NovelToon NovelToon
Suara Untuk Dia

Suara Untuk Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Balas Dendam / Idola sekolah
Popularitas:153
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Putra Satria Hsb

【Perjuang keras meraih cinta+Cerita di waktu SMA+Romantis nonfiksi】Seseorang yang jatuh cinta kepda perempuan terpintar di sekolah... Meskipun dia bukan pria yang pandai dalam akademi tapi dia ingin membuktikan jika dia layak mendapatkan perempuan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30- PING Dari Masa Depan

Sabtu sore itu, suasana kamar tidurku terasa hening usai kepulanganku dari latihan silat. Di atas meja belajar, HP jadoel berlayar kecil dengan lampu indikator merah di pojok atasnya berkedip-kedip pelan.

Layanan Blackberry Messenger (BBM) yang belakangan ini lagi hits di kalangan anak SMA sedang aktif di HP-ku. Aplikasi bertukar pesan dengan kode PIN itu jadi media utama komunikasi kami usai kedekatanku dan Nara pulih total di sekolah.

Aku duduk di tepi kasur, menyandarkan punggung ke tembok kamar. Jemariku memegang HP, memandangi nama kontak Nara di layar yang terpasang foto profilnya mengenakan kerudung sekolah.

Kedekatan kami di sekolah beberapa minggu terakhir sudah makin hangat. Rasa canggung akibat kenangan masa lalu sudah tidak ada lagi. Tapi di dalam dadaku, aku sadar satu hal: status kami harus dipastikan. Aku tidak mau berada di area abu-abu tanpa kejelasan.

Dengan dada berdebar kencang melebihi detik-detik sebelum masuk gelanggang silat, jemariku mulai menekan tombol-tombol keyboard fisik HP-ku untuk mengetik pesan BBM:

"Ra, kamu lagi senggang gak? Ada hal penting yang mau tak omongin."

Tidak sampai dua menit, indikator pesan berubah dari 'D' (Delivered) menjadi 'R' (Read), disusul balasan dari Nara:

"Lagi santai di kamar nih, Sat. Ada apa emangnya? Kok kelihatannya serius banget?"

Aku menarik napas panjang, merapikan posisi dudukku. Hari ini, di Sabtu sore yang tenang ini, aku memutuskan untuk mempertaruhkan seluruh perasaanku secara jujur.

Jemariku bergerak pasti di atas tombol keyboard HP-ku, mengetikkan baris-baris pesan yang keluar langsung dari dalam dada:

"Ra... dari awal kita kenal, pas kita masih di bangku belakang kelas X IPA 2, sampai detik ini usai semua hal yang pernah terjadi... perasaanku ke kamu gak pernah berubah sedikit pun."

"Aku bukan cowok yang pinter merangkai kata-kata manis. Tapi aku tulus sayang sama kamu, Ra. Kamu mau gak jadi pacarku?"

Usai menekan tombol send, indikator BBM langsung menunjukkan huruf 'R'.

Hening.

Satu menit... dua menit... tidak ada balasan masuk. Indikator di layar cuma menunjukkan tulisan "Nara is typing..." yang hilang-timbul berulang kali. Jantungku berdegup makin kencang tak karuan di dalam kamar.

Hingga akhirnya, sebuah pesan balasan panjang dari Nara masuk ke layar HP-ku:

"Satria... makasih banget ya atas perasaanmu. Tapi... aku gak bisa, Sat. Aku rasa kita mendingan temanan kayak gini aja..."

Membaca tulisan penolakan itu, dadaku rasanya mendadak lemas. Tapi aku tidak langsung menyerah atau mundur begitu saja. Aku membaca kelanjutan balasan BBM dari Nara yang mengalir jujur:

"Aku masih ngerasa gak pantas buat kamu, Sat. Aku pernah melukai perasaanmu, pernah salah milih jalan, dan pernah bikin kamu sakit hati. Kamu cowok yang terlalu baik, dan aku takut nanti malah nyakitin kamu lagi kalau kita pacaran..."

