Sambil membawa surat hasil pemeriksaan kehamilannya, Kinan berlari menuju ruangan suaminya. Dia tidak sabar menyampaikan pada suaminya kalau dia hamil. Tapi saat akan membuka pintu,
"Bima, istriku mengantarkan istrimu ke rumah sakit. Katanya ke dokter kandungan, mungkin Kinan hamil. Lantas bagaimana dengan Agnes?"
"Bagaimana apanya? tiga tahun ini baik-baik saja kan? tinggal 2 tahun lagi, Agnes tidak perlu lagi sembunyi di luar negeri!"
Deg
Mata Kinan memerah, wanita yang telah menabrak ibunya hingga tewas. Dan mendapatkan hukuman selama lima tahun di penjara, bagaimana bisa berada di luar negeri?
"Kamu keterlaluan, kalau sampai Kinan mengetahuinya. Dia akan sangat marah padamu! jangan bawa-bawa aku ya, Bella itu sahabat baik Kinan. Kalau dia tahu, habislah aku!"
Hati Kinan hancur mendengar suaminya malah tertawa.
"Dia tidak akan tahu, kalaupun tahu dia bisa apa? Kinan sudah tidak punya siapa-siapa selain aku. Satu kata dariku, dia akan patuh!"
'Tega kamu mas' batin Kinan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Dua hari berlalu, Kinan sudah boleh keluar dari rumah sakit. Bella datang untuk menjemputnya bersama dengan Sasha.
"Ibu angkat!"
Sasha nyaris berlari dan menabrak Kinan yang duduk di sofa, sambil merapikan tasnya.
"Sasha, jangan seperti itu!" kata Bella yang dengan cepat merangkul putrinya dari belakang.
"Sasha mau minta gendong ibu angkat!"
"Jangan Sasha! mulai sekarang, sampai dede bayi lahir, Sasha gak boleh minta gendong ibu angkat, ya!" Bella mencoba menasehati anaknya.
Mata bulat yang mengemaskan itu berkedip beberapa kali. Tangannya yang imut, mungil itu juga menyentuh pipi tembem nya sendiri.
"Hahhhh, dede bayi?" tanya Sasha dengan raut wajah yang begitu penasaran.
Bella mengangguk dengan senyum yang begitu tulus.
"Benar, Sasha akan punya adik! sekarang masih di dalam perut ibu angkat. Jadi, Sasha tidak boleh minta gendong dulu. Jangan buat ibu angkat lelah"
Sasha mengangguk setuju. Meski sebenarnya dia belum paham sepenuhnya, tapi dia mengangguk patuh.
"Baik, Sasha tidak minta gendong. Hanya peluk!"
Sasha memeluk Kinan, dan Kinan tentu dengan senang hati membalas pelukan Sasha yang memang sudah dia anggap anak sendiri itu.
Ceklek
Suasana bahagia itu tiba-tiba saja menjadi hening, ketika pintu terbuka dan memperlihatkan Zayn yang masuk ke dalam ruangan itu sambil tersenyum canggung.
"Istriku, anakku..."
"Ayah!"
Sasha melepaskan pelukannya dari Kinan, dan langsung berlari ke arah Zayn. Gadis kecil itu memeluk kaki ayahnya dan mengulurkan tangannya kemudian.
"Ayah, gendong"
Tentu saja kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Zayn. Zayn langsung mengangkat putrinya dan memeluknya dengan sangat erat.
"Ayah, kenapa ayah tidak pulang weekend kemarin. Katanya meski ayah sibuk, weekend akan selalu pulang?" tangan Sasha.
Gadis kecil itu tidak tahu saja, bahwa sebenarnya sang ayah juga ingin pulang, sangat ingin pulang. Hanya saja ibunya masih marah, dan tidak mengijinkan Zayn pulang. Tiga tahun, Zayn menutupi dengan sangat rapat pengkhianatan dan kebohongan Bima dari Kinan. Bella juga sangat kesal pada Zayn.
"Sayang, itu... sebenarnya ayah sangat ingin pulang. Hanya saja..."
"Ayahmu sibuk, Sasha. Dia juga cuma mampir sebentar, tidak bisa ikut pulang bersama kita!" sela Bella.
Wajah Zayn segera menjadi murung.
'Istriku, kau kejam sekali!' jerit hati Zayn.
"Sayang, aku bisa pulang kok. Bisa, sungguh!"
"Benarkah? kamu pikir kamu bisa pulang ke rumah begitu saja? kesalahanmu yang menutupi kebohongan Bima selama tiga tahun kamu pikir bisa dihapus begitu saja? tidak ada penghapus yang bisa menghapusnya!" tegas Bella.
Zayn menghela nafas berat.
"Sayang..."
Ucapan Zayn terjeda, Bella meliriknya dengan sangat tajam.
