Janitra Widari Pramudya memutuskan kembali ke Tanah Air. Sebelumnya, ia tinggal di luar negeri selama lima tahun karena melanjutkan kuliah. Orang tuanya telah meninggal dunia sejak enam tahun yang lalu karena kecelakaan.
Janitra akhirnya menerima perjodohan dari Keluarga Syailendra sesuai wasiat mendiang kakeknya. Janitra baru mengetahui ternyata dirinya dijodohkan dengan Kresna Maharaja Syailendra sejak lama. Bagi Janitra, Kresna adalah cinta pertamanya.
Aku mencintainya sederas hujan. Namun, dia memilih untuk membangun tembok setinggi langit~Janitra.
Jangan pernah melangkah jauh menembus batasan yang sudah aku terapkan karena itu percuma saja. Kita menikah bukan karena cinta. Hanya sebatas utang budi keluarga. Aku harap kamu tidak pikun~Kresna.
Simak kisah mereka.💋💋
Mohon dukungannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 - Putra Mahkota Mode Singa
Paviliun Teratai adalah salah satu komplek bangunan yang baru saja selesai di renovasi beberapa bulan lalu. Paviliun tersebut memang menjadi hunian bagi Kresna dan Janitra setelah resmi menikah. Letaknya tak begitu jauh dari paviliun utama.
Paviliun utama terdapat kamar Rama Barata dan Bu Ayu, kamar Mbak Kirana, Kresna sebelum menikah dan si bungsu Kartika.
Sedangkan Selir Gandawati tinggal di Pavilun Suweg yang bersebelahan dengan Pavilun Anggrek yakni tempat tinggal Mayang. Lokasi paviliun mereka cukup jauh dari paviliun utama.
Kresna masuk ke dalam kamarnya. Ia membuka seluruh bajunya dan masuk ke dalam bathtub yang ada di kamar mandi untuk berendam. Sungguh malam ini sangat melelahkan baginya. Terlebih mendapat sikap dari Janitra yang tak sesuai harapannya.
Berharap dengan berendam bisa menjernihkan pikiran dan hatinya yang kesal, tetapi Kresna justru semakin uring-uringan.
Ia mengambil ponsel untuk menghubungi asisten pribadinya bernama Panca (31 tahun), status jomblo abadi.
"Panca cepat kamu kemari!" titah Kresna.
"Loh Gusti apa ndak salah suruh saya ke sana?"
"Salah kenapa?" sungut Kresna.
"Lah piye toh iki (lah kenapa toh ini)?" tanya Panca yang mendadak heran. "Gusti kan sekarang lagi mau malam pertama sama Mbak Janitra. Nanti saya justru mengganggu," sambungnya.
"Aku lagi gak di kamar dengan Janitra. Aku di kamarku sendiri di Pavilun Teratai. Janitra di kamar sebelah,"
"Baru juga malam pertama malah pilih pisah kamar sama bojone (istrinya). Mbak Janitra itu wes ayu, calon dokter dan pinter. Bener-bener istri idaman. Ini malah dianggurin sama Gusti Kresna. Dasar Pangeran ge_blek (bodoh) kok!" umpat Panca dalam hatinya.
"Jangan mengumpatiku, Ca!" seru Kresna di seberang sana yang seakan punya indera kesepuluh bisa menebak tingkah sang asisten saat ini.
"Eh, maaf Gusti. Aku enggak berani toh begitu. Saya pikir Gusti lagi malam pertama sama Mbak Janitra. Ternyata batal toh acaranya," ucap Panca.
"Dia lagi datang bulan!" ketus Kresna menjawabnya.
"Pfftt..." Panca berusaha menahan tawanya usai mendengarnya.
"Kamu menertawakanku, Ca!" desis Kresna.
"Maaf, Gusti. Sedikit kelepasan," sahut Panca cepat. "Saya pikir Gusti sekarang berada di kamar lain karena gak mau menyentuh Mbak Janitra. Ternyata karena si bulan datang menggangu," sambungnya.
"Syukurlah kalau Panca mengira begitu," batin Kresna seraya bernafas lega mendengarnya.
Tentu saja Kresna gengsi untuk mengakui di depan asisten pribadinya bahwa ia yang tak sudi melakukan malam pengantin dengan Janitra. Alhasil alasan datang bulan yang sempat diucapkan Janitra yang dijadikan tameng oleh Kresna. Image Kresna sebagai suami yang baik tetap utuh dan terjaga.
"Segera kamu ke sini sama Pak Tikno. Aku lagi berendam di kamar mandi. Ganti air rendamannya. Aku gak suka aromanya!" titah Kresna.
"Siap laksanakan, Gusti."
"Jangan lama! Kamu sangat tau aku paling gak suka menunggu!"
"Baik, Gusti."
"Satu hal lagi, jangan panggil Janitra dengan sebutan 'Mbak'! Dia bukan kakakmu!" protes Kresna.
"Maaf, Gusti. Jadi saya panggil beliau-Ndoro Janitra?"
"Enggak! Panggilan Ndoro terlalu bagus buatnya. Nanti dia jadi besar kepala!" ketus Kresna menolaknya.
"Apa saya panggil 'Dek' saja?" tawar Panca sengaja memancing suasana hati Kresna. Panca semakin menabur bensin di atas kobaran api yang sedang menyala. "Usia Dek Janitra kan lebih muda dari saya," sambungnya.
"Kamu mau mati, Ca!" bentak Kresna.
