Novel ini adalah sekuel dari novel yang berjudul: Dinikahi Sang Duda Kaya yang sudah tamat sebelumnya.
Alea Ardiman, "The Smiling Shark" yang jenius namun anti-cinta, harus berurusan dengan dr. Rigel Kalandra setelah jatuh pingsan. Rigel, dokter bedah saraf yang dingin, adalah satu-satunya pria yang berani membanting laptop kerja Alea dan mengabaikan ancaman kekayaannya.
"Simpan uang Anda, Nona Alea. Di ruangan ini, detak jantung Anda lebih penting daripada Indeks Harga Saham Gabungan."
Alea merasa tertantang, tanpa menyadari bahwa Rigel sebenarnya adalah pewaris tunggal konglomerat farmasi sekaligus "Investor Paus" yang diam-diam melindungi perusahaannya. Ketika Ratu Saham yang angkuh bertemu Dokter Sultan yang diam-diam bucin, siapakah yang akan jatuh cinta duluan di bawah pengawasan ketat Papa Gavin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Papa Gavin Mulai Curiga Lagi
"Senyum kamu itu. Aneh."
Suara berat Gavin Ardiman memecah keheningan di ruang makan penthouse pagi itu. Sendok perak di tangan Alea berhenti di udara, setengah jalan menuju mulutnya.
Alea mendongak, berusaha memasang wajah datar secepat kilat. Dia baru saja membaca pesan singkat dari Rigel yang isinya cuma emoji kucing melet, tapi efeknya bikin pipi Alea merona seperti ABG jatuh cinta.
"Apanya yang aneh, Pa? Alea cuma senyum karena... bubur yang papa bawa ini enak. Koki baru ya?" elak Alea, buru-buru mematikan layar ponselnya dan meletakkannya terbalik di atas meja.
Gavin menyipitkan mata, menatap putrinya dengan tatapan menyelidik ala interogasi bisnis. Dia tidak sebodoh itu. Dia hapal betul tabiat putrinya.
Alea yang dia kenal adalah "Ratu Es" yang jarang tersenyum di pagi hari, apalagi sambil menatap layar ponsel dengan mata berbinar-binar.
"Bubur itu buatan koki yang sama sejak lima tahun lalu, Alea," jawab Gavin dingin. Dia meletakkan koran bisnisnya. "Dan sejak kapan kamu mengunci HP kamu rapat-rapat? Biasanya kamu taruh sembarangan di sofa."
"Privasi, Pa. Alea kan udah dewasa," Alea menyeruput jus jeruknya dengan gugup. "Banyak rahasia perusahaan di HP ini. Bahaya kalau bocor."
"Rahasia perusahaan atau rahasia asmara?" tembak Gavin tepat sasaran.
Alea tersedak. "Uhuk! Pa! Ngomong apa sih? Asmara apaan? Alea sibuk kerja! Liat nih mata panda Alea!"
"Kerja?" Gavin mendengus. "Kamu bilang kerja, tapi seminggu ini kamu pulang jam dua belas malam terus. Alasannya lembur, meeting luar, inspeksi cabang. Tapi laporan keuangan Triple A stabil-stabil aja. Nggak ada krisis yang mengharuskan CEO-nya keluyuran tengah malam."
Alea meneguk ludah. Insting papanya memang mengerikan. Padahal, "lembur" yang dimaksud Alea adalah keliling Jakarta naik mobil mewah Rigel, makan sate taichan di Senayan, atau sekadar pacaran diam-diam di parkiran basement yang sepi.
"Namanya juga ekspansi, Pa. Alea harus turun lapangan," Alea berdiri, menyambar tas kerjanya. Dia tidak tahan diinterogasi lebih lama. "Udah ah, Alea telat. Hari ini ada... ehm... meeting sama investor dari Dubai. Pulang malem lagi."
Tanpa mencium tangan papanya—takut ketahuan bohong lewat detak nadi—Alea setengah berlari menuju pintu keluar.
Gavin menatap punggung putrinya yang menghilang di balik pintu. Rahangnya mengeras. Dia merasakan ada yang tidak beres. Bau kebohongan tercium sangat menyengat.
Gavin mengambil ponselnya sendiri dari saku jasnya. Dia menekan sebuah nomor kontak yang tidak disimpan dengan nama, hanya inisial "PI".
"Halo, Pak Reno," ucap Gavin datar saat sambungan terhubung. "Target sudah keluar dari apartemen. Ikuti dia seharian ini. Saya mau tahu ke mana dia pergi, sama siapa dia bertemu, dan apa yang dia lakukan sampai tengah malam."
Suara di seberang sana menjawab sigap. "Siap, Pak Gavin. Laporan akan saya kirim real time."
