Song Qian adalah keturunan Dewa Leluhur Qing Tian yang lahir dari Menara Qian Kun setelah Tiga Alam diciptakan pada 70 ribu tahun yang lalu. Kelahirannya dianggap sebagai berkah bagi Tiga Alam. Song Qian berguru kepada Qian Gu untuk menguasai tiga elemen kekuatan semesta yang sudah ia miliki sejak lahir.
Namun, Qian Gu dan Song Qian tidak tahu apa saja rintangan yang akan menghampiri mereka di masa depan. Seiring berjalannya waktu, mereka berdua mulai jatuh cinta. Banyaknya rintangan membuat mereka harus berjuang bersama-sama untuk terus bersatu dan melindungi Tiga Alam bersama dengan Dewa Agung lainnya serta melindungi cinta di hati mereka.
Apakah Song Qian dan Qian Gu dapat mencapai tujuan mereka untuk melindungi Tiga Alam sekaligus cinta di hati mereka atau mereka harus mengorbankan segalanya untuk memberikan kedamaian bagi Tiga Alam? Ikuti terus kisahnya!
Dilarang menjiplak novel ini!!!
IG : @bellakristyc_
E-mail : bellakristyc@gmail.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ilusi
Cermin Masa Lalu dan Janji Melindungi Sang Mahadewa
Langkah kaki Song Qian bergaung terburu-buru menyusuri lorong berarsitektur kayu cendana tua dan giok murni di Istana Chang Yuan. Tanpa mengetuk pintu, ia melangkah masuk ke dalam kamar pribadi Dewa Perang Bai Yuan.
"Dewa Agung Bai Yuan!" panggil Song Qian seraya mendekati meja utama.
Bai Yuan yang sedang duduk memeriksa gulungan kitab surgawi mendongak. Sorot matanya yang tenang menatap pemuda di hadapannya dengan alis terangkat halus. "Song Qian... ada apa sampai kau mencariku ke sini jam segini?"
Song Qian menetralkan napasnya, lalu menatap Bai Yuan dengan pandangan penuh ketulusan. "Aku ingin meminta bantuanmu untuk mengaktifkan tempat ilusi."
Mendengar kata ilusi itu keluar dari mulut Song Qian, Bai Yuan meletakkan gulungan kitab di tangannya. Raut wajahnya berubah penasaran. "Kenapa tiba-tiba kau mau mengaktifkan ilusi? Apakah Qian Gu yang menyuruhmu?"
"Mahadewa Semesta Qian Gu memberiku tugas untuk menghibur suku siluman di Rawa Yuanling," terang Song Qian seraya menyunggingkan senyum tipis. "Aku sudah berkunjung ke sana, dan Raja Naga Gu Long memberi tahu bahwa di Istana Langit ada sebuah tempat ilusi kehidupan siluman yang bisa kugunakan untuk menyalurkan perasaanku. Tempat ilusi itu tersembunyi di Istana Chang Yuan milikmu, kan?"
Bai Yuan menyilangkan kedua tangannya di dada. Matanya memicing meneliti raut wajah Song Qian. "Apakah kau benar-benar memerlukan ilusi itu hanya demi menyanjung dan menyenangkan hati Qian Gu?"
Song Qian menegakkan badannya. "Tidak juga. Aku sama sekali tidak berniat untuk sekadar menyanjung Mahadewa Semesta, tetapi aku sangat ingin menjadi murid resminya."
"Kenapa harus Qian Gu?" sahut Bai Yuan dengan wajah datar seperti biasanya. "Bukankah Qian Gu selalu bersikap dingin dan acuh tak acuh padamu?"
Song Qian tidak gentar. Ia membalas tatapan sang Dewa Perang dengan jawaban yang tajam dan tegas. "Kau juga selalu bersikap dingin padaku selama lima ratus tahun ini, Dewa Agung Bai Yuan!"
Keheningan seketika melingkupi ruangan tersebut. Bai Yuan tertegun selama beberapa saat, terperanjat oleh keberanian dan ketajaman ucapan pemuda di hadapannya. Namun perlahan, segaris senyuman tipis terukir di bibir Bai Yuan.
