Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.
Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.
Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.
Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Elena tidak pernah membayangkan bahwa ia akan menghitung waktu dengan cara seperti ini, bukan menghitung hari menuju sesuatu yang menyenangkan, tapi menghitung hari sejak sesuatu yang menyakitkan perlahan dimulai tanpa ia sadari.
Satu tahun sejak Adrian pergi ke kota dengan satu koper besar dan sejuta janji di bibirnya.
Satu tahun sejak Evan berhenti berlari ke depan pintu setiap kali mendengar suara motor berhenti di luar karena akhirnya ia mengerti bahwa itu tidak pernah ayahnya.
Satu tahun sejak Ara terakhir kali bertanya, "Ayah kapan pulang, Bu?" dan Elena tidak punya jawaban yang jujur untuk diberikan.
Pagi itu Elena duduk di teras kontrakan kecil mereka, secangkir teh di tangannya yang sudah dingin karena terlalu lama tidak diminum. Ara masih tidur. Evan sudah berangkat sekolah diantar tetangga sebelah. Suasana kampung sudah mulai hidup, sayup-sayup terdengar suara ibu-ibu mengobrol di sebrang rumahnya, suara gerobak bubur keliling dan mangkok yang di bunyikan oleh benturan sendok sebagai ciri khas pedagang bubur di kampung sudah terdengar, suara TV tetangga yang volumenya terlalu keras dari sejak pagi.
Tapi Elena tidak mendengar semua itu. Pikirannya melayang entah kemana. Matanya menatap layar ponselnya yang sudah retak layarnya tapi untungnya masih bisa ia gunakan.
Ia menatap WhatsApp Adrian. Terakhir dilihat: tadi malam, pukul 23.14.
Artinya ia aktif. Artinya ia membuka ponselnya. Artinya ia hidup dan sehat dan entah sedang melakukan apa di kota sana pada jam sebelas malam tapi tidak membalas satu pun pesan Elena yang sudah menumpuk sejak lama.
Elena menggulir ke atas, membaca ulang pesan-pesannya sendiri yang hanya bercentang dua biru tanpa balasan.
"Adrian, Ara demam tadi malam. Sudah mendingan sekarang."
Dibaca. Tidak dibalas.
"Uang kontrakan bulan ini belum ada. Yang punya kontrakan sudah datang menagih beberapa kali. Bisa transfer dulu?"
Dibaca. Tidak dibalas.
"Kamu baik-baik saja kan? Aku cuma mau tahu."
Dibaca. Tidak dibalas.
"Adrian."
Dibaca. Tidak dibalas.
Elena mengunci layar ponselnya dan meletakkannya di pahanya. Ia tidak marah. Atau mungkin ia sudah terlalu lelah untuk marah.
Awalnya semua baik-baik saja. Adrian pergi ke kota dengan semangat yang membuat Elena ikut percaya bahwa segalanya akan berubah lebih baik. Dua bulan pertama ia rajin menghubungi , video call setiap malam sebelum tidur, Evan dan Ara berebut muka di kamera, Adrian tertawa dari layar ponsel dengan wajah yang lelah tapi bahagia.
Ia cerita tentang kamar kos sempit yang ia tempati, tentang kerasnya bersaing di kota, tentang mie instan yang hampir setiap hari ia makan. Dan selalu, di akhir setiap video call, ia mengucapkan hal yang sama.
"Aku kangen kalian. Doakan aku ya, El."
Elena mendoakannya. Setiap malam, di setiap sujudnya tanpa terlewatkan sekalipun.
Dan doanya terjawab, Adrian mendapat pekerjaan. Bukan pekerjaan biasa. Ia masuk sebagai staf di perusahaan swasta yang cukup besar, naik jadi supervisor, lalu tidak lama kemudian naik lagi jadi manager. Transfer uang mulai masuk rutin ke rekening Elena, meskipun tidak banyak karena Adrian berkata ia juga butuh biaya untuk hidup di kota dan untuk membeli baju serta kebutuhan untuknya bekerja, tapi bagi Elena uang yang di berikan Adrian berapapun ia selalu menerimanya dengan rasa syukur, meskipun uang itu hanya cukup untuk kontrakan, beras, dan keperluan sekolah Evan saja.
Elena merasa semuanya berjalan sesuai rencana. Sampai frekuensi video call mulai berkurang.
Dari setiap malam jadi tiga kali seminggu. Dari tiga kali seminggu jadi sekali. Dari sekali seminggu jadi hanya kalau Elena yang menelepon duluan. Dan lama-lama bahkan kalau Elena yang menelepon pun, Adrian sering tidak mengangkat dengan alasan yang selalu sama.
"Lagi rapat."
"Lagi di jalan."
"Lagi sibuk, nanti aku hubungi balik."
Tapi ia tidak pernah menghubungi balik.
Transfer uang berhenti enam bulan lalu tanpa penjelasan. Elena menunggu seminggu, dua minggu, sebulan, berharap ada pesan masuk dengan penjelasan atau setidaknya permintaan maaf. Tidak ada. Ia terpaksa meminjam uang ke tetangga untuk kontrakan, dan bekerja serabutan untuk menyambung hidup, sambil terus mencoba menghubungi Adrian yang responsnya semakin menghilang.
