NovelToon NovelToon
Terjebak Duda Dan Tiga Pewaris Nakalnya

Terjebak Duda Dan Tiga Pewaris Nakalnya

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Identitas Tersembunyi / Mafia / Tamat
Popularitas:895.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Arabelle Vasillo kabur dari rumah demi membuktikan bahwa dirinya bisa hidup mandiri tanpa bantuan keluarga. Dengan waktu satu tahun sebagai taruhan, ia membuka warung sarapan sederhana dan berusaha menjalani hidup biasa.

Namun, hidup tenangnya berakhir saat tanpa sengaja memecahkan kaca mobil Nathan Pradipta Anderson, seorang duda kaya dan berpengaruh yang memiliki tiga anak super nakal, Elang, Theo, dan Alya.

Dari satu kesalahan kecil, Arabelle justru terjebak dalam kehidupan keluarga Anderson yang penuh kekacauan, rahasia, dan konflik. Bisakah Arabelle bertahan menghadapi duda dingin dan tiga anak nakalnya, atau justru mereka akan mengubah hidupnya selamanya?

"Menikah denganku dan jadi ibu tiri dari ketiga anakku, maka hutangmu ku anggap lunas,"

Arabelle, hanya tersenyum menanggapi ucapan Nathan, tetapi Arabelle justru tak punya pilihan lain, semenjak hidup mandiri semua kartunya dan fasilitasnya telah dia serahkan pada keluarganya.

"Oke, deal! Setahun tidak lebih!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35

Di dalam mobil, suasana jauh lebih tenang dibandingkan beberapa jam sebelumnya. Theo duduk di kursi belakang dengan kaki yang diluruskan. Elang berada di sampingnya sambil memegang kantong obat. Alya duduk di sisi lain, sesekali melirik kondisi kakaknya.

Sedangkan, Ara duduk di kursi depan. Baru beberapa menit mobil berjalan, ponselnya tiba-tiba berdering. Nama yang muncul di layar membuat Ara langsung menegakkan badan.

Ara menelan ludah, dia hampir lupa kalau suaminya sedang berada di Bali. Dan lebih parah lagi Theo baru saja masuk rumah sakit.

"Angkat dong." Gerutu Theo.

Ara melotot lewat kaca spion. "Kamu diam."

Ponsel itu terus berdering. Ara tahu kalau tidak diangkat, Nathan pasti akan semakin curiga.

Akhirnya ia berdehem beberapa kali.

"Ehem."

"Ehem."

"Ehem."

Alya mengernyit. "Kenapa?"

"Aku sedang menyiapkan suara." Jawab Ara serius.

Theo langsung menahan tawa. Elang memalingkan wajah ke jendela. Bahu pemuda itu sedikit bergetar. Jelas sedang menahan senyum. Setelah merasa siap, Ara akhirnya menekan tombol jawab.

"Halo, Tuan Nat—"

Belum selesai, layar ponselnya tiba-tiba berubah.

Ara membelalak. "Heh?!"

Nathan mengalihkan panggilan suara menjadi video call.

"Astaga naga." Pekik Ara spontan.

Wajah Nathan langsung muncul di layar. Sedangkan, wajah Ara mendadak memenuhi kamera dari jarak terlalu dekat.

"Tuan Nathan! Apa-apaan ini?!"

Ara langsung panik memutar ponselnya ke sana kemari.

"Tunggu! Tunggu! Kok jadi ada mukaku?!"

Theo langsung menutup mulutnya. Alya membalikkan badan sambil tertawa kecil. Bahkan, Elang sampai menundukkan kepala. Nathan yang berada di kamar hotel hanya menatap layar beberapa detik.

Lalu bertanya datar, "Kamu baru sadar video call menampilkan wajah?"

Ara langsung menunjuk layar. "Biasanya orang kasih peringatan dulu!"

Nathan mengangkat sebelah alis. "Memangnya apa yang harus saya peringatkan?"

