Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Rencana Seorang Insinyur
Malam pertama di dunia baru itu panjang.
Aku menghabiskan sebagian besar waktunya hanya untuk berbaring, memejamkan mata, tapi tidak tidur. Pikiranku bekerja seperti mesin yang baru dinyalakan setelah lama mati—berputar lambat pada awalnya, lalu semakin cepat, semakin panas, sampai akhirnya tak bisa dihentikan.
Evaluasi situasi.
Tubuh: lemah. Racun masih bersisa. Butuh waktu untuk pulih sepenuhnya. Berdasarkan getaran di tanganku, mungkin tiga sampai empat hari sebelum bisa melakukan aktivitas fisik ringan.
Sumber daya: satu orang tua setia dengan luka retak tulang rusuk. Satu rumah reyot. Makanan untuk dua minggu. Uang beberapa koin perak. Senjata satu pedang dan satu belati.
Musuh: tiga puluh pendekar dengan pemimpin licin yang punya koneksi ke klan besar.
Rasio kekuatan: 1:30. Dengan asumsi Hyun Moo bisa mengalahkan sepuluh orang sendirian (optimis, mengingat lukanya), maka aku harus mengalahkan dua puluh orang.
Aku hampir tertawa. Di dunia sebelumnya, rasio seperti ini berarti proyek gagal total. Tapi di sini? Di dunia di mana orang bisa terbang dan membelah batu dengan telanjang tangan? Mungkin lebih buruk.
Tapi aku punya keunggulan.
Mereka tidak tahu apa yang aku tahu.
---
Pagi datang dengan suara ayam berkokok di kejauhan. Cahaya matahari masuk melalui celah-celah dinding kayu yang tidak rapat. Aku membuka mata dan mendapati Hyun Moo sudah duduk di sudut ruangan, mengasah pedangnya. Gerakannya lambat, hati-hati. Wajahnya pucat.
"Kau tidak tidur?" tanyaku.
Hyun Moo menoleh. "Tuan juga."
"Aku tidak bisa tidur."
"Luka masih sakit?"
"Pikiranku lebih sakit daripada lukaku."
Pria tua itu tersenyum tipis. Entah mengerti, entah tidak. Tapi dia berdiri, berjalan ke dapur, dan kembali dengan semangkuk bubur hangat.
"Ini yang bisa kita buat. Hanya bubur. Tapi cukup untuk mengisi perut."
Aku duduk dengan susah payah. Tubuh ini terasa seperti besi tua yang berkarat. Setiap sendi berderit protes. Tapi aku berhasil mengambil mangkuk dan mulai makan.
Buburnya hambar. Hanya nasi yang dimasak dengan air. Tapi perutku yang kosong selama tiga hari menerimanya seperti makanan terbaik di dunia.
Sambil makan, aku bertanya, "Kau sudah berapa lama mengabdi pada klan kita?"
Hyun Moo duduk di seberangku. "Empat puluh tahun, Tuan. Sejak aku masih muda. Patriark—ayah Tuan—menyelamatkan hidupku dalam sebuah pertempuran. Sejak itu aku bersumpah setia."
"Dan kau tidak pernah menyesal?"
"Tidak pernah."
"Bahkan sekarang? Saat klan kita hancur, Patriark mati, dan satu-satunya pewaris adalah pemuda lemah seperti aku?"
Hyun Moo menatapku. Matanya tajam, tapi tidak ada penghinaan di sana. Hanya... keanehan.
"Tuan berbeda," katanya pelan.
"Berbeda?"
"Sebelum koma, Tuan adalah pemuda yang... maaf, Tuan... pemalu. Penurut. Tidak pernah bicara banyak. Tapi sekarang?" Ia menggeleng pelan. "Tuan bicara seperti orang yang sudah memimpin puluhan tahun. Ada sesuatu di mata Tuan. Sesuatu yang tidak kumengerti."
Aku diam sejenak. Harus hati-hati. Di dunia ini, reinkarnasi mungkin bukan hal yang aneh. Tapi lebih baik tidak menjelaskan terlalu banyak.
"Mungkin racun itu membunuh Jin Tae-Kyung yang lama," kataku akhirnya. "Yang tersisa hanya... ini."
Hyun Moo menatapku lama. Lalu dia mengangguk.
"Mungkin itu berkah tersembunyi, Tuan."
Aku tidak menjawab. Aku hanya melanjutkan makanku.
---
Setelah sarapan, aku memerintahkan Hyun Moo untuk memeriksa rumah ini secara detail. Setiap sudut, setiap ruangan, setiap benda yang mungkin berguna. Aku butuh inventarisasi lengkap.
