Jingga membuka mata, kembali ke masa sebelum tragedi besar menimpa keluarga Amazon.
Kali ini, tidak ada lagi gadis lugu yang mudah dimanfaatkan, matanya penuh dendam dan kebencian.
Hanya ada satu hal, Balas Dendam!
Mari kila mulai permainannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Tidak menolong orang asing
"Siapa kalian?!" Suara dari belakang membuat ketiga orang itu serentak berbalik.
Kedatangan Farhan langsung membuat ketiganya melihat harapan.
Brian segera mendekat, "halo sobat kau pemilik pondok ini? Kami bertiga kehujanan, kalau bisa, kami ingin berteduh di tempatmu sebentar," ucap Brian.
Jingga yang duduk di dalam pondok langsung mendekat untuk mendengarkan pembicaraan mereka, 'jangan sampai Farhan mengizinkannya masuk,' pikir Jingga dalam hati sambil menggigit bibir bawahnya, tentu saja Dia tidak punya hak untuk melarang Farhan menerima atau menolak siapa yang datang ke tempatnya, tetapi orang-orang menjijikan seperti mereka sungguh tidak pantas untuk berada di sini.
Sementara di luar, Farhan menatap ketiga orang itu dengan wajah datarnya, "Aku tidak menerima orang asing, pergi dari sini!"
"Eh?" Bryan Selatan kejut pemuda itu tidak akan mengizinkan mereka untuk berteduh, bahkan saat melihat kondisi mereka sudah sangat buruk seperti ini.
"Kami akan membayar berapapun, tolong izinkan kami berteduh sebentar, hujannya begitu lebat dan adikku sangat kedinginan," kata Arga.
"Oh," Farhan bersikap acuh sambil berjalan menerobos ketiga orang itu dan mengulurkan tangannya mengetuk pintu, "buka pintunya."
"Terima kasih banyak sudah mengizinkan kami," ucap Bryan sambil tersenyum senang.
Jingga terdiam sesaat menyentuh kunci pintu, tetapi pada akhirnya membuka pintu tersebut, namun bersembunyi di belakang pintu untuk menghindari melihat ketiga orang di sana.
Farhan kemudian masuk lalu meletakkan buruannya di samping pintu dan menatap 3 orang di luar, "jangan membasahi pondok rumahku!" tegas Farhan.
"Apa?"
"Kau sungguh tidak mengizinkan kami berteduh sebentar?"
"Tolong kami, kami pasti akan membalas budimu,"
Tiga orang di sana menatap Farhan dengan mata redup.
"Menjauh dari pintuku!" kata Farhan dengan dingin sebelum menutup pintunya dengan keras.
"Orang ini sungguh gila!" Bryan menggertakkan giginya penuh kesal.
Arga sudah kesal, dia dengan dingin berkata, "kami berasal dari keluarga Amazon, hanya dengan sedikit perintah kecil dariku bisa menghancurkan tempat ini! buka pintunya sekarang atau--"
Pintu terbuka dengan Farhan segera menodongkan senapan ke arah tiga orang di sana, "atau senapan ini meledak di kepala kalian?"
Tiga orang di sana sangat terkejut, wajah mereka menjadi biru setelah melihat senapan yang dipegang Farhan.
"Maafkan kami, kami segera pergi," ucap Bryan segera menarik Arga dan ketiganya menjauh dari tempat itu, menerobos hujan menuju sebuah pohon besar yang tak jauh dari pondok itu.
Ketiganya berdiri di bawah pohon besar sambil menahan dinginnya angin dan air hujan yang menetes membasahi tubuh mereka.
"Sialan, setelah kembali dari sini, aku akan menyuruh seseorang untuk menyelidiki pria itu dan membunuhnya! Hanya seorang pemuda desa yang tinggal di pegunungan, hak apa yang di punya untuk menolak memberi pertolongan pada kita?!" geram Bryan penuh amarah.
"Kak Brian, jaga emosimu," ucap Tasya dengan suara gemetar.
"Lihat Tasya kita, sekarang dia jadi kedinginan begini, bibirnya sampai jadi biru. Ini semua salah Jingga, aku akan membuat perhitungan dengannya saat bertemu lagi!" kata Bryan menggerakkan giginya.
Tasya bersandar di bahu Bryan dengan tubuh gemetar, tidak mampu lagi berkata apapun, namun dalam hati dia menunggu saat di mana Jingga mendapat balasannya.
Ketika ketika orang itu menggigil di bawah pohon besar, Jingga duduk di tepi jendela pondok menikmati kopi hangat sambil menatap ketiganya.
'Kemarin malam mereka yang berada di tempat hangat sementara aku tidur di tenda kecil yang bocor dan tergenang air, sekarang akulah yang duduk di tempat hangat sementara mereka meringkuk di tanah menahan dingin. Ke depannya situasinya akan selalu seperti ini, kalian akan berada di tempat paling buruk dan aku akan berada di tempat yang terbaik!' ucap Jingga dalam hati.
"Kau baik-baik saja?" Suara dari belakang membuat Jingga mengalihkan tatapannya dari 3 orang di luar sana.
"Kenapa kau tidak menolong mereka?" Tanya Jingga.
"Aku tidak menolong orang asing," jawab Farhan meraih kelinci yang diletakkan di dinding dan segera membersihkan perutnya untuk dimasak.
Jingga terkejut dengan jawaban Farhan, pria itu tidak menolong orang asing, lalu dia ini apa?
"Tapi kamu menolongku," ucap Jingga setelah beberapa saat keheningan.
Farhan menghentikan gerakan pisau di tangannya, terdiam beberapa detik sebelum berkata, "kau cantik," kata Farhan lalu lanjut dengan kesibukannya.
Wajah Jingga tersipu malu mendengar pujian tersebut keluar dari mulut seorang pria asing.
"Terima kasih banyak," kata Jingga.
"Hm." jawab Farhan dengan singkat.
Jingga tersenyum memandangi punggung kekar Farhan yang sibuk mengolah daging kelinci, 'aku tidak tahu kenapa dia menolongku tapi tidak menolong mereka, yang jelas niat baik ini pasti akan ku balas,' ucap Jingga dalam hati.