NovelToon NovelToon
Cinta Tak Selamanya Pahit, Marco!

Cinta Tak Selamanya Pahit, Marco!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Marco Maverick membenci wanita cantik. Trauma masa lalu membuat CEO jenius yang hobi bertingkah kocak ini lebih memilih melajang, menyawer live TikTok, dan mengasuh anak sahabatnya. Bahkan saat menyelamatkan wanita mempesona di klub malam, Marco menolaknya mentah-mentah.
Penasaran dengan satu-satunya pria yang berani mencampakkannya, Isabel nekat menyusup ke hidup Marco. Putri konglomerat yang sedang buron itu menanggalkan kemewahannya dan menjelma menjadi 'Lia', sekretaris berpenampilan cupu dan kusam.
Ironisnya, Marco justru menolak pesona Isabel dalam wujud aslinya, dan perlahan jatuh hati pada kesederhanaan Lia. Namun, tak ada kebohongan yang abadi. Ketika topeng sang sekretaris terbongkar, luka lama Marco kembali menganga, menghancurkan semua rasa percaya yang baru tumbuh.
"Apakah seru mempermainkan hatiku, Lia?"
Saat bahaya masa lalu kembali mengincar nyawa Isabel, sanggupkah ia meyakinkan pria itu bahwa cinta tak selamanya pahit, Marco!?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Ponsel di genggaman Isabel perlahan merosot hingga terlepas dan jatuh berdebum pelan ke atas karpet. Ruang tamu sempit di rumah kontrakan itu seketika dibekap keheningan yang mencekik. Hanya terdengar suara napas Isabel yang memburu, naik-turun menahan emosi yang nyaris meledakkan dadanya.

Hugo, yang sejak tadi duduk bersila sambil memegang burger yang baru separuh digigit, perlahan meletakkan makanannya. Ia menatap wajah sahabatnya yang pias.

"Dari Papa-mu?" tanya Hugo pelan, memecah kesunyian.

Isabel memejamkan mata, membiarkan satu tetes air mata lolos sebelum akhirnya ia mengangguk kaku.

"Papa menyuruhku pulang," jawab Isabel dengan suara serak. Ia menatap Hugo dengan pandangan kosong yang dipenuhi luka. "Mama sudah menelepon Papa lebih dulu, Hugo. Dia... dia memutarbalikkan semuanya."

"Apa yang wanita ular itu katakan pada Papa-mu kali ini?" umpat Hugo kesal.

"Mama bilang aku bertingkah seperti wanita murahan," Isabel tertawa sumbang, tawa yang terdengar sangat perih. "Dia bilang aku memukuli Bryce sampai pria brengsek itu masuk rumah sakit tanpa alasan yang jelas. Dan yang paling gila? Mama mengadu pada Papa, mengatakan bahwa aku kabur dari rumah membawa lari seluruh perhiasannya dan menguras kartu kreditnya!"

"Sinting!" Hugo menggebrak meja kecil di depannya hingga es kopinya nyaris tumpah. "Mama-mu benar-benar sutradara sinetron azab kelas kakap! Dia menuduhmu mencuri agar Papa-mu murka dan mengerahkan anak buahnya untuk memburumu secara agresif, kan?!"

"Tepat," bisik Isabel getir. "Papa tidak mau mendengar penjelasanku sama sekali. Di matanya, istrinya adalah bidadari tak bersayap yang tidak mungkin berbohong. Papa mengancam akan menyeretku pulang dan membekukan semua akses hidupku jika aku tidak segera berlutut minta maaf pada keluarga Bryce."

Hugo membuang napas kasar. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri dengan frustrasi. Ia sangat tahu seberapa besar kekuasaan Tuan Ramsey. Jika pria itu sudah turun tangan, bersembunyi di kota ini akan terasa seperti bersembunyi di dalam kotak kaca yang transparan.

Hugo menatap Isabel dengan raut cemas. "Lalu... apa kamu akan kembali, Bel?"

