Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Lampu-lampu neon yang berkedip menyakitkan mata itu seolah meredup saat Adnan menatap Kinan dengan penuh keyakinan.
"Sekarang, lekas ganti pakaianmu, Kinan. Malam ini juga, kita berangkat ke pondok pesantren saya. Kita menikah di sana," ucap Adnan tegas.
Kinan membelalakkan matanya dan jantungnya serasa berhenti.
"Malam ini? Tapi Ustadz, ni terlalu cepat. Anda bahkan belum benar-benar mengenal saya."
"Saya sudah mengenal nuranimu lewat jam tangan itu. Selebihnya, biarkan waktu yang memperkenalkan kita di bawah ridha Allah," sahut Adnan tanpa ragu.
Kinan menunduk dalam, tangannya meremas gaun pendek yang terasa begitu tipis dan menghina martabatnya sendiri.
Ia beranjak ke loker kecilnya, mengambil tas usang satu-satunya yang ia miliki. Saat ia kembali menemui Adnan, matanya berkaca-kaca.
"Aku hanya punya pakaian ini, Ustadz," bisiknya lirih.
Gaun merah menyala itu masih melekat di tubuhnya, kontras dengan keteduhan wajah Adnan.
"Tidak apa-apa. Mari," ajak Adnan.
Namun, saat mereka baru saja melangkah menuju pintu keluar klub yang remang-remang, sebuah bayangan besar menghalangi jalan.
Tony berdiri di sana dengan wajah merah padam dan napas bau alkohol.
Di belakangnya, beberapa anak buahnya bersiap dengan tatapan mengancam.
"Mau dibawa ke mana dia, Lelaki Alim?" gertak Tony sambil menunjuk wajah Adnan.
"Kinan ini asetku. Dia milikku! Kamu tidak bisa membawanya pergi begitu saja tanpa menebus harganya."
Kinan gemetar saat mendengar perkataan dari Tony.
Ia bersembunyi di balik punggung Adnan. Rasa takut yang selama ini menjajahnya kembali muncul.
Adnan tidak mundur selangkah pun. Ia justru tersenyum tipis, sebuah senyum yang tenang namun penuh wibawa.
Tanpa mengeluarkan kata-kata kasar, ia merogoh saku kokonya dan mengeluarkan ponsel.
"Saya tidak berurusan dengan jual beli manusia, Saudara Tony. Jika Anda tetap menghalangi jalan kami, saya akan langsung menghubungi polisi. Saya rasa pihak berwajib akan sangat tertarik dengan kegiatan di gudang dan klub ini." ucap Adnan sambil menunjukkan bahwa ia akan menghubungi polisi
Tony menelan salivanya saat melihat keberanian yang tak tergoyahkan di mata Adnan.
Ia tahu jika berurusan dengan tokoh agama yang memiliki pengaruh besar seperti Adnan hanya akan membawa kehancuran bagi bisnis gelapnya.
Dengan geraman rendah, Tony meludah ke samping dan memberi isyarat pada anak buahnya untuk memberi jalan.
"Pergilah! Tapi ingat, dia tidak akan pernah bisa mencuci bersih noda di tubuhnya!" teriak Tony penuh kebencian.
Adnan mengabaikan cercaan itu. Ia membimbing Kinan keluar menuju pelataran parkir di mana mobilnya terparkir.
Dengan sopan, Adnan membukakan pintu mobil. Kinan, dengan rasa minder yang luar biasa, hendak melangkah menuju kursi belakang.
"Duduklah di kursi depan, calon istriku," ucap Adnan lembut.
Kinan mendongak, matanya tak percaya. "Tapi saya tidak pantas duduk di samping Anda dengan pakaian seperti ini."
"Kursi ini adalah tempat bagi pendamping hidupku. Mulai detik ini, jangan pernah merasa tidak pantas. Allah sudah mengangkat derajatmu saat kau berniat meninggalkan tempat ini," sahut Adnan.
Dengan tangan gemetar, Kinan duduk di kursi depan.
Sepanjang perjalanan menuju pondok pesantren, hanya suara dzikir lirih Adnan yang memecah keheningan, mengiringi langkah pertama seorang
"pendosa" menuju rumah cahaya.
Jalanan yang sepi membuat mereka lekas sampai.
Gerbang kayu besar Pondok Pesantren Al-Hidayah terbuka perlahan saat mobil Ustadz Adnan memasuki pelataran.
Suara mesin yang halus di tengah sunyi malam itu segera memancing perhatian.
Di asrama putri, beberapa santriwati yang masih terjaga menoleh ke arah jendela.
Salah satunya adalah Fauziah. Wanita anggun, putri seorang kiai terpandang, yang selama bertahun-tahun menyimpan kekaguman—bahkan cinta yang dalam kepada sosok Adnan.
