NovelToon NovelToon
KAU PIKAT SUAMIKU KUREBUT SUAMIMU

KAU PIKAT SUAMIKU KUREBUT SUAMIMU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Laras, ibu rumah tangga yang setia, tak sengaja membaca pesan mesra di ponsel suaminya, Dimas. Perempuan di balik pesan itu ternyata Vania, tetangga baru yang selama ini bersikap ramah padanya.

Laras hancur, tapi ia memilih diam dan mengumpulkan bukti. Saat melihat Reza, suami Vania, yang tulus mencintai istrinya, ia memutuskan membalas dengan cara yang sama: merebut apa yang paling Vania sayangi.

Namun semakin dalam Laras bermain, semakin kabur batas antara dendam dan perasaan. Rahasia masa lalu Vania dan Reza mulai terbuka, dan Laras harus memilih antara menuntaskan pembalasan atau menyelamatkan dirinya dan Kenzo, anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

OLEH OLEH DARI SURABAYA

Laras pulang ke rumahnya tepat sebelum pukul sepuluh malam.

Hujan sudah reda menjadi gerimis halus. Ia berdiri sebentar di ambang pintu dapur, membiarkan udara dingin menyentuh pipinya yang terasa hangat. Aneh. Teh Reza tadi sudah lama habis, tapi hangatnya masih tertinggal di dadanya, dan ia tidak suka perasaan itu.

*Ini hanya rencana*, katanya pada diri sendiri. *Jangan lupa untuk apa kau duduk di dapur itu.*

Ia mengecek Kenzo. Bocah itu tidur miring dengan selimut tersingkap, satu kakinya menjuntai di tepi kasur. Laras membetulkan selimutnya, lalu menciumi kening anaknya lama-lama. Rambut Kenzo beraroma sampo bayi, aroma yang sama sejak ia lahir.

"Mama nggak akan membiarkan siapa pun menghancurkan rumah kita, Nak," bisiknya.

Di meja makan, buku catatan kecilnya masih terbuka. Laras duduk dan menatap tulisan di halaman itu: *Apa yang paling Vania sayangi? Mas Reza.*

Ia mengambil pena, lalu menambahkan satu baris di bawahnya, dengan tulisan yang lebih kecil dan lebih ragu.

*Tapi Mas Reza bukan alat.*

Lama ia menatap kalimat itu. Lalu ia menutup buku dan menyimpannya di laci paling bawah, di bawah tumpukan serbet.

---

Dimas pulang keesokan harinya, sehari lebih cepat dari yang dijanjikan.

Laras sedang menyuapi Kenzo sarapan ketika mobil Dimas masuk ke garasi. Ia mendengar bunyi pintu mobil, lalu langkah kaki yang terburu-buru. Jantungnya berdegup, tapi tangannya tetap mantap menyendok bubur.

"Papa!" Kenzo melompat dari kursi dan berlari ke pintu.

Dimas masuk membawa kantong plastik besar berlogo toko oleh-oleh. Wajahnya letih, tapi matanya cerah. Ia mengangkat Kenzo ke gendongan dan memutar-mutarnya sambil tertawa.

"Papa pulang cepat! Mana oleh-olehnya?"

"Ada, ada. Lihat nih, Papa bawa lumpia dan sambal bu Rudy kesukaan Mama."

Ia menoleh pada Laras dan tersenyum, senyum bersalah yang ia sembunyikan di balik keceriaan. "Pekerjaan selesai lebih cepat. Aku langsung pulang."

Laras berdiri dan menerima kantong plastik itu. "Wah, repot-repot, Mas. Capek ya?"

"Lumayan."

"Mandi dulu, nanti aku siapkan sarapan."

Dimas mengangguk dan masuk ke kamar. Laras memperhatikan punggungnya, lalu perlahan membuka kantong oleh-oleh itu. Lumpia, sambal, dua kaus kecil bergambar dinosaurus untuk Kenzo.

Dan di dasar kantong, terselip sehelai kertas kecil: struk pembelian dari sebuah toko perhiasan.

Laras menatapnya.