"Kau benar..." aku Bai Yuan lembut. "Tapi meskipun aku dingin, kau tetap bersikeras memilih Qian Gu sebagai gurumu. Apa sebenarnya alasan utamamu?"
"Semakin sulit didekati, maka akan semakin menantang!" jawab Song Qian jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi. "Mahadewa Semesta tidak pernah ingin menerima murid lagi. Jika aku sanggup menjadi satu-satunya murid yang ia punya, aku yakin ia pasti akan memperlakukanku dengan sangat baik."
Mendengar kejujuran itu, raut wajah Bai Yuan berubah menjadi sangat dalam dan serius. Ia melangkah satu tapak mendekati Song Qian, menatap lurus ke dalam manik mata pemuda itu—seolah sedang menumpukan seluruh harapan masa depannya.
"Namun... setelah kau berhasil mendekatinya dan diangkat menjadi muridnya, apakah kau bisa berjanji padaku satu hal?" bisik Bai Yuan, suaranya terdengar begitu emosional. "Dapatkah kau berjanji bahwa kau akan selalu melindunginya dan tidak akan pernah meninggalkan Qian Gu, apa pun yang terjadi?"
Song Qian menyerap kesungguhan dalam nada suara Bai Yuan. Tanpa ragu sedikit pun, ia menganggukkan kepala seraya mengangkat dadanya penuh percaya diri. "Tentu saja! Jika aku menjadi muridnya, aku pasti akan terus berada di sisinya dan aku berjanji akan menyertai serta melindunginya!"
Bai Yuan menghembuskan napas panjang, tatapannya menyipit prihatin. "Jika kau hanya didasari rasa penasaran sesaat pada sosok Qian Gu, lebih baik kau tidak usah menjadi muridnya."
"Apa maksudmu hanya penasaran?!" pangkas Song Qian dengan nada suara yang sedikit meninggi namun tetap penuh hormat. "Aku benar-benar ingin belajar cara mengendalikan tiga elemen kekuatanku darinya! Aku tidak memiliki maksud terselubung lain terhadap Mahadewa Semesta!"
"Qian Gu begitu sibuk setiap harinya mengurus tatanan Tiga Alam," jelas Bai Yuan mencoba memuji beban sahabatnya. "Ia mungkin tak akan punya cukup waktu untuk merawat dan mengurusmu. Jika kau dipaksakan menjadi muridnya, bukankah kau hanya akan membebaninya saja?"
Kalimat itu menohok benak Song Qian. Dia benar... tapi aku tidak boleh menyerah begitu saja. Aku sudah terlanjur lahir ke dunia ini, jadi satu-satunya jalanku adalah melatih kekuatanku dan berguru pada Mahadewa Semesta. batin Song Qian bergolak.
Dengan helaan napas panjang, Song Qian menatap langit-langit kamar dengan nada gusar yang jujur. "Salah siapa aku lahir di Altar Dewa? Bukankah Dewa Qing Tian yang menyisakan sedikit esensi kekuatannya sehingga aku bisa lahir ke Tiga Alam ini, meskipun kelahiranku sangat terlambat?"
Mendengar keluhan polos dan penuh beban itu, pertahanan dingin di raut wajah Bai Yuan runtuh sepenuhnya. Senyuman lebar yang begitu hangat dan tulus terkembang di wajah Sang Dewa Perang—sebuah senyuman yang belum pernah dilihat oleh Song Qian sepanjang lima ratus tahun hidup di Istana Chang Yuan.
Bai Yuan melangkah maju, lalu menepuk kedua pundak Song Qian dengan lembut.
"Song Qian... kau tidak perlu pernah menyesal karena telah lahir ke dunia ini," tutur Bai Yuan, suaranya dipenuhi ketulusan seorang kakak. "Suatu hari nanti, kau akan menjadi dewa terkuat di seluruh Alam Langit. Kau bahkan bisa menggantikan posisiku sebagai Dewa Perang di masa depan."
Song Qian tertegun membisu. Matanya membelalak tak percaya menatap senyuman lebar di wajah Bai Yuan.
Demi menghiburku yang sedang gundah... dewa yang terkenal paling dingin dan tidak pernah tersenyum ini bahkan bisa tersenyum selebar itu untukku... bisik Song Qian terharu di dalam hatinya.
