Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.
Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga — Kenyataan yang Berbahaya bukan Kanihu Saja
*Selamat membaca ceritaku yang baru****Semoga suka ya..
Mereka melangkah dari satu atap ke atap lainnya dengan hati-hati. Genteng berderit pelan di bawah pijakan mereka.
Tiba-tiba Jay menghentikan langkahnya. Tangannya terangkat memberi isyarat agar yang lain berhenti. Arsya dan Niki langsung merunduk.
Di bawah sana, di sebuah gang sempit, dua pria berdiri di dekat tubuh KANIHU yang sudah tak bergerak. Dari posisi atas, jelas terlihat mereka baru saja membunuh makhluk itu—darah masih mengalir tipis di aspal.
Namun yang membuat Jay membeku bukanlah pembunuhan itu. Melainkan apa yang mereka lakukan setelahnya. Perbuatan keji. Tidak manusiawi. Tindakan yang bahkan lebih mengerikan dari KANIHU itu sendiri.
Arsya menutup mulutnya dengan tangan, menahan suara mual yang hampir keluar. Jantungnya berdegup bukan karena takut pada monster… tetapi karena menyadari sesuatu yang jauh lebih menyeramkan.
“Dunia ini…” bisik Niki pelan, wajahnya menegang. Jay mengalihkan pandangan. Rahangnya mengeras. “Bukan cuma KANIHU yang berbahaya sekarang,” ucapnya rendah. “Manusia juga
“Aah… benar-benar seperti jackpot, ya. Walaupun harus pakai monster ini,” ujar salah satu pria itu dengan nada menjijikkan.
“Hahaha. Kau tahu? Dulu wanita ini sering dipanggil bos kita,” balas yang lain, tawanya rendah dan penuh hina. Keduanya berdiri membelakangi pintu masuk gang kecil, terlalu larut dalam kelakuan mereka sendiri hingga tak menyadari sesuatu.
Di atas atap, rahang Jay mengeras. Namun tatapannya bukan lagi tertuju pada dua pria itu. Dari ujung gang yang gelap, sosok lain berdiri diam.
KANIHU.
Tingginya menjulang, kepalanya sedikit miring. Bola matanya yang pucat berkilat samar. Ia tidak menggeram. Tidak berlari.
Hanya… menatap.
Perlahan. Selangkah demi selangkah.
Jay menahan napas. Tangannya terangkat memberi isyarat pada Arsya dan Niki untuk tetap diam. Dua pria di bawah masih tertawa, tak menyadari bahaya yang semakin dekat.
Sampai akhirnya makhluk itu berhenti.
Kepalanya menoleh perlahan ke arah tubuh KANIHU yang tergeletak tak bernyawa di tanah. Bola matanya berubah warna—dari pucat menjadi merah pekat.
Ia menyadari. Sesamanya telah dibunuh. Dalam sekejap, makhluk itu memekik—suara melengking tajam yang memecah udara pagi. Suara itu bukan sekadar jeritan, melainkan panggilan.
Memanggil kawannya.
Dua pria di bawah langsung terlonjak kaget. Tawa mereka terhenti seketika. Wajah yang tadi penuh kesombongan berubah pucat.
“Apa itu—?!” salah satu dari mereka berbalik.
Di atas atap, Jay refleks merunduk dan menarik Arsya agar lebih rendah. Niki ikut menahan napas, jantungnya berdetak keras.
Dari ujung gang, bayangan lain mulai bermunculan.
Satu.
Dua.
Tiga.
“Karma mereka datang secepat itu,” gumam Arsya pelan. Jay dan Niki mengangguk tanpa berkata-kata.
Dari atas atap, mereka bisa melihat dengan jelas bagaimana para KANIHU mulai berdatangan dari berbagai arah. Gang sempit itu perlahan dipenuhi tubuh-tubuh tinggi dengan gerakan patah-patah yang mengerikan.
Dua pria itu kini benar-benar terjebak.
Wajah mereka yang tadi penuh tawa berubah menjadi panik. Mereka mundur perlahan hingga punggungnya menabrak dinding gang. Umpatan keluar dari mulut mereka, tangan gemetar menggenggam senjata seadanya.
“Ayo! Lawan!” teriak salah satunya, mencoba terlihat berani. Namun jumlah KANIHU terlalu banyak. Satu langkah maju dari makhluk-makhluk itu saja sudah cukup membuat udara terasa berat. Geraman rendah mulai terdengar, bersahut-sahutan, mengepung mangsanya tanpa celah.
Di tengah kekacauan di bawah sana, saat para KANIHU sibuk menerkam dan saling berebut mangsa, Jay melihat celah.
“Sekarang!” bisiknya tegas.
Tanpa ragu, ia melompat menyeberangi atap berikutnya. Genteng berderit pelan saat kakinya mendarat, namun cukup stabil.
Arsya menyusul di belakangnya, jantungnya berdegup kencang saat ia memaksa diri untuk tidak melihat ke bawah. Tangannya hampir terpeleset, namun Jay sigap menariknya hingga ia berhasil berdiri seimbang.
Terakhir, Niki mengambil ancang-ancang dan melompat.
Begitu Niki mendarat dengan selamat, salah satu KANIHU di bawah tiba-tiba berhenti bergerak.
