NovelToon NovelToon
Lima Kakak Valerius

Lima Kakak Valerius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir
Popularitas:604
Nilai: 5
Nama Author: mona28

Di mata masyarakat, keluarga Valerius adalah keluarga pengusaha terpandang dan salah satu keluarga terkaya di kota. Namun di balik kemewahan mansion mereka, keluarga Valerius merupakan salah satu keluarga mafia paling berkuasa dan ditakuti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mona28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KAKEK YANG SEHARUSNYA SUDAH MATI

“Bawa Aren ke ruang kendali. Aku ingin bertemu cucuku.”

Suara itu masih menggema melalui pengeras suara ketika lampu lorong servis kembali menyala. Cahaya merah darurat membuat wajah-wajah keluarga Valerius tampak tegang, seolah mereka sedang berdiri di hadapan sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia ini.

Alistair Valerius.

Pria yang selama ini mereka yakini telah meninggal dunia.

Pria yang namanya terukir di batu nisan keluarga.

Pria yang fotonya terpajang di ruang utama mansion Valerius sebagai simbol kehormatan dan sejarah keluarga.

Sekarang, suaranya terdengar dari sebuah rumah tua di Bukit Arvantis, memerintahkan agar Aren dibawa kepadanya.

Riven adalah orang pertama yang bereaksi.

“Tidak mungkin.” Ia menggeleng keras. “Kakek sudah meninggal. Aku bahkan masih ingat pemakamannya.”

Darren mengusap wajahnya dengan kasar.

“Kalau suara itu memang milik Alistair, berarti ada seseorang yang menggunakan rekaman lama untuk menakut-nakuti kita.”

“Bukan rekaman,” ujar Kian dari belakang terminal portabelnya.

Semua orang menoleh.

Kian memutar perangkat tersebut, memperlihatkan grafik gelombang suara yang bergerak mengikuti suara dari pengeras ruangan.

“Aku memeriksa transmisi tadi. Sinyalnya dikirim secara langsung melalui sistem komunikasi internal. Ada seseorang yang sedang berbicara sekarang.”

Leon menatapnya tidak percaya.

“Jadi, kakek benar-benar masih hidup?”

“Aku tidak mengatakan itu.” Kian menggeleng. “Aku hanya memastikan bahwa suara tersebut bukan rekaman yang diputar secara sederhana. Seseorang bisa saja menirukan suara Alistair menggunakan teknologi tertentu. Kita belum memiliki bukti bahwa orang yang berbicara benar-benar dirinya.”

“Setidaknya ada satu orang yang masih berpikir jernih,” ujar Raka.

Pemimpin keluarga muda itu segera mengalihkan pandangan kepada ayahnya.

“Ayah, aku ingin tahu semuanya. Sekarang.”

Adrian masih menatap pengeras suara.

“Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan apa yang sedang terjadi.”

“Kalau begitu, mulai dari awal.”

“Ayah sudah menjelaskan bahwa Alistair meninggal tujuh belas tahun lalu.”

“Tidak.” Raka menggeleng. “Ayah menjelaskan apa yang selama ini kita percayai. Itu berbeda dengan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.”

Ucapan tersebut membuat Adrian terdiam.

Aren berdiri di samping Elena. Tangan ibu kandungnya masih menggenggam tangannya erat-erat, seakan perempuan itu takut putranya akan menghilang jika ia melepaskannya.

Namun, Aren tidak hanya memikirkan dirinya sendiri.

Ia melihat wajah kelima kakaknya. Mereka semua tampak berusaha mempertahankan ketenangan, tetapi Aren mengenal mereka cukup baik untuk mengetahui bahwa masing-masing sedang menghadapi ketakutan yang berbeda.

Raka takut kehilangan kendali atas situasi.

Darren takut bahwa seluruh fondasi keluarga dan bisnis mereka dibangun di atas kebohongan.

Leon khawatir akan keselamatan semua orang.

Kian sedang berusaha menemukan jawaban melalui sistem yang terus berubah.

Sementara Riven terlihat seperti ingin menghancurkan seluruh bangunan hanya untuk memastikan tidak ada seorang pun yang bisa mendekati adiknya.

Dan Adrian?

Ayah angkatnya terlihat seperti seseorang yang baru saja melihat hantu dari masa lalunya sendiri.

“Ayah,” panggil Aren perlahan.

Adrian menoleh.