"Jangan sampai ketahuan. Anak saya licin kayak belut," pesan Gavin sebelum memutus sambungan.
Gavin sengaja datang sendirian ke apartemen anaknya tanpa Kiana, istrinya, agar dia leluasa mengasih instruksi pada dektektif swasta langganannya tanpa perlu mendengar omelan panjang kali lebar Kiana. Kiana kurang suka jika Gavin memperlakukan Alea kayak anak kecil.
Malam harinya, pukul sebelas lewat.
Gavin duduk sendirian di ruang kerja Alea yang gelap. Hanya lampu meja belajar yang menyala, menyoroti segelas kopi yang belum disentuh. Matanya menatap tajam ke arah jam dinding yang berdetak konstan.
Tik... tak... tik... tak...
Alea belum pulang.
Ting.
Ponsel Gavin bergetar di atas meja mahoni. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Pak Reno, sang detektif swasta.
Gavin segera menyambar ponsel itu. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara rasa penasaran dan takut akan kenyataan.
[Pak Reno - Private Investigator]
Target terpantau di area parkir VIP Gedung Kalandra Tower. Target tidak sedang meeting bisnis.
Gavin mengernyit. Kalandra Tower? Untuk apa Alea di sana malam-malam begini?
[Pak Reno - Private Investigator]
Mengirim foto bukti. Resolusi tinggi.
Sebuah file gambar terunduh.
Gavin membukanya.
Darah Gavin seolah berhenti mengalir seketika. Matanya membelalak lebar, menatap layar ponsel yang menampilkan foto candid namun sangat jelas berkat lensa kamera canggih sang detektif.
Di foto itu, terlihat sebuah mobil hypercar yang sangat mencolok. Warnanya hitam matte, desainnya futuristik dan agresif.
Sebagai kolektor mobil mewah, Gavin tahu persis mobil apa itu. Veleno GT. Mobil super langka yang harganya bisa membangkrutkan pengusaha biasa.
Tapi bukan mobil itu yang membuat napas Gavin tercekat.
Di dalam mobil yang kaca jendelanya sedikit terbuka itu, terlihat dua siluet manusia. Lampu jalan menyorot wajah mereka dengan cukup jelas.
Alea. Putrinya.
Sedang merangkul leher seorang pria.
Dan pria itu... pria itu adalah Rigel. Si dokter "miskin" yang tempo hari Gavin usir dan dia hina sepatunya.
Di foto itu, mereka sedang berciuman. Mesra. Intim. Seolah dunia hanya milik berdua.
Gavin menggeser layar ke foto berikutnya. Foto plat nomor mobil itu dan data kepemilikan yang berhasil dilacak detektifnya.
DATA KENDARAAN:
Merk: Veleno GT - Limited Edition
Pemilik: Rigel Kalandra
Alamat: Kalandra Estate, Menteng.
Tangan Gavin gemetar hebat. Bukan karena takut, tapi karena amarah yang meledak sampai ke ubun-ubun.
"Kalandra..." desis Gavin, suaranya parau dan mengerikan.
Otaknya langsung menyusun kepingan puzzle yang selama ini berserakan.
Nama belakang Rigel. Kalandra.
Dia bekerja di Rumah Sakit Ardiman tapi tidak bisa dipecat.
Gaya bicaranya yang tenang dan tidak takut pada Gavin.
Dan mobil Veleno GT ini... hanya keluarga inti Kalandra yang mungkin memilikinya.
Gavin merasa ditampar bolak-balik. Dia merasa dipermainkan. Dia merasa bodoh karena sempat mengira Rigel adalah benalu miskin, padahal kenyataannya dia adalah anak dari saingan bisnis terbesarnya, Keluarga Kalandra.
"Jadi dia anak Kalandra?" Gavin tertawa getir, tawa yang penuh emosi. "Pewaris tunggal itu? Dan dia pura-pura jadi gembel di depan saya? Masuk ke rumah saya, mendekati anak saya dengan topeng dokter miskin?"
Gavin membayangkan betapa Rigel dan Alea mungkin menertawakannya di belakang punggung. Menertawakan kesombongan Gavin yang menghina sepatu butut Rigel.
"Kurang ajar..."
Gavin meremas ponsel di tangannya begitu kuat hingga terdengar bunyi retakan halus. Layar ponsel itu pecah, membelah wajah Rigel di foto menjadi dua bagian yang retak.
"Berani-beraninya dia main belakang sama saya!" teriak Gavin, membanting gelas kopi ke dinding hingga hancur berkeping-keping. "Alea! Kamu benar-benar cari masalah!"
aya Aya wae nich dokter satu......
Alea di tantangin......
papa jual......Alea beli....