"Di dunia para penguasa, segalanya bisa dibeli—termasuk keturunan. Namun, apa jadinya jika rahim yang disewa justru membawa cinta yang tak terduga?"
Adrian Ardilwilaga adalah definisi sempurna dari kekuasaan dan kekayaan. Sebagai CEO Miliarder dari Ardilwilaga Group, ia memiliki segalanya, kecuali satu hal yang sangat dituntut oleh dinasti keluarganya: seorang pewaris. Pernikahannya dengan Maya Zieliński, wanita sosialita kelas atas yang anggun namun menyimpan rahasia kelam tentang kesehatannya, berada di ambang kehancuran karena tekanan sang mertua yang otoriter.
Demi menjaga status dan cinta Adrian, Maya merancang sebuah rencana nekat—sebuah kontrak rahim ilegal. Pilihan jatuh kepada Sasha Vukoja, seorang mahasiswi seni berbakat asal Polandia yang sedang terdesak kesulitan ekonomi. Sasha setuju untuk menjadi ibu pengganti, tanpa pernah menyangka bahwa ia akan jatuh hati pada sang pemberi kontrak.
Ketegangan memuncak saat Arthur, sang pangeran mahkota, lahir.Bagaimana kelanjutannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Pilar-pilar Istana
Liburan di Bali dan Labuan Bajo yang tadinya terasa seperti oase di tengah padang pasir, berakhir dengan kepulangan yang mendadak. Bukan karena Reza Mahardika, melainkan karena sebuah panggilan telepon dari kediaman utama Ardilwilaga. Haryo Ardilwilaga, sang patriark yang selama ini memegang kendali atas klan tersebut, jatuh pingsan di ruang kerjanya. Adrian dan Maya terpaksa mendarat di Jakarta pada tengah malam yang lembap, langsung menuju rumah sakit pusat tempat ayahnya dirawat.
Namun, yang tidak mereka ketahui adalah bahwa badai sebenarnya sudah menunggu di dalam kamar perawatan VIP itu. Haryo tidak sekadar sakit; ia sedang menanggung beban kebenaran yang jauh lebih menyakitkan daripada serangan jantung mana pun.
Saat Adrian dan Maya masuk ke ruangan dengan wajah cemas, mereka tidak menemukan seorang pria tua yang lemah di atas ranjang. Haryo duduk tegak di kursinya, dengan selang infus yang masih menempel di tangan kirinya. Wajahnya yang biasa berwibawa kini tampak seperti pahatan batu yang menyimpan kemarahan purba. Di meja di hadapannya, berserakan tumpukan dokumen medis, foto-foto buram dari Warsawa, dan sebuah laporan DNA yang sangat baru.
"Pa, apa yang terjadi? Kenapa Papa memaksakan diri bangun?" tanya Adrian, melangkah maju dengan niat membantu.
"Jangan mendekat, Adrian," suara Haryo rendah, bergetar karena emosi yang tertahan. Matanya beralih ke Maya yang berdiri di belakang Adrian, menggendong Arthur yang sedang terlelap. "Dan kau, Maya... Letakkan anak itu di boksnya sekarang. Aku tidak ingin dia merasakan hawa dingin dari apa yang akan aku katakan."
Maya merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia melirik Adrian, mencari perlindungan, namun suaminya pun tampak membeku. Dengan tangan gemetar, Maya meletakkan Arthur ke dalam kereta bayi di sudut ruangan. Begitu ia berbalik, sebuah map kuning dilemparkan Haryo ke lantai, tepat di depan kaki mereka.
"Jelaskan padaku," tuntut Haryo, matanya kini merah. "Jelaskan kenapa golongan darah Arthur sama sekali tidak cocok dengan golongan darahmu, Maya. Dan jelaskan padaku, kenapa tim investigasi pribadiku menemukan fakta bahwa istrimu ini, Adrian, telah menjalani histerektomi total tiga tahun sebelum kalian menikah!"