“Kalau kakek masih hidup, apakah itu berarti semua yang Ayah ceritakan tentang malam keluarga Ravencroft dihancurkan juga belum tentu benar?”

Pertanyaan itu menusuk tepat ke inti persoalan.

Adrian menatap Aren cukup lama sebelum menjawab.

“Ya. Mungkin ada bagian dari cerita itu yang belum kita ketahui.”

Elena mengeratkan genggamannya.

“Bukan hanya bagian kecil, Adrian.”

Ia menatap mantan sahabat keluarganya itu dengan kesedihan yang bercampur amarah.

“Alistair selalu pandai menyembunyikan kebenaran di balik kata-kata yang terdengar mulia.”

Adrian tidak membantah.

Dari pengeras suara, terdengar suara tawa pendek.

“Masih saja membicarakanku seolah-olah aku tidak ada di sini, Elena?”

Elena langsung mengangkat wajah.

“Kalau kau memang Alistair, berhentilah bersembunyi di balik pengeras suara!”

“Kesabaranmu tidak pernah berubah.”

“Dan kebiasaanmu mengendalikan semua orang juga tidak berubah!”

Suasana mendadak tegang.

Aren menatap ibunya dengan keterkejutan baru. Perempuan yang beberapa menit sebelumnya menangis dalam pelukannya kini menunjukkan sisi yang jauh lebih keras.

Ia bukan hanya seorang ibu yang kehilangan anaknya.

Ia adalah Elena Ravencroft, perempuan yang pernah hidup di tengah dua keluarga mafia dan bertahan dari sebuah tragedi yang bahkan belum sepenuhnya terungkap.

“Jika kau ingin bertemu Aren,” lanjut Elena, “datanglah sendiri. Jangan menyuruh orang lain membawa anakku kepadamu.”

Hening selama beberapa detik.

Kemudian suara Alistair kembali terdengar.

“Anakmu?”

Ada sesuatu yang dingin dalam cara pria itu mengucapkan dua kata tersebut.

“Menarik. Kau meninggalkannya selama tujuh belas tahun, lalu sekarang menganggap dirimu berhak menentukan ke mana dia pergi?”

Wajah Elena memucat.

Aren segera menggenggam tangan ibunya lebih erat.

“Jangan dengarkan dia, Bu.”

Elena menoleh kepada Aren. Ia berusaha tersenyum, tetapi matanya memperlihatkan luka yang belum sembuh.

Alistair kembali berbicara.

“Aren, cucuku, apakah kau ingin mengetahui mengapa ibumu menghilang? Apakah kau ingin tahu mengapa ayah angkatmu menyimpan gelang itu? Dan apakah kau ingin tahu mengapa ayah kandungmu mati tanpa pernah memberitahumu siapa yang sebenarnya mengkhianatinya?”

Aren membeku.

Armand Ravencroft.

Ayah kandungnya.

Selama ini, Aren hanya mengenal Armand melalui foto, catatan, dan potongan kisah yang disampaikan orang lain. Ia bahkan tidak memiliki kenangan tentang wajah ayahnya selain dari gambar-gambar lama.

Namun, setiap kali nama Armand disebut, ia merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan.

Seolah ada bagian dari dirinya yang selalu berusaha memahami pria yang tidak pernah sempat ia panggil Ayah.

“Apa yang kau ketahui tentang ayahku?” tanya Aren.

“Lebih banyak daripada siapa pun yang berada di ruangan itu.”

“Kalau begitu, katakan sekarang.”

Alistair tertawa pelan.

“Tidak semudah itu, Aren. Ada kebenaran yang harus dilihat dengan mata sendiri.”

Raka segera menyela.

“Jangan dengarkan permainan kata-katanya. Dia ingin kita mengikuti arah yang sudah disiapkannya.”

“Benar,” jawab Alistair tanpa menyangkal. “Aku memang ingin kalian datang ke ruang kendali. Namun, bukan untuk membunuh siapa pun. Aku hanya ingin cucuku melihat apa yang telah dilakukan orang-orang yang selama ini mengaku melindunginya.”

Riven mengangkat senjatanya ke arah pengeras suara.

“Kalau kau benar-benar kakekku, aku ingin kau menjelaskan mengapa kau membuat keluargaku hidup dalam kebohongan!”

“Riven,” tegur Leon pelan.

Namun, Alistair justru terdengar terhibur.