Isabel langsung mengangkat wajahnya. Sorot matanya yang tadi merana seketika berubah menjadi sedingin es. Rahangnya mengeras dengan tekad baja. Ia menggeleng tegas.

"Tidak," desis Isabel penuh penekanan. "Aku tidak akan pernah kembali ke neraka itu. Aku lebih rela mati kelaparan di jalanan daripada harus menyerahkan tubuhku pada pria penyakitan seperti Bryce demi ambisi gila Mama-ku."

"Tapi Papa-mu pasti akan menggerakkan semua koneksinya, Bel! Polisi, detektif swasta, bahkan preman bayaran. Kau tidak punya uang sama sekali untuk terus berpindah tempat pelarian."

"Aku tidak perlu berpindah tempat," potong Isabel cepat. Ia menyeka sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan. "Aku akan tetap berada di sini. Dan, aku akan tetap bekerja di Wiliam Group."

Hugo mengerutkan keningnya. "Kau yakin? Marco Maverick itu bos yang sinting. Kau sendiri yang bilang tadi... dia sangat menyebalkan dan bertingkah aneh."

"Justru karena dia sinting, makanya dia akan jadi pelindung terbaikku!" bantah Isabel keras kepala. "Wiliam Group adalah satu-satunya wilayah yang tidak bisa ditembus oleh orang-orang ayahku. Alexander Group dan Wiliam Group terlalu besar untuk diusik oleh keluarga Ramsey atau keluarga Bryce. Selama aku berada di bawah bayang-bayang Marco, aku aman."

Isabel terdiam sejenak. Otaknya kembali berputar cepat, menyusun rencana baru yang jauh lebih nekat dari sebelumnya. Ia menatap Hugo lekat-lekat, kilat penuh perhitungan kembali menyala di kedua bola matanya.

"Hugo," panggil Isabel serius, nadanya sedikit merendah. "Aku butuh kemampuan peretasmu lagi. Aku ingin kau memata-matai Marco."

Hugo tersedak ludahnya sendiri. Ia menatap Isabel dengan mata melotot ngeri. "Memata-matai?! Astaga, Bel! Kau mau menyuruhku meretas sistem keamanan perusahaan Wiliam Group lagi? Keberuntunganku tidak akan bertahan dua kali! Keamanan siber mereka itu diurus oleh orang-orang yang gajinya sebulan bisa untuk membeli mobil sport!"

"Bukan meretas perusahaannya, Hugo," ralat Isabel cepat. "Aku ingin tahu, sepulang bekerja, pria itu ke mana saja."

Hugo menautkan alisnya, benar-benar tidak paham dengan jalan pikiran gadis di depannya ini. "Maksudmu, kau mau aku membuntutinya di kehidupan nyatanya? Menjadi stalker CEO kurang kerjaan itu?"

"Iya," angguk Isabel mantap. "Aku ingin tahu jadwal pribadinya. Kelab mana yang sering dia datangi? Restoran apa yang dia kunjungi sendirian? Di mana dia menghabiskan akhir pekannya kalau tidak sedang bersama anak sahabatnya itu?"

Hugo bersedekap dada, menatap sahabatnya dengan penuh selidik. "Kamu mau apa sebenarnya, Isabel? Gajimu sebagai sekretaris sudah cukup untuk membayar sewa tempat ini. Posisimu di kantornya, meskipun sebagai gadis cupu, sudah cukup aman. Kenapa kau malah ingin mencari gara-gara di luar jam kerja?"

Bibir Isabel melengkung membentuk senyum miring yang sangat memesona, namun di saat yang sama memancarkan aura bahaya. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Hugo.

"Aku tidak percaya jika dia benar-benar alergi wanita cantik," ucap Isabel lambat-lambat, mengeja setiap kata dengan penuh keyakinan.

"Kau masih memikirkan penolakannya di kelab malam waktu itu?!" seru Hugo tak percaya.

