Bagi Liana, mencintai Justin dimulai dari sebuah sore di lobi kampus. Hanya karena melihat Justin bermain basket di bawah hujan, Liana nekat mengejar pria dingin itu hingga mereka bersatu di tengah lapangan basket yang basah.
Namun, janji itu hancur saat Justin memutusnya secara sepihak di hari kelulusan Justin dan menghilang tanpa jejak.
Tiga tahun kemudian.
Liana terkejut saat harus berhadapan dengan CEO baru di kantor tempatnya melamar kerja. Justin kembali, namun ia kini asing, dingin, dan terjebak dalam pusaran perjodohan.
Meski waktu berlalu, Liana menyadari: "There was something about you that I can't forget." Hidupnya tetap terjebak pada melodi yang sama Lagu kesukaannya "About You" milik The 1975. Karena baginya, ini masih tentang Justin di setiap detiknya.
Apakah takdir memberi mereka kesempatan kedua, ataukah hujan kali ini benar-benar menghapus jejak mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Luka di Tengah Sorak-Sorai
Hari yang dinanti akhirnya tiba. GOR Patriot yang menjadi lokasi pembukaan turnamen Cakrawala Cup sudah dipenuhi oleh lautan manusia. Warna-warni jersey dari berbagai universitas berpadu dengan spanduk dukungan yang membentang di tribun. Suara tabuhan drum dari tim perkusi masing-masing kampus menciptakan dentuman yang memacu adrenalin siapa pun yang mendengarnya.
Di ruang ganti tim putri Universitas Cakrawala, ketegangan terasa sangat pekat. Liana duduk di bangku kayu panjang, mencoba mengatur napasnya yang memburu. Ini adalah debut pertamanya di turnamen resmi.
"Li, gugup ya?" tanya Dhea sambil mengikat tali sepatunya kencang-kencang.
Liana mengangguk kecil. "Banget, Dhe. Takut ngecewain Kak Kaila, takut bikin malu tim."
"Tenang, ada 'Kapten' yang siap jagain di pinggir lapangan nanti," goda Dhea sambil menyikut lengan Liana.
Liana tersenyum tipis. Ia teringat pesan singkat dari Justin pagi tadi: "Main yang tenang. aku bakal selalu liatin kamu dari bangku ofisial." Pesan sederhana itu menjadi kekuatannya.
Liana kemudian meraih tas olahraganya. Ia mengeluarkan sepatu basket kesayangannya yang berwarna putih dengan aksen biru—sepatu yang selalu ia simpan di rak khusus GOR kampus. Tanpa curiga sedikit pun, Liana memasukkan kaki kanannya ke dalam sepatu, lalu kaki kirinya.
Deg.
Sesaat, Liana merasakan ada sesuatu yang mengganjal di bagian depan sepatunya, dekat area jempol. Namun, karena rasa gugup yang luar biasa dan teriakan Kaila yang menyuruh semua anggota berkumpul, Liana mengabaikannya. Ia berpikir mungkin itu hanya lipatan kaus kaki yang tidak rapi. Ia mengikat tali sepatunya kuat-kuat, melakukan stretching singkat, dan berlari keluar menuju lapangan mengikuti rekan setimnya.
Pertandingan pertama adalah melawan Universitas Siberian, tim yang terkenal dengan permainan fisiknya yang kasar. Begitu peluit tip-off dibunyikan, atmosfer lapangan langsung memanas.
Liana bermain sebagai Shooting Guard. Ia berlari lincah, melakukan dribble cepat, dan memberikan umpan-umpan akurat. Di pinggir lapangan, Justin berdiri dengan tangan bersedekap, matanya tidak pernah lepas dari pergerakan Liana. Ia tampak bangga melihat gadisnya bisa beradaptasi dengan cepat di tengah tekanan.
Namun, memasuki kuarter kedua, Liana mulai merasakan sesuatu yang aneh. Setiap kali ia melakukan tumpuan untuk melompat atau melakukan pivot, rasa perih yang tajam menusuk ujung kakinya.
Aneh... kok makin sakit ya? batin Liana.
Ia mencoba bertahan. Ia tidak ingin diganti di tengah pertandingan krusial ini. Namun, saat ia melakukan drive cepat menuju ring lawan, rasa sakit itu meledak. Rasanya seperti ada jarum atau serpihan kaca yang tertanam di dalam sepatunya, dan setiap langkah yang ia ambil justru menekan benda itu semakin dalam ke dagingnya.
Liana meringis, langkahnya sedikit pincang.
"Liana! Fokus! Defense!" teriak Kaila dari pinggir lapangan.
Liana mencoba berlari kembali, namun keringat dingin mulai mengucur di pelipisnya. Bukan karena lelah, tapi karena menahan rasa sakit yang luar biasa. Cairan hangat mulai terasa merembes di dalam kaus kakinya. Ia tahu itu darah.
Justin, yang memiliki mata setajam elang, menyadari perubahan cara lari Liana. Bahu gadis itu tampak kaku, dan setiap kali kaki kanannya menyentuh lantai, wajahnya tampak mengernyit menahan sakit.
"Kai, ada yang nggak beres sama Liana," bisik Justin pada Kaila.
Kaila memperhatikan Liana selama beberapa detik. "Iya, dia pincang. Liana! Time out!"
Peluit berbunyi. Para pemain kembali ke bangku cadangan. Begitu sampai di bangku, Liana langsung terduduk lemas. Wajahnya pucat pasi.
"Li, lo kenapa?" tanya Dhea panik melihat Liana memegangi kaki kanannya.