Keheningan yang menyusul kata-kata itu begitu pekat hingga suara detak jam di dinding rumah sakit terdengar seperti dentuman meriam. Maya jatuh terduduk di lantai marmer, wajahnya yang cantik kini pucat pasi, seperti mayat yang baru saja bangkit. Rahasia yang ia jaga dengan nyawa, dengan uang, dan dengan manipulasi tingkat tinggi, kini terpampang telanjang di hadapan pria yang paling ia takuti.
"Papa... aku bisa jelaskan," bisik Maya, suaranya nyaris hilang.
"Apa yang mau kau jelaskan?!" Haryo berdiri, suaranya meledak, membuat Arthur terbangun dan mulai menangis kencang. "Bahwa kau membohongiku? Bahwa kau membiarkan darah Ardilwilaga tercampur dengan rahim entah siapa?! Kau membawa orang asing ke dalam silsilah keluargaku! Kau memalsukan kehamilan, kau memalsukan kelahiran, dan kau membuat anakku sendiri terlihat seperti orang bodoh di hadapanku!"
Adrian melangkah maju, menghalangi ayahnya yang hendak mendekati Maya. "Pa, dengarkan aku. Ini bukan sepenuhnya salah Maya. Aku tahu. Aku tahu semuanya."
Haryo tertegun. Ia menatap putranya dengan tatapan tidak percaya. "Kau tahu? Kau tahu istrimu mandul dan kau membiarkannya menyewa rahim wanita lain? Adrian, di mana otakmu?! Kamu pewaris tunggal kerajaan ini! Kamu seharusnya mencari istri baru yang bisa memberimu keturunan yang sah, bukan melakukan sandiwara menjijikkan ini!"
"Arthur adalah darah dagingku, Pa!" bentak Adrian, suaranya menggelegar mengalahkan tangisan Arthur. "Dia anakku! Dia membawa sperma Ardilwilaga! Hanya rahimnya saja yang bukan dari Maya. Apakah itu membuatnya kurang berharga sebagai cucumu?"
"Di dalam hukum keluarga ini, dia adalah skandal!" Haryo menunjuk ke arah Arthur dengan jari yang gemetar. "Dia lahir dari transaksi bisnis, bukan dari pernikahan yang suci. Dan wanita itu... siapa dia? Siapa pelacur yang kau sewa untuk mengandung cucuku?!"
"Jangan panggil dia pelacur!" teriak Adrian. "Namanya Sasha, dan dia adalah wanita paling terhormat yang pernah aku temui! Dia memberikan nyawanya untuk anak ini karena Maya tidak bisa!"
Pernyataan itu seperti petir yang menyambar ruangan. Maya menutup wajahnya dengan kedua tangan, terisak hebat di lantai. Kebenarannya kini telah keluar dengan cara yang paling brutal. Seluruh sandiwara yang mereka bangun selama berbulan-bulan, perjalanan mereka melintasi Indonesia, kebahagiaan semu yang mereka rasakan di Ubud, semuanya runtuh seketika di hadapan kemarahan sang patriark.
Haryo duduk kembali, napasnya tersengal. Ia menatap Maya dengan kebencian yang murni. "Kau... kau adalah wanita yang paling licik yang pernah aku kenal, Maya. Kau menipu anakku, kau menipu aku, dan kau menghancurkan martabat Ardilwilaga hanya demi mempertahankan posisimu sebagai nyonya di rumah ini."
"Aku melakukannya karena aku mencintai Adrian, Papa!" teriak Maya di sela isaknya. "Aku takut kehilangan dia! Aku tahu betapa Papa menuntut seorang pewaris, dan aku tidak punya pilihan! Aku ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga ini!"
"Memberikan yang terbaik dengan cara membohongi dunia?" Haryo tertawa sinis. "Kau tahu apa yang akan terjadi sekarang? Berita ini akan sampai ke telinga publik jika aku tidak bertindak. Dan musuhmu, Reza Mahardika... dia sudah tahu, bukan? Itulah sebabnya dia menyerang kita habis-habisan! Kita berada di ambang kehancuran karena kebohonganmu!"