Namun, Song Qian segera menundukkan kepalanya, menyembunyikan raut sedihnya seraya berbisik pelan, "Bagaimana aku bisa tumbuh menjadi dewa terkuat jika aku bahkan tidak diizinkan menjadi murid Mahadewa Semesta...?"
Bai Yuan menatap pemuda yang menunduk itu dengan rasa iba dan bangga yang menyatu. Ia menepuk pelan pundak Song Qian sekali lagi.
"Baiklah. Aku akan mengaktifkan cermin ilusinya untukmu," putus Bai Yuan mantap. "Namun, ingat satu hal ini baik-baik: apa pun yang kau lihat dan kau dengar di dalam ilusi itu nanti, jangan pernah kau ceritakan kembali kepada siapa pun—terutama kepada Tian Zi. Apakah kau paham?"
Song Qian mendongak dengan binar mata kembali menyala. Ia segera membungkuk memberikan hormat. "Aku mengerti! Terima kasih banyak atas bantuanmu, Dewa Agung Bai Yuan!"
Bai Yuan berbalik melangkah menuju sebuah meja bundar bertakhtakan batu giok hitam yang berada tepat di tengah-tengah kamarnya. Ia merentangkan telapak tangannya di atas permukaan meja. Pendar cahaya keemasan pekat keluar dari jemarinya, mengalir masuk ke dalam ukiran cermin kuno di meja tersebut.
Seketika, pusaran udara berputar hebat membentuk cermin dimensi sihir. Tanpa memberi peringatan, Bai Yuan mendorong pelan pundak Song Qian masuk ke dalam pusaran cahaya ilusi tersebut.
BZZZZZZT!
Sensasi hampa udara melingkupi Song Qian dalam sekejap mata. Ketika ia kembali membuka kedua matanya, ia mendapati dirinya sudah berdiri tegak di tengah-tengah panggung sebuah aula megah bertakhtakan emas murni. Meskipun ukurannya terbilang agak kecil dibanding aula Istana Langit, tempat itu memancarkan aura kehangatan yang amat kental.
Di tengah-tengah aula tersebut, terekam bayangan ingatan masa lalu yang bergerak hidup.
Song Qian membelalakkan matanya saat melihat sosok muda dari Dewa Agung Bai Yuan dan Mahadewa Semesta Qian Gu. Di dalam ilusi itu, Bai Yuan muda dan Qian Gu muda tampak sedang berlatih ilmu pedang bersama dengan riang gembira. Mereka saling tertawa lepas, bercanda mesra, dan pada akhirnya saling memeluk erat dengan pendar cinta murni yang memancar dari mata mereka.
Song Qian terperanjat hebat hingga menutup mulutnya dengan tangan.
Ternyata sewaktu mereka masih muda... Dewa Agung Bai Yuan dan Mahadewa Semesta pernah menjalin hubungan asmara yang sangat dekat. batin Song Qian kaget setengah mati seraya menggelengkan kepalanya. Pantas saja Kak Bai Yuan wanti-wanti melarangku menceritakan hal ini kepada Tian Zi atau siapa pun.
Namun, Song Qian mengedarkan pandangannya ke sekeliling aula emas yang tertutup rapat tersebut.
"Tapi... apa hubungannya kenangan percintaan mereka berdua dengan suku siluman di Rawa Yuanling? Tempat apa sebenarnya ini? Dan bagaimana caraku bisa sampai ke rekaman Rawa Yuanling dari panggung aula ini?" gumam Song Qian heran seraya melangkah mengelilingi panggung.
Tiba-tiba, suara halus Qian Gu muda bergaung puitis di dalam ruangan ilusi:
"Bai Yuan... kelak aku akan menemanimu setiap hari, supaya kau tidak lagi merasa kesepian di Alam Dewa ini..."
Langkah Song Qian terhenti seketika. Ia menoleh, menatap dua sosok bayangan dewa yang sedang berpelukan itu dengan dahi berkerut tajam.
"Jika dulu Mahadewa Semesta berjanji akan selalu menemani Kak Bai Yuan... lalu kenapa sekarang Mahadewa Semesta bersikap begitu dingin dan tidak lagi menemaninya?" gumam Song Qian menerka-nerka rahasia di balik masa lalu mereka.