"Sebenarnya kemarin itu aku juga berniat membantu kalian, hanya saja... hanya saja aku nyasar"
Bella makin melirik dengan kesal.
"Lalu apa yang kamu banggakan? kamu itu memang tidak bisa di andalkan. Entah tidak bisa di andalkan, atau kamu memang selalu berpihak pada Bima!"
Bella memang suka asal bicara, tapi di depan anaknya. Dia tidak akan memaki Bima. Biasanya dia selalu memanggil suami Kinan itu dengan pria brengsekk. Di depan Sasha, dia hanya menyebutkan namanya.
Zayn segera menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Sayang, tidak begitu. Aku suami mu. Tentu saja aku ada di pihak kamu!"
Sasha menangkup dua pipi ayahnya. Meski tangannya bahkan tidak bisa memenuhi setengah pipi Zayn.
"Ayah, kalau begitu buktikan pada ibu. Katakan sesuatu yang bisa membuat ibu senang"
Kinan sampai agak tercengang. Dia memang tahu Sasha itu sangat pintar. Tapi ucapannya barusan, benarkah keluar dari mulut anak yang usianya tiga tahun lebih.
Bella melebarkan matanya, menatap tegas Zayn. Dia mau lihat, apa suaminya itu paham maksud putri kecil mereka.
Zayn berpikir keras, dia sungguh memeras otaknya dengan sangat keras. Sampai kemudian matanya melebar.
'Heh, jangan salahkan aku ya Tuan muda Dirgantara. Salahmu membuat istriku mengamuk padaku' batin Zayn.
Sepertinya pria itu sudah tahu, mau katakan apa pada Bella. Supaya istrinya itu mengijinkannya untuk pulang.
"Sayang, aku tahu. Aku akan buktikan aku memihak kamu. Kamu sedang cari bukti tentang Agnes kan? besok dia ulang tahun, dan malam ini, Bima akan terbang ke Dubai. Setiap tahun dia selalu menemani Agnes untuk hari ulang tahunnya. Besok ju... ga..."
Zayn menjeda ucapannya. Dia melirik ke arah Kinan yang hanya duduk diam dengan kepala tertunduk. Dia lupa, bagaimana pun Kinan masih istri Bima. Dia mengatakan kalau suami Kinan tiap tahun pergi dan melewati penerbangan selama 10 jam untuk bertemu dengan cinta pertamanya, bukankah itu akan terdengar sangat menyakitkan bagi Kinan.
Bella menghela nafas panjang, dia juga menoleh ke arah Kinan. Dia tahu seperti apa rasanya. Bayangkan saja, suami yang menikahi secara resmi, secara sah, setiap tahunnya menyempatkan pergi jauh sekali. Demi menemani wanita lain, dan merayakan ulang tahun wanita itu. Rasanya benar-benar sangat sakit.
Kinan hanya menatap lantai putih dingin ruangan rawat rumah sakit di depannya. Pantas saja, setiap bulan Juni, suaminya pasti punya agenda untuk perjalanan bisnis selama tiga hari di luar negeri. Ternyata...
Tapi Kinan juga hanya bisa menghela nafas berat. Mendesah kasar, lalu mengangkat pandangannya ke arah Bella.
"Itu bukti yang bagus kan? wanita itu memang tidak di penjara. Kalau kita kesana, memergokinya secara langsung bersama pengacara. Keduanya tidak akan bisa mengelak lagi kan?"
Ucapan Kinan itu terdengar biasa, diucapkan dengan nada suara yang datar. Tapi entah kenapa, Bella dan Zayn bisa merasakan rasa sakit yang cukup besar dalam setiap kata di di kalimat Kinan.
Kinan sungguh tak merasa hatinya sakit lagi, dia sudah menghancurkan hatinya sendiri. Ketika dia tahu Bima membohonginya. Wanita yang menabrak ibunya dilindungi oleh suaminya. Bahkan diberi nafkah dan hidup dengan sangat nyaman, hidup bebas selama tiga tahun. Orang akan sakit hati, kalau masih punya hati, masih punya rasa pada seseorang itu. Tapi jika hatinya sudah mati untuk orang itu, mau dengar sesuatu yang sangat menyakitkan pun, rasanya akan biasa saja. Yang dipikirkan oleh Kinan saat ini adalah, bercerai dari Bima dan membuat Agnes kembali membayar perbuatannya. Dia tidak perduli sama sekali masalah hati dan perasaan seorang istri pada suaminya.
"Kinan, kamu yakin?" tanya Bella.
Bagaimana pun melihat suami merayakan ulang tahun wanita lain di depan mata. Entah seperti apa rasanya? bahkan Bella merasa, dia tidak bisa melakukannya.
Tapi Kinan mengangguk.
"Yakin, kita bisa segera membuka kasus itu kembali kan?"
***
Bersambung...