"Kaki gue... sakit banget, Dhe. Kayak ada sesuatu di dalem sepatu," rintih Liana.
Justin tidak menunggu instruksi siapa pun. Ia langsung berlutut di depan Liana, mengabaikan tatapan ratusan penonton di tribun yang mulai berbisik melihat sang kapten putra turun tangan. Dengan cepat namun hati-hati, Justin membuka ikatan tali sepatu Liana.
Begitu sepatu itu ditarik lepas, semua orang di sana tersentak. Kaus kaki putih Liana di bagian ujung sudah berubah menjadi merah pekat karena darah.
"Ya Tuhan! Liana!" pekik Kaila.
Justin segera menarik kaus kaki Liana. Di sana, di antara jempol dan telapak kaki Liana, terdapat luka robek yang cukup dalam. Justin kemudian meraih sepatu basket Liana, membalikkannya, dan menggoncangnya dengan keras.
Tring... klak...
Beberapa serpihan kaca kecil yang tajam dan beberapa buah isi stapler yang sudah ditekuk tajam jatuh ke lantai lapangan. Tidak hanya itu, ada sisa bubuk putih yang menempel di bagian dalam kain sepatu—bubuk gatal yang jika terkena luka akan menimbulkan rasa perih luar biasa.
Suasana di bangku pemain mendadak senyap. Ini bukan kecelakaan. Ini sabotase.
"Siapa..." suara Justin terdengar sangat rendah dan bergetar karena amarah yang memuncak. Matanya yang biasanya sedingin es kini tampak menyala seperti api. "Siapa yang berani lakuin ini?!"
Justin mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. Ia teringat kejadian beberapa hari lalu, teringat siapa saja yang memiliki akses ke ruang peralatan, dan teringat siapa yang paling membenci Liana.
Liana mulai terisak, bukan hanya karena rasa sakit fisiknya, tapi karena rasa takut dan sedih pertandingannya harus berakhir seperti ini. "Kak... sakit..."
Justin langsung mengangkat Liana ke dalam pelukannya. "Bawa kotak P3K ke ruang medis sekarang!" perintahnya pada petugas ofisial.
Sambil menggendong Liana menuju ruang medis, mata Justin menyapu ke arah tribun penonton. Di sana, di barisan agak belakang, ia melihat Alena duduk dengan wajah tenang, namun ada senyum kemenangan yang tipis di bibirnya. Alena balas menatap Justin, seolah ingin mengatakan, "Itu baru permulaan."
Justin tidak berhenti, namun tatapan tajamnya pada Alena seolah menjadi janji bahwa hari ini akan menjadi hari terakhir Alena merasa menang.
Di ruang medis, dokter segera membersihkan luka Liana. Liana terus menggenggam baju Justin sambil menahan perih saat lukanya dibersihkan dari serpihan kaca.
"Beruntung serpihannya tidak ada yang tertinggal di dalam tulang, tapi lukanya cukup dalam. Kamu tidak bisa melanjutkan pertandingan hari ini, Liana. Butuh beberapa jahitan kecil," ucap dokter kampus.
Liana menangis tersedu-sedu. "Maaf, Kak Kaila... maaf, Kak Justin... aku ngerusak pertandingan..."
Kaila mengusap rambut Liana dengan sayang, matanya berkaca-kaca karena marah. "Nggak, Li. Ini bukan salah lo. Ada orang jahat yang sengaja ngelakuin ini. Lo tenang aja, tim bakal berjuang buat lo."
Setelah dokter selesai menangani Liana, Justin meminta Kaila dan Dhea untuk menjaga Liana sebentar. Ia berjalan keluar dari ruang medis dengan langkah yang mantap. Raka sudah menunggunya di depan pintu dengan wajah serius.
"Gue udah cek CCTV ruang peralatan kampus kemarin malam, Tin," bisik Raka. "Meskipun gelap, siluetnya jelas banget. Itu Alena. Dia masuk pakai kunci duplikat yang dia curi dari anak perlengkapan."
Justin menarik napas panjang, mencoba menahan diri agar tidak meledak di tempat umum. "Urus bukti itu, Rak. Serahkan ke pihak kampus dan panitia turnamen. Gue mau dia dikeluarkan secara tidak hormat hari ini juga."
"Lalu lo mau kemana?" tanya Raka.
"Gue mau kasih tahu dia, kalau dia baru saja menyentuh orang yang salah," jawab Justin dingin.
Justin berjalan kembali ke arah tribun, menuju tempat Alena duduk. Kehadiran Justin yang penuh aura gelap membuat orang-orang di sekitar Alena menyingkir dengan sendirinya. Alena yang melihat Justin mendekat mencoba tetap terlihat tenang, namun ia tidak bisa menyembunyikan getaran di tangannya.
"Puas?" tanya Justin, berdiri tepat di depan Alena.
"Puas soal apa, Justin? Aku cuma lagi nonton pertandingan," jawab Alena pura-pura polos.
Justin membungkuk, membisikkan sesuatu tepat di telinga Alena yang membuat wajah gadis itu seketika menjadi pucat pasi. "Bukti CCTV sudah di tangan rektorat. Polisi akan menjemputmu sebentar lagi untuk kasus penganiayaan berencana. Dan satu hal lagi... jangan pernah bermimpi bisa menginjakkan kaki di kampus ini lagi. Lo sudah selesai, Alena."
Justin berbalik pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Alena yang kini gemetar ketakutan di tengah keramaian. Bagi Justin, turnamen mungkin terganggu, tapi keselamatan Liana adalah segalanya. Dan ia akan memastikan siapapun yang melukai Liana akan membayar harganya berkali-kali lipat.