NovelToon NovelToon
Murid Tengil, Kesayanganku

Murid Tengil, Kesayanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cintamanis / Komedi / Cintapertama
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: LIXX

Menjadi guru tampan dan memiliki karisma over power memang tidak mudah. Dialah Adimas Aditiya, guru muda yang menjadi wali kelas sebuah kelas yang anehnya terlalu hidup untuk disebut biasa.

Dan di sanalah Rani Jaya Almaira berada. Murid tengil, manis, jujur, dan heater abadi matematika. Setiap ucapannya terasa ringan, tapi pikirannya terlalu tajam untuk diabaikan. Tanpa sadar, justru dari gadis itulah Adimas belajar banyak hal yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah keguruan.

Namun karena Rani pula, Adimas menemukan jalannya rumahnya dan makna cinta yang sebenarnya. Muridnya menjadi cintanya, lalu bagaimana dengan Elin, kekasih yang lebih dulu ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. Ke Rumah Adimas

"Kamu butuh sopir, Ran?" tanya Adimas, Rani menggeleng cepat.

"Fetish," Adimas kembali terkekeh seolah menertawakan Hanan. Hanan menatap Rani tak percaya, mata yang biasanya teduh, fokus, dan tidak tersentuh itu kini justru menatap Adimas penuh cinta, penuh rindu, dan penantian.

Tak berapa lama kemudian, sebuah mobil Bugatti Chiron terparkir di jalan raya. Seorang montir keluar dari dalam mobil itu.

"Bos, mobilmu siap," ucap montir itu pada Adimas. Hanan seketika melotot melihat mobil dengan harga selangit kini terparkir di hadapannya.

"Ayo, Ran. Heh, kamu bawa motorku sama Arya. Terus bawa koper Rani ke mana, Ran?" tanya Adimas lagi. Rani terkekeh geli dengan sikap Adimas barusan.

"Aku belum punya tujuan," ucap Rani. Adimas menutup matanya mengerti dan mengepalkan tangannya seolah mengatakan, Yes! dalam hatinya. Adimas jelas bersorak luar biasa mendengar jawaban Rani.

"Bawa ke rumah yang di Taman Anggrek. Bilang juga pembukaannya tunda sampai nanti agak sore. Aku sekalian akan mengenalkan calon istriku di sana," ucap lagi Adimas. Ia mengulurkan tangannya pada Rani, namun Rani menggeleng cepat.

"Kenapa sih?" tanya Adimas. Rani seolah sangat menjaga jarak dari Adimas.

"Kita belum halal, Mas," ucap Rani. Adimas menggigit bibir bawahnya sembari menghela napas kasar.

"Aku halalkan, mau sekarang?" tanya lagi Adimas. Rani menggeleng cepat. Gila saja bila langsung seperti itu, apa kata kakeknya?

"Ran!" teriak Hanan akhirnya. Kepalanya nampak mengepul kepanasan melihat Adimas dan Rani yang tampak begitu akrab.

"Ya?" Rani menanggapi. Adimas juga berbalik menatap Hanan yang sudah kalah telak.

"Kita duluan deh, Dim," ucap Arya yang akhirnya pamit duluan bersama montir itu membawa koper Rani.

"Kamu benar-benar akan menikah dengan preman ini?" tanya Hanan. Rani mengangguk pelan. Dada Hanan tampak turun naik menahan amarah. Ia menatap tajam pada Adimas.

"Lah, aku malah jadi takut, Ran. Mendingan kamu aku nikahin sekarang saja. Gimana kalau nanti ada genderewo yang culik kamu?" sindir lagi Adimas. Rani menggeleng pelan.

"Maaf, Nan. Tapi aku sudah bilang berulang kali bahwa aku sedang menjaga hati. Dan hatiku sudah aku berikan kepada Mas Adimas," ucap Rani. Adimas menahan senyum bahagianya.

Kamu tahu seperti apa bahagianya Adimas? Nih aku kasih tahu, Adimas merasakan bila dunia hanya ada Rani dan dirinya. Di sana, di tempat panas itu, seolah langsung berubah jadi musim semi yang hangat, tidak lagi panas. Dan angin yang sesekali menerpa kerudung putih Rani seolah menjadi melodi indah dalam dunia mereka.

"Sayang, ayo!" ajak Adimas. Ia tak sungkan lagi memanggil Rani sayang. Tak akan sungkan lagi mengatakan cinta seberapa banyak yang Rani inginkan. Ia juga tak akan sungkan untuk pamer dan mengatakan pada seluruh dunia bila Rani adalah gadis yang paling ia cintai.