Haryo kemudian menatap Adrian dengan dingin. "Besok pagi, kamu akan menceraikan wanita ini. Kita akan mengatur agar Arthur dinyatakan sebagai anak dari 'ibu yang meninggal saat persalinan' untuk menutupi jejak Maya. Dan mengenai wanita Polandia itu... aku akan memastikan dia tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki di negara ini lagi. Dia adalah ancaman bagi reputasi kita."
"Tidak, Pa," suara Adrian kini tenang namun sangat berbahaya. Ia berjalan menuju kereta bayi, mengambil Arthur yang masih menangis, dan mendekapnya erat di dadanya. "Aku tidak akan menceraikan Maya sekarang hanya karena perintah Papa. Dan aku tidak akan membiarkan Papa menyentuh Sasha. Jika Papa mencoba menghancurkan hidup mereka, maka aku akan keluar dari perusahaan ini. Aku akan membawa Arthur dan Maya, dan Papa bisa mencari pewaris lain di tempat sampah mana pun yang Papa mau."
Haryo terperangah. Ia tidak menyangka putra yang selama ini ia bentuk menjadi pemimpin yang dingin, kini berani melawannya demi sebuah keluarga yang dibangun di atas kebohongan. "Kau mengancamku demi seorang bayi sewaan dan istri mandul?"
"Aku membela keluargaku, Pa. Sesuatu yang Papa ajarkan padaku sejak kecil," jawab Adrian tajam. "Mungkin cara kami salah. Mungkin kami berdosa. Tapi Arthur adalah kenyataan. Dan jika Papa tidak bisa menerima dia sebagai cucu Ardilwilaga karena rahim tempat dia tumbuh, maka Papa tidak layak memiliki kami."
Adrian menarik Maya untuk berdiri. Maya, dengan wajah yang berantakan karena air mata, memegang lengan suaminya dengan erat. Untuk pertama kalinya, mereka benar-benar berdiri di sisi yang sama, bukan karena manipulasi, tapi karena mereka adalah rekan dalam dosa yang sama.
"Kami pergi, Pa," ujar Adrian. "Pikirkanlah. Jika Papa ingin melihat Arthur tumbuh besar, Papa harus menerima Maya sebagai ibunya dan masa lalu kami sebagai bagian dari sejarah ini. Jika tidak, anggap saja Ardilwilaga tidak pernah memiliki pewaris."
Mereka melangkah keluar dari kamar perawatan itu, meninggalkan Haryo yang terpaku dalam kemarahannya yang sia-sia. Di koridor rumah sakit yang sepi, Maya terus menangis sambil memegangi ujung jas Adrian.
"Terima kasih, Mas... terima kasih sudah membelaku," bisik Maya parau.
Adrian tidak menjawab dengan kata-kata manis. Ia menatap lorong panjang di depannya. "Jangan berterima kasih padaku, May. Kita baru saja menyatakan perang pada duniaku sendiri. Dan mengenai Sasha... kebenaran ini tidak akan berhenti di sini. Reza pasti akan menggunakan ini."
Malam itu, Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya. Di dalam mobil yang membawa mereka pulang, Arthur telah kembali tertidur dalam dekapan Maya. Adrian menatap ke luar jendela, melihat lampu-lampu kota yang seolah menertawakan kemalangan mereka. Rahasia telah terbongkar, benteng telah runtuh, dan kini mereka harus menghadapi badai yang sesungguhnya: dunia yang akan segera tahu bahwa sang pewaris Ardilwilaga lahir dari rahim seorang wanita asing yang kini berada ribuan kilometer jauhnya.
Sementara di kediaman Ardilwilaga, Haryo meraih teleponnya. Wajahnya yang tua tampak sangat lelah. "Hubungi tim hukum. Dan cari tahu di mana keberadaan wanita Polandia itu sekarang. Jika Adrian tidak mau bertindak, aku yang akan menyelesaikan masalah ini dengan caraku."
Peperangan baru saja dimulai. Bukan lagi tentang bisnis, tapi tentang darah, kehormatan, dan hak atas seorang anak yang tak berdosa.