Sementara dia pergi, aku berbaring lagi dan mencoba mengingat semua pengetahuan teknis yang pernah kudapatkan. Di kepala, aku mulai mendesain.
Pertama: tungku.
Tungku sederhana bisa dibuat dari tanah liat yang dicampur jerami. Tapi untuk mencapai suhu yang cukup untuk melelehkan besi, butuh lebih dari itu. Butuh refraktori. Butuh sistem aliran udara. Butuh bahan bakar berkualitas.
Arang bisa dibuat sendiri. Tapi butuh kayu. Banyak kayu.
Kedua: bahan baku.
Bijih besi? Tidak tahu di mana mendapatkannya. Tapi pasti ada. Dunia ini menggunakan logam untuk senjata, pasti ada tambang di suatu tempat. Tapi untuk sekarang, mungkin aku harus menggunakan barang bekas. Pedang rusak, peralatan dapur, apa pun yang mengandung besi.
Ketiga: senjata.
Apa yang bisa kubuat dengan sumber daya terbatas? Panah? Tidak efektif melawan pendekar level menengah. Mereka bisa menangkis panah dengan pedang.
Tapi bagaimana dengan panah dalam jumlah banyak? Puluhan, ratusan dalam waktu bersamaan?
Crossbow dengan mekanisme pengokang otomatis? Mungkin terlalu rumit untuk sekarang.
Atau...
Pikiranku berhenti pada satu ide. Ide gila. Tapi di dunia gila ini, mungkin itulah satu-satunya cara.
Aku tersenyum sendiri.
---
Hyun Moo kembali satu jam kemudian dengan laporan.
"Rumah ini punya tiga ruangan, Tuan. Ruang utama ini, dapur di belakang, dan satu kamar kecil. Di dapur ada peralatan masak: panci besi, wajan, pisau dapur. Di gudang kecil di belakang, ada peralatan pertanian: cangkul, sabit, sekop. Semua dari besi."
"Bagus," kataku. "Itu bahan baku kita."
"Bahan baku? Untuk apa?"
"Aku akan menjelaskan nanti. Ada lagi?"
Hyun Moo mengangguk. "Di belakang rumah, ada tumpukan kayu bakar. Cukup banyak. Mungkin untuk persediaan musim dingin. Dan di samping rumah, ada sumur. Airnya jernih."
"Tanah liat?"
"Di sungai kecil sekitar setengah li dari sini, ada tanah liat. Penduduk desa biasa mengambilnya untuk membuat periuk."
Aku mengangguk puas. Sumber daya yang cukup untuk memulai.
"Hyun Moo, aku butuh kau melakukan beberapa hal."
"Silakan perintah, Tuan."
"Pertama, pergi ke desa. Cari tukang besi. Beli semua peralatan bekas yang bisa kau dapatkan. Palu, landasan, penjepit. Jika tukang besi punya pipa besi, beli juga. Berapa pun harganya."
"Tapi Tuan, uang kita hanya..."
"Gunakan semua. Kita tidak butuh uang untuk hal lain. Makanan masih cukup untuk dua minggu."
Hyun Moo mengangguk, meskipun raut wajahnya menunjukkan kebingungan.
"Kedua, setelah itu, pergi ke sungai. Ambil tanah liat sebanyak yang bisa kau bawa. Simpan di halaman belakang."
"Tanah liat, Tuan?"
"Kau akan lihat nanti. Ketiga..." aku menatapnya serius. "Jangan bicara pada siapa pun tentang apa yang kita lakukan. Jika ada yang bertanya, katakan aku masih sakit parah dan kau sedang mencari ramuan. Jangan sebut tungku, jangan sebut besi, jangan sebut apa pun."
Hyun Moo menatapku dengan campuran rasa hormat dan kebingungan.
"Tuan... boleh aku bertanya?"
"Tentu."
"Sebenarnya... apa yang Tuan rencanakan?"
Aku diam sejenak. Lalu aku menatapnya lurus.
"Hyun Moo, kau percaya pada Qi? Pada kekuatan internal? Pada kultivasi?"
"Tentu. Itu dasar dari dunia persilatan."
"Kau tahu apa yang aku lihat ketika melihat pendekar mengeluarkan Qi?" Aku tidak menunggu jawabannya. "Aku melihat energi. Energi yang bisa diukur, diprediksi, dan... dimanfaatkan."
Hyun Moo mengerutkan kening.
"Tapi sebelum aku bisa memanfaatkan Qi, aku butuh sesuatu yang lebih dasar. Sesuatu yang tidak bergantung pada bakat atau darah biru."
