NovelToon NovelToon
Call Man Service

Call Man Service

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Dikelilingi wanita cantik / Teen
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: APRILAH

Di tengah beban hidup yang menghimpit, Xiao Han— pemuda 22 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mati-matian menghidupi ibunya yang lumpuh serta membiayai pendidikan adik perempuannya yang baru kelas 1 SMP. Gaji sebagai tukang antar surat tak pernah cukup untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.

Dengan putus asa namun tekad kuat, Xiao Han akhirnya membuka jasa panggilan pria, dan mempromosikannya secara diam-diam di media sosial. Awalnya hanya sebagai cara bertahan hidup, layanan ini perlahan membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pertemuan-pertemuan rahasia, rahasia klien, dan batasan moral yang terus diuji.

Hingga suatu malam, satu panggilan khusus datang, sebuah pengalaman yang tak terduga, penuh risiko, dan emosi yang mengubah segalanya. Pertemuan itu bukan hanya mengguncang hidupnya saat ini, melainkan juga membuka pintu menuju masa depan yang akan mengubah kehidupannya secara drastis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Dua minggu setelah Xiao Han resmi menjadi supir pribadi Lin Qing, undangan makan malam keluarga datang tanpa peringatan. Lin Qing memberitahunya pagi itu saat mobil Mercedes meluncur menuju kantor pusat Lin Group.

"Malam ini jam 7. Di rumah besar keluarga di Golden Heights. Pakai setelan hitam yang aku pesan kemarin. Jangan telat."

Xiao Han mengangguk dari kursi supir, tapi dadanya terasa sesak. "Mereka tahu soal... kita?"

Lin Qing menatap ke luar jendela, suaranya datar. "Mereka tahu aku punya seseorang. Dan malam ini mereka akan tahu siapa orang itu."

Malam itu, Xiao Han berdiri di depan gerbang besi rumah megah yang lebih mirip istana daripada rumah. Dinding marmer putih, air mancur di halaman depan, dan deretan mobil mewah parkir rapi. Dia mengenakan setelan hitam yang pas di badan, pertama kalinya dalam hidupnya memakai baju seharga gaji setahunnya dulu. Lin Qing turun dari mobil, mengaitkan lengan di lengan Xiao Han seperti pasangan resmi.

"Tenang saja," bisiknya. "Biarkan aku yang bicara."

Di ruang makan utama, meja panjang dari kayu mahoni sudah tersaji untuk delapan orang. Ayah Lin Qing, Lin Wei Guo, taipan properti berusia 68 tahun, duduk di ujung meja dengan wajah kaku. Ibu Lin Qing, Madam Lin, memakai gaun merah marun dan perhiasan berlian yang menyilaukan. Di sebelahnya duduk dua saudara Lin Qing: kakak laki-laki Lin Qing, Lin Hao (35 tahun, direktur keuangan Lin Group), dan adik perempuan Lin Qing, Lin Xue (28 tahun, desainer interior terkenal).

Semua mata langsung tertuju pada Xiao Han begitu mereka masuk.

Lin Qing menarik kursi untuk Xiao Han di sebelahnya, lalu duduk sendiri.

"Ayah, Ibu, Kak Hao, Xue. Ini Xiao Han. Calon suamiku."

Ruangan langsung hening. Lalu Lin Hao tertawa kecil, suaranya penuh ejekan.

"Calon suami? Serius, Qing? Sopir pribadimu?"

Lin Xue menutup mulut dengan serbet sutra, tapi matanya penuh penghinaan. “Kak Qing… ini lelucon apa? Dia bahkan nggak punya nama keluarga yang terdengar. Dari mana asalnya? Gang belakang?”

Madam Lin menghela napas panjang, tangannya memegang gelas anggur. “Qing, kami sudah bilang berkali-kali. Kami tidak keberatan kalau kamu pilih pria biasa, asal punya latar belakang yang layak. Tapi ini… sopir? Yang mengantar kamu setiap hari? Ini memalukan keluarga.”

Lin Wei Guo tidak bicara banyak. Dia hanya menatap Xiao Han seperti menilai barang rusak di pasar. “Kamu tahu posisimu di sini, Nak?”

Xiao Han menunduk sebentar, lalu mengangkat kepala. Suaranya tenang, meski tangannya di bawah meja mengepal erat.

“Saya tahu, Pak. Saya sopir. Dulu tukang antar surat. Saya nggak punya gelar, nggak punya perusahaan, nggak punya nama besar. Tapi saya sayang sama Lin Qing. Dan saya akan usaha keras supaya layak berdiri di sampingnya.”

