Di dunia di mana sihir adalah segalanya, kekuatan bukanlah anugerah—melainkan hasil dari latihan dan pengorbanan.
Ia hanyalah seorang siswi Akademi Sihir Arcanova. Tenang. Cerdas. Tak tersentuh. Hingga sebuah simbol tersembunyi muncul di tubuhnya—tanda kutukan dari iblis yang bahkan hanya hidup dalam legenda.
Tak hanya dirinya.
Dua siswa dari sekolah berbeda—termasuk seorang pewaris Akademi Crimson Crest—ternyata memikul kutukan yang sama… namun berasal dari iblis yang berbeda.
Kekuatan mereka luar biasa. Tak terbatas.
Namun setiap kali digunakan, ada harga yang harus dibayar.
Di tengah persaingan dua akademi, pelatihan mematikan di Hutan Abyss, dan rumor tentang iblis berwujud manusia yang belum pernah terlihat…
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling kuat.
Tapi siapa yang akan bertahan ketika kutukan itu mulai mengambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gejolak Api yang Terpendam
Keheningan malam di reruntuhan itu terasa semakin pekat. Vivienne telah berhasil memadamkan titik terakhir cahaya putih di sekujur tubuhnya; kini ia tampak seperti bayangan yang menyatu dengan kegelapan. Di hadapannya, Lucien pun telah mencapai titik nol. Keberadaannya nyaris tak bisa dirasakan oleh indra sihir mana pun, seolah ia hanyalah bagian dari pilar batu di belakangnya.
Namun keseimbangan itu terganggu oleh suara napas berat yang terputus-putus.
“Daefiel, kendalikan dirimu,” bisik Lucien tanpa membuka mata.
Daefiel tidak menjawab. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya, membasahi kerah seragamnya yang berantakan. Ia memejamkan mata begitu rapat hingga kelopak matanya bergetar. Alih-alih meredup, aura putih di tubuhnya justru mulai bertingkah aneh. Cahaya itu tak lagi bergoyang lembut seperti api tertiup angin, melainkan membesar dan berkobar liar.
“Sial… ini tidak mau berhenti,” geramnya tertahan.
Vivienne membuka mata dan terbelalak. Aura Daefiel kini menjulang hampir satu meter, memancar terang di tengah reruntuhan gelap. Semakin ia berusaha menekannya, semakin kuat aura itu menolak tunduk. Sifat sombong dan penuh percaya diri dalam dirinya seakan menyatu dengan energi Iblis Api di pergelangan tangannya, menciptakan pemberontakan mana di dalam tubuhnya.
“Hentikan, Daefiel! Jika kau terus begini, suar ini akan menarik perhatian penjaga akademi!” desis Vivienne mendesak.
“Aku sedang mencoba, Vivienne!” sahutnya dengan gigi terkatup. Tangannya yang bersila mulai mengepal kuat.
Aura putih itu kini memancarkan hawa panas tak wajar. Meski warnanya masih murni—tanda bahwa ia belum melepaskan kekuatan kutukannya—ukurannya yang terus membesar menunjukkan kontrol dirinya berada di ambang kehancuran. Bagi seorang penyihir, aura yang meluap seperti ini menandakan turbulensi mana yang hebat di dalam tubuh.
Lucien segera membuka mata. Kilatan biru sempat melintas di pupilnya sebelum ia menekan kembali energinya. Ia melihat aura Daefiel yang bergetar hebat, siap meledak menjadi gelombang energi yang bisa meruntuhkan sisa bangunan di sekitar mereka.
“Kau terlalu memaksanya,” ujar Lucien waspada. “Kau menekannya dengan amarah, bukan ketenangan. Jika kau tidak rileks sekarang juga, aura itu akan meledak dan kita semua tertangkap.”
Seolah menjawab peringatannya, suara langkah kaki berat terdengar dari kejauhan, diiringi denging alat sensorik sihir milik penjaga akademi. Alat itu bereaksi keras terhadap lonjakan aura Daefiel. Cahaya putih yang meluap kini menyinari reruntuhan seperti mercusuar di tengah lautan gelap.
“Sial, mereka datang!” bisik Vivienne cemas. “Daefiel, padamkan sekarang! Mereka sudah sangat dekat!”
Daefiel tak merespons. Wajahnya memerah, dan keringat yang mengalir di tubuhnya menguap sebelum sempat jatuh, menciptakan uap tipis di sekelilingnya. Ia terjebak dalam perang batin antara egonya yang membara dan tuntutan untuk menjadi kosong. Setiap kali ia mencoba menekan auranya, emosinya memberontak, membuat kobaran putih itu semakin tinggi.
Melihat penderitaannya, Vivienne tak bisa tinggal diam. Ia mencoba menyalurkan energi penenang melalui sentuhan. “Daefiel, dengarkan suaraku, tenanglah—”
Begitu telapak tangannya menyentuh bahu Daefiel, ia tersentak hebat.
“Aaakh!” Vivienne menarik tangannya cepat. Telapak tangannya memerah, rasa panas menyengat meresap hingga ke tulang. Rasanya bukan seperti menyentuh manusia, melainkan bara api yang membara.
Bagi Daefiel, suhu itu adalah bagian alami dari dirinya. Namun bagi orang lain, aura yang meluap itu adalah senjata yang membakar.
“Jangan sentuh dia!” seru Lucien sambil bangkit berdiri. “Mananya sedang mendidih. Jika kau menyentuhnya tanpa perlindungan, kau hanya akan terluka.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Vivienne panik, meniup telapak tangannya yang perih. “Sensor itu semakin keras! Mereka akan tiba dalam hitungan detik!”
Lucien menatap Daefiel yang masih terperangkap dalam trans penderitaannya. Ia tahu satu-satunya pilihan adalah mengalihkan perhatian penjaga atau memaksa Daefiel keluar dari kondisi ini. Jika gagal, bukan hanya latihan rahasia mereka yang terbongkar—identitas mereka sebagai pembawa kutukan pun bisa terungkap.
“Aku akan memancing mereka menjauh,” ujar Lucien dingin dan tegas. “Vivienne, tetap di sini. Gunakan mantra pendingin dari jarak jauh. Jangan sampai kalian tertangkap.”