Bagi Fauziah, Adnan adalah cerminan kesempurnaan: alim, teduh, dan berwibawa.
"Ustadz Adnan sudah pulang!" seru Fauziah dengan binar mata yang tak bisa disembunyikan.
Ia segera merapikan jilbabnya dan berlari kecil menyambut sang pujaan hati di pelataran.
Namun, langkah Fauziah mendadak terkunci di aspal dingin.
Jantungnya seolah berhenti berdetak saat pintu depan mobil terbuka.
Adnan turun, lalu dengan sangat sopan, ia membukakan pintu untuk seorang wanita yang sangat asing.
Fauziah berdiri mematung saat melihat seorang wanita dengan pakaian minim yang hanya ditutupi jaket tipis milik Adnan, riasannya berantakan, dan rambutnya yang tergerai tampak liar di lingkungan suci ini.
Aroma parfum klub malam yang menyengat menusuk hidung Fauziah, membuatnya mual sekaligus marah.
"Assalamu'alaikum, Fauziah," sapa Adnan tenang, seolah tidak ada yang salah.
"Wa'alaikumussalam, Ustadz," jawab Fauziah terbata, matanya menatap Kinan dengan pandangan menghina.
"Siapa perempuan ini, Ustadz? Kenapa dibawa ke pondok malam-malam begini dengan pakaian yang seperti itu?"
Adnan tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung.
Sorot matanya menunjukkan ketegasan yang tak bisa dibantah.
"Fauziah, tolong panggilkan Kyai Mansyur. Katakan padanya, saya ingin menghadap di aula sekarang juga. Ini sangat mendesak."
Fauziah menggigit bibir bawahnya. Rasa cemburu dan jijik bercampur menjadi satu.
Tanpa banyak kata, ia berbalik dan berlari menuju kediaman Kyai Mansyur.
Namun langkahnya tidak hanya menuju sang kyai.
Ia menyempatkan diri berbisik pada beberapa santriwati senior di selasar asrama.
"Lihat itu! Ustadz Adnan membawa perempuan jalanan ke sini! Jaga asrama, jangan sampai pengaruh buruknya masuk ke tempat suci ini!" hasutnya dengan suara yang bergetar karena emosi.
Kemudian Adnan meminta agar Kinan tetap duduk disini.
"Aku menemui Ayahku dulu," ucap Adnan.
Kinan menganggukkan kepalanya sambil menundukkan kepalanya.
Adnan berjalan menuju ke lantai atas dimana ayahnya ada disana.
Kyai Mansyur, ayah kandung Adnan, duduk di kursi kebesarannya dengan wajah yang mengeras.
Di hadapannya, Adnan berdiri tegap, sementara Kinan duduk bersimpuh di lantai dengan kepala menunduk dalam, tangannya meremas ujung jaket Adnan seolah itu adalah satu-satunya pegangannya agar tidak jatuh pingsan.
"Adnan! Apa yang kamu kau pikirkan?" suara Kyai Mansyur menggelegar, memecah keheningan malam.
"Kamu pergi untuk berdakwah, tapi pulang membawa fitnah! Kamu tahu siapa wanita ini? Kamu tahu apa yang dibicarakan santri-santrimu di luar sana?"
"Abah," suara Adnan tenang namun berwibawa.
"Saya membawa calon istri saya. Saya datang untuk menunaikan nazar yang telah saya ikrarkan di hadapan Allah."
Kyai Mansyur berdiri, matanya menatap tajam ke arah Kinan yang gemetar.
"Nazar? Menikahi wanita dari tempat maksiat? Kamu ingin menghancurkan nama baik pesantren ini yang sudah kubangun puluhan tahun, Adnan? Kamu adalah penerusku! Martabatmu adalah martabat agama!"
"Martabat agama tidak akan runtuh hanya karena kita menyelamatkan satu jiwa yang ingin pulang, Abah," bantah Adnan dengan lembut namun tajam.
"Justru martabat kita dipertanyakan jika kita menutup pintu bagi mereka yang mencari jalan taubat. Adnan mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."
Di luar aula, di balik jendela yang sedikit terbuka, Fauziah dan beberapa santriwati mendengarkan dengan napas tertahan.
"Dia sudah gila, Ustadz kita sudah disihir oleh wanita pendosa itu. Kita tidak boleh membiarkan pernikahan ini terjadi. Ini adalah penghinaan bagi kita semua yang sudah menjaga kesucian di sini!"
Suasana di pondok malam itu tidak lagi tenang dan sebuah badai besar baru saja dimulai, tepat di jantung tempat yang paling dianggap suci.
ustadz jg manusia bysa😁
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