"Apa itu, Tuan?"
"Baja."
Aku tersenyum melihat ekspresinya yang makin bingung.
"Dengar, Hyun Moo. Di dunia ini, kekuatan seorang pendekar tergantung pada level kultivasinya. Semakin tinggi level, semakin kuat Qi-nya, semakin kuat serangannya. Tapi ada satu hal yang selalu sama: senjata mereka."
"Senjata?"
"Pedang terbaik pun, jika terbuat dari besi biasa, akan patah jika bertemu dengan pedang dari baja berkualitas. Dan jika pedang itu patah di tengah pertempuran? Pendekar level tinggi pun bisa kalah oleh pendekar level rendah yang senjatanya utuh."
Pemahaman mulai muncul di mata Hyun Moo.
"Tuan... kau bisa membuat baja?"
"Aku bisa."
"Baja sejati? Bukan besi biasa?"
"Aku bisa membuat baja yang lebih keras, lebih tajam, lebih ringan dari apa pun yang ada di klan kita. Bahkan mungkin lebih baik dari pedang Klan Gong."
Hyun Moo terdiam. Matanya membelalak.
"Tapi... tapi itu... Tuan, jika itu benar, maka..."
"Maka kita tidak perlu mengalahkan tiga puluh pendekar. Kita hanya perlu membuat mereka ragu. Ketika senjata mereka patah oleh senjata kita, ketika baju besi mereka tidak bisa menahan tebasan kita, ketika mereka melihat bahwa Hojun membawa mereka ke pertempuran yang tidak bisa mereka menangkan... maka loyalitas mereka akan goyah."
Aku berhenti sejenak.
"Dan ketika loyalitas goyah, Hojun akan kehilangan kekuatannya."
Hyun Moo menatapku lama. Sangat lama. Lalu tiba-tiba, dia berlutut. Satu lutut menyentuh lantai. Kepalanya menunduk dalam-dalam.
"Tuan," suaranya bergetar. "Aku sudah mengabdi pada klan ini selama empat puluh tahun. Aku melihat Patriark bertarung dan mati dengan hormat. Aku melihat kakak Tuan gugur sebagai pahlawan. Tapi aku... aku tidak pernah melihat harapan seperti ini."
Dia mengangkat kepalanya. Matanya basah.
"Jika Tuan benar-benar bisa melakukan apa yang Tuan katakan... maka mungkin klan ini tidak akan mati. Mungkin kita bisa bangkit kembali."
Aku tidak tahu harus berkata apa. Di kehidupan sebelumnya, tidak ada yang pernah berlutut padaku. Aku hanya insinyur. Pekerja. Budak korporat.
Tapi di sini? Di sini aku adalah pemimpin. Harapan terakhir.
"Berdiri, Hyun Moo," kataku pelan. "Kita belum menang. Kita baru mulai. Dan untuk mulai, aku butuh kau melakukan apa yang kuperintahkan. Bisa?"
Hyun Moo mengangguk tegas. "Bisa, Tuan. Aku akan berangkat sekarang."
"Tunggu."
Aku meraih tangannya. Dia terkejut, tapi tidak menarik diri.
"Kau terluka. Jangan memaksakan diri. Jika situasi berbahaya, mundur. Aku lebih butuh kau hidup daripada membawa peralatan. Paham?"
Untuk sesaat, Hyun Moo terdiam. Lalu senyum tipis muncul di wajah tuanya.
"Tuan... kau berbeda. Sangat berbeda."
"Aku sudah bilang. Racun itu membunuh yang lama."
Dia tertawa kecil. "Mungkin racun itu adalah berkah, Tuan. Mungkin itu adalah takdir."
Dia pergi setelah mengucapkan salam. Aku mendengar langkah kakinya menjauh, lalu suara pintu kayu dibuka dan ditutup.
Aku sendirian.
Perlahan, dengan susah payah, aku bangkit dari tempat tidur. Tubuh ini masih lemah, tapi aku harus mulai bergerak. Tidak ada waktu untuk bermalas-malasan.
Aku berjalan ke dapur, berpegangan pada dinding setiap beberapa langkah. Di dapur, aku menemukan panci-panci besi, wajan tua, dan beberapa pisau. Aku mengambil salah satu pisau dan menimbangnya di tangan.
Besi biasa. Kualitas rendah. Mungkin mengandung terlalu banyak karbon. Getas.
Aku membaliknya, melihat permukaannya yang sudah berkarat di beberapa tempat.
"Dengan bahan baku seperti ini, kau mau membuat baja?" gumamku sendiri. "Kau benar-benar gila, Purnama."
