NovelToon NovelToon
Istri Gendut Yang Diceraikan

Istri Gendut Yang Diceraikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga / Dendam Kesumat / Cewek Gendut
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Danti tiba-tiba diceraikan oleh suaminya saat rumah tangga mereka sedang baik-baik saja.

Alasannya? karena tubuh Danti berubah gemuk setelah menjalani berbagai program kehamilan yang selama ini sedang mereka perjuangkan bersama.

Bukannya menangis dan memohon agar dicintai kembali, Danti justru menerima perceraian itu dengan tenang.

Namun sebelum palu hakim diketuk, Danti akan membuktikan bahwa perempuan yang dicampakkan karena bentuk tubuhnya... kini masih bisa berubah menjadi bidadari yang membuat banyak lelaki tergila-gila.

Dan saat mantan suaminya menyesal, Danti hanya tersenyum sambil berkata...

“Aku pawang buaya yang akan membuka kembali peternakannya!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akal bulus

Ruangan itu seperti menahan napas.

Ibu-ibu tetangga yang tadi membantu memasak saling memandang dengan tatapan prihatin. Seorang perempuan paruh baya bahkan mendesah keras, menggeleng-geleng sambil menatap Bu Sumarni dengan sorot yang tak bisa disembunyikan.

"Ya Allah, kasihan."

"Dikasih tugas segitu berat, nggak dikasih uang."

"Pantesan Danti sampai terluka."

Bisikan-bisikan itu merambat dari satu telinga ke telinga lain seperti api di rumput kering.

"Saya..." Bu Sumarni mencoba bicara, tapi lidahnya kaku. Ia melihat wajah-wajah di sekelilingnya, dan untuk pertama kalinya ia sadar bahwa tatapan mereka tidak lagi menghormati, melainkan menilai.

Danti memanfaatkan jeda itu. Dengan langkah ragu ia mendekati Bu Duma, kepalanya sedikit tertunduk.

"Bu Duma, maaf ya," ucapnya lembut. "Ini salah saya. Saya yang beli, jadi saya yang tanggung jawab. Saya yang akan bayar utang ayamnya."

Bu Duma mengangkat alis. "Kamu bayar? Kamu punya uang?"

"Belum sekarang, Bu." Danti meringis kecil sambil mengangkat tangan kirinya yang berselendang. "Saya baru saja terkilir. Pengobatannya juga butuh biaya. Tapi saya janji, saya cicil. Setiap minggu saya bayar sedikit-sedikit sampai lunas. Boleh, Bu?"

"Cicil?" Bu Duma mendengus. "Satu juta dua ratus lima puluh ribu dicicil? Berapa bulan itu?"

"Mungkin... setahun, Bu?" Danti menjawab pelan, polos. "Kalau Mas Rizal kasih uang belanja cukup, mungkin bisa lebih cepat."

Jawaban itu jatuh bagai batu ke dalam kolam. Beberapa orang menahan napas. Satu atau dua bahkan terkekeh dan buru-buru menutup mulut.

Setahun.

Seorang menantu yang terkilir, yang bahkan tak punya uang untuk beli beras, harus mencicil utang satu juta lebih atas perintah mertua yang merasa tak berutang apa-apa.

Di sudut ruangan, seorang perempuan tua berbaju batik cokelat, kakak kandung Bu Sumarni, Bu Hesti, tak tahan lagi. Ia sudah lama menyaksikan semua itu dari kursi dengan alis berkerut. Sebagai kakak tertua, ia sudah beberapa kali menegur adiknya soal perlakuan pada menantu. Dan selama ini, hanya Bu Hesti yang tak pernah ikut menghina Danti.

Ia bangkit dari kursi, tongkat kecilnya mengetuk lantai.

"Sumarni."

Satu panggilan itu membuat Bu Sumarni menoleh dengan wajah kaget. "Mbak..."

"Sudah. Cukup." Suara Bu Hesti tenang tapi berwibawa. Ia mendekat, berdiri di antara Bu Sumarni dan Danti. "Kamu yang nyuruh, kamu yang bayar. Jangan malu-maluin keluarga."