Rani membelalakkan matanya. Sedetik itu juga kedua pipinya berubah merah. Ia menundukkan pandangannya menahan gejolak perut yang tiba-tiba terasa nyeri, nyeri yang sangat menyenangkan.

"Ayo!" ajak lagi Adimas. Rani mengangguk pada Adimas dengan kedua pipinya yang memerah, kemudian ia hendak berbalik menatap Hanan untuk berpamitan. Namun tangannya langsung ditarik oleh Adimas dan memasukkan Rani ke dalam mobil dengan paksa, namun tidak kasar.

"Kami duluan ya, Nan," ucap Adimas tersenyum lebar dan berlari ke arah belakang kemudi.

Senyum dari bibir Adimas seolah sudah diberi formalin, awet sekali. Bahkan dia beberapa kali cekikikan seperti orang yang agak kurang waras. Rani sedikit waswas dengan kesehatan Adimas. Ditambah rambut panjang dan kulit yang dulu putih bersih itu kini berubah sedikit cokelat.

"Kenapa nggak kasih tahu aku?" tanya Adimas. Rani menghela napasnya kasar.

"HP-ku yang dulu jatuh ke Sungai Nil, dan aku tidak bisa berenang," jawab Rani. Adimas langsung menatap Rani lagi.

"Lalu?" tanya lagi Adimas. Rani tersenyum kaku dan mengeluarkan sebuah boks ponsel baru dari tas selempangnya.

"Aku baru beli lagi, tadi malam di Jakarta," jawab lagi Rani. Adimas melihat lampu merah menyala di jalannya. Dia langsung menatap Rani.

"Aku tahu," Adimas tersenyum. Itulah kenapa Adimas selalu menunggu Rani pulang. Karena dia tahu bagaimana Rani di Cairo selama ini.

"Emm," Rani menunduk lagi. Adimas kembali fokus ke depan.

"Aku berhenti jadi guru, Ran," tutur lagi Adimas. Rani langsung menatap matanya pada Adimas.

"Aku tidak tahu kenapa, tapi semangatku menghilang. Aku justru lebih nyaman berada di bengkel," ucap lagi Adimas. Rani menghela napas kasar.

"Jadi, sekarang tinggallah di rumahku." Adimas tersenyum sejenak pada Rani, namun saat menangkap ekspresi aneh dari Rani, Adimas langsung menggeleng. "Tenang saja, aku akan tinggal di apartemen selama kita belum sah menikah." Rani tersenyum dan mengangguk pada Adimas.

"Jadi, Ran. Kamu datang ke sini untuk aku, atau ada kepentingan lain?" tanya lagi Adimas. Rani mencengkeram roknya.

"Sebenarnya, Mas, aku sudah pulang dari Cairo sejak dua minggu lalu dan aku sudah pulang ke Bukittinggi." Rani tampak menghela napas kasar. Adimas mulai menjalankan mobilnya saat sudah melihat lampu jalan berubah hijau. Rani kini merasakan matanya memanas, bahkan perlahan suara isakan terdengar.

"Papah memaksaku untuk menikah dengan pria yang dipilihkannya," ucap Rani. Seketika itu juga Adimas langsung menginjak rem mobilnya. Rani ikut terkejut dibuatnya. Untunglah itu bukan jalan raya yang ramai dan keadaan sekarang tidak ramai karena orang-orang masih bekerja.

"Kita bicara di rumah," ucap Adimas. Rani masih terisak. Bahkan tangisnya kian terdengar sakit, hingga sulit bagi Adimas untuk mengabaikan tangisan wanita yang dicintainya itu.

Setelah sampai di depan sebuah rumah yang asri namun sangat besar dan mewah itu, Adimas membukakan pintu mobilnya untuk Rani dan membawa Rani masuk.

"Mas Adimas, sudah pulang?" Seorang wanita paruh baya tampak baru saja selesai membersihkan kediaman itu.

"Iya, Mbok. Oh ya, ke depannya Rani akan tinggal di sini. Dia calon istri saya, jadi mohon bantuan Mbok bila Rani membutuhkan sesuatu di masa depan," ucap Adimas. Si Mbok menunduk dan sejenak menatap Rani yang tampak tidak baik-baik saja.

"Mbok, saya Rani," ucap Rani sambil tersenyum dan menyalami Mbok itu. Senyuman tulus namun tidak ringan, senyuman yang tampak berat namun cantik itu membuat si Mbok menunduk hormat.

"Silakan, Non. Saya badhé mbiyantu panjenengan di masa ngarep," ucap si Mbok.

"Matur suwun, Mbok," jawab Rani. Adimas tersenyum pada keduanya dan membuka jaket kulitnya.

