“Capek tidak, Sayang? Aku masih mau sekali lagi.”
“Kamu kuat sekali, Mas,” jawab istrinya sambil tersenyum lelah.
Tama tertawa pelan dan mencium pipi wanita itu dengan penuh kasih. Namun beberapa detik kemudian ia bertanya pelan,
“Sudah diminum pilnya?”
Senyum sang istri perlahan memudar.
“Harus terus, Mas? Aku lelah minum pil KB…”
Tama terdiam sejenak sebelum mengelus rambutnya lembut.
“Turuti saja, Sayang. Ini demi kebaikan kita.”
Istrinya tidak pernah benar-benar mengerti mengapa Tama selalu menolak memiliki anak.
Malam kembali hening saat Tama memeluknya dari belakang. bayangan masa lalu itu kembali datang.
Sebuah rahasia yang selama ini ia sembunyikan.
“Aku takut kamu meninggalkanku jika tahu siapa aku sebenarnya,” bisiknya dalam hati.
Karena jauh di masa lalu, Tama pernah melakukan sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia lupakan.
Dan jika kebenaran itu terungkap…
yang hancur bukan hanya rahasianya.
Tetapi juga pernikahan yang selama ini ia jaga mati-matian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA PULUH EMPAT JAM !
BAB 19
“Bagaimana? Hasilnya sudah keluar?” Lelaki bernama tio itu menghadap pada sang Bos, satu Karyawannya ini sangat di percaya untuk menyelidiki sesuatu.
“Mira Setiana Dewi..” Tio memberikan satu lembaran kertas putih dan Tama langsung membacanya.
“Sial!! Jadi wanita itu Mantan Istri Dani?” Tio mengangguk membenarkan isi pikiran Sang Bos.
“Astaga! rendah sekali seleranya..” Tama tertawa jelas saja dia mengolok – olok sang Musuh, pasalnya, wanita yang merupakan Mantan Istri musuhnya itu sangat mudah menggoda lelaki lain.
"Apa yang harus saya lakukan?” Tio menarik kursi di depan meja sang Bos, dan keduanya berdiskusi.
“Sein, keruanganku!” melalui Telepon di mejanya Tama langsung memanggil Pedang Awannya.
“Ada apa Pak?”
Selin menghadap dan Tama langsung meminta Tio menarik Kursi untuk sang Asisten.
“Lihat ini dan amatilah..”
Selin langsung menggelengkan kepala, dia pun tidak menyangka dengan hasil penyelidikan, dengan begini apa yang harus mereka lakukan.
“Apa Dani sudah menikah lagi?”
“Sepertinya tidak Pak, dia hanya memiliki satu orang putra, dan dua wanita yang selalu bersamanya.” Ucap Tio yang fokus pada Ipad di tangannya.
“Wanita bayaran?”
“Mungkin Pak, saya juga belum mencaritahunya..”
Tama mengusap kedua tangannya, sungguh dia sangat gemas dengan musuhnya itu.
“Sein, tolong hubungi Pak Cahyo, adakan Rapat siang ini..”
“Baik Pak..”
Tama membuka laci mejanya di sana tersedia satu Pistol, dia mengambilnya dan menyembunyikan di balik Jas hitamnya.
Sedangkan di luar sana terlihat Alisya begitu asik dengan sahabatnya, Jessika Putri, keduanya begitu dekat sejak kecil baik Alisya maupun Jessika keduanya besar di Panti Asuhan, Jessika adalah anak ibu panti yang selalu dekat dengannya.
Dan ini adalah pertemuan mereka setelah sekian lama, usai menikah dengan Tama kini Alisya merantau ke Jakarta, pernah beberapa kali mereka saling menghubungi melalui telepon genggam, tapi hari inilah pertemuan mereka.
“Aku senang sekali bisa bertemu dengan kamu Al..”
“Iya Jess, aku juga senang sekali, bagaimana kabarmu?”
“Aku baik..” Ucap wanita berambut pendek itu, terlihat keduanya memang saling menyayangi.
“beda ya memang, sekarang sudah menjadi Istri orang kaya, penampilan kamu saja benar – benar berubah drastis.”
Alisya tersipu malu, dia tidak mau mengungkapkan sekaya apa memang Suaminya, karena Alisya bukanlah orang yang suka Pamer.
“Setidaknya cukup Jess..”
“Ini bukan hanya cukup Al, bahkan tujuh turunan pun tidak akan habis..” Keduanya tertawa.
“Ah iya.. Kamu dapat salam dari Kak Dion..”
“Kak Dion? Ah iya.. bagaimana kabarnya? Aku rindu sekali..”
Keduanya berbincang begitu asik, Alisya tak memperdulikan tatapan seorang begitu fokus padanya, karena tak jauh dari Alisya dan Jessika duduk ada Argo yang berjaga, Orang kepercayaan Tama itu selalu memastikan nona mudanya selalu baik – baik saja.
“Kak Dion sudah tiga tahun lalu tinggal di jakarta, Karirnya sangat bagus, dia di mutasi ke Jakarta, memang kamu belum tau?”
Alisya menggelengkan kepala, dia menatap Jessika yang begitu asik bercerita.
“Aku kan tidak pernah menghubunginya semenjak menginjak jakarta, sampaikan saja salamku pada Kak Dion”
Jessika mengangguk dan mengetikan sesuatu di ponselnya, tak lama ponsel itu berdering.
“Tuh orangnya telepon, angkat saja AL..”
