemu Tetua Rong. Kau pikir seseorang sepertimu akan diterima?”
Dia tertawa mengejek.
“Bahkan Wushuang pernah ditolak. Sebaiknya kau sadar diri sebelum mempermalukan dirimu sendiri.”
Yun Luofeng meregangkan bahunya dengan malas.
“Kalau aku menjadi Tetua Rong, aku juga tidak akan menemui orang yang kemampuan medisnya seperti Mu Wushuang.”
Wajah Jing Lin memerah.
“Kau benar-benar tidak tahu diri! Untung orang tuamu sudah meninggal. Kalau mereka masih hidup, mungkin mereka sudah mati karena dipermalukan oleh anak sepertimu!”
Senyum di wajah Yun Luofeng lenyap.
Tatapannya berubah dingin.
Dia boleh dihina sesuka hati.
Namun orang ini baru saja membawa kedua orang tuanya yang telah meninggal ke dalam penghinaan tersebut.
“Yun Xiao.”
Pria berpakaian hitam yang sejak tadi berdiri diam di belakangnya mengangkat kepala.
“Asalkan tidak mati.”
Hanya itu.
Yun Xiao langsung bergerak.
Buk!
Sebelum Jing Lin sempat bereaksi, sebuah pukulan menghantam wajahnya dan melemparkan tubuhnya beberapa meter.
Orang-orang di aula tersentak.
“Kau berani!”
Jing Lin bangkit dengan wajah lebam.
“Aku adalah tabib kekaisaran! Menyerangku sama dengan menghina keluarga kekaisaran!”
Yun Luofeng berjalan mendekatinya dan membungkuk sedikit.
“Aku memang memukulmu.”
Senyum tipis kembali menghiasi bibirnya.
“Lalu kau bisa melakukan apa?”
Kesombongan dalam sikapnya membuat Jing Lin hampir kehilangan akal.
Namun sebelum dia sempat menjawab, Yun Xiao sudah berada di depannya.
Pria itu mencengkeram pakaiannya dan mengangkat Jing Lin seperti mengangkat seekor ayam.
Brak!
Tubuh lelaki tua itu dilemparkan ke arah pintu.
Punggungnya menghantam keras, darah langsung menyembur dari mulutnya.
“YUN LUOFENG!”
Jing Lin meraung.
“Ini Paviliun Medis! Kau berani membuat keributan di sini? Bahkan Yun Luo tidak akan mampu melindungimu!”
Yun Xiao kembali melangkah ke arahnya.
Kali ini wajah Jing Lin akhirnya memperlihatkan kepanikan.
Tepat saat itu, Lin Xiao muncul dari arah ruangan dalam.
“Tetua Rong tidak menerima tamu hari ini, jadi kalian—”
Ucapannya berhenti ketika melihat Yun Luofeng.
“Nona Yun?”
Jing Lin tidak menangkap perubahan ekspresi Lin Xiao. Dia buru-buru bangkit sambil memegangi dada.
“Pengurus Lin! Yun Luofeng membuat keributan di Paviliun Medis dan menyerangku. Apakah kalian akan membiarkannya begitu saja?”
Lin Xiao mengerutkan kening.
Dia tentu mengetahui bagaimana Tetua Rong memperlakukan Yun Luofeng.
Bahkan jika harus menyinggung keluarga kekaisaran, Paviliun Medis tetap akan berdiri di pihak gadis ini.
Namun Lin Xiao belum mengetahui apakah Yun Luofeng ingin identitasnya sebagai tabib genius diungkapkan kepada publik.
“Paviliun Medis akan menangani masalah yang terjadi di wilayah kami sendiri.”
Mendengar jawaban tersebut, Jing Lin justru tersenyum puas.
Dia mengira Lin Xiao akan menghukum Yun Luofeng.
“Bagus! Aku percaya Paviliun Medis akan bertindak adil.”
Jing Lin menunjuk Yun Luofeng.
“Gadis ini bukan hanya arogan, tetapi juga penipu! Kejadian tadi malam hanyalah sandiwara. Dia pasti menyewa lelaki tua untuk berpura-pura sakit, kemudian menggunakan beberapa jarum agar semua orang percaya dia memiliki kemampuan medis.”
Beberapa orang saling memandang.
Jing Lin semakin bersemangat.
“Pikirkan saja! Penyakit yang bahkan Wushuang tidak mampu diagnosis bisa disembuhkan oleh sampah seperti dia hanya dengan beberapa jarum? Bagaimana mungkin?”
Senyum Yun Luofeng semakin lebar.
Dia benar-benar tidak menyangka Jing Lin akan menciptakan penjelasan sejauh itu hanya demi mempertahankan keyakinannya bahwa Mu Wushuang lebih hebat.
Tiba-tiba tirai menuju ruangan dalam tersibak.
“Lin Xiao!”
Sebuah suara tua terdengar.
Tetua Rong berjalan keluar dengan wajah tidak senang. Di sampingnya terdapat Tetua Ning yang didampingi Ning Xin.
Lin Xiao segera memberi hormat.
“Tetua Rong. Tetua Ning.”
Jing Lin membeku sesaat.
Dia tidak mengenali Tetua Ning sebagai lelaki yang sakit tadi malam. Saat itu dia tidak hadir di jamuan dan hanya mendengar cerita Mu Wushuang.
Tetua Rong menyapu aula dengan tatapan tajam.
“Siapa yang berani membuat keributan di Paviliun Medis? Kalau tidak berkepentingan, segera keluar!”
Mata Jing Lin langsung berbinar.
Dia yakin teguran tersebut ditujukan kepada Yun Luofeng.
Kesempatan untuk membalas penghinaan tadi akhirnya datang.
Jing Lin menunjuk Yun Luofeng dengan wajah puas.
“Yun Luofeng, kau mendengarnya?”
Dia tertawa dingin.
“Tetua Rong sendiri sudah menyuruhmu pergi! Jangan berdiri di sini dan mempermalukan dirimu lagi.”
Aula mendadak sunyi.
Lin Xiao menatap Jing Lin dengan ekspresi aneh.
Ning Xin tercengang.
Tetua Ning perlahan mengangkat alis.
Sementara wajah Tetua Rong semakin gelap.
Hanya Yun Luofeng yang tetap tenang. Dia menyilangkan tangan di depan dada dan menatap Jing Lin dengan senyum penuh hiburan.
Sepertinya lelaki tua ini masih belum menyadari satu hal.
Orang yang diperintahkan Tetua Rong untuk pergi...
sama sekali bukan dirinya.
......................
Bersambung...