"Pria normal mana yang tidak tergoda melihat penampilanku malam itu, Hugo? Bahkan pendeta sekalipun akan menoleh dua kali!" Isabel membalas dengan sangat percaya diri. "Dia mengusirku malam itu, mendorongku, dan mengeluhkan parfumku. Itu sangat tidak masuk akal! Semua pria itu sama, mereka makhluk visual yang digerakkan oleh insting ketertarikan. Pasti ada sesuatu yang salah dengannya malam itu. Mungkin dia sedang tidak fokus, atau mungkin dia sengaja menutupi sesuatu."

"Lalu? Apa urusannya denganmu kalau dia memang tidak suka wanita cantik? Itu haknya, Bel!"

"Urusannya adalah kelangsungan hidupku!" tegas Isabel. "Jika aku tahu kelemahan aslinya, aku bisa memanfaatkannya lebih jauh. Aku tidak bisa selamanya bergantung pada belas kasihan Nyonya Brenda atau menyamar sebagai gadis cupu yang bisa dipecat kapan saja hanya karena salah membuat kopi!"

Hugo memijat pangkal hidungnya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. "Jangan bilang padaku kalau kau berniat menemuinya lagi di luar..."

"Aku ingin membuktikannya sekali lagi, Hugo," potong Isabel, matanya berkilat penuh ambisi. "Aku akan 'tak sengaja' berpapasan dengannya di tempat yang sering dia datangi. Tapi kali ini, aku akan muncul sebagai diriku sendiri. Sebagai Isabel yang elegan, menggoda, dan tak tertolak. Bukan gadis malang yang sedang berlari ketakutan dari kejaran preman seperti malam itu, dan jelas bukan sebagai Lia si sekretaris cupu."

Hugo menatap Isabel selama beberapa detik, mencoba mencari celah keraguan di wajah cantik itu. Namun yang ia temukan hanyalah kenekatan murni.

"Isabel, kau gila," desah Hugo akhirnya, menggelengkan kepalanya pasrah. "Kau terlalu nekat. Kalau dia sampai mengenali suaramu, atau mengenali parfummu, atau melihat ada kemiripan antara dirimu yang cantik ini dengan sekretaris cupunya di kantor... kau akan tamat. Marco Maverick bukan pria bodoh yang bisa kau bodohi dua kali!"

"Maka aku akan memastikan permainanku kali ini jauh lebih rapi," sahut Isabel tersenyum penuh kemenangan. "Tugasmu hanya mencari lokasinya, Hugo. Sisanya, biarkan aku yang membuktikan, apakah CEO jenius itu benar-benar kebal terhadap pesonaku, atau dia hanya pria munafik yang butuh pancingan lebih besar."

1
ryuka
ciieeee marcooooo 😍😍😍😍😍🤣🤣🤣🤣🤣
Sastri Dalila
🤣🤣🤣
Muft Smoker
aaa tuan marcoo mulai nyaman niih ma sekertaris baruu ny🤭🤭🤭
ryuka
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mau di colok liaaaa idung kamu 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Sastri Dalila
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Muft Smoker
mau di colok tu hidung mu Lia 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
ryuka
👍👍👍👍/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Sastri Dalila
🤣🤣🤣💪💪
Sastri Dalila
👍👍👍
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
ryuka
🤣🤣😍🤣🤣 bagussss marco pecat aja itu ceewe parasittt itu
Sastri Dalila
🤣🤣🤣
Muft Smoker
mau jdi kutu rambut di hidup Marco yx Alana ,,
oooh tdk bisaaa ,, anda gx liat tuh calon pawang ny udh ngeluarin tanduk dari kening ny🤭🤭🤭🤣🤣🤣
ryuka
lanjuuutttt thoooooerr
Sastri Dalila
🤣🤣🤣
ryuka
eeeaaaa.. eeaaaaa...
Dew666
💝
Muft Smoker
dag dig dug nyeesss yx kalian 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Sastri Dalila
😅😅😅
ryuka
ayooo semangattt marco & liiaaaaaa 🔥🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!