“Anak yang paling mudah marah. Aku ingat ketika kau masih kecil, kau pernah memukul pengawal hanya karena dia mengambil mainanmu.”

“Jangan bicara seolah-olah kau mengenalku!”

“Aku mengenal kalian semua.”

Suara Alistair berubah lebih berat.

“Aku tahu Raka selalu berusaha menjadi pria yang tidak pernah melakukan kesalahan. Aku tahu Darren menyembunyikan rasa takutnya di balik angka dan kontrak. Aku tahu Leon berusaha menyelamatkan semua orang bahkan ketika dirinya sendiri kelelahan. Aku tahu Kian lebih percaya pada mesin daripada manusia.”

Kian mengangkat wajahnya, terkejut mendengar namanya disebut.

“Dan aku tahu Riven akan menghancurkan siapa pun yang mencoba menyentuh Aren.”

Riven terdiam.

Alistair melanjutkan.

“Karena itulah aku tahu bahwa kalian semua akan datang. Kalian tidak akan membiarkan adik kalian menghadapi kebenaran sendirian.”

Raka mengepalkan tangannya.

“Berhenti menggunakan keluarga kami untuk membenarkan tindakanmu.”

“Aku tidak sedang membenarkan apa pun, Raka. Aku hanya menjelaskan bahwa aku mengenal kalian lebih baik daripada yang kalian kira.”

Kemudian suara itu menghilang.

Pengeras suara mati.

Kian segera memeriksa perangkatnya.

“Transmisi terputus. Aku kehilangan sumber sinyal.”

“Bisakah kau melacaknya?” tanya Darren.

“Aku bisa mencoba, tetapi sistem komunikasi rumah ini terhubung ke beberapa jalur lama. Sinyalnya berpindah sebelum aku sempat menentukan sumbernya.”

Raka mengalihkan perhatian kepada semua orang.

“Kita tidak akan mengikuti perintah orang yang belum kita pastikan identitasnya. Kita keluar dari rumah ini, kembali ke mansion, lalu menyusun langkah berikutnya.”

Elena segera menggeleng.

“Tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Karena mereka sudah menunggu di luar.”

Seolah membuktikan perkataannya, terdengar suara mesin kendaraan dari arah halaman. Kian segera membuka tampilan kamera cadangan yang menggunakan sumber daya terpisah.

Di layar muncul pemandangan halaman rumah tua.

Kendaraan hitam berjajar di sepanjang jalan masuk. Orang-orang bersenjata berdiri di dekat gerbang, sebagian mengenakan pakaian gelap dengan lambang serigala hitam.

Namun, ada sesuatu yang lebih mengkhawatirkan.

Di sisi kiri halaman, sebuah mobil berwarna perak berhenti. Dua pria turun dari mobil itu, lalu membuka pintu belakang.

Seorang pria tua keluar dengan bantuan tongkat.

Wajahnya belum terlihat jelas karena kamera terlalu jauh.

Namun, ketika pria itu mengangkat tangan untuk membetulkan kerah mantelnya, Kian memperbesar gambar.

Lalu ia terdiam.

“Tidak mungkin…”

Raka mendekat.

“Apa?”

Kian memperbesar gambar sekali lagi.

Pria tua itu memiliki rambut putih, tubuh tegap, dan wajah yang terlihat lebih tua daripada foto terakhir Alistair yang tersimpan di arsip keluarga.

Tetapi ada satu ciri yang tidak mungkin disalahartikan.

Bekas luka tipis di sisi kiri dagunya.

Bekas luka yang juga terlihat pada foto Alistair Valerius sebelum kematiannya.

Darren menelan ludah.

“Itu…”

“Alistair,” bisik Adrian.

Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik.

Kemudian, pria di layar mengangkat kepalanya dan menatap langsung ke arah kamera.

Seolah mengetahui bahwa mereka sedang mengamatinya, ia tersenyum.

Ia mengangkat satu tangan.

Lalu menunjuk ke arah rumah tua.

Kian segera mematikan tampilan kamera.

“Dia tahu kita melihatnya.”

Riven mengumpat.

“Bagus. Sekarang kita tahu dia benar-benar berada di luar. Jadi, apa rencana kita?”

Raka berpikir cepat.

“Kita tidak bisa keluar melalui pintu utama. Kita gunakan lorong servis menuju terowongan lama. Setelah berada di luar jangkauan kamera mereka, kita cari kendaraan dan kembali ke mansion.”