Ara membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Tidak ada jawaban. Sementara dari kursi belakang terdengar suara tawa yang semakin jelas. Theo bahkan hampir tersedak menahan tawanya.

Alya ikut tertawa kecil. Sedangkan, Elang sudah menyerah dan menutupi wajahnya dengan tangan.

Nathan mendengar suara-suara itu. Keningnya langsung berkerut.

"Kalian sedang bersama?"

Ara membeku. Theo langsung berhenti tertawa. Alya ikut diam dan Elang perlahan mengangkat kepala.

Mobil yang tadinya penuh tawa mendadak sunyi. Nathan menyipitkan mata. Tatapannya bergantian memperhatikan wajah mereka satu per satu dari layar ponsel. Lalu pandangannya berhenti pada Theo. Tepat pada wajah Theo yang terlihat sedikit pucat.

Senyum di wajah Nathan perlahan menghilang. Sementara Theo langsung menelan ludah. Ia merasa kecelakaan tadi mungkin bukan hal paling menakutkan yang akan dihadapinya. Nathan menatap layar ponselnya dengan ekspresi yang semakin datar.

Tatapannya bergantian mengarah pada Theo, Alya, Elang, lalu kembali kepada Ara.

"Kalian benar-benar bikin masalah." Ucapnya akhirnya.

Suara itu tidak keras. Namun, cukup membuat Theo dan Alya langsung duduk lebih tegak. Theo bahkan refleks menelan ludah. Nathan mengembuskan napas panjang.

Kemudian tatapannya beralih kepada Alya.

"Alya..."

Gadis itu langsung menegakkan badan.

"Iya, Yah?"

Nathan berhenti sejenak. "Kalau nilai ujianmu kali ini jelek, Ayah kirim kamu ke Singapura."

"Hah?!" Alya langsung membelalak. "Ayah!" Rengeknya. "Aku nggak mau!"

Nathan tidak menunjukkan belas kasihan sedikit pun.

"Itu kalau nilaimu turun."

"Kalau tidak turun?" Alya langsung berpikir cepat.

Nathan mengangkat alis. "Berarti kamu aman."

Alya langsung menghela napas lega tetapi tetap cemberut. Di sampingnya, Theo berusaha menahan tawa melihat ekspresi adiknya. Sayangnya, Nathan melihat itu. Tatapan pria itu langsung beralih kepada Theo.

Senyum Theo langsung lenyap.

"Theo..." Suara Nathan kali ini jauh lebih tenang. Justru itu yang membuat Theo merinding.

"Iya, Yah..."

"Tunggu ayah pulang."

Theo menelan ludah.

Nathan melanjutkan dengan nada datar, "Ayah akan mengajarimu bagaimana menjadi anak yang patuh."

Theo langsung memucat. Kenangan masa kecilnya ketika dihukum Nathan tiba-tiba muncul semua.

"Ayah..." Theo mencoba tersenyum.

Namun, senyumnya terlihat lebih mirip orang yang akan dibawa ke tiang eksekusi.

"Aku masih sakit."

"Itu tidak menghapus kesalahanmu." Jawab Nathan tanpa ragu.

Alya yang tadi merengek kini justru menahan tawa melihat wajah kakaknya.

"Karma..." Bisiknya pelan.

Theo langsung melotot. Sementara itu Nathan akhirnya memandang Elang. Berbeda dari sebelumnya, ekspresi Nathan sedikit melunak.

"Elang..."

"Iya, Yah."

"Kali ini ayah bangga padamu."

Elang sedikit terdiam. Nathan jarang mengucapkan kalimat seperti itu secara langsung.

"Skripsimu lolos, Dosen pembimbing tadi menghubungi Ayah,"

Elang mengangguk pelan. "Terima kasih, Yah."

Nathan tersenyum tipis. "Dan seperti janji ayah."

