NovelToon NovelToon
Penguasa Pil Yang Bereinkarnasi: Raja Alkimia Di Dunia Permainan Abadi

Penguasa Pil Yang Bereinkarnasi: Raja Alkimia Di Dunia Permainan Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Reinkarnasi / Dunia Lain
Popularitas:207
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.

Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.

Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 - LANGKAH YANG BELUM TERUKUR

Lin berangkat sebelum fajar menyingsing. Halaman latihan di selatan kota lebih ramai daripada yang ia bayangkan. Beberapa orang membawa tongkat kayu, sementara yang lain hanya memakai pakaian kerja dan sepatu sederhana. Tidak ada altar atau tungku besar. Tanah lapang itu dibatasi pagar rendah, dengan tiang-tiang kayu dan lintasan pendek mengitari sumur.

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun berdiri di dekat gerbang. Lengan kirinya berakhir di bawah siku, sementara tangan kanannya memegang tongkat panjang untuk menunjuk posisi murid.

“Kau datang untuk latihan atau menonton?” tanyanya.

“Menonton dulu. Saya ingin mengetahui bagaimana menilai kondisi tubuh.”

“Kalau ingin tahu tentang Qi, halaman ini bukan tempatnya.” Pria itu mengamati Lin. “Aku mengajar keseimbangan dan ketahanan dasar. Bukan bakat kultivasi.”

“Saya belum tahu bagian mana yang perlu saya tanyakan.”

“Jawaban yang baik.” Pria itu memperkenalkan diri sebagai Han. Ia tidak meminta bayaran untuk melihat sesi pagi, tetapi melarang Lin mengganggu murid saat latihan.

Lin berdiri di sisi pagar. Para murid berpasangan, bergantian berjalan cepat mengitari lintasan, lalu berhenti untuk menjaga posisi rendah dengan lutut ditekuk. Han mengoreksi satu murid yang membungkuk terlalu jauh dan meminta yang lain mengurangi kecepatan karena napasnya mulai tersengal.

Lin mengamati cara mereka menapak, bukan seberapa cepat mereka bergerak. Seorang pemuda di dekat sumur tampak menahan beban lebih banyak pada kaki kanan. Lin hampir menganggapnya sebagai cara berdiri biasa, tetapi melihat pemuda itu menghindari pijakan penuh setiap kali berbalik.

Han juga memperhatikannya. “Kau terluka?”

“Tidak,” jawab pemuda itu.

“Kalau begitu, tunjukkan kedua telapak kakimu.”

Pemuda itu ragu, kemudian melepas sepatu. Tumit kirinya memerah dan ada lecet terbuka. Ia mengaku sudah merasakannya sejak hari sebelumnya, tetapi takut dikeluarkan dari latihan kelompok.

Han menyuruhnya duduk dan memanggil seorang murid senior untuk membersihkan luka. “Memaksakan diri sekarang hanya akan membuatmu kehilangan lebih banyak hari.”

Lin mengingat pelajaran Mo tentang tidak menyamakan penampilan luar dengan kondisi sebenarnya. Ia tidak mengatakan apa pun. Namun ia mencatat dalam benak bahwa gerakan kecil dapat menunjukkan hal yang disembunyikan seseorang.

Sesi latihan berlanjut. Setelah kelompok pertama selesai, Han melihat Lin masih berdiri di tempat yang sama.

“Kau tidak harus masuk,” katanya. “Tapi kalau ingin merasakan apa yang kau amati, lakukan posisi dasar ini sebentar. Berhenti kalau ada rasa sakit.”

Lin melangkah ke tanah lapang. Han menunjukkan jarak kaki dan cara menekuk lutut. Posisi itu tampak sederhana. Lin menurunkan tubuhnya, menjaga punggung tetap lurus, dan mencoba mengatur napas.

Pada hitungan ketiga, paha Lin mulai bergetar. Pada hitungan kelima, ia merasa berat tubuhnya berpindah ke ujung kaki. Ia mencoba memperbaiki posisi, tetapi lututnya semakin goyah.

“Berhenti,” kata Han.

Lin berdiri. Napasnya lebih cepat, meski ia hanya bertahan beberapa hitungan.

“Apakah ini berarti tubuh saya lemah?”

“Artinya kau belum terbiasa dengan posisi itu. Jangan memberi nama besar pada satu percobaan kecil.” Han mengetuk tanah dengan tongkat. “Kau bekerja mengangkat keranjang?”

“Kadang-kadang. Lebih sering memilah dan mencatat.”

“Kalau begitu, kekuatanmu belum tentu rata. Kau mungkin kuat membawa beban sebentar, tapi tidak terbiasa menahan posisi. Hari ini kita tidak mengukur bakat. Kita hanya melihat apa yang terjadi saat tubuh melakukan gerakan tertentu.”

Lin mengangguk. Ia tidak menyangka akan mendapat jawaban mengenai kultivasi, tetapi ia telah memperoleh satu pengamatan yang bisa dibandingkan kelak.

“Bagaimana saya bisa tahu apakah tubuh saya dapat mengolah Qi?” tanyanya.

