NovelToon NovelToon
Cinta Kontrak Seorang CEO

Cinta Kontrak Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Sutiana

Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.

bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gosip dan pertemuan yang tak terduga

Hari itu Sakira datang lebih awal ke kantor Rafael. Hatinya masih terasa campur aduk dari pengalaman latihan public speaking dan insiden reporter beberapa hari lalu. Rasanya seperti hidupnya kini berjalan di atas tali tipis—antara profesionalisme dan perasaan yang semakin sulit ia kendalikan.

Sesampainya di lobby gedung Pratama Group, seorang rekan staf menyapanya dengan senyum aneh. “Bu Sakira, sepertinya ada beberapa artikel tentang Anda di media sosial pagi ini.”

Sakira mengerutkan alis. “Artikel? Mengenai apa?”

Rekan itu menunduk sebentar sebelum menjawab, “Hanya… beberapa pertanyaan tentang hubungan Anda dengan Pak Rafael. Tidak terlalu buruk, tapi… cukup menarik perhatian.”

Sakira menelan ludah. Jantungnya berdebar kencang. Ia tahu dunia Rafael tidak ramah terhadap gosip. Ia mencoba menenangkan diri, tapi rasa takut sudah muncul di dada.

Di kantor, Rafael sudah menunggu di ruang kerjanya. Tatapannya tajam saat Sakira masuk, tapi ada rona kekhawatiran di matanya yang jarang terlihat orang lain.

“Apakah kamu sudah membaca artikel itu?” tanyanya, nada suaranya datar tapi tegang.

Sakira mengangguk pelan. “Ya, Pak Rafael. Aku… aku minta maaf jika ini merepotkan.”

Rafael menggeleng. “Bukan salahmu. Tapi kamu harus belajar menghadapi hal seperti ini. Dunia ini… tidak selalu ramah.”

Sakira menunduk, merasa dirinya kecil di hadapan pria yang penuh aura, Namun ada sesuatu yang membuatnya merasa hangat—cara Rafael melindunginya tanpa terlihat berlebihan.

Sore harinya, Rafael meminta Sakira menemaninya ke sebuah acara bisnis privat. Gedung mewah, tamu berkelas, semua terlihat seperti dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupan sederhana Sakira sebelumnya.

Sepanjang acara, Sakira berusaha tetap profesional, menanggapi pertanyaan, tersenyum sopan, dan menjaga jarak dari perhatian publik. Namun, perasaan campur aduknya semakin sulit dikendalikan setiap kali Rafael menatapnya atau berbicara dengannya.

“Jangan terlalu kaku,” kata Rafael di sela-sela acara, menatapnya sekilas. “Tersenyumlah alami. Kamu bisa lebih memikat dari yang kamu kira.”

Sakira tersipu, merasa hati berdebar. Kata-kata itu terdengar hangat, tapi juga menimbulkan ketegangan yang membuatnya sulit bernapas.

Saat acara hampir selesai, sebuah kejadian tak terduga terjadi. Seorang pria tampan dan berpakaian rapi mendekati Rafael. Sakira bisa merasakan aura ketegangan seketika.

“Rafael,” pria itu memulai, nada suaranya terdengar formal tapi tegang. “Kita perlu bicara soal kesepakatan minggu depan.”

Rafael menatap pria itu sejenak, lalu membungkuk ringan. “Bisa, tapi tidak di sini. Sebentar saja, kita pindah ke ruang lain.”

Sakira menatap dari jauh, merasa ada sesuatu yang aneh. Pria itu tampak menatapnya sekilas, lalu tersenyum tipis—senyum yang membuat Sakira sedikit tidak nyaman.

Setelah Rafael pergi bersama pria itu ke ruang lain, Sakira berdiri sendiri di sudut ruangan. Ia menatap sekeliling, merasa terasing di antara tamu-tamu mewah dan percakapan yang sulit ia pahami.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk:

"Sak, kita perlu bicara. Ini penting."

Sakira menatap layar ponselnya, jantungnya berdebar. Pesan itu tidak berasal dari Rafael, tapi nomor yang tidak dikenal. Rasa penasaran dan sedikit takut bercampur menjadi satu. Ia menunduk, mencoba menenangkan diri, tapi rasa ingin tahu mengalahkan rasa takut.

Beberapa menit kemudian, Rafael kembali. Ia menatap Sakira sekilas, tapi wajahnya tetap tenang. “Siap?” tanyanya singkat.

