NovelToon NovelToon
Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Senja Juliani Putri

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.

Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.

Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.

Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 – Pertemuan Dua Keluarga

Sore itu, ndalem Darul Hikmah terasa lebih ramai dari biasanya.

Nyai Maryam baru saja selesai menyiapkan soto ayam, teh manis hangat, dan beberapa jajan pasar. Tapi suasana ruang tamu justru terasa kaku.

Kiai Hasyim duduk di kursi utama dengan sarung dan peci. Tasbih berada di tangannya.

Di sampingnya, Nyai Maryam duduk dengan wajah tenang, meskipun sejak tadi pikirannya tidak benar-benar tenang.

Di seberang mereka duduk Ayah dan Ibu Muthi'ah.

Pertemuan kali ini bukan tentang Haflah.

Bukan tentang sekolah.

Bukan juga tentang kegiatan pesantren.

Mereka datang untuk membicarakan satu hal yang selama ini selalu mereka anggap sebagai jalan keluar.

Masa depan Jay dan Muthi'ah.

Tanpa Jay.

Tanpa Muthi'ah.

Kiai Hasyim membuka pembicaraan.

"Pak Haji, Bu Hajjah, saya sudah membaca surat Muthi'ah."

Ayah Muthi'ah mengangguk.

"Kami juga sudah membicarakannya di rumah, Kiai."

Kiai Hasyim menarik napas.

"Saya senang Muthi'ah sudah berani bicara. Anak itu memang punya cita-cita. Kuliah, belajar bahasa Arab, jadi guru. Saya tidak keberatan."

Nyai Maryam sedikit lega mendengarnya.

Tapi kemudian Kiai Hasyim melanjutkan.

"Masalahnya sekarang gosip di pesantren."

Tangannya berhenti memainkan tasbih.

"Foto payung itu sudah menyebar sampai wali santri. Memang masalahnya sudah ditangani Ustazah Khadijah, Nadira juga sudah mendapat sanksi. Tapi saya khawatir, setelah ini masih ada saja yang membicarakan Muthi'ah."

Ayah Muthi'ah mengangguk pelan.

"Saya juga khawatir begitu."

Kiai Hasyim menatapnya.

"Karena itu saya kepikiran satu jalan."

Nyai Maryam langsung menoleh.

Kiai Hasyim berkata,

"Bagaimana kalau khitbah Jay dan Muthi'ah kita percepat?"

Ruangan mendadak sunyi.

Ibu Muthi'ah yang sejak tadi memegang ujung jilbab langsung terdiam.

"Khitbah, Kiai?" tanyanya pelan.

"Iya."

Kiai Hasyim meletakkan tasbih di atas meja.

"Bukan menikah sekarang. Khitbah dulu. Resmi. Setelah Haflah selesai, kita adakan secara sederhana. Dengan begitu, orang-orang tidak lagi punya alasan untuk membuat cerita sendiri."

Ayah Muthi'ah tidak langsung menjawab.

Dia teringat surat anaknya.

Muthi'ah ingin kuliah dulu.

Tidak ingin dipaksa.

Ingin mengenal Jay pelan-pelan.

Namun di saat yang sama, dia juga teringat wajah Muthi'ah beberapa minggu terakhir.

Wajah anaknya yang terus menunduk ketika digosipkan.

Tangisan yang disembunyikan.

Nilai yang sempat turun.

Dan rasa takut yang membuat Muthi'ah bahkan enggan ikut kegiatan Haflah.

Ayah menarik napas.

"Kalau khitbahnya dulu saja, kemudian nikah setelah Muthi'ah lulus..."

Kiai Hasyim mengangguk.

"Itu maksud saya."

Ayah masih berpikir.

"Kapan rencananya?"

"Bulan depan. Setelah Haflah."

Ibu Muthi'ah langsung menoleh kepada suaminya.

"Yah..."

Ayah melihat istrinya.

Ibu tidak melanjutkan.

Tapi tatapan matanya sudah cukup jelas.

Dia tidak yakin.

Nyai Maryam juga akhirnya angkat bicara.

"Abi..."

Kiai Hasyim menoleh.

