Lima tahun aku menikah dengan mas pramudia dan di karuniai anak satu laki laki yang sekarang berusia empat tahun, mas Pram adalah kakak angkatku lulusan teknik sipil, aku rela menjadi ibu rumah tangga setelah lulus kuliah demi menemani beliau mulai dari nol, aku meminta teman ku yang anak pengusaha untuk investasi ke perusahaan suamiku sehingga perusahaan properti mas Pram maju dan berkembang tapi setelah pamit kerja keluar kota, tiba tiba dia bawa madu untukku, kemudian dia pura pura bangkrut untuk mengurangi jatah nafkah ku dan tidak dapat harta gono gini bila menuntut cerai, dikira aku sangat mencintai dan bertahan, Karena aku tidak berpenghasilan, mereka meremehkan aku. ku bikin bangkrut beneran biar tahu rasa, laki laki seperti itu yang tidak tahu terima kasih yuk ikuti ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama ende, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26 Gugatan cerai di kabulkan.
Aku menjemput Zidan di sekolah kemudian pulang ke kos, mas pram sudah menunggu, aku nggak mau kalau Dewi ikut dan kedepannya aku nggak mau kenal sama Dewi, walaupun Dewi menangis minta maaf, aku kekeh nggak mau maafin, aku berpamitan kepada tetangga kos termasuk mbak Desi dia menangis sambil memelukku.
" Mbak Erin adalah korban gundik, tapi aku harus semakin menyala ya" kata mbak Desi memberi semangat
Selesai berpamitan dengan tetangga kos aku pun berangkat, Zidan aku bonceng, dan mas Pram bawa koper kami menuju ke apartemen Oma, Kami sampai diparkiran
" Mbak jadi pindah ke tempat oma Lidya" tanya pak satpam
" Betul pak, saya tinggal dan kerja di tempat Oma" jawabku
Mas Pram berjalan mengikuti aku dan Zidan kami memecet bell dan mbak Mona membukakan pintu dan menyuruh kami masuk, di ruang tamu sudah ada oma, Bu Hera, Bayu dan Mita.
Aku segara menyalami Mereka ku cium punggung tangan nya Bu Hera dan oma, Bu Hera memelukku sambil menangis.
"Ibu nggak pernah kamu kasih kabar, tahu tahu ramah tangga mu sudah hancur, Mita yang bercerita dan menjemput ibu, katanya pram akan mengembalikan kamu ke ibu" jelas bu Hera sambil meneteskan air mata.
" Zidan sama mbak Mona ya, di dalam mbak Mona punya es cream" kata Oma Kepada Zidan dan zidan pun masuk ke dalam bersama Mona
" Rin itu di minum dulu teh nya" kata Oma aku pun duduk minum teh dan satu teh ke geser dekat mas pram
" Dulu kamu janji pada ibu akan tanggung jawab dan tidak menyakiti Erina mana janji mu Pram" kata Bu Hera
" Maaf Bu, Pram khilaf, kalau erina mau memaafkan Pram, Dewi juga akan Pram cerai dan pram akan kerja keras lagi untuk dek Erin " kata dia kepada Bu Hera
" Erin nggak mau jadi istri mas Pram lagi apalagi mas Pram suka jajan apem di luar sana, dan Erin sudah tidak mencintai mas pram" jawabku
" Karena Erin sudah tidak mau sama saya jadi aku kembalikan Erin pada ibu dan titip anak Pram dan Pram minta jangan di persulit kalau Pram ingin bertemu Zidan" kata mas Pram
" Iya aku terima Erin kembali, tapi jangan lupa kewajiban mu walaupun Erin nggak nuntut apa apa dari kamu, segera kamu ikrar talak, biar Erin bebas" kata Bu Hera tegas.
" Saya tidak mau ikrar talak sekarang, tapi saya nunggu putusan dari pengadilan agama" kata mas Pram dan dia pun pamit
Setelah mas pram pulang oma ngajak kami makan di restoran.
" Mumpung kalian kumpul ayo kita makan di restoran" ajak Oma
Sekarang semua ada di mobil, Oma minta kita pakai mobil Oma dan Bayu yang mengemudikan, mobil Oma jarang di pakai yaitu mobil Toyota Alphard seri terbaru.
Bayu mengemudi di depan, dan Mita duduk di sampingnya sambil memangku Laura, Bu Hera duduk memangku Zidan dan oma duduk di sebelahnya aku dan Mona duduk di belakang.
Sampai di mall kami menuju restoran dan aku mendorong oma dengan kursi rodanya
" Biar aku yang traktir kan uang ku banyak dan sekalian belanja kebutuhan dipanti biar aku yang bayar" kata ku sombong.
" Mbak Erina sekarang petentang petenteng jadi janda bukan sembarang janda tapi janda kaya raya" kata Mita.
" Oma juga mau amal, jangan kamu borong sendiri, kamu yang bayar makanan di restoran, Oma yang belanja kebutuhan untuk di panti jadi kita adil" kata oma
" Iya bagaimana kalau kita makan di restoran jepang saja? " tanya ku pada mereka.
