NovelToon NovelToon
Bukan Aku Yang Jahat Mas

Bukan Aku Yang Jahat Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Atha Diyuta

Setiap hari aku difitnah mertuaku.

_"Kamu pembawa sial! Perempuan boros!"_

Aku berharap suamiku, Arman, membelaku. Tapi ia hanya diam.

_"Maafkan Ibu, Alya. Aku gak mau jadi anak durhaka."_

Sampai akhirnya aku diusir dan diceraikan di depan anak-anakku.

_"Talak satu aku jatuhkan padamu."_

Kini aku janda dua anak, hidup dari jualan kue sambil menahan gunjingan.

Saat aku mulai bahagia dengan Farhan, mantan suamiku datang ingin rujuk.

Bukan aku yang jahat, Mas. Kenapa semua menyalahkanku?


Note :
Dilarang boom like ❌
Dilarang lompat bab ❌

Jika kalian suka dengan cerita ini,jangan lupa tinggalkan jejak dengan like ,komen dan jangan pelit-pelit untuk kasih vote & kotak hadiahnya 🥰🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 Kemana Alya?

Pagi itu Arman tidak berangkat bekerja.

Sejak Alya dan anak-anak pergi dua hari yang lalu, kepalanya tidak bisa dipakai untuk berpikir. Di kantor ia hanya menatap layar komputer yang kosong. Atasannya sudah menegur dua kali.

"Man, kamu kenapa? Ada masalah keluarga?"

Arman hanya mengangguk,iya ada masalah keluarga yang membuat keluarganya berantakan.

Ia sudah mencari ke semua warung, ke pos ronda, ke rumah teman-teman Alya. Tidak ada yang tahu. Satu-satunya tempat yang belum ia datangi adalah tempat yang paling Alya hindari.Rumah orang tuanya sendiri.

Awalnya Arman ragu. Ia ingat betul Alya pernah berkata, "Aku nggak akan pernah pulang ke rumah Ayah jika suatu hari terjadi sesuatu dengan rumah tangga kita Man."

Rasa rindu ke Nisa dan Raffi sudah tidak bisa ditahan lagi

Jam delapan pagi, setelah memastikan ibunya sedang arisan di balai desa, Arman mengambil motor dan melaju ke desa seberang. Desa tempat Alya dibesarkan. Desa yang asri dengan hamparan persawahan yang masih luas.

Rumah orang tua Alya masih sama seperti dulu. Rumah panggung sederhana dari kayu, halamannya bersih, ada kandang ayam di belakang. Di teras, terlihat seorang lelaki tua sedang memperbaiki jaring ikan. Ayah Alya, Pak Harun.

Jantung Arman berdegup kencang. Dulu Pak Harun adalah sosok yang sangat ia hormati.

Arman mematikan motor dan memberi salam.

"Assalamualaikum, Yah..."

Pak Harun menoleh. Wajahnya yang keriput langsung tegang saat melihat Arman datang sendirian tanpa Alya dan cucu-cucunya.

"Waalaikumsalam. Arman? Kamu sendirian? Mana Alya? Mana Nisa sama Raffi?"

Pertanyaan itu membuat Arman tertunduk. Ia tidak berani menatap mata mertuanya.

Pak Harun berdiri, mengelap tangannya dengan kain lap.

"Masuk dulu, Man ibu lagi masak di dalam.

Di dalam rumah, Ibu Alya, Bu Lastri, keluar dari dapur dengan wajah bingung karna melihatku sendri.

"Arman? Tumben pagi-pagi kesini. Alya mana? Kok nggak ikut?"

Arman duduk di kursi kayu. Kedua tangannya saling menggenggam, gemetar. Ia menarik napas panjang.

"Yah, Bu... maafkan Arman, Yah. Alya... Alya pergi dari rumah, Yah."

Seketika suasana rumah panggung itu sunyi. Hanya terdengar suara ayam berkokok dari belakang.

Pak Harun dan Bu Lastri saling tatap.

"Pergi? Pergi kemana?Kalian bertengkar?" tanya Pak Harun dengan suara pelan tapi terdengar berat.

Arman menggeleng. Air matanya mulai jatuh. Laki-laki yang selama ini diam dan terlihat kuat itu akhirnya menangis di depan mertuanya.