Tapi orang gila adalah orang yang melakukan hal yang sama berulang-ulang dan mengharapkan hasil berbeda. Aku tidak akan melakukan itu. Aku akan melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan orang di dunia ini.
Aku berjalan ke halaman belakang. Di sana, sesuai laporan Hyun Moo, ada tumpukan kayu bakar. Kayu kering, bagus untuk membuat arang.
Di samping tumpukan kayu, ada area kosong dengan tanah yang rata. Di sinilah tungku pertama akan kubangun.
Aku membayangkannya di kepala. Bentuk silinder, diameter sekitar satu meter, tinggi satu setengah meter. Lubang udara di bagian bawah. Cerobong di bagian atas. Pintu kecil untuk memasukkan bahan bakar dan mengeluarkan terak.
Tanah liat sebagai bahan dasar. Jerami untuk memperkuat struktur. Arang sebagai bahan bakar. Dan sistem aliran udara yang efisien untuk mencapai suhu yang cukup tinggi.
Mungkin butuh beberapa kali percobaan. Mungkin akan gagal berkali-kali. Tapi aku punya waktu. Dua minggu. Mungkin kurang.
Angin sepoi-sepoi berhembus. Aku menatap langit yang cerah. Di kejauhan, kulihat kepulan asap tipis. Mungkin desa. Mungkin markas Jin Hojun.
Mereka tidak tahu.
Mereka tidak tahu bahwa di gubuk reyot ini, seorang pria yang seharusnya sudah mati sedang merencanakan kebangkitan.
Aku tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak mati di jembatan Kalimantan, aku merasa hidup.
---
Hyun Moo kembali menjelang sore. Wajahnya kelelahan, tapi matanya bersinar.
"Aku berhasil, Tuan."
Dia meletakkan karung besar di lantai. Aku membukanya. Di dalamnya ada palu besi, landasan kecil (tapi berat), penjepit, dan beberapa batang pipa besi tipis. Juga ada kikir dan gergaji besi.
"Ini semua dari tukang besi di desa. Harganya... habis semua uang kita."
"Tidak apa-apa." Aku memeriksa peralatannya. Kualitas biasa, tapi masih layak pakai. "Tanah liat?"
"Di halaman belakang. Aku ambil dua karung. Cukup?"
"Cukup untuk memulai."
Hyun Moo menghela napas lega. Lalu dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Selembar kertas kumal.
"Ini juga, Tuan. Aku menemukannya di desa. Seorang pengembara menjualnya."
Aku membuka kertas itu. Itu adalah peta sederhana. Peta wilayah klan Jin dan sekitarnya. Markas klan, desa-desa, sungai, hutan. Dan yang paling penting... lokasi tambang besi kecil yang sudah ditinggalkan.
"Aku ingat tempat ini," kata Hyun Moo. "Dulu, puluhan tahun lalu, klan kita punya tambang kecil. Tapi kualitas bijihnya rendah, biaya operasional tinggi. Akhirnya ditutup."
Bijih besi.
Itu lebih berharga daripada emas sekarang.
"Kau bisa ke sana?"
Hyun Moo mengerutkan kening. "Bisa. Tapi butuh waktu setengah hari perjalanan. Dan medannya berat. Dengan luka ini..."
"Tidak sekarang." Aku menggeleng. "Prioritas kita sekarang tungku. Setelah tungku jadi dan aku bisa bergerak lebih baik, kita pikirkan tambang itu."
Aku menatap peta itu lama. Garis-garis sederhana itu, di mataku, bukan hanya peta. Itu adalah papan catur. Dan bidak-bidak mulai bergerak.
"Hyun Moo."
"Iya, Tuan."
"Besok kita mulai membangun. Kau akan jadi tenaga kerjaku. Siap?"
Pria tua itu tersenyum. Senyum pertama yang benar-benar tulus sejak aku bertemu dengannya.
"Siap, Tuan. Untuk pertama kalinya dalam dua minggu... aku merasa punya alasan untuk bangun pagi."
Aku menepuk bahunya. Hati-hati, agar tidak melukainya.
"Istirahat sekarang. Besok kita kerja keras."
Dia mengangguk dan pergi ke sudut ruangan, duduk bersila, memejamkan mata. Mungkin meditasi. Mungkin tidur. Aku tidak tahu.
Aku kembali ke tempat tidurku. Tubuh ini masih lemah, tapi besok akan lebih baik. Lusa akan lebih baik lagi.
Perlahan, mataku terpejam.
Dan untuk pertama kalinya sejak terbangun di dunia ini, aku tidur tanpa mimpi buruk.
---
[Bersambung ke Bab 3]