“Dan ruang kendali?” tanya Aren.

“Kita kembali setelah mengetahui bagaimana situasi di luar.”

Aren menatap kakak sulungnya.

“Kalau Alistair memang masih hidup, dia mungkin satu-satunya orang yang mengetahui seluruh kebenaran tentang keluarga kandungku.”

“Dan dia juga mungkin orang yang paling berbahaya bagi kita,” jawab Raka.

“Aku tahu.”

“Tidak, Aren. Kau belum tahu.” Raka mendekat, kemudian berjongkok agar sejajar dengan adik bungsunya. “Aku tidak mengatakan ini untuk meremehkanmu. Aku hanya tidak ingin kau mengira bahwa menemukan kebenaran selalu berarti kita harus mempercayai orang yang menawarkan jawaban.”

Aren terdiam.

Raka melanjutkan dengan suara yang lebih lembut.

“Kadang-kadang, orang memberikan sedikit kebenaran agar kita mau mengikuti kebohongan yang lebih besar.”

Aren memandang kakaknya, kemudian mengangguk perlahan.

“Aku mengerti.”

Raka mengusap kepala Aren singkat.

“Bagus. Sekarang tetap dekat dengan kami.”

Mereka mulai bergerak menuju lorong servis.

Darren berjalan paling depan bersama Raka. Kian membawa terminal portabel dan kartu logam yang diberikan Elena. Leon berada di sisi Aren, sedangkan Riven mengawasi bagian belakang.

Adrian berjalan di belakang Elena.

Untuk beberapa saat, keduanya tidak berbicara.

Namun, ketika mereka mencapai tikungan pertama, Elena berhenti.

“Adrian.”

Adrian menoleh.

“Ada satu hal yang harus kau ketahui.”

“Apa?”

Elena menatapnya dengan wajah serius.

“Alistair tidak datang hanya untuk Aren.”

Adrian mengerutkan kening.

“Lalu untuk siapa?”

“Untukmu.”

Adrian terdiam.

Elena menghela napas panjang.

“Selama aku ditahan, aku mendengar mereka membicarakan rencana untuk mengembalikan kekuasaan Valerius kepada orang yang dianggap paling pantas. Mereka tidak ingin sekadar mengambil Aren. Mereka ingin memastikan bahwa seluruh keluarga Valerius tunduk kepada Alistair.”

“Dia sudah memiliki kekuasaan sebelum menghilang.”

“Tidak seperti yang kau pikirkan. Alistair kehilangan sesuatu yang sangat penting pada malam Ravencroft dihancurkan.”

Adrian menatapnya.

“Apakah itu Protokol Terakhir?”

Elena mengangguk.

“Protokol itu bukan hanya arsip. Itu adalah bukti tentang siapa yang mengendalikan organisasi dan siapa yang memberi perintah pada malam tragedi tersebut. Siapa pun yang menguasai protokol itu bisa menghancurkan reputasi, kekuasaan, dan kebebasan banyak orang.”

“Lalu mengapa dia membutuhkan Aren?”

“Karena Aren adalah satu-satunya orang yang bisa membuka bagian terakhirnya.”

Adrian menggeleng perlahan.

“Aren bukan alat.”

“Aku tahu.” Elena menatapnya tajam. “Namun, Alistair tidak pernah melihat manusia seperti kita melihat manusia. Baginya, keluarga adalah kekuasaan. Darah adalah hak kepemilikan. Dan cinta hanyalah kelemahan yang bisa digunakan untuk mengendalikan seseorang.”

Adrian menunduk.

“Kalau begitu, kita harus menghentikannya.”

“Ya. Tapi ada sesuatu yang belum kau pahami.”

Elena mendekat.

“Alistair tidak pernah mati. Dia hanya menghilang setelah malam itu.”

Adrian menatapnya.

“Bagaimana kau bisa begitu yakin?”

“Karena aku pernah melihatnya sendiri.”

Adrian membeku.

“Kapan?”

“Empat tahun lalu.”

Untuk beberapa detik, Adrian tidak mampu berkata-kata.

“Empat tahun lalu? Di mana?”

“Di sebuah fasilitas rahasia di luar Arvantis. Aku sedang dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain ketika aku melihatnya berbicara dengan orang-orang yang menjagaku.”

Elena memejamkan mata sejenak.