Namun, Song Qian menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menepis rasa ingin tahu yang tak relevan. "Masa bodo! Apa hubungannya masa lalu percintaan mereka dengan tugas utamaku? Aku ke sini untuk mencari Rawa Yuanling dan menghibur suku siluman."
Song Qian kembali berjalan mengelilingi aula emas itu untuk mencari jalan keluar, namun ia tidak menemukan satu pun pintu atau celah. Sebagai dewa muda yang cerdas, Song Qian segera menyadari satu hal: Setiap ilusi buatan pasti ditopang oleh sebuah simpul formasi sihir.
Tanpa membuang waktu, Song Qian mengepalkan tangan kanannya. Percikan Api surgawi membumbung tinggi, lalu meledak menghantam langit-langit aula emas tersebut.
BUMMMMM!
Hantaman elemen Api Song Qian meretakkan dinding ilusi! Ruangan aula emas pecah berkeping-keping menjadi pecahan cahaya, membawa tubuh Song Qian melayang menembus lapisan ilusi berikutnya menuju rekaman sejarah Tiga Alam yang sesungguhnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di dalam kamar pribadi Bai Yuan di Istana Chang Yuan...
Pusaran cahaya emas di atas meja giok bergolak liar. Bai Yuan masih berdiri tegak, menyalurkan pasokan energi dewanya secara stabil untuk menjaga cermin ilusi tetap terbuka.
Tiba-tiba, pintu kamar terdorong keras.
Gaun putih anggun melayang masuk seraya memancarkan aura kepanikan. Dialah Qian Gu, yang melangkah terburu-buru menghampiri Bai Yuan.
"Bai Yuan! Apakah Song Qian bersamamu?! Aku bisa merasakan aura tiga elemennya bergejolak hebat di tempat ini!" seru Qian Gu dengan suara yang penuh rasa cemas.
Bai Yuan tetap mempertahankan posisi tangannya di atas meja giok tanpa memalingkan wajah. "Dia baru saja masuk ke dalam cermin ilusi ini beberapa waktu yang lalu. Ada apa, Qian Gu?"
"Kenapa kau membiarkan Song Qian masuk ke dalam cermin ilusi itu?!" gertak Qian Gu, nada suaranya dipenuhi kepanikan yang jarang sekali ia perlihatkan.
Bai Yuan menanggapi kepanikan itu dengan raut wajah yang tetap tenang dan datar seperti telaga purba. "Tidak perlu panik, Qian Gu. Dia memang masih sangat muda. Namun meski hanya melalui cermin ilusi ini, aku ingin dia menyaksikan sendiri seperti apa realita dan sejarah Tiga Alam yang sebenarnya. Aku sangat penasaran bagaimana reaksinya setelah melihat seluruh kebenaran di Tiga Alam ini."
Qian Gu menghela napas panjang, tatapan matanya menatap gelisah pada pusaran ilusi yang bergetar. "Kenapa kau harus sampai menyerahkan energi dewamu sendiri untuk menopang ilusi itu? Kau tahu betul bahwa cermin ilusi kuno ini sanggup memberikan serangan balik energi yang bisa membahayakan keselamatan jiwamu sendiri!"
Bai Yuan menghentikan pasokan energinya sejenak. Ia menoleh, menatap wajah jelita Qian Gu dengan sorot mata yang teduh dan puitis.
"Aku melakukan ini karena... aku merasa Song Qian sangat mirip dengan dirimu yang dulu, Qian Gu," bisik Bai Yuan lembut. "Dia begitu ceria, polos, berani... dan penuh dengan ambisi murni."
Rahasia pahit apakah yang akan disaksikan Song Qian pada lapisan ilusi berikutnya saat melihat pengorbanan terlarang Mahadewa Qian Gu lima ribu tahun lalu? Mampukah Song Qian menahan hantaman serangan balik ilusi kuno demi menyelamatkan kedamaian suku siluman di Rawa Yuanling?
Bersambung......
Halo semuanya, terima kasih sudah mampir ke novel ini. Kalau kalian suka dengan ceritanya, boleh kasih like, vote, tips, dan tambahkan novel ini ke favorit ya. Kalau ingin memberikan kritik dan saran, silakan tulis di kolom komentar ya. Ikuti terus kisah Song Qian sampai selesai.