Sejak berusia sepuluh tahun, Yan Kai hidup sebagai pelayan di Sekte Hutan Bambu setelah kehilangan kedua orang tuanya. Karena memiliki akar spiritual yang sangat lemah, ia tidak pernah diterima sebagai murid dan selama delapan tahun hanya menjadi sasaran penghinaan, perundungan, serta siksaan dari para murid sekte. Hidupnya dipenuhi penderitaan, hingga suatu hari sebuah tugas sederhana membersihkan perpustakaan kuno mengubah takdirnya selamanya.
Sebuah buku misterius membawanya ke Dimensi Tak Berujung, tempat seekor Naga Kegelapan kuno disegel sejak ribuan tahun lalu akibat perang besar antara ras naga dan para dewa. Yan Kai mendapatkan secuil kekuatan naga itu hingga mengubah akar spiritualnya yang sebelumnya cacat menjadi fondasi yang luar biasa. Tanpa mengetahui rahasia besar yang kini tersembunyi dalam dirinya, Yan Kai memulai perjalanan kultivasinya menuju puncak kekuatan sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DANTE-KUN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Yan Kai menatap Naga Kegelapan yang masih terbelenggu oleh rantai-rantai raksasa. Meski ukuran makhluk itu begitu menggentarkan, entah mengapa ia tidak lagi merasakan ketakutan sebesar sebelumnya.
Mungkin karena kata-kata yang diucapkan sang naga telah membangkitkan secercah harapan di dalam dirinya—harapan yang selama delapan tahun perlahan terkubur oleh penghinaan, harapan untuk menjadi kuat.
Naga Kegelapan perlahan membuka mulutnya. "Kalau begitu, ulurkan tanganmu."
Yan Kai mengangguk. "Lalu?"
"Tempelkan telapak tanganmu pada tubuhku."
"Cukup itu saja?"
"Cukup." Naga itu memejamkan mata seolah sedang menenangkan napasnya. "Setelah itu, serahkan semuanya kepadaku."
Yan Kai sama sekali tidak memiliki pengalaman menghadapi makhluk seperti naga. Terlebih lagi, ia hanyalah seorang pemuda desa yang sejak kecil hidup sebagai pelayan sekte. Sedikit pun ia tidak memikirkan kemungkinan lain. Tanpa rasa curiga, ia melangkah mendekati tubuh raksasa Naga Kegelapan.
Semakin dekat ia berjalan, semakin jelas terlihat sisik-sisik hitam sang naga. Setiap keping sisik berukuran lebih besar daripada tubuh manusia dewasa, memancarkan kilau gelap yang seolah mampu menelan cahaya di sekitarnya.
Yan Kai mengangkat tangan kanannya perlahan. Karena posisi kepala naga terlalu tinggi, ia memilih menyentuhkan telapak tangannya pada pangkal sayap kanan naga tersebut.
Saat melihat tindakan polos itu, sudut bibir Naga Kegelapan perlahan terangkat. Di balik tatapan penuh wibawanya, tersimpan niat yang sama sekali berbeda.
Bocah bodoh. Benar-benar tidak memiliki sedikit pun kewaspadaan. Kau mengira aku benar-benar akan memberimu setengah kekuatanku? Mustahil.
Tatapan naga itu berubah dingin. Tubuhnya telah disegel selama ribuan tahun, dan segel para dewa itu bahkan lebih kokoh daripada yang ia bayangkan—ia tidak akan pernah mampu menghancurkannya dari dalam. Tetapi tubuh manusia ini adalah jalan keluarnya.
Di dalam benaknya, teknik kuno yang telah lama ia simpan mulai dijalankan: Teknik Pertukaran Jiwa, sebuah teknik terlarang milik Ras Naga yang memungkinkan pemiliknya merebut tubuh makhluk lain, kemudian menghancurkan jiwa pemilik tubuh tersebut. Begitu berhasil, ia akan memperoleh kebebasan. Meski kehilangan tubuh naga miliknya, setidaknya ia masih hidup, dan suatu hari nanti ia dapat membangun kembali kekuatannya.
Mulai hari ini, tubuhmu akan menjadi milikku.
Detik berikutnya, telapak tangan Yan Kai menyentuh sisik hitam di sayap sang naga.
Tap.
Hening. Tak terjadi apa pun selama sesaat.
Lalu mata Naga Kegelapan tiba-tiba membelalak.
"Apa...?!"
Belum sempat ia memahami apa yang terjadi, seluruh rune emas yang memenuhi rantai kuno mendadak menyala bersamaan.
Wuuuuung!
Seluruh Dimensi Tak Berujung bergetar hebat. Langit dipenuhi cahaya keemasan yang menyilaukan, sementara rantai-rantai raksasa mengeluarkan suara gemuruh yang mengguncang seluruh ruang.
"Tidak...!"
Ekspresi Naga Kegelapan berubah drastis. Untuk pertama kalinya sejak ribuan tahun, wajahnya dipenuhi kepanikan.