*Gelang perak rantai, liontin huruf R. Rp 1.850.000.*

Huruf R.

Ia menahan napas. R. Bukan V. Bukan juga L untuk Laras. Dimas tidak pernah membelikannya perhiasan setelah anniversary kelima mereka, dan saat itu pun hanya cincin sederhana.

*R untuk siapa?*

Pertanyaan itu menggantung di kepalanya, sementara dari kamar terdengar bunyi pancuran air. Ia melipat struk itu kecil-kecil, menyelipkannya ke saku dasternya, lalu kembali menata sarapan seolah tak terjadi apa-apa.

Ia tidak tahu bahwa di balik pintu kamar mandi, Dimas sedang berdiri dengan ponsel di tangan, mengetik pesan dengan jari gemetar.

*"Dia hampir curiga. Jangan hubungi aku dulu."*

---

Siang itu, ketika Dimas tertidur karena kelelahan, Laras mengendap-endap ke garasi.

Mobil Dimas masih hangat. Ia membuka pintu penumpang dengan hati-hati, memeriksa laci dasbor, sela-sela jok, saku di balik sandaran. Jari-jarinya bekerja dengan teliti, seperti seseorang yang tiba-tiba menemukan bakat tersembunyinya.

Di bawah jok depan, ia menemukan sebuah benda kecil yang terselip: anting-anting mutiara.

Anting itu tidak mungkin miliknya. Laras tidak pernah memakai mutiara.

Ia menggenggamnya erat, merasakan ujung-ujungnya yang dingin menusuk telapak tangan. Lalu, di antara rasa sakit dan marah, sebuah pikiran tenang muncul. Anting itu bukti kecil. Tapi dalam perang yang panjang, bukti kecil adalah peluru.

Ia memasukkan anting itu ke saku dan menutup pintu mobil pelan-pelan.

Saat ia berbalik, ia melihat seseorang berdiri di pagar.

Vania.

Perempuan itu mengenakan kacamata hitam besar dan membawa tas koper yang sama dengan kemarin. Ia baru saja turun dari taksi. Senyumnya merekah begitu melihat Laras.

"Mbak Laras! Aku pulang!"

Laras menarik napas dalam-dalam. Senyum itu muncul di wajahnya seperti topeng yang sudah dilatih berkali-kali. "Vania! Sudah pulang? Katanya tiga hari."

"Kak Rina ternyata sudah membaik, jadi aku pulang lebih cepat." Vania melepas kacamatanya, dan di balik lensa itu Laras melihat mata yang sedikit sembap, seperti habis menangis atau kurang tidur. "Aduh, capek sekali. Oh ya, ini oleh-oleh dari Surabaya buat Mbak."

Ia menyodorkan kotak kecil dari tasnya. Laras menerima dengan kedua tangan.

"Terima kasih. Repot-repot."

"Nggak repot kok. Mbak baik sama aku, jadi aku mau balas." Vania tersenyum manis. Terlalu manis. "Suami Mbak sudah pulang juga, ya? Mobilnya ada di garasi."

*Dia mengecek*, pikir Laras.

"Iya, baru pulang tadi pagi. Proyeknya selesai lebih cepat."

"Oh, bagus dong." Vania menyunggingkan senyum kecil. Tidak ada sedikit pun rasa canggung di wajahnya. Laras bahkan harus mengagumi betapa lihainya perempuan ini berakting. "Kebetulan ya, kita sama-sama pulang cepat."

"Iya, kebetulan sekali."

Mereka saling menatap dua detik lebih lama dari seharusnya. Dua perempuan dengan senyum identik, menyimpan rahasia yang sama dari arah berlawanan.

"Aku masuk dulu ya, Mbak. Mas Reza pasti sudah nunggu."

"Silakan."

Vania melangkah ke pagar rumahnya, tapi sebelum membuka, ia menoleh dan berkata ringan, "Oh iya, kata Mas Reza, kemarin malam Mbak bantu benerin sekering ya? Terima kasih banyak. Dia bilang Mbak orang yang menyenangkan."