Theo dan Alya langsung menoleh. Mereka punya firasat buruk.

Nathan melanjutkan, "Ayah akan membelikan mobil sport baru untukmu."

"Hah?!" Theo langsung berseru. "Ayah serius?!"

Alya bahkan hampir melompat dari kursinya. "Itu nggak adil!"

Elang sendiri terlihat sedikit terkejut. Meski begitu, ia tetap mengangguk sopan.

"Terima kasih, Yah."

Theo langsung protes. "Lah aku kapan dapat hadiah?!"

"Kamu dapat perban." Jawab Nathan datar.

Alya langsung tertawa keras.

Theo melotot kesal. "Ayah pilih kasih!"

Nathan mengabaikannya. Begitu pula saat Alya mulai ikut merengek.

"Ayah, aku juga mau hadiah!"

Nathan hanya melirik sekilas. "Lulus ujian dulu."

Alya langsung mengerang frustrasi. Melihat ketiga anaknya, sudut bibir Nathan sedikit terangkat. Kemudian pandangannya beralih kepada Ara. Wanita itu masih memegang ponsel dengan posisi yang agak miring.

Nathan memperhatikan wajah Ara beberapa detik, lalu berkata,

"Tunggu saya kembali."

Ara berkedip. "Hah?"

"Saya tutup dulu."

Belum sempat Ara menjawab. Nathan sudah mengakhiri panggilan, layar langsung gelap.

Beberapa detik suasana mobil hening.

"Mobil sport..." Gumam Theo penuh iri. "Aku dapat perban."

Alya langsung tertawa, Elang menggelengkan kepala. Sedangkan, Ara menatap layar ponselnya yang sudah mati. Ucapan terakhir Nathan tadi terus terngiang di kepalanya.

"Tunggu saya kembali."

Setelah hampir satu jam perjalanan, mobil akhirnya memasuki halaman rumah. Begitu mobil berhenti, sopir segera turun dan membuka pintu.

Ara lebih dulu keluar lalu berbalik menatap Theo yang masih duduk dengan kaki diperban.

"Jangan sok kuat." Ucapnya.

"Aku bisa jalan." Bantah Theo.

Ara langsung melotot. "Kamu mau jatuh kedua kalinya hari ini?"

Theo langsung diam. Elang yang melihat itu menahan senyum. Akhirnya sopir bersama Elang membantu Theo turun dari mobil. Dengan susah payah, pemuda itu dipapah masuk ke dalam rumah.

Para pelayan yang melihat kondisi Theo langsung panik.

"Nggak usah heboh." Kata Theo. "Hanya retak tulang."

Beberapa pelayan justru terlihat semakin khawatir mendengarnya. Begitu masuk ke ruang tamu, Ara langsung mengambil keputusan.

"Theo sementara pindah ke kamar tamu."

"Hah?" Theo mengernyit.

"Kenapa?"

Ara melipat kedua tangannya.

"Karena kamar tamu ada di lantai bawah."

"Lalu?"

"Kakimu retak."

"Terus?"

Ara menarik napas panjang. "Kamu mau naik turun tangga setiap hari pakai satu kaki?"

Theo langsung terdiam. Kalau dipikir-pikir memang masuk akal. Akhirnya ia mengangguk.

"Ya sudah..." Theo tidak membantah.

Hal itu membuat Elang dan Alya sampai melirik heran.

Ara sendiri terlihat puas. "Nah begitu. Kadang otakmu masih berfungsi."

Theo langsung mendelik kesal.

Setelah memastikan Theo sudah duduk nyaman di kamar tamu, Ara kembali ke ruang keluarga. Pikirannya masih tertuju pada kecelakaan tadi malam. Ia yakin ada sesuatu yang tidak beres. Terutama setelah melihat video dari Almond. Ara kemudian mengeluarkan ponselnya dan mencari sebuah nomor.

Beberapa detik kemudian panggilan tersambung.