"Alya pergi membawa Nisa sama Raffi, Yah. Sudah dua hari ini. Arman sudah mencari kemana-mana nggak ketemu. Arman kesini karena Arman pikir Alya pulang kesini, Tempo hari memang Arman minta Alya untuk beberapa hari menginap dulu disini tanpa Nisa dan Raffi, tapi saat pagi ternyata Alya pergi membawa Nisa dan Raffi bersamanya.

Bu Lastri langsung menutup mulutnya, menahan tangisnga agar tidak pecah.

"Ya Allah, Alya... anakku..."

Pak Harun terdiam lama. Tangannya yang kasar karena kerja di sawah mengepal di atas lututnya.

"Apa yang kamu lakukan sama anak saya, Man?" tanya Pak Harun akhirnya, suaranya bergetar menahan marah.

Arman tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa menangis.

"Arman tidak menjaga Alya dengan baik, Yah. Arman membiarkan Alya disakiti terus-terusan di rumah. Selama bertahun-tahun Arman cuman bisa diam saat Alya disakiti Yah. Arman pengecut, Yah..."

Bu Lastri tidak tahan lagi, ia menangis di pojok rumahnya.

"Arman, selama ini setiap kali ibu bertanya kepada Alya apa dia baik-baik saja di rumahmu? Alya selalu menjawab baik, Bu. Alya selalu mengatakan Ibu mertuanya baik dan kamu juga selalu baik. Ternyata selama ini,anakku begitu menderita disana?Apa yang sebenarnya kamu lakukan Arman! Kamu mengusir dia dari rumahmu!"

"Bu, maaf Bu..." Arman bersujud memegang kaki Bu Lastri. "Arman salah Bu,maaf!"

Pak Harun memejamkan mata. Kepalanya tertunduk. Ada rasa sesak yang luar biasa di dadanya.

Ia teringat sesuatu. Sesuatu yang ia ucapkan lima tahun yang lalu, sebelum Alya menikah.

Saat itu Alya duduk di depannya dengan kebaya putih sederhana. Pak Harun menggenggam tangan anak satu-satunya itu erat-erat.

"Alya, dengarkan Ayah," ucap Pak Harun waktu itu dengan suara bergetar. "Sesulit apapun keadaannya nanti, jangan pernah kamu keluar dari rumah suamimu. Jangan pernah meninggalkan suamimu. Rumah tangga itu pasti banyak cobaannya. Bagaimanapun kamu harus selalu sabar, itu kunci surga untuk seorang istri."

Kalimat itu yang ia tanamkan kepada Alya.

Dan sekarang kalimat itu kembali menghantamnya seperti bumerang.

Pak Harun berdiri dan berjalan ke jendela. Menatap sawah yang luas.

"Ya Allah..." gumamnya lirih. "Jangan-jangan... jangan-jangan karena nasihat Ayah itu..."

Bu Lastri menatap suaminya.

"Kenapa, Yah?"

Pak Harun menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca.

"Bu, kamu ingat nggak apa yang Ayah katakan ke Alya sebelum dia menikah dulu? Ayah bilang, jangan pernah tinggalkan rumah suamimu sesulit apapun keadaannya.Ayah mengatakan hal itu Bu."

Bu Lastri mengangguk sambil menangis.

"Anak kita itu penurut, Bu. Dia pasti ingat betul kata-kata Ayah. Pantas saja dia tidak pernah pulang kesini, Bu. Pantas saja dia tidak pernah cerita kalau dia disakiti. Dia tahan semua sendiri. Dia takut mengecewakan kita. Dia takut Ayah menganggap dia beban dan membuat malu karena meninggalkan rumah suaminya."

Mendengar itu, Arman semakin hancur.

"Alya itu wanita yang kuat Yah. Dia sudah bertahan lima tahun, Yah. Ibu saya... Ibu saya sering memaki dia, Yah. Kadang sampai... sampai mukul... tapi Alya nggak pernah ngelawan. Dia selalu bilang ke Arman dia akan tetap bertahan demi anak-anak. Tapi kemarin... kemarin Ibu sudah kelewat batas Yah. Dan Arman... Arman malah menyuruh Alya pulang ke rumah ayah dulu biar keadaan tenang. Arman yang nyuruh dia pergi, Yah. Arman nyesel, Yah, nyesel banget."

Pak Harun berjalan mendekati Arman dan mengangkat tubuh Arman dari lantai.

"Man, berdiri kamu. Jangan begitu."

