Menikah tanpa kehadiran suami bukanlah impian Sheena. Ia terpaksa menandatangani dokumen pernikahan di catatan sipil hanya didampingi oleh ibu mertuanya, sementara Matthias—sang suami—lebih memilih merayakan kelulusan S2-nya di The Spire Of Wisdom tanpa sedikit pun memberi kabar.
Tiga bulan penuh pengabaian membuat hati Sheena mendingin. Saat Matthias pulang dengan aura black flag yang kaku dan dingin, Sheena dipaksa pindah ke mansion pribadi pria itu. Matthias bersikap seolah Sheena hanyalah orang asing yang menumpang hidup, karena hatinya masih tertahan pada sosok gadis kecil di halte bus bertahun-tahun lalu—satu-satunya orang yang membolehkannya menangis.
Matthias tidak sadar, sapu tangan yang ia simpan bagai nyawa adalah milik wanita yang kini ia abaikan di rumahnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, apakah Sheena masih mau menunggu pria yang sudah membuang waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menuju Calapan dan Kamar Kenangan
Kabar dari Calapan datang seperti badai di pagi buta. Nenek Grace jatuh sakit. Beliau terus menggumamkan nama cucu kesayangannya, Matthias, dan menantu barunya, Sheena. Karena bertepatan dengan libur Natal dan Tahun Baru, Sheena tidak punya alasan untuk menghindar. Kuliah kedokterannya sedang jeda semester, dan ayahnya—Batanes Tizon—sudah mewanti-wanti agar ia menjaga martabat keluarga di depan keluarga Smith.
Di terminal feri Batangas, angin laut bertiup kencang. Matthias berdiri menjulang dengan jaket trench coat hitam, kacamata hitam, dan aura yang membuat orang-orang segan mendekat. Di sampingnya, Sheena berdiri dengan ransel dan topi beanie, masih dengan muka ditekuk karena dendam spidol kemarin belum tuntas.
"Bisa tidak kau tidak terlihat seperti sedang menuju pemakaman?" Bisik Matthias saat mereka naik ke dek feri kelas VIP.
"Bisa tidak kau tidak terlihat seperti tiang listrik sombong?" Balas Sheena ketus, bibirnya yang penuh mengerucut kesal. "Aku ke sini demi Nenek Grace, bukan demi kau. Jadi wajar kalau aku khawatir."
Matthias hanya mendengus, namun ia diam-diam memperhatikan Sheena yang kesulitan membawa tas medis tebalnya. Selama dua jam perjalanan laut menuju dermaga Calapan, mereka hanya saling diam. Matthias sibuk dengan tabletnya, sementara Sheena tertidur dengan kepala bersandar di jendela feri, mulutnya sedikit terbuka—membuat Matthias kembali teringat sebutan "babi kecil" yang ia sematkan kemarin.
Begitu sampai di dermaga Calapan, mereka langsung menuju rumah sakit lalu pulang kerumah keluarga Smith di perumahan J.P. Rizal. Rumah itu bergaya kolonial yang asri, jauh berbeda dengan mansion modern di Makati.
Ibu Lee Young Ae menyambut mereka dengan isak tangis lega. "Syukurlah kalian datang. Nenek sudah sedikit tenang setelah tahu kalian dalam perjalanan. Dokter bilang dia hanya butuh istirahat total dan... kebahagiaan dari kalian."
Sheena tersenyum lembut, sifat friendly-nya langsung keluar saat memeluk ibu mertuanya. "Jangan khawatir, Ibu. Sheena akan bantu rawat Nenek."
"Terima kasih, Sayang," Lee Young Ae mengusap pipi Sheena, lalu beralih ke Matthias. "Matthias, bawa istrimu pulang kalian butuh istirahat. Disana pelayan sudah menyiapkan semuanya."
Mereka pun memutuskan untuk pulang karena perjalanan panjang yang sangat melelahkan. Langkah kaki Matthias dan Sheena terhenti serentak di depan pintu kamar kayu jati yang besar. Begitu pintu terbuka...
"Tunggu dulu," Sheena melotot menatap satu-satunya tempat tidur king size yang ada di sana. "Hanya ada satu kasur?"
Matthias menghela napas, menutup pintu di belakang mereka agar suara mereka tidak terdengar sampai bawah. "Ini rumah tua, Sheena. Kamar tamu sedang dipakai sepupuku yang lain untuk liburan Natal. Kau tidak ingin Ibu curiga dan menangis lagi, kan?"
"Tapi kita tidak pernah tidur sekamar!" Sheena memprotes dengan suara bisikan yang tajam. "Aku tidak mau bangun pagi dengan wajah penuh coretan spidol lagi!"
Matthias melepaskan jam tangan mahalnya, lalu menatap Sheena dari ketinggian 204 cm-nya. "Aku terlalu lelah untuk menjahilimu, Babi Kecil. Aku akan tidur di sisi kanan, kau di kiri. Jangan melewati batas tengah kalau kau tidak mau kutendang jatuh."
Sheena mendengus kasar. Ia melempar ranselnya ke sudut ruangan. "Terserah! Tapi kalau tangan raksasamu itu menyentuhku sedikit saja, aku akan mempraktekkan ilmu anatomi saraf padamu. Akan kubuat tanganmu lumpuh seketika!"
Malam itu, di kamar masa kecil Matthias yang penuh dengan kenangan tersembunyi, dua orang asing ini terpaksa berbagi ruang yang sangat sempit. Matthias berbaring kaku, tangannya menyentuh saku celananya—merasakan sapu tangan SK4 yang selalu ia bawa.
Ia tidak sadar, di sampingnya, Sheena sedang menatap langit-langit kamar yang sama dengan yang ia tatap saat ia kecil dulu. Aroma Calapan, aroma hujan tropis, dan aroma keberadaan satu sama lain mulai menyatu, membuat dinding es di antara mereka perlahan-lahan mulai retak tanpa disadari.