Sebuah kaus hitam mencetak badan Adimas yang kini jauh lebih berisi. Bahkan kotak-kotak di bagian perutnya dapat terlihat jelas. Rani sejenak menundukkan pandangannya, menjaga pandangan.

"Ah ya ampun," Adimas tak mengerti kenapa Rani bisa sampai seperti itu. Namun dia tetap menghargai keputusan Rani untuk menjaga pandangannya. Adimas masuk ke sebuah kamar dan menggunakan baju yang lebih longgar dan berlengan panjang.

Rani yang semula duduk di ruang tamu kini sudah kelayapan. Dia kini sudah berdiri di depan jendela kaca besar yang mengarah ke belakang rumah itu, di mana taman kecil dan sayuran segar ditanam. Ada juga pesawahan yang terhampar seluas pandangan, dan suara burung yang bersahutan.

"Aku tidak suka keramaian, jadi aku memilih tempat ini untuk ditinggali," ucap Adimas dari belakang tubuh Rani. Rani sontak membalikkan tubuhnya dan tersenyum. Senyum yang sungguh mengobrak-abrik iman dan mata Adimas itu membuat Adimas sungguh di luar jangkauan kewarasannya.

1
Umi Zein
lucu dan unik nama singkatan nya/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Umi Zein
duuh melting aku Rani yg diperlakukan gitu /Drool//Drool//Facepalm/
Umi Zein
diih maksaaaaa!😏🤣 tapi aku dukung 💪/Drool//Drool/
Miss Typo
sukurin tuh Hanan makanya jangan macam², jangan berani deketin lagi calon istri Adimas 😁
Miss Typo
bukan kaya oli, emang sayurnya pakai oli
Ya Allah malam² ngajak ditahan sambil batuk² 🤣🤣🤣
dasar Aryaaaaa astaghfirullah 🤣
LIXX: wkwkwk 🤣bisa gitu
total 2 replies
Miss Typo
rubah penampilan mu Dimas
Miss Typo: berarti tenang 🤣
total 4 replies
Miss Typo
aku ikut senyam senyum ikut bahagia kayak Adimas 😁
pingin denger cerita Rani, yg ayah nya menjodohkan Rani sampai nangis gitu.
apa ibu nya Rani gak cerai dan jadi satu sama istri muda suaminya, kalau benar gak rela bgt aku.

dah 3 bab tapi masih kurang rasanya 😁
Miss Typo: asiap di tunggu thor 👍😁
total 2 replies
Miss Typo
tetap semangat thor 💪🥰
LIXX: oke😘😘
total 1 replies
Miss Typo
Adimas kayak Gilang sama jodohnya 🤣
tetap ngakak walaupun mirip Gilang, tapi ngakak nya di tahan sampe perut sakit, mlm² di kira mba Kunti kalau ngakak 🫢
Miss Typo: komenku typo 😭
total 2 replies
vita
bagus ceritanya
Vie
waduh... dia jadi "pemborong" ternyata... tampan2 kok "pemborong" sih 🤭🤭🤭🤭
Vie
itu udah bagian dari takdir kamu, karena kamu juga sama somplaknya sama dia.... jadi biar hidupmu selalu ceria karena dikelilingi orangrang2 yang ceria.... 🤭🤭🤭🤭
Vie
aku ikutan greget juga ih... pengen ikutan juga sama lyra bejek2 tuh ayah sama jalangnya..... 😤😤😤
Vie
aku sebenarnya udah curiga saat tau ayahnya Rani kerja teeus jarang pulang, hanya kirim uang saja. mana ada soerang laki2 dwwasa yang sudah berumahtangga bisa kuat saat jauh dari istrinya....
Vie
sebelum menjadi imam maaa depan, kamu harus terbiaaa dwngan imam maaa sekarang dulu dong adimas.... gimana sih kamu tuh... 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
LIXX: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Pᴀɴɢᴇʀᴀɴ Kᴇ-7
bagus soundtrack nya ly
LIXX: o makacih kang dadang😘
total 1 replies
Miss Typo
selama 4 thn itu ada cerita wok yg ngejar² Rani gak ya? atau mlh Kyun yg jatuh cinta ke Rani 😁
Miss Typo: makin penasaran nih jadinya 😁
total 2 replies
Miss Typo
mau baca cerita Elyra kok takut nyesek nangis terus 🙈
kayaknya banyak mengandung bawang
LIXX: gak ada,
total 1 replies
Miss Typo
hajar tuh ibu tiri Rani semangat Elyra go go go 🤣
Miss Typo
aku ikut emosi melihat papa nya Rani
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!