“Aku mendengar namamu disebut. Aku juga mendengar nama Aren. Mereka mengatakan bahwa selama Aren masih berada dalam perlindunganmu, mereka tidak bisa menjalankan rencana terakhir.”

Adrian menatap lorong yang gelap.

“Kenapa kau tidak mencoba menghubungiku?”

“Aku mencoba.” Suara Elena pecah. “Berkali-kali. Tetapi semua pesan yang kukirim menghilang. Aku tidak tahu apakah kau menerima satu pun dari pesan itu.”

Adrian terlihat terpukul.

“Tidak pernah ada pesan yang sampai kepadaku.”

“Aku tahu sekarang.”

Mereka kembali berjalan.

Di depan, Aren mendengar sebagian percakapan itu. Ia tidak menoleh, tetapi pikirannya dipenuhi pertanyaan.

Empat tahun lalu.

Artinya, saat itu ia sudah tumbuh menjadi remaja. Mungkin ia sedang belajar di sekolah, mengeluh kepada kakak-kakaknya tentang tugas, atau menghabiskan waktu di ruang keluarga mansion tanpa mengetahui bahwa ibunya masih hidup dan berusaha menemukannya.

Aren merasakan kesedihan yang sulit diungkapkan.

Bukan hanya karena ia kehilangan tujuh belas tahun bersama Elena.

Melainkan karena selama bertahun-tahun, mungkin ada kesempatan bagi mereka untuk bertemu, tetapi kesempatan itu dirampas oleh orang lain.

“Aren?”

Leon memperhatikan perubahan wajah adiknya.

“Kau baik-baik saja?”

Aren menggeleng kecil.

“Aku tidak tahu, Kak.”

Leon memperlambat langkahnya.

“Kau tidak perlu memaksakan diri untuk terlihat kuat.”

“Aku hanya berpikir… bagaimana kalau selama ini Ibu benar-benar berusaha mencariku, tetapi aku tidak pernah tahu?”

Leon terdiam sejenak.

“Kalau memang begitu, berarti ada seseorang yang sengaja memisahkan kalian. Itu bukan kesalahanmu.”

“Tapi aku bisa saja bertemu dengannya lebih cepat.”

Leon memegang bahu Aren.

“Dengarkan aku. Kau masih punya kesempatan untuk mengenal Ibu sekarang. Kita tidak bisa mengubah tujuh belas tahun yang telah berlalu, tetapi kita bisa memastikan bahwa orang yang memisahkan kalian tidak mengambil waktu kalian lagi.”

Aren menatap kakaknya.

Kemudian ia mengangguk.

“Terima kasih, Kak.”

Leon tersenyum lembut.

“Jangan berterima kasih. Aku ini kakakmu.”

Dari belakang, Riven langsung menyahut.

“Dan aku kakak yang paling tampan.”

Darren menoleh dengan ekspresi datar.

“Kau bahkan tidak tahu kapan harus diam.”

“Setidaknya aku membuat Aren tersenyum.”

Aren tanpa sadar tertawa kecil.

Suara itu sangat singkat, tetapi cukup untuk membuat ketegangan di antara saudara-saudara itu sedikit berkurang.

Raka yang berjalan paling depan menoleh sekilas.

“Kalau kalian sudah selesai berdebat tentang siapa yang paling tampan, terus bergerak.”

Riven mendengus.

“Jelas aku.”

“Riven,” kata lima suara sekaligus.

Untuk pertama kalinya sejak mereka memasuki rumah tua itu, Aren tersenyum dengan tulus.

Namun, senyum itu menghilang ketika mereka tiba di ujung lorong.

Di depan mereka terdapat sebuah pintu baja yang seharusnya mengarah ke terowongan keluar. Kian segera memeriksa panelnya, lalu wajahnya berubah.

“Pintunya terkunci dari sisi lain.”

Raka mendekat.

“Bisakah kau membukanya?”

“Bisa, tetapi sistem penguncinya berbeda dengan yang ada di rumah. Ini menggunakan mekanisme manual.”

Darren memeriksa dinding di samping pintu.

“Seharusnya ada tuas darurat.”

Ia menemukan sebuah panel kecil yang tertutup debu. Setelah membukanya, ia melihat tuas merah di balik penutup logam.

Namun, sebelum ia sempat menariknya, sebuah suara terdengar dari pengeras suara di atas pintu.

“Jangan repot-repot.”

Suara Alistair kembali memenuhi lorong.

“Kalian tidak akan keluar melalui jalan itu.”