"Mustahil! Segel ini...! Segel ini bahkan..."
Belum selesai ia berbicara, api berwarna emas tiba-tiba muncul dari dalam tubuhnya. Bukan membakar sisiknya, melainkan membakar jiwanya.
"AARRRRGGGHHHHH!!"
Jeritan naga itu mengguncang seluruh dimensi. Yan Kai langsung menarik tangannya dengan kaget.
"Apa yang terjadi?! Aku... aku tidak melakukan apa-apa!"
Namun Naga Kegelapan sama sekali tidak mendengarnya. Api emas itu terus membesar. Rune-rune kuno bermunculan satu demi satu di udara, mengelilingi tubuh naga seperti ribuan bintang yang berputar. Kemudian seluruh rune itu menghantam tubuh sang naga secara bersamaan.
Boom!
"TIDAAAAAK!!"
Suara penuh kebencian dan penyesalan memenuhi langit. Barulah saat itu Naga Kegelapan menyadari kenyataan yang selama ini tidak pernah ia ketahui: segel para dewa tidak hanya mengurung tubuhnya, tetapi juga menyegel jiwanya.
Bahkan, para dewa telah meninggalkan sebuah mekanisme terakhir—begitu dirinya berniat melepaskan jiwa dari tubuh asli untuk mengambil tubuh makhluk lain, segel tersebut akan langsung menganggapnya sebagai upaya pelarian. Hukuman bagi pelanggaran itu hanya satu: pemusnahan jiwa.
"Tidak...! Aku tidak ingin mati! Aku...!"
Kalimatnya terputus. Api emas semakin membesar hingga menelan seluruh tubuh naga. Sisik-sisik hitamnya mulai retak, sayapnya perlahan berubah menjadi abu, tanduk-tanduk raksasanya hancur sedikit demi sedikit.
Jeritan yang semula mengguncang langit perlahan melemah, sampai akhirnya seluruh tubuh Naga Kegelapan benar-benar lenyap. Yang tersisa hanyalah hamparan abu hitam yang perlahan tertiup angin.
Dimensi kembali sunyi.
Yan Kai masih berdiri terpaku, wajahnya dipenuhi kebingungan.
"Apa... apa sebenarnya yang baru saja terjadi...?"
Ia sama sekali tidak memahami alasan mengapa naga itu tiba-tiba terbakar. Namun tepat ketika ia hendak melangkah mundur, hamparan abu hitam itu tiba-tiba memancarkan cahaya redup. Di tengah abu tersebut, masih tersisa seberkas energi hitam pekat sebesar kepalan tangan, berdenyut pelan, seolah masih memiliki kehidupan.
Yan Kai baru saja menyadarinya ketika tiba-tiba...
wusss!
energi hitam itu melesat sangat cepat.
"Heh?"
Belum sempat ia menghindar, energi tersebut langsung memasuki dadanya.
"Agh!"
Yan Kai memegang dadanya. Rasa dingin luar biasa menyebar ke seluruh tubuhnya, seakan darahnya berubah menjadi es. Ia terjatuh berlutut, seluruh meridian di dalam tubuhnya bergetar hebat.
Pada saat yang sama, di bagian terdalam tubuh Yan Kai, akar spiritualnya yang selama ini lemah dan nyaris tidak memiliki fungsi mulai memperlihatkan perubahan.
Energi kegelapan yang tersisa dari Naga Kegelapan perlahan meresap ke dalam akar spiritual tersebut—tidak menghancurkannya, tidak pula menguasainya. Sebaliknya, energi itu justru menyatu.
Akar spiritual Yan Kai yang semula tampak kusam dan rapuh perlahan mulai retak. Retakan itu terus melebar, namun anehnya bukan menuju kehancuran, melainkan perubahan.
Seluruh struktur akar spiritualnya mulai tersusun ulang sedikit demi sedikit, seolah ada tangan tak kasatmata yang sedang membentuk fondasi baru di dalam tubuhnya. Setiap jalur energi yang sebelumnya buntu mulai terbuka, meridian-meridian yang sempit mulai melebar.
Di pusat akar spiritualnya, muncul setitik cahaya hitam yang berdenyut perlahan. Setitik cahaya itu begitu kecil, namun di dalamnya terkandung secuil energi murni milik Naga Kegelapan—energi yang telah bertahan dari pemusnahan jiwa sang naga.
Yan Kai tidak mengetahui semua perubahan itu. Yang ia rasakan hanyalah tubuhnya menjadi sangat panas dan dingin secara bersamaan. Kesadarannya perlahan mulai memudar, dan dengan napas yang semakin berat, tubuhnya akhirnya roboh ke atas rerumputan hijau Dimensi Tak Berujung. Matanya perlahan tertutup.
Sementara jauh di dalam tubuhnya, sesuatu yang selama delapan belas tahun dianggap mustahil akhirnya mulai terlahir.