NovelToon NovelToon
CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.

Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.

Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."

Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Status 'Online' yang Menyakitkan

Bab 10: Status 'Online' yang Menyakitkan

Matahari pagi di Tanjungbalai tidak pernah datang dengan lembut. Cahayanya menembus ventilasi kamar Rafi yang tidak tertutup gorden, membawa serta hawa lembap khas kota pelabuhan dan suara bising teriakan penjual ikan yang melintas di depan rumah. Namun, hal pertama yang disadari Rafi saat kesadarannya pulih bukan rasa lapar atau gerah, melainkan rasa kosong di dadanya yang langsung menarik ingatannya pada kejadian semalam.

Secara mekanis, tangannya merayap di bawah bantal, mencari benda pipih yang menjadi sumber kecemasannya. Layar ponsel menyala, menampilkan jam 06.15. Notifikasi sistem menunjukkan baterai tinggal 15 persen karena ia lupa mengisi daya semalam. Namun, matanya langsung tertuju pada barisan pesan WhatsApp yang paling atas.

Masih dua centang abu-abu. Pesan ajakan ke Kisaran itu masih membeku di sana.

Rafi menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar seperti ban bocor di keheningan kamar.

Secara analitis, ia mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ini masih pagi, pikirnya skeptis. Mungkin dia belum bangun. Atau mungkin HP-nya masih di-charge di ruang tamu.

Ia bangkit dari kasur, mencoba beraktivitas normal. Ia mandi, memakai seragam yang sudah ia setrika sendiri hingga licin, dan membantu ibunya mengangkat jemuran yang belum kering semalam. Namun, setiap lima menit sekali, jempolnya seolah memiliki magnet yang menariknya kembali ke layar ponsel.

Pukul 07.05. Saat ia sedang mengenakan sepatu yang solnya sudah ia lem dengan kuat itu, ponsel di sakunya bergetar.

Zzt.

Jantungnya berdegup kencang. Ia hampir saja kehilangan keseimbangan. Dengan gerakan cepat, ia merogoh saku celananya. Ia membuka kunci layar, masuk ke ruang obrolan Nisa, dan di sanalah ia melihatnya. Sesuatu yang lebih menyakitkan daripada centang abu-abu yang diam.

Di bawah nama Nisa, tertera tulisan hijau yang sangat jelas: Online.

Napas Rafi tertahan. Ia menatap tulisan itu tanpa berkedip. Online. Artinya, Nisa sedang memegang ponselnya. Nisa sedang membuka aplikasi. Nisa sedang aktif di dunia digital. Tapi, saat matanya beralih ke bawah, ke arah pesannya sendiri, dua centang itu masih tetap berwarna abu-abu.

"Dia nggak buka chat-ku," bisik Rafi. Suaranya terdengar hambar di telinganya sendiri.

Secara logis, ini adalah sebuah anomali emosional. Nisa sedang aktif, yang berarti sinyal di daerahnya bagus. Nisa sedang aktif, yang berarti dia punya kuota. Nisa sedang aktif, namun dia memilih untuk melewati percakapan dengan Rafi.

Rafi berdiri mematung di teras rumah. Ia mengamati status 'Online' itu yang terkadang hilang, lalu muncul lagi beberapa detik kemudian. Ia mulai membayangkan apa yang sedang dilakukan Nisa. Mungkin dia sedang membalas pesan dari grup kelas? Mungkin dia sedang mengobrol dengan temannya tentang rencana hari Sabtu yang lain? Atau, yang paling skeptis: dia sengaja mengabaikan pesan Rafi karena menganggap ajakan naik bus ke Kisaran adalah sesuatu yang tidak layak untuk segera ditanggapi.

"Mungkin dia lagi sibuk balas chat penting," Rafi mencoba melakukan pembelaan diri secara struktural. Namun, sisi analitis di kepalanya menolak mentah-mentah. Seberapa penting sampai tidak bisa membuka chat dua baris yang sudah mengendap selama sepuluh jam?

Budaya "pilih-pilih chat" di lingkungan remaja memang kejam. Status sosial sering kali diukur dari seberapa cepat seseorang merespons pesanmu. Jika kau dianggap penting atau punya "spek" yang tinggi, balasan akan datang dalam hitungan detik. Jika kau dianggap beban atau sekadar teman biasa yang membosankan, pesanmu akan dibiarkan membusuk di barisan bawah, hanya dibaca lewat bar notifikasi agar centangnya tidak berubah biru.

Pukul 07.20. Status Online itu akhirnya menghilang, berganti dengan: Terakhir dilihat hari ini pukul 07.20.

Rafi merasa lemas. Ia duduk di tangga teras, mengabaikan debu yang menempel di celana sekolahnya. Pengabaian ini terasa lebih berat daripada rasa lapar saat ia makan nasi garam di pojok kelas. Pengabaian ini adalah serangan langsung terhadap harga dirinya.

"Apakah 315 ribu ini benar-benar tidak ada artinya?" gumamnya sambil meraba saku tempat ia menyimpan dompet kempisnya.