Laras merasakan darahnya berdesir. Kalimat itu terdengar polos, tapi nadanya mengandung sesuatu yang lain, semacam pengamatan, atau peringatan.

"Cuma bantu sedikit," jawab Laras tenang. "Namanya juga tetangga."

"Betul." Vania tersenyum lebar. "Tetangga memang harus saling bantu. Apalagi kalau suaminya sering nggak di rumah."

Kalimat itu menggantung di udara.

Laras tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, mengangguk, dan berjalan masuk ke rumah. Baru setelah pintu tertutup di belakangnya, ia bersandar di daun pintu dengan napas tersengal.

Vania tahu. Atau setidaknya, ia mulai curiga.

Ini bukan lagi permainan satu arah.

---

Sore harinya, Laras membuka kotak oleh-oleh dari Vania.

Isinya sebungkus kerupuk udang dan sebuah gantungan kunci kecil berbentuk Tugu Pahlawan. Biasa saja. Tapi di bawah gantungan kunci itu, terselip sehelai kertas lipat.

Ia membukanya dengan jari gemetar.

Tulisan tangan yang rapi dan miring ke kanan:

*"Mbak Laras, terima kasih sudah baik padaku. Tapi hati-hati ya, tidak semua orang yang tersenyum itu ramah. — V."*

Laras membaca pesan itu tiga kali. Tengkuknya meremang.

Itu bukan ucapan terima kasih. Itu ancaman, dibungkus senyum.

Ia menurunkan kertas itu perlahan dan menatap ke luar jendela, ke arah rumah nomor 14. Di balik jendela kamar atas, sebuah tirai bergoyang pelan, seolah ada yang baru saja mengintip dari baliknya.

Laras tidak mundur. Ia justru berdiri tegak, menatap jendela itu lurus-lurus.

*Jadi kau sudah tahu aku tahu*, pikirnya. *Bagus. Itu membuat segalanya lebih jujur.*

Ia melipat kertas itu dan menaruhnya bersama anting mutiara dan struk perhiasan di laci buku catatannya. Tiga bukti kecil, dan satu pesan peringatan.

Malam itu, saat Dimas sudah tertidur, Laras kembali duduk di meja makan dan membuka buku catatannya. Ia menambahkan tiga baris baru:

6. Struk gelang huruf R. Siapa R? Bukan V.***

*7. Anting mutiara di mobil. Bukan punyaku.*

*8. Vania tahu aku tahu.****

Ia berhenti, lalu menambahkan satu baris terakhir, dengan tulisan yang lebih tegas dari sebelumnya.

*9. Mungkin Vania bukan satu-satunya.*

Pena itu jatuh dari jarinya. Dadanya sesak oleh pikiran yang baru saja menyergapnya.

Kalau gelang berhuruf R itu bukan untuk Vania, dan anting mutiara itu bukan milik Vania, siapa perempuan lain yang bermain di belakang punggungnya?

Dari luar, terdengar suara pintu pagar rumah sebelah berderit pelan. Laras mengintip lewat celah gorden. Di bawah lampu jalan yang temaram, Reza berdiri sendirian di teras, memegang ponsel dan menatap layarnya dengan wajah murung. Bahunya turun, kepalanya menunduk.

Ia tampak seperti seseorang yang baru saja membaca sesuatu yang tak ingin ia percayai.

Laras menatapnya lama. Ada yang berubah dalam diri pria itu sejak kemarin malam, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Lalu Reza mengangkat kepala, dan untuk sesaat, matanya bertemu dengan mata Laras melalui celah gorden.

Ia tidak tersenyum.

Ia hanya menatap, lama dan dalam, lalu mengangguk sangat pelan, seolah mengatakan sesuatu yang tak bisa diucapkan.

Laras menurunkan gorden dengan jantung berdegup kencang.

*Pertanyaan itu kembali menghantamnya, kali ini dengan sisi yang berbeda: *Apakah Reza juga sudah tahu*?*

1
Shankara Senja
hurufnya emang dibuat miring ya...dan tebal
Nuna_Pena: hehe.. iy
total 1 replies
Shankara Senja
bagus....lo jual,gw beli..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!