Han mengangkat bahu. “Aku tidak punya alat untuk mengujinya. Di kota ada cabang Azure Flame Sect dan alchemy association. Mereka punya orang yang lebih tepat untuk pertanyaan tentang Qi, tapi prosedurnya bukan urusanku. Cari tahu apakah mereka membuka pemeriksaan untuk orang luar.”

“Apakah biasanya mahal?”

“Bisa jadi. Tanyakan dulu. Jangan membayar orang yang mengaku bisa melihat bakatmu hanya dengan menatap wajah.”

Lin menuliskan nama dua tempat itu di peta, tanpa menambahkan jadwal atau biaya yang belum ia ketahui. Ia berterima kasih kepada Han dan meninggalkan halaman latihan sebelum murid-murid berikutnya datang.

Di jalan, ia berhenti di kios bubur yang baru membuka tungku. Ia tidak membeli apa pun. Uang yang ia terima dari Mo akan habis untuk tempat tidur malam nanti, dan makan pagi bisa ditahan sampai tiba di toko. Keputusan itu membuat perutnya terasa kosong, tetapi tidak cukup untuk memaksanya menggunakan uang belanja yang tak ia miliki.

Mo sedang membuka pintu toko saat Lin tiba. “Kau datang dari mana?”

“Halaman latihan di selatan. Saya ingin melihat apa yang mereka ajarkan.”

“Dan?”

“Latihan ketahanan dan keseimbangan. Mereka tidak menguji Qi. Saya mencoba satu posisi dan belum mampu mempertahankannya lama.”

Mo menggantungkan palang pintu. “Kau cedera?”

“Tidak.”

“Kalau begitu, catat hasilnya tanpa menghukum dirimu sendiri.”

Lin tertawa pelan. “Saya mulai terbiasa mendengar nasihat itu.”

“Bagus. Mungkin suatu hari kau akan mengikutinya.” Mo menunjuk keranjang baru yang baru saja dikirim. “Untuk sekarang, mulai dengan memeriksa tali dan labelnya.”

Hari kerja berjalan seperti biasa, tetapi Lin mengukur dirinya dengan cara yang berbeda. Saat mengangkat kotak kosong ke rak, ia menyadari tangannya lebih cepat lelah daripada bahunya. Ketika berdiri lama di depan meja, ia beberapa kali memindahkan berat dari satu kaki ke kaki lain. Ia tidak menganggap hal-hal itu sebagai gejala bakat atau kelemahan. Ia hanya menambahkan catatan untuk dirinya sendiri: “Tangan cepat lelah saat menahan beban; kaki nyaman berdiri bergantian.”

Mo melihat catatan itu saat memeriksa inventaris. “Kau mencatat tubuhmu sekarang?”

“Untuk membedakan keadaan awal sebelum mulai latihan.”

“Jangan sampai catatan membuatmu takut bergerak.”

“Saya akan menggunakannya untuk melihat perubahan, bukan mencari alasan.”

Mo tidak menjawab, tetapi ia tidak meminta Lin menghapusnya.

Menjelang siang, Bai datang mengambil air dan memberi kabar singkat. Mercenary Hall belum menetapkan tugas kedua, tetapi ia akan berlatih mengikuti instruksi dasar di halaman luar sambil menunggu. Ia mengangkat tanda kayu sementara yang tergantung di pinggangnya.

“Kalau kau mau, aku bisa tunjukkan cara menjaga posisi tanpa membuat lututmu gemetar,” katanya.

“Han sudah memberitahuku bahwa satu percobaan tidak cukup untuk menilai apa pun.”

“Dia terdengar bijak.”

“Dia juga menyuruhku berhenti saat mulai sakit.”

“Lebih bijak lagi.” Bai tertawa, lalu berjanji kembali setelah mendapat jadwal baru.

Sore hari, Mo membayar Lin satu keping tembaga. Ia menyiapkan makanan di belakang toko, dan Lin menyimpannya untuk tempat tidur. Sebelum pulang, ia memperbarui catatan pribadi: halaman latihan dapat dikunjungi untuk pengamatan dasar; Han mengajarkan keseimbangan dan ketahanan, bukan kultivasi; pemeriksaan Qi perlu ditanyakan ke cabang Azure Flame Sect atau alchemy association.

Ia juga mencatat hasil percobaannya dalam lima hitungan, lalu menambahkan bahwa angka itu bukan ukuran kekuatan atau bakat. Di halaman sebelah, ia menuliskan pertanyaan baru: “Apakah pemeriksaan Qi tersedia untuk orang luar, dan apa syaratnya?”

Malam itu, Lin belum memperoleh jawaban tentang kemampuan tubuhnya. Namun ia kini tahu bahwa tidak semua latihan menguji kultivasi, dan tidak semua rasa lelah berarti ada yang salah. Ia memiliki titik awal yang sederhana: napas yang cepat, paha yang bergetar, dan satu posisi yang belum sanggup ia pertahankan.

Untuk pertama kalinya, pertanyaan tentang tubuhnya tidak hanya bergantung pada ingatan ayah pemilik tubuh atau catatan game. Ia telah mengujinya sendiri—meski hanya selama lima hitungan.

1
Uranenantios
Enaknya sehari up berapa bab ya?
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!