Raka langsung mengangkat senjata ke arah pengeras suara.

“Apa yang kau inginkan?”

“Aku sudah mengatakannya. Aku ingin bertemu cucuku.”

“Kau bisa bertemu dengannya jika kau berhenti mengepung kami.”

“Sayangnya, aku tidak bisa membiarkan kalian pergi sebelum urusan kita selesai.”

Aren melangkah maju.

“Kalau kau ingin bertemu denganku, aku ada di sini.”

“Aren!” seru Riven.

Namun, Aren tidak mundur.

“Kalau kau memang kakekku, berhentilah bersembunyi dan jawab pertanyaanku. Apa yang terjadi pada ayahku? Apa yang terjadi pada ibuku? Dan mengapa nama Ayah muncul di dalam perintah yang menghancurkan keluarga Ravencroft?”

Hening.

Kemudian suara Alistair terdengar lebih pelan.

“Kau memiliki keberanian yang sama seperti Armand.”

Aren mengepalkan tangan.

“Jangan menggunakan nama ayahku untuk menghindari pertanyaanku.”

“Baiklah.”

Suara itu berubah dingin.

“Ayahmu tidak mati karena kecelakaan. Dia dibunuh karena menolak menyerahkanmu kepada orang-orang yang menjalankan Proyek Serigala Hitam.”

Elena menutup mulutnya.

Adrian memucat.

Aren merasa lututnya hampir kehilangan kekuatan.

“Apa?”

“Armand tahu bahwa darahnya adalah kunci menuju protokol. Dia tahu bahwa suatu hari mereka akan mencari anaknya. Karena itulah dia mencoba menyembunyikanmu.”

Aren menggeleng.

“Siapa yang membunuhnya?”

Alistair terdiam sejenak.

Lalu jawabannya datang.

“Orang yang berada di sampingnya ketika dia meninggal.”

Aren menatap Adrian.

Adrian langsung menggeleng.

“Bukan aku, Aren.”

“Aku tidak mengatakan apa-apa, Ayah.”

“Tapi kau memikirkannya.”

Adrian melangkah mendekati putranya.

“Ayah memang berada di sana malam itu, tetapi Ayah tidak membunuh Armand.”

“Lalu siapa?”

Adrian membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar.

Dari pengeras suara terdengar suara Alistair yang kembali tertawa pelan.

“Lihatlah, Aren. Bahkan sekarang ayah angkatmu masih tidak sanggup mengatakan siapa yang memegang senjata pada malam itu.”

Raka mengangkat senjatanya.

“Berhenti memainkan keluarga kami!”

“Kalau begitu, tanyakan kepada Gabriel Soren.”

Semua orang langsung berbalik.

Gabriel berdiri beberapa langkah di belakang Viktor. Wajahnya tampak pucat, dan kedua tangannya mengepal di sisi tubuh.

Viktor menatap kakaknya dengan mata membelalak.

“Gabriel?”

Gabriel menunduk.

“Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku tidak berada di sana.”

Aren merasa jantungnya berdegup semakin keras.

“Kau berada di sana ketika ayahku meninggal?”

Gabriel perlahan mengangkat wajah.

“Ya.”

Viktor mundur satu langkah, seolah baru saja ditampar.

“Selama ini kau menyembunyikan itu dariku?”

“Aku tidak punya pilihan.”

“Selalu itu alasanmu!”

Viktor menerjang kakaknya, tetapi Raka dan Darren segera menahannya.

Gabriel tidak melawan.

Ia hanya menatap Aren dengan kesedihan yang mendalam.

“Aku tidak membunuh ayahmu, Aren. Tetapi aku melihat siapa yang melakukannya.”

Aren melangkah maju.

“Siapa?”

Gabriel membuka mulut.

Namun, sebelum ia sempat menyebutkan nama itu, terdengar bunyi letupan keras dari ujung lorong.

Lampu padam.

Seseorang berteriak.

Kemudian terdengar suara benda jatuh menghantam lantai.

Dalam kegelapan, Aren merasakan tangan seseorang meraih pergelangan tangannya.

Ia mencoba melepaskan diri, tetapi genggaman itu terlalu kuat.

“Aren!”

Suara Riven terdengar dari kejauhan.

“Aren, pegang tanganku!”

Aren mengulurkan tangan yang bebas, mencoba menemukan kakaknya di tengah kegelapan.