"Menurut Umi, apa tidak sebaiknya kita beri waktu sedikit?"

Kiai Hasyim mengerutkan kening.

"Kenapa?"

"Muthi'ah baru saja berani menyampaikan keinginannya. Dia ingin kuliah dulu. Dia juga ingin mengenal Jay pelan-pelan."

Nyai Maryam berhenti sebentar.

"Kalau tiba-tiba kita umumkan khitbah bulan depan, saya takut dia merasa suratnya tidak benar-benar kita dengarkan."

Kiai Hasyim terdiam.

Ayah Muthi'ah ikut bicara.

"Saya sebenarnya setuju dengan Umi."

Ibu Muthi'ah menatap suaminya.

"Tapi..."

Ayah menunduk sebentar.

"Saya juga takut, Kiai."

"Takut apa?"

"Takut kalau kita terlalu lama, gosipnya muncul lagi. Muthi'ah baru saja melewati masalah itu. Kalau orang-orang terus mengaitkan dia dengan Jay, saya takut dia kembali tertekan."

Kiai Hasyim mengangguk.

"Nah. Itu yang saya pikirkan."

Nyai Maryam memandang kedua laki-laki itu.

"Umi mengerti kalian ingin melindungi anak."

Dia tersenyum tipis.

"Tapi jangan sampai karena ingin melindungi, kita justru mengambil keputusan tanpa melibatkan mereka."

Tidak ada yang langsung menjawab.

Beberapa detik kemudian, Ayah Muthi'ah berkata,

"Kalau khitbahnya tidak berarti harus langsung menikah, mungkin masih bisa dibicarakan."

Ibu Muthi'ah menatap suaminya.

"Yah..."

Ayah menggenggam tangan istrinya di bawah meja.

"Ayah tahu kamu khawatir."

Suaranya pelan.

"Tapi Ayah juga takut kehilangan kesempatan untuk menjaga Muthi'ah dari gosip."

Ibu tidak menjawab.

Dia hanya menghela napas.

Kiai Hasyim kemudian berkata,

"Begini saja. Kita tidak memaksa mereka menikah. Khitbah hanya sebagai tanda keseriusan keluarga. Setelah itu Muthi'ah tetap boleh kuliah. Jay juga tetap bisa menyelesaikan tanggung jawabnya di pesantren."

Nyai Maryam masih terlihat ragu.

"Tapi Jay dan Muthi'ah belum diberi tahu."

Kiai Hasyim terdiam.

Itu memang masalahnya.

Dua orang yang akan menjalani khitbah justru tidak berada di ruangan ini.

Ayah Muthi'ah kemudian berkata,

"Mungkin nanti kita sampaikan setelah keputusan keluarga jelas."

Nyai Maryam menggeleng pelan.

"Jangan terlalu lama."

Kiai Hasyim menatap istrinya.

"Kenapa?"

"Karena mereka berhak tahu sebelum keputusan diumumkan kepada siapa pun."

Kiai Hasyim tidak menjawab.

Akhirnya pembicaraan berlangsung cukup lama.

Tentang waktu.

Tentang gosip.

Tentang kuliah Muthi'ah.

Tentang tanggung jawab Jay.

Dan tentang janji dua keluarga yang sudah dibuat bertahun-tahun lalu.

Namun pada akhirnya, rasa takut lebih kuat daripada keraguan.

Kiai Hasyim mengulurkan tangan kepada Ayah Muthi'ah.

"Jadi, kita sepakati dulu rencananya. Setelah Haflah, kita bicarakan khitbah."

Ayah Muthi'ah menatap tangan itu beberapa detik.

Kemudian menjabatnya.

"Baik, Kiai."

Nyai Maryam dan Ibu Muthi'ah hanya bisa saling pandang.

Tidak ada yang benar-benar tersenyum.

---

Dalam perjalanan pulang, suasana mobil sunyi.

Ayah Muthi'ah menyetir pelan.

Ibu duduk di sampingnya sambil memandang keluar jendela.

Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya Ibu bicara.

"Yah."

"Hm?"