"Tapi Mbak, itu bukan..."

"Mbak lihat sendiri, Sum." Bu Hesti mengangkat tangan menghentikannya. "Dari pagi menantumu terkilir tapi tetap datang. Dia nggak pernah ngeluh. Dia lakukan semua yang kamu minta, dan malah dibentak di depan orang banyak." Ia menggeleng pelan. "Mbak malu lihat kamu seperti itu. Ayo bayar. Ayam itu dimakan semua orang di sini, bukan cuma Danti."

"Betul itu, Bu Sumarni," celetuk seorang tetangga dari belakang. "Kan kami semua makan ayamnya."

"Iya, enak banget malah."

"Masa nggak mau bayar."

Gumaman setuju mulai menyebar. Beberapa orang mengangguk-angguk, dan Bu Sumarni merasa udara di ruangan itu semakin menyempit.

Ia menatap wajah-wajah itu satu per satu. Saudaranya. Tetangganya. Pak RT yang kini terang-terangan menyeruput kopi sambil menonton. Dan di tengah semuanya, seorang menantu yang berdiri dengan mata berkaca-kaca dan senyum tipis yang nyaris tak terlihat di sudut bibirnya.

Senyum itu hanya sepersekian detik, tapi cukup bagi Bu Sumarni untuk menyadari sesuatu.

"Dia sengaja."

Seluruh tubuhnya bergetar. Amarahnya naik hingga ubun-ubun. Ia ingin menjambak, ingin berteriak, ingin menyeret menantu itu keluar dan memukulinya di depan semua orang. Tapi saat ia menarik napas untuk melakukannya, ia mendengar bisikan seorang tetangga, "Lihat, mukanya merah banget..." dan tubuhnya langsung kaku.

Nama baik. Seumur hidup ia menjaga nama baik. Arisan mewah. Gelang emas. Sanggul tinggi. Semua demi satu hal... dipandang terhormat. Dan kini semua itu bertaruh pada satu keputusan.

Bu Sumarni menelan ludah sampai terasa pahit.

"Baik," ucapnya akhirnya, suara serak dan nyaris pecah. "Biar saya yang bayar."

"Nah, gitu dong," Bu Duma mengangguk puas. "Satu juta dua ratus lima puluh ribu. Tunai. Sekarang."

Bu Sumarni melangkah ke kamarnya, langkahnya berat dan cepat sekaligus. Dari balik pintu terdengar suara laci dibuka dengan kasar, tumpukan uang dihitung dengan jari gemetar, napas panjang yang dilepas bersama sumpah serapah yang hanya ia sendiri yang mendengar.

Beberapa menit kemudian ia kembali, menyerahkan segepok uang pada Bu Duma dengan wajah seperti sedang menyerahkan ginjal.

Bu Duma menghitung uang itu di depan semua orang, lembar demi lembar, dengan jari yang lincah. Setelah selesai, ia mengangguk puas.

"Pas. Terima kasih, Bu Sumarni." Ia menepuk-nepuk celemeknya, lalu menoleh pada Danti, dan untuk sesaat, hanya sepersekian detik, sorot matanya yang garang berubah geli. Ia mengedip kecil. "Sehat-sehat ya, Nak Danti. Cepat sembuh tangannya."

"Terima kasih, Bu Duma."

Bu Duma pergi dengan langkah berat, golok bergoyang di pinggang, meninggalkan keheningan yang berat.

Ruangan itu perlahan kembali bergerak. Ibu-ibu tetangga kembali ke dapur, sebagian masih berbisik. Paman-paman kembali ke obrolan mereka dengan nada pelan. Tante Lisna dan Bude Marni, yang sejak tadi menunduk, menggunakan kesempatan itu untuk menyelinap ke ruangan lain.

Di tengah semua kekacauan itu, tak seorang pun menyadari bahwa satu orang sudah lama menghilang.

Rizal.

