Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: LAUT YANG MENELAN KAPAL
#
Pelabuhan Sarvenna belum bangun ketika Kenzo sampai. Kabut menempel di air, derek-derek berdiri seperti tulang rusuk raksasa, dan di dermaga selatan satu kapal besar sudah menyalakan mesin tanpa lampu. Di lambungnya tertulis nama yang sekarang Kenzo benci: *Sri Mandala.*
Ia tidak datang sendirian. Jack, Vito, Tony, Dante, dan Rocco berjalan di belakangnya dengan senjata terangkat. Jack paling depan. Jeky masih terbaring di klinik dengan lampu menyala, dan Jack sudah bersumpah dalam hati: malam ini tidak ada kembar yang tertinggal.
Silva berdiri di sebelah Kenzo. Kenzo tidak menyuruhnya pergi. Ia hanya meliriknya sekali.
"Rusukmu," bisik Silva.
"Nanti."
"Kamu selalu bilang nanti."
"Karena selalu ada yang lebih dulu."
Di dek kapal, dua puluh orang Lingkar Hitam berbaris. Gandara tidak ada. Alexander berdiri di anjungan dengan jas putih gading yang sudah kotor oleh debu menara, rambut peraknya berantakan. Di sampingnya, seorang lelaki memegang koper kulit besar yang sama dengan yang dibawa Anderson dulu.
"Kamu tidak bisa lari lewat laut, Alexander," kata Kenzo lewat pengeras suara kapal patroli yang direbut Vito. Suaranya datar. "Rocco sudah menembak kemudimu."
"Aku tahu." Alexander tertawa kecil dari atas. "Aku hanya butuh dua puluh menit."
"Untuk apa?"
"Untuk membuatmu terlambat."
Dante yang pertama mencium baunya. "Bau bensin. Banyak sekali. Bos, mundur!"
Api menyambar dari dek belakang. Lingkar Hitam mulai menuang bensin dari drum-drum di lambung kapal, dan dalam hitungan detik separuh dek menyala oranye. Alexander tidak berniat kabur. Ia berniat menghilangkan semua.
"Dia bakar buktinya!" teriak Tony. "Manifest, buku besar, semua ada di palka!"
Kenzo melompat ke tangga kapal tanpa menunggu. Rusuknya terasa seperti dibelah, tapi kakinya bergerak sendiri. Pertempuran meledak di dek: Jack menghantam dua orang sekaligus dengan palu godam, Vito menggulingkan drum menyala ke arah barisan musuh, Rocco menembak dari derek tanpa meleset sekali pun. Silva bergerak seperti pisau di tengah asap, tiga tembakan, tiga orang jatuh, tanpa melambatkan langkah.
Kenzo menembus asap sampai ke anjungan. Alexander tidak lari. Ia berdiri tegak dengan tangan terlipat, menunggu.
"Akhirnya kita bertatap muka sebagai manusia."
"Jalan Melati Dua." Kenzo mengangkat pistol. "Kakakku Nadira. Dua belas tahun. Ibuku, Tari. Ayahku, Adriel Wicaksana."
"Ya." Alexander mengangguk. "Aku menghitung mereka satu-satu. Hanya tiga. Aku tahu kamu masih hidup, dan aku tidak mengejarmu. Itu kesalahanku yang pertama."
"Siapa Bapak?"
"Ah." Senyumnya samar. "Kamu pikir aku akan bilang?"
"Tidak." Kenzo menarik pelatuk.
Satu tembakan, tepat di dada. Alexander terdorong ke belakang, punggungnya menabrak dinding anjungan, dan ia merosot duduk dengan kemeja putih gadingnya mekar merah. Ia tidak berteriak. Ia hanya menatap Kenzo, dan senyum itu masih ada.
"Bagus," katanya, napasnya pendek. "Kamu... bukan orang yang ragu."
"Siapa Bapak?"
"Namaku... bukan yang kamu cari." Alexander terbatuk, darah menetes dari bibirnya. "Aku cuma... tangan. Kasir. Kepalanya... di atas sana. Yang punya... Menara." Matanya bergeser pelan ke langit-langit anjungan, kosong, seperti melihat sesuatu di baliknya. "Kamu... mirip. Mirip sekali dengan..."
Kepalanya terkulai. Alexander Gunawan berhenti bernapas dengan kalimat yang tidak pernah selesai.
Kenzo berdiri lama di depan mayat itu. Sepuluh tahun mengejar nama ini, dan yang ia rasakan hanya kosong, seperti orang yang menendang pintu dan menemukan ruangan sebelahnya masih gelap.
