NovelToon NovelToon
Penemu Rahasia Orang Mati

Penemu Rahasia Orang Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Obsesi sang dokter

Deru hujan deras yang menghantam atap seng pabrik tua CV Bina Warna seolah menjadi latar musik bagi keputusasaan yang merayapi dada Iptu Farhan.

Di bawah guyuran air yang dingin, ia berlutut di tanah berlumpur, dan menatap satu-satunya peninggalan yang tersisa dari lokasi penculikan, yakni sebelah sepatu kets milik Arya yang sudah ternoda tanah hitam.

Napas Farhan memburu hebat, dadanya kempas-kempis menahan gejolak amarah dan rasa bersalah yang membakar.

Selama belasan tahun bertugas sebagai reserse, ia telah menghadapi berbagai bentuk kejahatan, namun baru kali ini ia merasa dikelabui secara mentah-mentah.

Pelaku tidak hanya cerdas, ia adalah seorang psikopat metodis yang memanfaatkan keberanian Farhan dan kemampuan unik Arya untuk memasang perangkap sempurna.

"Komandan!" jerit salah seorang personel Brimob seraya mendekat dengan lampu senter taktis terarah ke tanah. "Ada jejak ban ganda melaju kencang ke arah jalur tikus sebelah utara! Dilihat dari lebar tapaknya, itu milik mobil van atau minibus komersial!"

Farhan berdiri seketika, seraya mengusap air hujan yang membilas wajahnya. Matanya yang merah berkilat penuh ketegasan yang dingin. Rasa panik yang sempat melumpuhkannya kini berganti menjadi tekad baja yang membara.

"Amankan sepatu Arya sebagai bukti!" perintah Farhan dengan suara lantang dan tajam, mengalahkan deru angin malam. "Tutup seluruh akses jalan keluar dari kawasan industri utara dalam radius lima kilometer! Hubungi SPKT untuk memasang barikade di perbatasan kota!"

Farhan melangkah cepat menuju mobil komando yang kacanya pecah. Petugas pengemudi yang tadi pingsan kini sudah sadar, dipapah oleh rekan-rekannya dengan pelipis berdarah. Farhan meraih mikrofon radio panggil berdaya tinggi di dalam mobil.

"Panggilan darurat untuk seluruh unit Reskrim dan Satlantas!" tegas Farhan melalui frekuensi darurat kepolisian. "Saksi kunci dan staf medis RSUD atas nama Arya Wijaya baru saja diculik oleh pelaku pembunuhan berantai! Pelaku menggunakan mobil van tanpa lampu melaju ke arah utara! Lakukan penutupan jalan penuh dan periksa setiap kendaraan tertutup sekarang juga!"

Setelah memberikan instruksi, Farhan berjalan cepat ke tepi jalan, menyalakan mesin mobil dinasnya sendiri. Ia melemparkan sepatu kets Arya ke kursi samping, lalu menginjak pedal gas dalam-dalam hingga roda mobilnya memercikkan air dan lumpur ke udara.

Aku tidak akan membiarkanmu mati, Arya, batin Farhan seraya memegang erat lingkar kemudi. Kamu sudah mempertaruhkan nyawamu demi keadilan Dian dan Bambang. Sekarang giliranku untuk membawamu pulang.

**

Dingin. Rasa dingin yang menjalar dari permukaan semen yang basah dan bau tengik minyak mesin adalah hal pertama yang menyapa kesadaran Arya saat matanya perlahan terbuka.

Rasa sakit bekas sengatan listrik di pundaknya masih merayap bagaikan jarum-jarum halus yang menusuk sarafnya.

Kepala Arya terasa sangat berat, dan pandangannya kabur dalam kegelapan yang hampir pekat. Hanya ada satu titik cahaya kuning remang dari sebuah bohlam menggantung di ujung ruangan yang berkedip-kedip kusam.

Arya mencoba menggerakkan tangannya, namun gesekan kasar rantai besi langsung mengunci pergelangan tangannya di belakang tiang besi tempat ia diikat. Kedua kakinya juga terikat kuat pada kaki kursi kayu tua yang didudukinya.

Arya menarik napas pendek-pendek, dan mencoba menetralkan detak jantungnya yang bergemuruh keras. Ia tahu bahwa rasa panik adalah musuh utamanya saat ini.

"Tarik napas... tenang, Arya... tenang," bisik Arya pada dirinya sendiri.

Di dalam ruangan berukuran sekitar empat kali empat meter itu, tercium aroma bahan kimia pelarut dan formalin yang sangat menyengat, sebuah perpaduan aroma yang janggal namun familiar bagi seseorang yang sehari-hari bekerja di lingkungan rumah sakit dan pemulasaraan.

TAP... TAP... TAP...

Suara langkah kaki bergema perlahan dari balik kegelapan lorong di luar ruangan. Bunyi sepatu kulit berkualitas tinggi yang beradu dengan lantai semen membuat bulu kuduk Arya berdiri tegak.