Lin Hao menyeringai lebar. “Sayang? Lucu. Kamu pikir sayang cukup buat masuk keluarga Lin? Kamu tahu berapa nilai aset Lin Group tahun ini? Kamu bisa bayar apa buat Qing? Obat ibumu yang lumpuh? Sekolah adikmu yang SMP? Itu cuma recehan buat kami.”

Lin Xue menimpali, suaranya manis tapi beracun. “Kak Qing, mungkin dia bagus di tempat tidur. Tapi jadi suami? Jadi ayah dari cucu kami? Ayolah… sampah jalanan nggak tiba-tiba jadi emas cuma karena dicuci.”

Kata “sampah” itu terasa seperti tamparan. Xiao Han merasakan darah naik ke wajahnya, tapi dia tetap diam. Lin Qing menarik napas dalam, tangannya meremas tangan Xiao Han di bawah meja.

"Cukup," kata Lin Qing dingin. “Ini keputusanku. Bukan kalian yang nikah sama dia. Kalau kalian nggak setuju, silakan keluar dari ruangan ini sekarang juga.”

Lin Hao tertawa lagi, tapi kali ini lebih kecut. “Kamu berubah, Qing. Dulu kamu yang paling pragmatis di keluarga ini. Sekarang gara-gara cowok begini, kamu rela bikin malu nama Lin?”

Madam Lin menggeleng pelan. “Kami cuma khawatir, Qing. Masa depanmu… masa depan keluarga ini.”

Lin Wei Guo akhirnya bicara, suaranya berat. “Kalau ini pilihanmu, Qing, kami tidak bisa paksa. Tapi ingat: kalau dia gagal, kalau dia bikin malu keluarga, tanggung jawabnya ada di kamu.”

Makan malam berlangsung dalam ketegangan yang menusuk. Hidangan disajikan, tapi hampir tidak ada yang disentuh. Setiap kali Xiao Han mencoba bicara—tentang pekerjaannya, tentang keluarganya—Lin Hao atau Lin Xue selalu menyela dengan sindiran halus atau tawa kecil yang menyakitkan.

Saat hidangan penutup tiba, Lin Qing berdiri. “Kami pulang dulu. Terima kasih atas makan malamnya.”

Di mobil pulang, suasana hening. Lin Qing menatap ke luar jendela, tangannya masih menggenggam tangan Xiao Han.

“Maafkan mereka,” katanya pelan. “Mereka tidak mengenalmu seperti aku.”

Xiao Han menatap jalan di depan. “Mereka benar, Qing. Aku memang sampah dibandingkan keluarga kalian. Aku nggak punya apa-apa buat dibawa ke pernikahan ini.”

Lin Qing menoleh tajam. “Jangan bilang gitu. Kamu punya aku. Dan itu lebih dari cukup.”

Xiao Han diam. Di dadanya, luka dari hinaan tadi masih perih. Tapi lebih perih lagi adalah pertanyaan yang terus berputar di kepalanya: apakah dia benar-benar layak untuk Lin Qing? Atau dia hanya sedang digunakan sebagai pemberontakan wanita kaya terhadap keluarganya?

Malam itu, saat mobil memasuki gang kontrakan kecilnya, Xiao Han merasa dunia terbelah dua: satu sisi adalah keluarga sederhana yang menunggunya di rumah, sisi lain adalah dunia mewah dan dingin yang baru saja menghinanya habis-habisan.

Dan dia baru saja memilih untuk tetap berada di tengah-tengahnya.

1
Wang Chen
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Wang Chen
ummm♥️
Wang Chen
/Determined//Determined//Determined/
Wang Chen
oh my Vina♥️♥️
Wang Chen
fhb
Wang Chen
ok
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
😍/Drool//Drool/
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
/Determined//Determined//Determined/
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Luar biasa
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
lanjut
APRILAH
Chapter 16, sabar ya🙏
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Lanjutkan
APRILAH: Asyiappp
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
🤭🤭/Determined//Slight/
APRILAH: /Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Aaaaa tidak... itu Vina ku
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Vina I love you
APRILAH
Chapter 11, sabar ya guys
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
/Drool//Drool//Drool/
APRILAH: 🤭/Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
tapi aman sih harusnya, Aria cukup lembut dan baik
APRILAH: iya sih
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
mantul
APRILAH: 🤭/Grin//Proud/
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
/Drool//Drool//Drool/
APRILAH: /Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!