[ Halo?] Suara pria terdengar dari seberang.

"Paman Digo..." Panggil Ara.

Di sisi lain, Digo yang sedang berjaga malam langsung duduk tegak.

[Nona muda?]

"Iya."

[Ada yang bisa saya bantu?]

Ara melirik sekeliling terlebih dahulu. Kemudian berkata santai,

"Aku butuh rekaman CCTV arena balap."

Digo berkedip. [CCTV?]

"Iya."

[Untuk apa?]

Ara langsung menjawab tanpa ragu.

"Hanya ingin melihat keadaan arena. Aku merindukan tempat itu."

Digo terdiam beberapa saat, jelas ia tidak percaya. Namun, tetap tidak berani membantah.

[Kalau begitu tidak perlu saya kirim videonya.] Ucap Digo.

"Hah?"

[Nona muda bisa masuk langsung ke sistem CCTV arena.]

Ara mengangkat alis. "Masih aktif?"

[Tentu saja.] Jawab Digo.

[Saya akan kirim link akses dan kode masuknya.]

Ara tersenyum tipis. "Bagus."

[Saya kirim sekarang.]

"Terima kasih." Panggilan berakhir.

Tak jauh dari sana, Alya yang sedang turun untuk mengambil minum tanpa sengaja mendengar sebagian percakapan itu. Gadis itu langsung berhenti di balik dinding, matanya menyipit.

Beberapa detik kemudian ponsel Ara berbunyi, pesan dari Digo masuk. Ara langsung membukanya. Sementara Alya diam-diam mengintip dari kejauhan. Kecurigaan yang sebelumnya sudah ada kini semakin besar.

Dalam pikirannya, semua potongan kejadian mulai tersusun. Ara sering keluar rumah diam-diam. Ara bertemu pria asing di mal. Ara menerima telepon dari seseorang yang tidak mereka kenal.

Alya menggigit bibir bawahnya.

"Jangan-jangan..." Matanya membesar.

"Ibu tiri benar-benar selingkuh dari Ayah?"

Semakin dipikirkan, Alya semakin yakin. Tanpa sadar ia langsung berlari kembali ke ke kamar tamu dan berniat memberi tahu Theo.

1
Jaya Fandi
kak,,ko blm bisa buka novel.barunya,,pdhl penasaran
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻❤❤❤👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Neny Risdiani Dewi
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/....alya..alya
Dewi Ansyari
perpisahan akan membawa mereka kekebahagiaan
Dewi Ansyari
🤣🤣🤣🤣🤣🤣Ara lucu banget sampe2 Larisa kabur karena takut tambah malu🤣🤣🤣🤣🤣
Eva Karmita
Alhamdulillah saaahhhh ... terimakasih otor karyamu bikin candu ...kereeennnnn 😍😍
Eva Karmita: sudah meluncur...cerita Ken Alya bikin mesem" sendiri keren 👍🥰
total 2 replies
Nani rohana
justru mreka lah sendiri senjata makan tuan. ara di lawan.
Sri Widjiastuti
minta digorok nih pelayan😇😇
Dewi Ansyari
Astaga apa yg akan terjadi pada Alya kalau tau Ara akan pergi jauh dan bahkan 3 Thn
T&K
Ditunggu releasenya Author kesayangan😄. jng kisah Elang sj di up😍
mimief
siap...
kalau udah launching panggil panggil kotaby thor
mimief
aku penasaran.. othor tarik ulur
beneran ga ni...si Ken
atau ternyata yg lain😁🤣🤣
Teh Euis Tea
otw baca Alya sm pooh😁
Aditya hp/ bunda Lia
siap meluncur ....
Teh Euis Tea
di tunggu novel barunya thor
Teh Euis Tea
penasaran calon Alya si Ken bukan sih?
Nani rohana
kreeen
Dewi Habibah
bagus ceritanya
Nani rohana
lanjut author makin seru ceritanya.
Anonim
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!