"Yah, tolong bantu Arman cari Alya, Yah. Arman janji, kalau Alya ketemu, Arman akan jaga dia. Arman akan pisah rumah dari Ibu. Arman nggak akan biarin Alya disakiti lagi. Arman janji, Yah."

Pak Harun menatap Arman lama. Ada marah, ada kecewa, tapi ada juga iba. Ia tahu Arman juga korban dari didikan ibunya yang keras.

"Man, Ayah tidak marah sama kamu karena kamu datang kesini. Ayah justru bersyukur kamu masih mencari anak Ayah. Tapi dengar ya, Man. Kalau nanti Alya ketemu, jangan bawa dia pulang ke rumah ibumu lagi. Bawa dia ke kontrakan atau bawa dia kemana saja asal jangan kerumah ibumu lagi.Kasihan Alya, kasihan cucu-cucu Ayah. Mereka butuh rumah yang damai, bukan rumah didalamnya hanya ada penghinaan,kekerasan juga kata-kata kasar.Jika kamu tidak sanggup lagi bertahan dengan rumah tanggamu,maka antarkan Alya kesini, kerumah ayah karna ayah dan ibu akan menerima dia dengan tangan terbuka."

Arman mengangguk cepat.

"Iya Yah, iya. Arman janji."

Bu Lastri yang dari tadi diam, akhirnya bersuara sambil mengusap air mata.

"Yah, apa mungkin Alya tidak berani pulang kesini karena dia ingat pesan Ayah dulu? Dia takut kita kecewa? Ya Allah, anakku..."

Pak Harun mengangguk pelan.

"Mungkin begitu, Bu. Anak kita itu terlalu menjaga perasaan orang tua. Dia lebih memilih menderita dan memimilul bebannya sendiri di luar sana daripada pulang dan membuat kita malu."

Pak Harun kemudian mengambil peci dan sarungnya.

"Man, ayo. Kita cari bareng,Ayah kenal beberapa orang di desa sebelah. Kita tanya ke sana. Tidak mungkin Alya pergi jauh-jauh membawa dua anak kecil. Pasti dia masih di sekitar sini."

Arman menghapus air matanya dan berdiri. Untuk pertama kalinya setelah dua hari, ia merasa punya harapan lagi.

Mereka berdua keluar rumah dengan motor masing-masing.

Sementara itu, di rumah kecil pojok kebun mangga, Alya bersin beberapa kali.

"Bu, kenapa bersin terus?" tanya Nisa.

Alya tersenyum sambil mengelus kepala Nisa.

"Nggak apa-apa sayang, mungkin ada yang lagi ngomongin Mama."

Alya tidak tahu, bahwa saat itu ayah dan suaminya sedang menyusuri jalan desa, mencari dirinya dengan rasa bersalah yang begitu besar.

Bersambung

1
Atha Diyuta
iya mau balik tapi Alya udah nolak😄
Dewi kunti
sampai ak ngitung disini bilang man sampai 8x🤭
Atha Diyuta: 😅😅😅😅😅😅
total 3 replies
Dewi kunti
balik lagi Man🤭🤭🤭🤭
Dewi kunti
biasanya manggil cm man,sekarang tumben mas
Atha Diyuta: 😄😄😄😄😄😄😄
total 5 replies
Dewi kunti
mending ngekost man ,drpd hidup sama msk Lampir
Atha Diyuta: semoga Arman berkenan 😅
total 9 replies
Dewi kunti
ibu po mama iki🤭🤭🤭🤭🤭
Dewi kunti
lha bukannya nisa sudah paham ya mereka pergi dari rumah karena dimarahi nenek dan ayahnya,bahkan lihat ibunya yg ditampar
Atha Diyuta: yah anak kcil critanya cuman tau pergi dan akan kembali🤭🤭
total 1 replies
Dewi kunti
terlunta2 dijalanan 🤭
Dewi kunti
memperlihatkan kejulidannya mungkin
Atha Diyuta: Aduuh iya k typo lagi , trimakasih nanti direvisii 🙈🙈
total 1 replies
Dewi kunti
nama kamu hrsnya
Atha Diyuta: baik ka trimakasih nnti direvisi ☺️☺️
total 1 replies
Atha Diyuta
Asiap ka trimakasih sudah mampir
senjani jingga
semangat thor!, kalau berkenan mampir juga di novel baruku ya😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!