" Ok setuju" jawab mereka kompak.
Kami pun makan di restoran jepang, oma di bantu oleh Mona, Zidan di suapi oleh nenek Hera, mana dia lengket banget, dan kami pun makan apa saja yang kita ambil nanti di hitung belakangan di situ ada daftar harga.
Aku membayar makanan mereka semua habis satu juta rupiah karena Zidan suka banget, dan banyak ambil makanan, asal anakku senang nanti juga sering ke sini
Setelah makan Bayu dan Bu Hera dan nenek pergi belanja sedangkan aku dan Mita menunggu anak anak bermain di Playground,
Aku duduk di ruang tunggu di depan Playground, oma datang, dia duduk di sebelah ku, rupanya mereka selesai belanja dan Mona membantu bu Hera dan Bayu jadi Oma di sini aku yang jaga.
" Eh meninggalkan suami baik, teryata hanya jadi pembantu" kata seorang ibu, aku lupa siapa dia, eh aku ingat sekarang, dia kan ibunya Dewi.
" Eh ibunya mbak gundik gimana perasaan nya senang dong, anaknya sudah menang dan sukses merebut suami orang, sana selebrasi" kata ku
" Mbak maaf kan buku nggak tahu diri, ayo Bu kita jangan ganggu mbak Erina kasihan dia lagi kerja maklum sudah nggak ada yang mencarikan uang" kata dia, nyinyir tapi pelan.
" Iya bawa saja kesana ibumu, ibu sama anak kok sama suka nyinyir" kata ku menjawab, Oma dan bu Hera tertawa ngakak,
" Sombong banget mereka, kalau tahu Erina uangnya banyak mereka akan kejang kejang" kata Bu Hera.
" Biar saja mereka akan tahu setelah aku resmi cerai " jawabku
Belanja selesai, kami membawa troli untuk membawa belanjaan ke dalam mobil, ternyata Zidan dapat bagian juga, dia membawa jajanan satu keresek katanya buat cemilan dia dan mbak Mona.
Sampai di apartemen belanjaan di pindah ke mobil Bayu dan Bu Hera langsung di antara pulang ke panti, oleh Bayu dan Mita, sementara aku, Oma dan Mona masuk ke unit apartemen, Oma segera istirahat semanta kami lanjut makan camilan sambil bercanda.
Untuk sekolah Zidan masih ku antar kadang yang jemput Mona, kalau mengaji biasanya di antar Mona sore dan pulang sebelum magrib, sedangkan aku jaga oma sambil kerja, Oma bahagia sekali.
Hari ini adalah sidang ke dua, pagi aku di jemput Bu Anna, aku minta tolong ke Bayu untuk jemput Zidan nanti di sekolah, karena Oma nggak boleh sendirian jadi Mona nggak bisa jemput Zidan,
Sampai di pengadilan, ketemu Bu ustadz, Bu RT dan mbak Desi, eh tenyata mereka mau di jadikan saksi untuk ku dan anehnya Bu Anna kok tahu mbak Desi ya,
" Terima kasih kalian mau jadi saksi di pihakku dan nggak nyangka ada mbak Desi juga" kata ku
" Iya mbak Erin, aku diajak bu RT dan siap jadi saksi kalau mas Pram nggak pernah adil" kata dia
Mas Pram datang bersama Dewi dan mereka semakin lengket dan Dewi menganggap dirinya menjadi pemenang ya biarkan.
Sidang di mulai aku didampingi oleh Bu Anna dan para saksi di panggil dan kesaksian mereka memberatkan mas Pram, Dewi tidak ikut masuk, kayaknya dia menunggu diluar mungkin takut sama mbak Desi.
Akhirnya hari ini gugatan cerai ku di kabulkan, tapi untuk administrasi nanti di urus Bu Anna dan mas Pram sanggup memberi nafkah ke Zidan semampu dia saja, aku tidak nuntut nominal berapa semampunya saja.
Aku di suruh maju karena mas pram mengupakan ikrar talak di depan majelis hakim dan pengacara ku dan sekarang aku resmi menjadi janda.
Sidang sudah di akhiri dan aku mengajak mereka mereka makan siang ternyata mereka di antar pak RT.
" Ayo makan siang dulu" kata ku pada mereka dan aku ajak mereka ke restoran yang jual aneka makanan dari daging sapi, aku dengan Bu Anna dan supirnya sedangkan mereka bersama pak RT.
Mereka pesan masing masing, aku pesan nasi krengsengan, Bu Anna pesan sup iga, dan yang lain pesan nasi rawon memang di sini terkenal rawon enak banget, nanti kalau pulang aku bungkus buat orang rumah, Selesai makan mereka aku kasih uang lelah dan uang transport ke pak RT, mereka gembira dan pamit mau jalan jalan dulu sebelum pulang.
Bu Anna ternyata tahu siapa aku dan dia siap menjadi pengacaraku kapan saja dan dia pesan satu set perhiasan limited edition.
Dan untuk bayaran beliau, katanya sudah di bayar oleh oma dan aku suruh tanya Oma berapa tarif beliau.
Bersambung.