Dengan semangat Alisya mengangkat sambungan telepon, dan rupanya itu Video Call.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,, Kak Dion? Benar ini Kakak?”
Pria di layar ponsel itu tersenyum, sehingga senyumannya menular pada Alisya.
“Alisya,, akhirnya aku bisa melihat kamu lagi, bagaimana kabarmu? Sehat?”
Alisya mengangguk dengan kedua mata yang sudah berlinang.
“hey kenapa menangis?” Ucap Dion dengan lembut Dan Alisya menggelengkan kepala.
“Kakak Jahat sama Aku, kenapa tidak menghubungi aku saat tiba di Jakarta?”
“Maafkan Kakak Sya, Kakak hanya takut mengganggu kamu..”
Mereka bertiga dekat sejak di Panti, Alisya memang sangat dekat dengan Dion karena sejak kecil Dion selalu melindunginya, dan apabila Alisya sedang dalam masalah atau kesulitan pasti Dion yang selalu ada. Dan lelaki tampan itu lebih dewasa tiga tahun di atas Alisya dan Jessika.
“Bagaimana pernikahan kamu Sya? Apa Suamimu memperlakukan kamu dengan baik? Aku lihat wajahmu bahagia.." Alisya mengangguk dengan mengusap air matanya.
“Aku bahagia Kak, Suamiku sangat sayang padaku,”
“Syukurlah..” Keduanya tersenyum, Dion adalah lelaki yang sangat baik, dia sangat menjaga Dua adiknya yaitu Jessika dan Alisya, walaupun tidak satu darah tapi Dion sudah menganggap keduanya seperti adik sendiri, karena mereka besar bersama di Panti.
Sayangnya, Dion lebih dulu di Adopsi seseorang pengusaha di Surabaya dari situlah mereka berpisah.
“Tolong kamu save nomer kakak Sya, hubungi Kakak jika kamu membutuhkan sesuatu..” Alisya mengangguk dia melambaikan tangan pada lelaki pertama yang sudah membuatnya nyaman sejak kecil.
“Kenapa Kak Dion jadi semakin tampan?”
“Ya karena dia banyak uang, dia sudah menjadi kepala kepolisian sekarang, dan karirnya semakin melejit semenjak kenaikan pangkatnya.”
“Syukurlah.. aku senang mendengarnya..”
Usai melepas rindu Alisya kembali ke rumah, si cantik itu pulang dengan selamat, Argo benar – benar menjaganya dengan baik.
“Bu Alisya pulang dengan selamat Pak.”
Tama yang mendapatkan pesan tersebut akhirnnya bisa bernafas lega, sejak Meeting di mulai lelaki ini tak bisa fokus karena terus memikirkan Istrinya yang keluar rumah tanpa dirinya.
“Bagaimana Mr Naka Castellano?
Si tampan itu menoleh dan benar saja dia baru menyadari ruangan Meeting sudah sangat Ramai, Ada beberapa kolega kerjanya sampai Partner bisnisnya.
“Ah maaf, sampai mana tadi saya tidak fokus?”
Beberapa dari mereka tertawa, Selin yang mendengar ungkapan sang bos hanya bisa menggelengkan kepala.
“Apa benar kejadian malam lalu ulah dari Pak Dani?”
Tama mengusap kedua telapak tangannya, selama ini dugaannya tidak pernah salah dan Tama bisa memastikan itu.
“Jika Iya, Tuan mau saya apakan Dani?”
“Sepertinya terlalu sulit jika kita menggugurkan Bosnya, mungkin lebih dulu anak buahnya..” Tama tersenyum dan sepertinya mereka lupa jika siapa Tama sebenarnya.
“Apa Tuan baru saja meremehkan Bos kami?” Tama hanya tersenyum dengan melipat kedua tangannya. Si tampan itu membiarkan Sang Asisten yang berbicara..
“Salah jika Tuan meragukan Bos kami..” seketika aura berubah di ruangan itu, padahal Ac sudah full menyala tapi entahlah berubah menjadi panas.
Brak!
Semua mata mendelik saat melihat Tama melemparkan satu benda dari dalam jasnya, benda yang di yakini membuat mulut siapapun menjadi bungkam.
“Tolong beritahu saya, akan saya arahkan kemana benda ini?”
Gleg!
Lelaki Paruh baya bernama Cahyo itu menelan salivanya sudah payah, sepertinya dia salah mengartikan diamnya seorang Tama.
“Maaf Mr Naka, tapi saya cemas, Mr akan tumbang di medan perang!”
“Jangan membuatnya marah Tuan..” Selin memberi peringatan, dia menatap Tama yang sepertinya sedang menahan amarahnya.
Tok..
Tok..
Dua pria berjas hitam masuk kedalam ruangan, Bayu dan Tio mereka datang dengan Ipad di tangan mereka.
“Pak tolong liat ini.”
Tama menegakkan badan, dia menatap Bayu dan Tio secara bersamaan.
“Kalian yakin?”
“Saya sangat yakin Pak.”
Bayu dan Tio berucap dengan tegas, dan Tama hanya tersenyum mengetaui satu Fakta yang menurutnya menarik.
“Beri saya waktu satu kali dua puluh empat Jam, saya akan membawa kepala Dani ke depan Tuan Cahyo!”
Tegas dan penuh keyakinan, ucapan Tama itu bahkan membuat satu ruangan mendelik sempurna.
suka sama karakter Tama walaupun kejam dan cuek tapi sama istri selalu lembut
love banget pokonya 😗 😗
antagonis mulai keluar nih kayanya