Sakira menelan ludah. “Siap, Pak Rafael.”

Mereka berjalan keluar gedung, menuju mobil. Di jalan, Rafael menatapnya lama. “Kamu terlihat cemas. Apa ada yang salah?”

Sakira menunduk, mencoba terdengar santai. “Hanya… sedikit gugup, Pak Rafael. Acara ini besar, dan aku belum terbiasa.”

Rafael tersenyum tipis, tetapi ada aura serius yang membuat Sakira menahan napas. “Aku tahu. Tapi kamu belajar cepat. Itu yang membuatku yakin kamu bisa menghadapinya.”

Sesampainya di mobil, ponsel Sakira kembali bergetar. Kali ini ia memutuskan membuka pesan:

"Aku tahu tentang kontrak kalian. Kita perlu bertemu, sebelum semuanya terlanjur salah."

Sakira terdiam. Pesan itu… mengancam sekaligus misterius. Siapa yang tahu tentang kontrak mereka? Apa niat orang itu?

Rafael menoleh padanya, menatap layar ponselnya, lalu menatap Sakira dengan mata yang tajam. “Siapa itu?” tanyanya singkat.

Sakiras hanya bisa menggeleng. “Aku… tidak tahu, Pak Rafael. Pesan ini dari nomor yang tidak dikenal.”

Rafael menarik napas dalam, wajahnya serius. “Kalau begitu, kita harus siap menghadapi hal-hal yang tidak terduga. Kontrak ini… bukan hanya soal tampil di depan publik, tapi juga menghadapi orang-orang yang ingin mengganggu.”

Sakira menelan ludah, merasa campur aduk antara takut dan penasaran. Ia tahu satu hal: dunia Rafael lebih rumit daripada yang ia bayangkan, dan ia kini terseret lebih dalam dari sekadar kontrak.

Malam itu, di apartemennya, Sakira duduk termenung, menatap ponsel yang masih menampilkan pesan misterius. Ia merasa hatinya berdebar lebih kencang daripada sebelumnya. Rafael… gosip publik… dan sekarang pesan misterius itu. Semua terasa seperti badai yang siap menghantamnya.

Dan di balik gedung tinggi kota, Rafael menatap lampu kota, memikirkan Sakira. Ia tahu kontrak ini bukan sekadar formalitas.

Ada sesuatu tentang wanita itu yang membuatnya ingin melindunginya—bukan hanya karena kontrak, tapi… perasaan yang semakin sulit ia kendalikan.

Sore itu, setelah acara latihan dan public speaking selesai, Rafael meminta Sakira menemaninya ke lounge kantor. Hujan sudah berhenti, tetapi aroma basah dari trotoar dan daun-daun yang terpercik air masih terasa segar. Suasana cukup tenang, tapi hati Sakira tetap berdebar. Ia tahu Rafael selalu menilai setiap geraknya, dan kini ia mulai merasa… sulit menutupi perasaannya.

“Duduk,” kata Rafael sambil menunjuk kursi di depan jendela besar yang menghadap kota.

Sakira menuruti, duduk perlahan. Ia menatap keluar jendela, mencoba menenangkan pikiran yang kacau. Namun, matanya terus saja tertuju pada sosok Rafael yang berdiri di samping jendela, menatap lampu kota yang berkelap-kelip. Aura seriusnya membuat Sakira menelan ludah.

Bagaimana perasaanmu hari ini?” tanya Rafael tiba-tiba.

Sakira menoleh, sedikit terkejut. “Aku… baik, Pak Rafael. Cuma… sedikit lelah.”

Rafael menatapnya dengan tajam, lalu melangkah lebih dekat. “Aku tahu ini tidak mudah. Dunia yang kita jalani berbeda dari kehidupanmu sebelumnya. Tapi aku ingin kamu tetap kuat. Tidak hanya untuk kontrak… tapi juga untuk dirimu sendiri.”

Sakira menelan kata-kata. Cara Rafael bicara tidak hanya menuntut, tapi juga… ada kehangatan yang jarang ia rasakan dari orang lain. Ia mengangguk pelan, mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak kencang.

Mereka duduk berdua di lounge, suasana agak hening. Rafael menatap Sakira sebentar sebelum akhirnya membuka laptopnya, memeriksa beberapa dokumen. Sakira duduk diam, ingin mengatakan sesuatu tapi tidak tahu harus mulai dari mana.