Sepanjang keributan terakhir, ia tidak berdiri di dekat ibunya, tidak membela istrinya, tidak sekali pun mengeluarkan suara. Begitu Bu Duma muncul dan nama Danti disebut-sebut, ia sudah beringsut mundur diam-diam, menyelinap ke belakang punggung para paman, lalu ke koridor, lalu ke dapur belakang, dan akhirnya bersembunyi di balik pintu kamar mandi dengan jantung berdebar.

Ia bersandar pada dinding, menyeka keringat dingin dari dahinya.

"Jangan sampai aku dilibatkan," pikirnya panik. "Jangan sampai ada yang lihat aku. Ini bukan urusanku. Ini urusan Ibu dan Danti."

Wajahnya merah karena malu. Bukan malu pada apa yang terjadi, tapi malu karena keluarganya sedang menjadi tontonan. Dan seperti biasa, pilihan paling mudah baginya adalah menghilang.

Di luar, suara-suara samar menembus pintu. Bisik-bisik. Tawa tertahan. Nama Danti dan Bu Sumarni bergantian disebut.

Rizal menutup telinga.

Ia tak sadar bahwa dari jendela kecil dapur, sepasang mata mengawasinya. Mata Danti. Perempuan itu berdiri di ambang pintu, tangan kanan memegang cangkir teh, menatap punggung suaminya yang bersembunyi di balik pintu kamar mandi.

Ia tak lagi marah. Tak lagi sedih. Hanya ada satu perasaan yang pelan-pelan merambat di dadanya... sesuatu yang dingin, jernih, dan tenang.

"Jadi begini ya, Mas," batinnya. "Setiap kali ada api, kamu selalu pergi."

Ia menyesap tehnya perlahan, lalu berbalik, meninggalkan dapur itu tanpa suara.

1
ryuka
bagus rizal semakin cepat kamu masuk kurang klo bgini 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
selamat Rizal sbntar lgii km bkal masuk k jurang kehancuran 😏
Muft Smoker
awalnya emnk manis ,, tp nanti juga akhirnya anda bakal ngerasa mana yg tulus ma hidup mu ,, mana yg cuma tulus ma uang mu zal ,, 😒😒😒
ryuka
nunggu kehancuran kalian sekeluarga aku tuuuhhh 🤭🤭🤭🤭🤭
ryuka
haduuuhh biasa nya yg gampang terpukau itu yg gampang di bodohi 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
ryuka
orang salah emang selalu cari pembenaran 🫠🫠🫠🫠🫠🫠
Muft Smoker
ayoo dantii ,, semangat berjuang ,,
ryuka
semangat dantiiii 👍👍👍👍👍👍👍
ryuka
kamu mulai terlena rizal.. haduh haduh haduhh.. /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Muft Smoker
gpp danti ,, biarkan si Rizal hancur sndrii dg selalu merasa bnar ,,
km tinggal fokus dg ap yg Skrang km kerjakan ,, meski rasa sakit mungkin ad ,, sbgai istri melihat suami sperti itu ,,
Muft Smoker
baru 1 hari atur uang belanja ,, km udh stress zal/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ryuka
naahhh mikir kamu sekarang.. haduuhh di bodohin kok mau aja sihhh
Muft Smoker
sbntar lgii jugaaa hancur dy ,, biarin aj ,,
ryuka
bodoh kamu bodoh rizal.. tunggu kehancuran kamu zal
Muft Smoker
gpp zal semakin km merasa bosan ma danti ,, semakin penyesalan dan kehancuran mendekat ke arah mu
ryuka
terlalu bodoh kamu rizal../Sweat//Sweat//Sweat//Sweat/
Muft Smoker
danti pun membalas ,, ' km banci mas ' 😒😒😒😒😒
Muft Smoker
good dantii ,, keluarin uneg2 mu ,, abis tu tinggalin si Rizal ,, punya suami otak ny Segede udang rebon ,, yx begitu ,, 😒 😒 😒 😒
Muft Smoker
good dantii ,, keluarin uneg2 mu ,, abis tu tinggalin si Rizal ,, punya suami otak ny Segede udang rebon ,, yx begitu ,, 😒 😒 😒 😒
ryuka
bagus danti.. keluarkan semua uneg2 mu biar rizal tau.. tinggal kita liat keputusan apa yang kita ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!