Lyra Graceva hanyalah seorang sekretaris teliti yang hidup dalam bayang-bayang trauma ibunya dan status "anak haram". Namun, dunianya runtuh sekaligus bangkit saat bosnya yang obsesif, Sean Nathaniel Elgar, menjeratnya dalam sebuah pernikahan kontrak yang berubah menjadi kepemilikan mutlak. Di balik gairah panas dan sikap posesif Sean, tersembunyi rahasia kelam masa lalu yang melibatkan kedua orang tua mereka. Lyra yang awalnya rapuh, bertransformasi menjadi "Ratu" yang dingin demi membalaskan dendam ibunya dan mengungkap kebenaran tentang asal-usulnya, sementara Sean bersumpah akan menghancurkan siapa pun—termasuk keluarganya sendiri—demi menjaga Lyra tetap di sisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Rahasia di Balik Pintu Jati
Langkah Lyra terasa sangat berat saat ia memasuki lobi Elgar Group. Syal sutra bermotif bunga melingkar erat di lehernya, namun ia tetap merasa seolah semua pasang mata sedang menelanjangi dirinya. Tubuhnya terasa remuk, dan setiap langkah yang ia ambil memicu rasa nyeri yang mengingatkannya pada keganasan Sean beberapa jam lalu.
Begitu sampai di meja sekretaris, Seryl langsung menghambur ke arahnya.
"Lyra! Kau ke mana saja semalam? Dan... astaga, kau pucat sekali! Kau sakit?" Seryl menatap sahabatnya dengan cemas, namun matanya tiba-tiba terpaku pada bagian bawah syal Lyra yang sedikit bergeser saat Lyra menunduk.
"Lyra... itu apa?" Seryl menarik sedikit syal itu sebelum Lyra sempat menghindar. "Merah-merah ini... jangan bilang kau akhirnya menyerah pada Deryl?"
Dalam sekejap, tiga rekan kantor lainnya mendekat, ikut berbisik heboh.
"Wah, Sekretaris Graceva kita akhirnya melepaskan masa lajangnya?" goda salah satu staf pemasaran. "Siapa pria beruntung itu? Deryl sang pengusaha muda?"
"Pantas saja kau nampak lelah sekali, Lyra. Sepertinya pacarmu itu tipe yang... sangat menuntut, ya?" bisik rekan lainnya sambil tertawa kecil.
"Bukan... ini bukan apa-apa. Tolong, kembali bekerja," pinta Lyra dengan wajah memerah padam. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa 'pacar menuntut' yang mereka bicarakan sedang duduk di dalam ruangan mewah di belakangnya, memantau lewat kamera CCTV.
Bipp!
Interkom di meja Lyra berbunyi. Suara bariton Sean yang dingin terdengar. "Sekretaris Graceva, masuk ke ruangan saya sekarang. Bawa laporan vendor kemarin."
Lyra menghela napas, merapikan syalnya, dan masuk dengan jantung berdebar. Begitu pintu jati itu tertutup rapat, suasana berubah seketika. Sean tidak sedang menatap layar monitor; ia sedang berdiri di depan meja makan kecil yang sudah tersaji berbagai makanan mewah.
"Duduk dan makan," perintah Sean tanpa basa-basi.
"Pak, saya harus bekerja. Rekan-rekan di luar sudah curiga—"
"Aku tidak bertanya pendapatmu, Lyra. Kau tidak sempat sarapan karena ulahku tadi subuh. Kau butuh energi untuk menghadapi hari ini... dan malam ini."
Sean menarik kursi untuk Lyra. Di atas meja tersedia sup abalon, buah-buahan segar, dan sari kurma. "Makan semuanya. Ini khusus untuk menjaga staminamu agar tidak mudah tumbang."
Lyra mulai menyuap makanan itu dengan canggung sementara Sean memperhatikannya dengan tatapan intens. "Kenapa makanannya banyak sekali?"
"Ini menu sehat untuk meningkatkan kesehatan dan... kesuburanmu," bisik Sean sambil menyeringai miring. "Aku ingin rahimmu siap kapan pun aku memutuskan untuk menanamkan benihku di sana. Aku tidak suka menunda sesuatu yang sudah menjadi milikku."