Sampai sekarang tanpa satu kata pun. Tanpa penjelasan apapun.
Elena berdiri dari kursi plastik di teras dan membawa cangkir tehnya ke dalam.
Kompor gas dinyalakan dengan klik yang sudah harus ditekan berkali-kali sebelum nyala. Tabung gas melon di sampingnya sudah ringan saat ia goyangkan paling dua hari lagi habis. Ia belum tahu uang dari mana untuk gantinya.
"Buu...."
Ara muncul dari kamar dengan rambut awut-awutan, memeluk boneka kelincinya yang sudah botak bulunya. Wajahnya masih sembab bekas demam kemarin malam.
"Sudah mendingan?" Elena jongkok, menempelkan punggung tangan ke dahi Ara. Masih hangat, tapi tidak sepanas semalam.
Ara mengangguk. "Lapar."
"Sebentar ya."
Ara duduk di lantai dapur, memangku boneka kelincinya, memandangi ibunya memasak. Elena tersenyum kecil.
Di luar suara ibu-ibu tetangga terdengar, salah satunya menyebut nama tetangga tiga pintu dari sini yang katanya baru dibelikan motor sama suaminya yang kerja di luar kota.
Elena mengalihkan telinganya.
Pukul dua belas siang, saat Ara tidur siang dan rumah sepi, Elena duduk di tepi tempat tidur dan menelepon Adrian untuk keempat kalinya hari itu.
Nada tunggu.
Dua kali.
Tiga kali.
Masuk voicemail.
Elena menghembuskan napas pelan lalu menutup telepon. Ia tidak meninggalkan pesan, sudah tidak tahu lagi harus berkata apa.
Ia berbaring di kasur, menatap langit-langit yang catnya mulai mengelupas di sudut atas, dan membiarkan pikirannya pergi ke tempat yang selama ini selalu ia coba hindari.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sana?
Adrian, kamu masih ingat kami, kan?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak punya jawaban.
Dan Elena tidak menangis, bukan karena tidak sakit, tapi karena air matanya seperti sudah belajar untuk menunggu. Menunggu sampai ia benar-benar tahu apa yang harus ditangisi.
Jawabannya datang siang itu.
Bu Ratih tetangga depan rumah yang baru pulang dari kota, mengetuk pintu dengan wajah yang tidak bisa Elena baca.
"Elena, boleh ibu masuk sebentar?"
Elena mempersilakannya duduk di sofa kempes bermotif bunga. Bu Ratih menggenggam tangan Elena dengan cara yang membuat perutnya langsung terasa tidak enak.
"Ibu mau cerita sesuatu. Ibu harap kamu kuat ya, Nak."
Elena menatap perempuan tua di depannya. Dadanya mulai berat bahkan sebelum Bu Ratih melanjutkan.
"Waktu ibu di kota kemarin, ibu lihat Adrian." Bu Ratih menghela napas panjang. "Dia keluar dari gedung kantor naik mobil bagus. Dan dia tidak sendirian, Elena."
Hening jatuh memenuhi ruangan.
"Perempuannya cantik. Mereka terlihat..." Bu Ratih berhenti sebentar. "Sangat dekat."
Elena tidak bergerak.Tidak berkedip. Tidak bernapas selama dua detik penuh. Jantung nya seakan mencelos, rasa sakit tiba-tiba menyerang dadanya.
Ia mencoba untuk tenang, lalu tersenyum kecil.
"Terima kasih sudah memberitahu, Bu Ratih."
"Elena, kamu baik-baik saja?"
"Baik-baik saja." Elena menggenggam tangan perempuan tua itu sebentar. "Benar-benar baik-baik saja."
Bu Ratih akhirnya pamit dengan wajah yang masih khawatir. Elena mengantar perempuan tua itu sampai pintu, melambaikan tangan, dan tersenyum sampai pintu tertutup.
Lalu senyum itu runtuh. Elena berdiri di belakang pintu yang tertutup itu, punggungnya menempel di kayu pintu, dan untuk beberapa detik ia hanya diam. Tidak bergerak. Seperti tubuhnya belum tahu harus melakukan apa dengan informasi yang baru saja diterimanya.
Mobilnya bagus.
Mobilnya bagus, Elena.
Sementara ia di sini menghitung sisa uang receh untuk membeli dua butir telur. Sementara tabung gas melon di dapur tinggal dua hari lagi habis dan ia belum tahu dari mana uangnya. Sementara ia bergadang sendirian mengompres Ara yang demam sambil mengirim pesan ke suaminya yang bahkan tidak sudi membalas satu kata pun.
Elena menutup mulutnya dengan telapak tangan. Bahunya berguncang.
Air mata itu datang tanpa permisi, dadanya langsung terasa sesak, terasa seperti ada yang meremas dari dalam. Ia merosot perlahan sampai duduk di lantai dengan punggung masih menempel di pintu, ia menangis dengan suara yang ia tahan sekuat mungkin agar Ara yang sedang tidur siang tidak terbangun.