Namun, seseorang menariknya ke belakang.

Sebuah tangan membekap mulutnya.

Aren meronta.

Ia mendengar Elena berteriak memanggil namanya, disusul suara Adrian yang mengamuk dan suara Raka memberikan perintah.

Kemudian, tepat di dekat telinganya, seseorang berbisik.

“Jangan melawan, pewaris Ravencroft.”

Aren mencoba menggigit tangan yang membekap mulutnya.

Orang itu mengumpat, lalu menariknya lebih keras.

Sebelum kesadarannya sepenuhnya dikuasai oleh kepanikan, Aren mendengar suara Alistair dari pengeras suara.

“Bawa cucuku ke ruang kendali.”

Suara itu terdengar tenang.

Seolah penculikan yang sedang terjadi hanyalah bagian dari rencana yang telah disusunnya sejak lama.

“Dan jangan sakiti dia.”

Hening sesaat.

Kemudian Alistair menambahkan kalimat yang membuat Aren merasakan ketakutan paling besar dalam hidupnya.

“Setidaknya, jangan sebelum dia mengetahui siapa yang membunuh ayahnya.”

---

Ketika lampu darurat kembali menyala beberapa detik kemudian, Aren sudah tidak berada di lorong.

Riven berdiri di tengah kegelapan yang mulai memudar, napasnya memburu dan matanya menyapu setiap sudut.

“Aren?”

Tidak ada jawaban.

“Aren!”

Leon berlari ke arahnya.

“Di mana Aren?”

Riven menatap tangan kosongnya sendiri. Beberapa detik sebelumnya, ia yakin masih bisa meraih adiknya. Ia bahkan hampir menyentuh ujung jari Aren.

Namun, seseorang telah menarik Aren pergi sebelum ia berhasil menggenggam tangannya.

Riven meninju dinding baja.

Suara benturan keras menggema di lorong.

“AKU BERSUMPAH AKAN MENGHANCURKAN SIAPA PUN YANG MENYENTUH ADIKKU!”

Raka segera mendekatinya.

“Riven, lihat aku.”

“Lepaskan aku!”

“Kita akan menemukan Aren.”

“Dia dibawa tepat di depan mata kita!”

“Dan kita akan membawanya kembali.”

Raka mencengkeram bahu adiknya dengan kuat.

“Kau dengar aku? Kita akan membawanya kembali. Tapi kalau kau kehilangan kendali sekarang, kau justru akan mempersulit kita menemukannya.”

Riven terengah-engah. Matanya merah, dan tangannya gemetar karena marah.

Beberapa detik kemudian, ia mengangguk dengan berat.

Darren segera memeriksa jalur di belakang mereka.

Kian sudah kembali membuka terminal portabelnya, berusaha melacak sinyal yang mungkin tertinggal.

Leon berdiri di samping Elena, yang kini menangis sambil memanggil nama putranya.

Adrian memandang lorong gelap tempat Aren terakhir terlihat.

Untuk pertama kalinya, ia tidak mencoba menyembunyikan ketakutannya.

“Aku akan menemukanmu, Aren,” bisiknya. “Ayah berjanji.”

Di ujung lorong, Gabriel berdiri tanpa bergerak.

Viktor menatapnya dengan kebencian yang nyaris tidak dapat dibendung.

“Kau akan menceritakan semuanya,” kata Viktor. “Setelah ini, tidak ada lagi rahasia.”

Gabriel mengangguk perlahan.

“Ya.”

Ia menatap lorong tempat Aren menghilang.

“Karena sekarang Alistair telah mengambil satu-satunya orang yang bisa membuktikan bahwa aku bukan pembunuh Armand Ravencroft.”

Raka langsung menoleh.

“Apa maksudmu?”

Gabriel menarik napas panjang.

Kemudian ia mengucapkan kalimat yang membuat semua orang kembali membeku.

“Orang yang membunuh Armand adalah orang yang sampai hari ini masih dianggap sebagai pelindung Aren.”

Adrian menatap Gabriel dengan wajah pucat.

Elena berhenti menangis.

Dan Raka perlahan mengangkat senjatanya.

Karena di tengah semua rahasia yang telah terungkap malam itu, satu pertanyaan baru muncul.

Jika Adrian bukan pembunuh Armand, lalu siapa yang selama ini berdiri paling dekat dengan Aren sambil menyembunyikan kebenaran tentang kematian ayah kandungnya?

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!