Sesosok tubuh tinggi tegap melangkah masuk ke dalam pendar cahaya bohlam. Pria itu sudah tidak lagi mengenakan jas hujan transparan, melainkan mantel panjang berwarna hitam dengan potongan rapi.

Wajah bagian bawahnya ditutupi oleh masker medis hitam, sementara matanya dilapisi oleh kacamata berbingkai tipis yang memantulkan bayangan Arya secara dingin.

Di tangan kanannya, pria itu membawa sebuah tas koper logam tebal yang diletakkannya di atas meja periksa stainless steel di samping Arya.

"Kamu akhirnya bangun, Pemulasara," kata pria itu. Suaranya kini tidak lagi menggunakan alat pengubah suara, melainkan suara aslinya, sebuah intonasi yang begitu tenang, berwibawa, dan tertata rapi, persis seperti cara bicara seorang akademisi atau spesialis senior.

Arya menyempitkan matanya, dan mencoba mendeteksi raut wajah pria di hadapannya. "Siapa kamu...? Kenapa kamu membunuh Maya... dan menyeret saya ke sini?"

Pria itu menyunggingkan senyum di balik maskernya, sebuah gerakan halus yang terlihat dari lekukan sudut matanya. Ia merogoh saku mantelnya, mengeluarkan sepasang sarung tangan medis berwarna hitam, lalu mengenakannya satu per satu dengan ketelitian yang luar biasa.

"Nama tidak penting di tempat seperti ini, Arya," jawab pria itu seraya membungkus jarinya. "Tapi untuk memuaskan rasa bahagiamu sebelum semua ini berakhir... kamu bisa memanggilku Dokter Hendrawan."

Jantung Arya berdegup kencang. Nama itu tidak asing! Dokter Hendrawan adalah mantan Kepala Dokter Forensik Kepolisian yang mendadak pensiun dini tiga tahun lalu setelah skandal pemalsuan hasil verifikasi otopsi.

"Kamu... Dokter Hendrawan?" bisik Arya, suaranya parau karena kekeringan di tenggorokan. "Dokter forensik yang dipecat karena menerima suap dari Nusantara Utama Group?"

Hendrawan tertawa pelan, sebuah tawa yang kering dan hampa tanpa emosi. Ia lalu membuka koper logamnya, dan memperlihatkan deretan pisau bedah (scalpel), jarum penjahit jaringan luka, dan ampul-ampul cairan kimia terlarang yang tersusun sangat rapi.

"Dipecat?" potong Hendrawan seraya mengambil sebilah pisau bedah nomor empat dan mengamati kilatan tajam mata pisaunya di bawah pendar lampu. "Istilah yang sangat dangkal untuk seorang ilmuwan yang menyadari batasan ilmu pengetahuan modern. Orang-orang bodoh di institusi itu menganggap aku memalsukan laporan, padahal aku hanya menyempurnakan kebenaran agar sesuai dengan keinginan mereka yang membayar."

Hendrawan melangkah mendekati Arya, hingga berdiri hanya berjarak beberapa senti di hadapan pemulasara muda itu. Ujung pisau bedahnya yang dingin diletakkan tepat di bawah dagu Arya, dan memaksa Arya mendongak menatap matanya.

"Tapi kamu... kamu sungguh sebuah fenomena yang menarik, Arya," puji Hendrawan dengan mata yang memancarkan obsesi gila. "Sejak kasus Bambang Gunawan, aku mengamati dari jauh bagaimana seorang pemulasara biasa bisa menemukan jejak-jejak yang ditinggalkan begitu halus. Awalnya aku kira kamu hanya beruntung. Tapi saat kasus Victor Tanujaya dan gadis bernama Maya itu... aku sadar ada sesuatu yang jauh melampaui sains pada dirimu."

"Kamu membunuh Maya... cuma untuk memancing saya?" tanya Arya dengan rasa mual dan murka yang membuncah di dadanya.

"Maya adalah proyek kecil yang tidak berguna," sahut Hendrawan santai, seraya menarik kembali pisau bedahnya dari leher Arya. "Dia hanya bahan percobaan untuk memastikan apakah analisis yang kamu lakukan berasal dari penglihatan masa lalu atau sekadar deduksi logika. Dan ukiran simpul di pergelangan tangannya... itu adalah undangan khusus dariku untukmu."

Hendrawan merogoh sebuah jarum suntik berukuran besar dari kopernya, lalu mengisi tabung kaca jarum itu dengan cairan bening dari sebuah ampul tanpa label.

"Ilmu pengetahuan selalu membutuhkan pengorbanan, Arya," kata Hendrawan pelan, lalu mendekatkan jarum suntik itu ke arah leher Arya. "Aku ingin tahu bagaimana otak dan sarafmu bekerja saat kamu bersentuhan dengan kematian. Dan cara terbaik untuk mengetahuinya... adalah dengan menempatkanmu tepat di garis batas antara hidup dan mati itu sendiri."

Bersambung...

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
keren kaya baru ❤️
Aurora: iya kak, semoga bisa menghibur para pembaca 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!