"Sean! Kau gila! Kita baru menikah kemarin!"
"Dan aku ingin klaimku menjadi permanen dengan seorang ahli waris." Sean berdiri, berjalan ke belakang kursi Lyra, dan memijat bahu istrinya yang kaku. "Selesai makan?"
Sebelum Lyra sempat menjawab, Sean menarik tangan Lyra dan memaksa gadis itu berdiri, lalu dengan satu sentakan, ia mendudukkan Lyra di atas pangkuannya di kursi kebesaran CEO.
"Sean, jangan di sini... ini kantor," rintih Lyra, mencoba memberontak namun dekapan Sean di pinggangnya terlalu kuat.
"Ingat aturan main kita, Sayang. Di ruangan ini, kau adalah istriku yang patuh." Sean mencengkeram tengkuk Lyra, menarik wajahnya mendekat. "Lipstikmu terlalu rapi. Aku lebih suka melihatnya berantakan karena aku."
Sean membungkam mulut Lyra dengan ciuman panas yang menuntut. Lyra yang awalnya mencoba bertahan, perlahan mulai luluh. Gairah yang ditanamkan Sean semalam seolah kembali terbakar. Tangan Lyra merambat naik, meremas rambut Sean saat ciuman itu semakin dalam dan liar.
Tok! Tok! Tok!
Bunyi ketukan pintu yang keras dan tidak sabaran memecah suasana. Lyra tersentak, hampir melompat dari pangkuan Sean.
"Sean! Aku tahu kau di dalam! Buka pintunya!" suara melengking seorang wanita terdengar dari balik pintu.
Wajah Sean langsung berubah gelap. Kemarahan murni terpancar dari matanya. "Sialan. Siapa yang berani masuk tanpa izin?"
"Itu... itu suara Celia, kan?" bisik Lyra panik. Ia segera turun dari pangkuan Sean, mengambil cermin kecil dari sakunya, dan dengan tangan gemetar merapikan lipstiknya yang sudah hancur. "Sean, kau harus menemuinya! Dia wanita pilihan ibumu!"
Sean mendengus, merapikan kemejanya yang sedikit kusut. "Dia bukan siapa-siapa bagiku."
"Tapi dia tidak akan pergi sebelum melihatmu! Cepat, aku akan keluar lewat pintu samping!"
"Tidak. Tetap di sini," perintah Sean tegas. Ia menatap pintu dengan kebencian mendalam.
Pintu terbuka sebelum Sean sempat memberi izin. Celia masuk dengan gaya angkuh, mengenakan pakaian desainer dari ujung kepala hingga kaki. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Lyra ada di sana, tampak berantakan dengan syal yang sedikit miring.
"Oh, jadi ini alasan kau mengunci pintu, Sean?" Celia menatap Lyra dengan pandangan menghina. "Hanya untuk bersenang-senang dengan sekretarismu di jam kerja? Sungguh murahan."
Sean berdiri, auranya begitu mengintimidasi. "Jaga bicaramu, Celia. Atau aku pastikan keluargamu kehilangan kontrak suplai dengan Elgar Group sore ini juga."
Celia tersentak, namun ia tetap tidak menyerah. Ia mendekat ke arah Sean, mengabaikan keberadaan Lyra. "Tante Elgar yang menyuruhku ke sini. Dia bilang kita harus makan siang bersama untuk membahas pertunangan kita."
Lyra menunduk, hatinya terasa sesak. Meski ia tahu ia adalah istri sah Sean, di mata dunia, dialah yang dianggap 'orang ketiga' atau sekadar mainan.
Sean melirik Lyra yang tampak rapuh, lalu kembali menatap Celia dengan senyum dingin. "Katakan pada ibuku, aku sudah memiliki 'hiburan' yang jauh lebih memuaskan daripada perjodohan konyol itu. Sekarang, keluar sebelum aku memanggil keamanan untuk menyeretmu."
Rame sih ....
shack... shick.... shock..
cepet terungkapnya ... jebreet jebret...