"Kenzo!" Suara Silva dari dek bawah. "Palka terbakar! Cepat!"
---
Mereka menemukan ruang arsip di palka paling dalam. Asap menusuk mata, api menjilat dinding baja, dan di atas meja besi berjajar koper-koper berisi buku besar. Aceng, lewat earpiece, menjerit menyuruh mereka menyalin semuanya. Tony dan Dante menyambar apa yang bisa mereka bawa. Jack memikul dua koper di bahu seperti memikul bayi.
Di bawah tumpukan kertas, Kenzo menemukan sebuah map tipis. Bukan manifest. Di sampulnya, huruf miring dengan tinta hitam: *Ginawati.*
Ia membukanya.
Foto seorang gadis berambut hitam sebahu, mungkin dua puluh tahun, berdiri di depan gedung kampus berbahasa asing. Wajahnya samar karena difoto dari jauh..sangat tidak jelas... Di bawahnya, tulisan tangan Alexander sendiri: *Anak tunggal. Sekolah di luar negeri sejak umur 14. Tidak tahu apa pun. Jangan sentuh. Perintah Menara: jaminan.*
Kenzo membaca baris terakhir itu dua kali. Dadanya mengeras.
"Anak," katanya pelan.
Silva mendekat dari belakang dan melihat foto itu. "Kamu tidak boleh..."
"Dia anak Alexander."
"Dia mungkin tidak tahu apa-apa."
"Kakakku juga tidak tahu apa-apa." Suara Kenzo rendah dan datar, dan itu yang membuat Silva mundur setengah langkah. "Dua belas tahun. Dia masih main boneka kelinci. Dia nyisir bulunya tiap malam."
"Kenzo..."
"Aku bilang aku tidak akan menyentuh yang tidak bersalah." Ia menutup map itu, menyelipkannya di bawah jaket. "Tapi mereka tidak menanyakan itu pada Nadira."
Api meraung di belakang mereka. Seseorang berteriak bahwa kapal akan meledak. Kenzo tidak bergerak sampai Jack menariknya dengan satu tangan dan membawanya naik tangga.
Mereka melompat dari dek tepat ketika tangki bahan bakar di buritan meledak. *Sri Mandala* terbelah dua, bola api naik ke langit abu-abu, dan laut Sarvenna menelan kapal itu bersama semua yang tersisa di dalamnya.
---
Dari dermaga, mereka menonton api padam di atas air. Orang-orang pelabuhan sudah berkumpul di belakang pagar, diam, tidak bersorak. Seorang nenek menutup mata anak kecil di gendongannya.
Silva berdiri satu langkah di belakang Kenzo. Ia mengulurkan tangan hendak menyentuh bahunya. Tangan itu berhenti di udara, lalu turun.
"Anak itu," katanya akhirnya. "Biar aku yang cari lebih dulu. Mata Senja punya akses ke bandara dan imigrasi."
"Aku bisa cari sendiri."
"Aku tidak bilang kamu tidak bisa." Suaranya turun. "Aku bilang... biar aku dulu. Supaya kamu punya waktu bernapas."
Kenzo tidak menjawab. Ia hanya menatap laut, tempat bangkai kapal tenggelam perlahan, dan Silva membaca punggung itu seperti membaca kalimat yang tidak ia izinkan dirinya selesaikan.
Dari belakang mereka, di antara puing dan asap, Jack datang tertatih membawa sebuah koper terakhir. "Bos. Satu lagi. Ini yang paling berat."
Kenzo membukanya. Di dalamnya tidak ada kertas. Hanya satu benda: sebuah topeng.
Bukan porselen. Perak gelap, mulus tanpa retak, dengan mahkota kecil terukir di dahi. Ada kartu kecil terselip di bawahnya. Tulisan tangan yang sama dengan yang pernah menulis *dari mana kau pikir tikus itu bisa masuk, Nak.*
*Alexander sudah selesai. Sekarang kamu bertemu orang yang membayar semua ini.*
Di belakang mereka, jauh di ujung dermaga, dua siluet berdiri dalam kabut. Seorang lelaki tinggi mengenakan topeng perak bermahkota. Di sampingnya, seorang gadis ramping bertopeng perak berbentuk mawar yang kelopaknya tajam seperti bilah.
Tidak ada yang melihat mereka kecuali Rocco dari atas derek. Ia berhenti menyesap kopinya.
Lalu mereka menghilang, seolah kabut pagi hanya menelan dua bayangan itu begitu saja.
---
*Bersambung ke Bab 30*