"Kita baru kemarin bilang ke Muthi'ah kalau dia boleh kuliah dulu."

Ayah diam.

"Sekarang kita malah merencanakan khitbah."

Ayah menghela napas.

"Ayah tahu."

"Terus kenapa tadi Ayah setuju?"

Ayah menggenggam setir lebih erat.

"Karena Ayah takut."

Ibu menoleh.

"Takut?"

"Takut kalau gosipnya kembali. Takut Muthi'ah kembali jadi bahan omongan. Takut dia semakin tertekan."

Ayah berhenti sebentar.

"Tapi mungkin... cara Ayah salah."

Ibu tidak menjawab.

Dia hanya menghela napas panjang.

"Kita harus bicara sama Muthi'ah sebelum apa pun diumumkan."

Ayah mengangguk.

"Iya."

---

Sementara itu, di ndalem Darul Hikmah, Nyai Maryam masih duduk bersama suaminya.

Setelah tamu pulang, dia mengambil dua cangkir teh yang sudah tidak terlalu hangat.

"Abi."

"Hm?"

"Umi mau tanya sesuatu."

Kiai Hasyim menatap istrinya.

"Abi tadi bilang khitbah ini untuk melindungi Muthi'ah."

"Iya."

"Kalau begitu, kenapa orang yang mau kita lindungi justru tidak kita tanyai?"

Kiai Hasyim terdiam.

Nyai Maryam duduk di sampingnya.

"Dia baru saja menemukan keberanian untuk mengatakan apa yang dia mau."

Kiai Hasyim menunduk.

"Umi tahu Abi sayang sama Jay. Umi juga tahu Abi menganggap janji dengan Pak Haji sebagai amanah."

Nyai Maryam menggenggam tangan suaminya.

"Tapi janji itu dibuat ketika mereka masih bayi."

Kiai Hasyim diam.

"Mereka yang sekarang sudah dewasa. Mereka punya pikiran sendiri."

Kiai Hasyim mengusap wajahnya.

"Umi pikir Abi salah?"

Nyai Maryam menggeleng.

"Umi pikir Abi takut."

Kiai Hasyim menatap istrinya.

"Takut?"

"Iya."

Nyai Maryam tersenyum lembut.

"Abi takut kehilangan kendali atas sesuatu yang Abi kira sudah Abi rencanakan sejak dulu."

Kalimat itu membuat Kiai Hasyim terdiam cukup lama.

Dia tahu istrinya benar.

Namun ada satu hal yang masih mengganjal.

"Kalau kita tidak lakukan apa-apa, bagaimana kalau gosipnya kembali?"

Nyai Maryam menjawab pelan,

"Kalau gosip kembali, kita hadapi dengan kebenaran."

"Dan kalau orang-orang tetap bicara?"

"Kita tidak bisa mengatur mulut semua orang, Bi."

Nyai Maryam menatap suaminya.

"Tapi kita bisa memastikan jangan sampai anak-anak kita kehilangan hak untuk menentukan hidupnya sendiri."

Kiai Hasyim tidak menjawab.

Untuk pertama kalinya sejak pertemuan tadi, dia mulai meragukan keputusannya sendiri.

---

Malam itu, di kamar santri putri, Muthi'ah sedang membaca kitab.

Dia tidak tahu bahwa namanya baru saja dibicarakan di ruang tamu ndalem.

Dia juga tidak tahu bahwa bulan depan, keluarganya berencana mengadakan khitbah.

Di tempat lain, Jay sedang memeriksa beberapa catatan pengajaran.

Dia juga tidak tahu.

Keduanya masih menjalani hari seperti biasa.

Masih belajar.

Masih menjaga batas.

Masih mencoba mengenal satu sama lain dengan cara yang mereka sepakati.

Mereka tidak tahu bahwa orang-orang dewasa di sekitar mereka baru saja membuat sebuah keputusan besar.

Keputusan yang awalnya dibuat untuk melindungi mereka.

Tapi justru bisa menjadi ujian terbesar bagi pilihan mereka sendiri.

Dan tanpa mereka sadari...

satu bulan ke depan akan mengubah banyak hal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!