"Ya enggak toh, Gusti. Kawin saja belum, kok minta mati. Piye toh Gusti niki (gimana toh Gusti ini)," jawab Panca sedikit bercanda.
"Dia bukan adekmu!" pekik Kresna.
"Jadi, saya baiknya panggil beliau apa?" balas Panca yang hatinya sebenarnya geram dengan Kresna.
Rasanya ia ingin sekali mencubit ginjal putra mahkota atau mengirim Kresna pergi ke Pluto.
Kresna hanya bisa terdiam karena ia juga sebenarnya bingung untuk menjawabnya.
"Mbak Janitra," jawab Kresna datar setelah sepuluh menit Panca harus menunggunya buka suara.
"Dasar putra mahkota ababil! Eh, salah ding. Labil maksudnya. Hehe..." batin Panca.
Bip...
Panggilan pun berakhir diputus oleh Kresna secara sepihak.
Setelah itu, Panca segera menghubungi Pak Tikno yakni abdi dalem yang sering menghandle urusan di dalam kamar Kresna sehari-hari.
☘️☘️
Dua pria beda usia sedang tergopoh-gopoh berjalan menuju Paviliun Teratai, tepatnya ke kamar Kresna.
"Memangnya rendamannya kenapa, Mas?" tanya Pak Tikno.
"Gak tau aku, Pak. Pak Tikno pokoknya sabar-sabar saja. Gusti Kresna lagi mode singa yang mendadak tantrum. Soalnya Mbak Janitra lagi datang bulan. Jadi, auto gagal deh mereka malam pertama. Hehe..." jawab Panca seraya terkekeh sendiri. "Iyakan saja kalau dia menyuruh ini-itu. Daripada panjenengan (kamu) jadi seblak," sambungnya sedikit memberi plesetan dalam kalimatnya.
"Seblak masih enak, Mas. Kalau disepak ora kanggo sikil luwih ciloko (Kalau ditendang tidak pakai kaki lebih berbahaya)," sahut Pak Tikno.
"Haha..." Panca sontak tertawa renyah di depan Pak Tikno. "Nasib-nasib," imbuhnya.
Sepanjang keduanya berjalan menuju Paviliun Teratai, Panca banyak memberi informasi dan masukan pada Pak Tikno dalam menghadapi Kresna yang diduga sedang uring-uringan malam ini.
Panca sebenarnya sudah menebak bahwa Kresna malam ini tidak akan mau satu kamar dengan Janitra. Walaupun dirinya baru tiga tahun bekerja sebagai asisten pribadi Kresna, ia cukup mengenal watak majikannya tersebut.
Ya, tadi Panca hanya sekadar berpura-pura saat berbincang dengan Kresna di telepon. Ia hanya ingin mencairkan suasana hati putra mahkota yang diduga sedang kesal alias sensitif.
Panca memang tak mengenal Janitra lebih dalam. Dikarenakan saat pertama kali bekerja di Keluarga Syailendra tiga tahun lalu, Janitra sedang berada di luar negeri. Namun, Panca tau jika Janitra adalah wanita yang baik dan cocok untuk Kresna.
Panca sendiri belum menemukan alasan yang menyebabkan Kresna tak menyukai Janitra.
☘️☘️
"Lama sekali kalian berdua!" desis Kresna pada Panca dan Pak Tikno saat keduanya tiba di kamar sang majikan.
Kresna dalam kondisi sudah memakai jubah mandi dan sedang duduk di sofa.
"Maaf, Gusti. Jalanan macet," sahut Panca tanpa tedheng aling-aling.
"Gundulmu! Kamu pikir jalan dari kamar kalian ke sini jaraknya seperti dari Mars ke Bumi!" pekik Kresna.
"Cepat kamu ganti rendamannya!" titahnya.
"Baik, Gusti."
Pak Tikno segera mengganti rendaman bak mandi untuk Kresna baik dari bunga, wewangian maupun rempah-rempahnya.
Sedangkan Panca dan Kresna memilih untuk berada di ruang kerja, tepatnya di samping kamar tidur.
"Besok agendaku apa?" tanya Kresna.
"Cuti Gusti,"
"Besok aku pergi ke kantor,"
"Apa Gusti gak mau istirahat dulu barang sehari?" tawar Panca.
"Boleh, tapi gajimu bulan ini aku potong setengahnya!" balas Kresna mengancam.
"Nasib-nasib. Potong gaji mengalahkan potong bebek angsa di kuali," batin Panca seraya terkekeh menertawakan nasibnya sendiri.
"Baiklah kalau Gusti memaksa besok mau ngantor," ucap Panca mengalah.
"Rapat persiapan pembukaan cabang pabrik batik yang baru, kita majukan besok. Biar cepat tuntas dan launching,"
"Baik, Gusti. Ada lagi?"
"Kamu suruh seorang ajudan memantau kegiatan sehari-hari Janitra di luar Kasepuhan terutama saat dia praktek Koas di Satya Medika," jawab Kresna memberikan perintah yang cukup mengejutkan Panca.
Sebab, yang ia tau bahwa Kresna seakan tak menyukai Janitra. Akan tetapi, sekarang Kresna justru menyuruh dirinya untuk menyiapkan mata-mata dalam mengawasi Janitra.
"Maaf, Gusti. Kenapa Mbak Janitra perlu diawasi secara diam-diam?"
Bersambung...
🍁🍁🍁
gak bisa tidur karna belum berendam racikan rempah cinta ala janitra
wahhh KY nya ada yang mau unboxing nihh😅😅😅
kresna butuh di ninabobokan sama janitra😄