“Pak Rafael… boleh aku tanya sesuatu?” Sakira akhirnya memberanikan diri.

Rafael menoleh, matanya menatapnya. “Apa?”

“Aku… aku ingin tahu… apakah kontrak ini… akan selalu seperti ini? Selalu ketat, selalu terawasi… selalu membuatku merasa…”

Suaranya sedikit bergetar, “…terbatas?”

Rafael menatapnya lama. Kemudian ia tersenyum tipis, hampir tidak terlihat.

“Mungkin pada awalnya terasa seperti itu. Tapi aku berharap, seiring waktu, kamu bisa merasa lebih nyaman. Tidak hanya dalam pekerjaan, tapi juga… dalam menghadapi dunia ini.”

Sakira menunduk, hatinya hangat. Kata-kata itu sederhana, tapi terasa seperti membukakan pintu yang selama ini ia jaga rapat. Ia ingin berkata sesuatu, tapi suara di tenggorokannya seolah hilang.

Beberapa menit kemudian, Rafael menutup laptopnya dan menatap Sakira. “Ada hal lain yang harus aku tunjukkan padamu,” katanya, nada suaranya serius tapi tenang.

Sakira menatapnya, penasaran. Rafael menarik sebuah folder dari tasnya, lalu meletakkannya di depan Sakira. “Ini tentang beberapa rapat dan acara yang akan datang. Aku ingin kamu ikut, bukan hanya sebagai pendamping, tapi juga sebagai bagian dari tim. Aku ingin kamu belajar, bukan hanya sekadar menjalani kontrak.”

Sakira menatap dokumen itu, hatinya campur aduk. Ia merasa dihargai, tapi juga semakin sadar bahwa kontrak ini bukan hanya formalitas. Ada tanggung jawab, ada pengawasan, dan tentu saja, ada perasaan yang semakin sulit ia kendalikan.

Ketika mereka selesai membahas dokumen, Rafael berdiri dan berjalan ke jendela. Ia menatap kota yang mulai gelap,

lampu-lampunya berkelap-kelip. Sakira duduk diam, menatapnya dari belakang. Ada sesuatu tentang pria itu—kekuatannya, ketegasannya, dan kehangatannya—yang membuat Sakira merasa terikat lebih dari sekadar kontrak.

“Tahu tidak, Sakira,” kata Rafael tiba-tiba, suaranya rendah, “aku jarang menemukan seseorang yang bisa menyesuaikan diri begitu cepat. Kamu berbeda.”

Sakira menelan ludah. Kata itu… membuat hatinya berdebar. Ia ingin berkata sesuatu, tapi kata-kata seperti tersangkut di tenggorokannya.

Rafael menoleh padanya, menatap matanya sekilas sebelum kembali menatap lampu kota. “Aku tidak bilang ini mudah. Dunia ini keras. Tapi aku ingin kamu tahu… aku menghargai usahamu.”

Sakira mengangguk pelan, merasa hangat tapi juga sedikit canggung. Ia belum terbiasa dipuji atau diperhatikan seperti ini, terutama dari seseorang seperti Rafael.

Ketika malam semakin larut, Rafael mengantar Sakira pulang. Di mobil, suasana sunyi tapi tidak canggung. Sesekali Rafael menatap jalan, sesekali menatap Sakira dari kaca samping.

“Ada hal yang ingin aku tanyakan,” kata Rafael akhirnya. “Apakah kamu nyaman dengan semua ini? Dengan kontrak, dengan… aku?”

Sakira menatapnya, jantungnya berdebar.

“Aku… aku masih belajar, Pak Rafael. Tapi aku ingin mencoba. Aku ingin mengerti semuanya.”

Rafael tersenyum tipis, matanya lembut tapi tetap tajam. “Bagus. Aku ingin kita sama-sama belajar.”

Saat mereka tiba di apartemen Sakira, Rafael menatapnya sebentar. “Besok akan ada jadwal baru. Aku harap kamu siap.”

Sakira mengangguk, masih menahan rasa gugup dan rasa penasaran yang campur aduk. Ketika Rafael pergi, ia duduk di sofa, menatap langit-langit. Hatinya berdebar, pikirannya kacau, tapi ada satu hal yang jelas: kontrak ini bukan hanya soal pekerjaan, tapi juga perasaan yang mulai muncul tanpa ia sadari.

Bersambung...

1
Ana Sutiana
bagus dan menarik ceritanya untuk di baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!