Kepalanya mendongak perlahan. Hidungnya mengendus udara, gerakannya tajam dan penuh insting. Jay langsung merunduk, menarik Arsya ikut turun. Niki membeku di tempatnya.
Makhluk itu terus mengendus. Namun yang tercium hanyalah bau amis darah yang menyengat, bercampur dengan aroma bangkai yang memenuhi gang sempit itu.
Beberapa detik mencekam berlalu. Akhirnya, KANIHU itu kembali menunduk dan bergabung dengan yang lain.
Jay menghembuskan nafas pelan. “Kita lanjut. Jangan berhenti.”
Dan mereka pun kembali bergerak, semakin menjauh dari suara kekacauan—tanpa menyadari bahwa perjalanan mereka baru saja memasuki wilayah yang lebih berbahaya.
Mereka sudah melewati beberapa atap yang dekat jaraknya, namun sekarang mereka telah dihadapi jarak yang sangat jauh. Jay menatap sekelilingnya, dan mereka ternyata sudah berada di dekat kampus A, kampus mereka yang terlihat banyak sekali Kanihu yang berkumpul.
“Kita istirahat disini dulu.” bisik Jay pelan, “di bawah sana, tidak ada jalan.”
Niki memberanikan diri melirik sedikit ke bawah. Dan benar saja. Tepat di bawah atap tempat mereka berpijak, beberapa KANIHU berdiri dengan posisi yang… terlalu normal. Mereka tidak sedang menyerang. Tidak juga berlari liar.
Mereka hanya berdiri.
Seperti manusia yang sedang berbincang atau menunggu sesuatu. Namun leher mereka bergerak patah-patah, berputar dengan sudut yang tak wajar. Sesekali kepala mereka tersentak kecil, seolah ada sinyal tak terlihat yang mengendalikan.
Arsya menahan napas.
“Kenapa mereka diam saja…?” bisiknya hampir tanpa suara. Jay mengamati dengan sorot mata tajam. “Mungkin mereka sedang mencari. Atau… menunggu perintah.”
Niki menelan ludah, lalu berbisik pelan, “Kita lanjut saat suasana sudah benar-benar sepi.”
Tak ada yang membantah.
Di bawah sana, para KANIHU masih berdiri dalam keheningan mengerikan—tidak liar, tidak kacau. Justru itu yang membuat mereka terlihat jauh lebih berbahaya.
Dan untuk pertama kalinya, muncul satu pertanyaan di benak Arsya— bagaimana jika mereka tidak sekadar berburu… melainkan berkoordinasi?
Saat malam tiba, kota itu berubah menjadi jauh lebih sunyi dibandingkan siang hari. Tidak ada teriakan. Tidak ada langkah tergesa. Hanya keheningan panjang yang terasa menekan.
Arsya duduk di tengah, berdempetan dengan Niki dan Jay agar tubuh mereka tetap hangat. Angin malam menusuk kulit, membuat genteng tempat mereka bersembunyi terasa semakin dingin.
Mereka tidak berani menyalakan api unggun.
Cahaya sekecil apa pun bisa menjadi tanda keberadaan mereka. Dan di dunia yang dipenuhi KANIHU, terlihat berarti terancam.
Jay tetap terjaga, matanya awas mengamati sekitar. Niki sesekali menggosok kedua tangannya untuk mengusir dingin. Arsya memeluk lututnya, mencoba menenangkan detak jantungnya sendiri.
Malam itu terlalu tenang.
Arsya mulai mengantuk. Kelopak matanya terasa berat setelah seharian penuh ketegangan. Ia menyandarkan kepalanya pada dinding beton rendah di atap itu, mencoba mencari posisi yang sedikit nyaman.
Di atas sana tak terdengar apa pun.
Tidak ada langkah. Tidak ada geraman. Hanya angin malam yang berhembus pelan. Satu per satu, mereka memejamkan mata—bukan karena benar-benar merasa aman, tetapi karena tubuh mereka menuntut istirahat.
Namun di tengah kantuk yang tipis itu… telinga mereka menangkap sesuatu.. Sebuah suara rendah.
Deru mesin.
Samar. Jauh. Tapi jelas bukan suara angin.
Jay langsung membuka mata. Niki ikut mengangkat kepala perlahan. Arsya yang hampir terlelap pun tersentak kecil.
Namun suara itu perlahan menghilang.
Deru mesin yang sempat terdengar jelas tadi kini lenyap, seakan ditelan oleh malam. Tidak ada cahaya yang terlihat. Tidak ada tanda lain yang menyusul.
Hanya sunyi.
Jay tetap terjaga beberapa menit lebih lama, memastikan suara itu benar-benar tidak kembali. Niki bersandar dengan mata setengah terpejam. Arsya sudah lebih dulu terlelap, napasnya pelan dan teratur meski wajahnya masih menyimpan sisa kelelahan.
Angin malam terus berhembus lembut.
Tanpa mereka sadari, kewaspadaan yang sejak siang menegang perlahan mengendur. Kelopak mata yang berat akhirnya menang melawan rasa takut.
Dan entah sejak kapan— ketiganya benar-benar tertidur, bersandar satu sama lain di atas atap yang dingin. Untuk beberapa jam singkat, dunia terasa berhenti.
Terima kasih! Kita lanjut jam 16.00 yaa...