Secara rigoritas ekonomi, Rafi telah mengalokasikan sumber daya yang sangat besar (tenaga begadang, porsi makan, dan waktu) untuk proyek "Kencan Kisaran". Namun, dalam pasar perasaan, nilai investasinya saat ini sedang merosot tajam. Ia merasa seperti investor yang menanam modal pada saham bodong.

Ibunya keluar dari pintu, membawa bungkusan nasi untuk sarapannya. "Rafi, kenapa belum berangkat? Nanti telat kau, bus angkot jam segini penuh."

"Iya, Mak. Ini mau berangkat," jawab Rafi, mencoba menyembunyikan getaran di suaranya.

Ia berdiri, menyandang tasnya yang ritsletingnya sudah rusak. Ia berjalan kaki menuju simpang jalan untuk menunggu angkot. Setiap langkah yang ia ambil terasa berat. Bunyi sol sepatunya yang menapak aspal tidak lagi terdengar klepak-klepak, lemnya memang kuat. Tapi apa gunanya sepatu yang kokoh jika kaki yang memakainya tidak tahu harus melangkah ke mana?

Di dalam angkot yang sesak dan panas, di antara aroma keringat penumpang lain dan asap rokok sopir, Rafi kembali membuka ponselnya. Ia memeriksa status WhatsApp Nisa.

Baru saja diunggah 2 menit yang lalu: Sebuah foto cermin (selfie mirror) Nisa yang sudah rapi mengenakan seragam SMK, lengkap dengan tas kecil yang modis. Caption-nya singkat: "Semangat sekolah! ✨"

Dada Rafi terasa sesak. Nisa punya waktu untuk mengambil foto, membuka aplikasi kamera, memilih filter, mengetik caption, dan mengunggahnya ke status. Tapi dia tidak punya waktu tiga detik untuk menyentuh nama Rafi dan mengetik satu kata balasan.

Secara analitis, ini adalah konfirmasi. Nisa bukan tidak bisa melihat pesan itu. Nisa sengaja tidak ingin masuk ke dalam percakapan itu.

"Aku ini apa bagi dia?" pikir Rafi pahit.

Rasa minder yang ia coba lawan selama lima bab sebelumnya kini kembali dengan kekuatan penuh.

Ia melihat penampilannya di pantulan kaca angkot yang kotor. Kemeja putih yang sudah mulai menguning di bagian kerah, wajah yang tampak kusam karena kurang tidur, dan ponsel retak yang baterainya kini tinggal 12 persen.

Masyarakat Tanjungbalai yang ia lihat dari jendela angkot tampak terus bergerak tanpa peduli pada penderitaan mentalnya. Penjual kerang tetap menimbang dagangannya, tukang becak tetap mengayuh pedalnya. Dunia tidak berhenti hanya karena seorang remaja merasa diabaikan oleh centang abu-abu.

"Mungkin aku memang nggak selevel," bisiknya.

Namun, di tengah rasa sakit itu, sebuah pemikiran logis muncul. Kalau dia benar-benar tidak mau, kenapa dia tidak langsung menolak? Kenapa dibiarkan menggantung? Apakah Nisa sedang melakukan tes mental? Atau apakah dia sendiri sedang bingung harus menjawab apa?

Rafi mematikan ponselnya. Ia memutuskan untuk tidak membukanya lagi sampai jam istirahat sekolah. Ia harus menghemat baterai yang tinggal sedikit itu, sekaligus menghemat harga dirinya yang sudah terkuras habis pagi ini.

Setibanya di depan gerbang SMA 3, Rafi melihat Dika yang turun dari motor matic keluaran terbaru, tampak segar dan tanpa beban.

"Woi, Fi! Pucat kali mukamu? Begadang lagi kau ngetik tugas si Doni?" seru Dika sambil tertawa.

Rafi hanya memaksakan senyum tipis. "Iya, Dik. Biasalah, kejar setoran."

"Jangan dipaksa kali, Fi. Nanti sakit kau, nggak jadi kita main bola sore nanti," kata Dika sambil merangkul bahu Rafi masuk ke koridor sekolah.

Rafi terdiam. Main bola? Pikirannya saat ini hanya tertuju pada satu hal yang jauh lebih krusial. Hari Sabtu tinggal beberapa hari lagi. Jika pesan itu tetap tidak dibalas sampai sore ini, maka rencana besarnya akan runtuh secara struktural.

Sepanjang jam pelajaran pertama, saat guru menjelaskan tentang sejarah kolonialisme, pikiran Rafi justru terjajah oleh bayangan status 'Online' Nisa. Ia merasa seperti tawanan digital yang menunggu keputusan eksekusi. Setiap kali ada getaran di saku celananya, hatinya melonjak, hanya untuk kecewa saat menyadari itu hanyalah pemberitahuan dari grup kelas yang membahas iuran kas.

Secara emosional, ia lelah. Secara tekad, ia mulai retak. Namun, di sudut hatinya yang paling dalam, masih ada sedikit harapan yang tersisa—harapan bodoh yang mengatakan bahwa mungkin, hanya mungkin, Nisa sedang mencari waktu yang tepat untuk memberikan jawaban "Ya".

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!