Aku tersenyum tipis membaca tulisan penolakannya. Keraguan Nara bukan karena dia tidak punya rasa padaku, melainkan karena rasa bersalah dari masa lalu yang masih membayangi pikirannya. Dan tugas utamaku saat ini adalah meyakinkan hatinya bahwa masa lalu itu sudah sepenuhnya selesai.

Jemariku kembali mengetik balasan BBM dengan sangat tenang dan lugas:

"Ra, dengarin aku ya..."

"Kalau soal masa lalu, aku udah memaafkan dan melupakan semuanya jauh sebelum hari ini. Kejadian kemarin itu bukan salahmu sepenuhnya, tapi proses yang bikin kita berdua sama-sama makin dewasa."

"Aku nembak kamu hari ini bukan karena kasihan atau terpaksa, tapi karena aku yakin kamu adalah cewek yang mau tak perjuangkan. Jangan biarkan rasa takut dari masa lalu menghalangi kebahagiaan kita di depan, Ra."

Pesan itu terkirim. Aku menunggu dengan sabar di tepi kasur.

Pesan balasan dari Nara kembali masuk:

"Tapi Sat... apa kamu beneran yakin gak bakal nyesel pacaran sama cewek galak kayak aku? Aku sering ngeselin lho..."

Melihat candaan kecil di balik keraguannya, aku tertawa pelan di kamar, mengetikkan balasan pemungkas yang mantap:

"Seribu persen yakin, Maknar. Aku siap lahir batin ngadepin galakmu, asal jalannya bareng kamu."

Indikator pesan berubah jadi 'R'. Hening sejenak selama beberapa detik.

Tiba-tiba, HP-ku bergetar panjang di tangan. Sebuah pesan BBM singkat dengan emoticon tersenyum dan menangis haru masuk dari Nara:

"Yaudah kalau kamu sekeras kepala itu meyakinkan aku... Aku mau, Satria. Aku mau jadi pacarmu... :') "

Membaca balasan BBM itu, rasanya ada beban raksasa yang terangkat tuntas dari atas dadaku. Kebahagiaan luar biasa membuncah memenuhi ruang kamar tidurku yang sepi. Kami resmi jadian sore itu, tepat di atas obrolan pesan BBM yang jujur dan meluluhkan segala keraguan.

Layar HP-ku kembali bergetar oleh pesan BBM dari Nara:

"Tapi awas ya kalau kamu centil sama cewek lain di kelas! Tak cubit beneran nanti di sekolah!"

Aku tertawa renyah membaca pesan singkat khas Maknar itu, lalu mengetik balasan dengan senyum terkembang lebar di bibir:

"Siap, Ibu Negara! Gak bakal berani centil kok. Selamat istirahat ya, Pacar."

"Selamat istirahat juga, Satria... makasih ya udah mau bersabar dan meyakinkan aku. Luv u."

Malam itu, aku menyandarkan tubuhku di atas kasur dengan perasaan yang amat sangat lega dan bahagia. Semua perih patah hati saat dikhianati, keputusasaan di atas sejadah, hingga perjuangan di atas matras silat, semuanya terbayar lunas tanpa sisa.

(Catatan Masa Kini)

Nara... kalau saja kamu tahu, sore itu di kamar sederhanaku, ada seorang remaja laki-laki yang melompat kegirangan seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah terbesar dalam hidupnya.

Sepanjang hidupku, sebelum dan sesudah hari itu, aku tidak pernah mengejar seorang perempuan segigih dan sekeras kepala itu. Kamu adalah satu-satunya. Di tengah segala ketidakmungkinan, keraguan, dan penolakan yang pernah ada, hatiku tidak pernah benar-benar bisa berpaling darimu.

Terima kasih karena pada akhirnya kamu memilih untuk mempercayaiku. Terima kasih karena telah memberiku kesempatan untuk menjadi pelindungmu di masa SMA.

Bagi dunia, mungkin ini cuma cerita cinta monyet anak sekolah. Tapi bagiku, kamu adalah cinta pertamaku—sosok yang mengajarkan bagaimana caranya memperjuangkan seseorang sampai titik darah penghabisan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!