Rahmat hanyalah siswa SMA biasa—miskin, bodoh, diremehkan, dan dipaksa menanggung hutang satu miliar yang ditinggalkan ayahnya.
Ibunya terbaring di rumah sakit, deb collector bernama tomy terus mengancamnya, memukuli Rahmat sampai hampir mau mati, ia diberi waktu lagi selama dua bulan.
Waktu hanya tersisa dua bulan. Saat segalanya terasa mustahil, sebuah suara muncul di kepalanya.
[Sistem Analisis Nilai Aktif.]
[Menampilkan nilai sebenarnya dari segala hal]
Dari jam tangan rongsok bernilai jutaan, hingga saham perusahaan raksasa yang diam-diam akan runtuh—Rahmat kini bisa melihat apa yang tak terlihat orang lain.
Namun dunia investasi bukan taman bermain.
Satu kesalahan berarti kehancuran.
Satu langkah terlambat berarti ibunya menjadi “jaminan”.
Bisakah seorang bocah 16 tahun membalikkan nasibnya, menembus dunia finansial yang penuh manipulasi, dan menumbangkan perusahaan yang menghancurkan keluarganya?
(bismillah, ayo ramai, support penulis kecil ini yaallah 😭🙏wkw)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11—Meminta Nomer Yang Berujung Dengan Kesalahan Pahaman
BIP!
BIP!
BIP!
Nama di layar membuat rahang Rahmat sedikit mengeras. Yang sedang disinggung langsung muncul.
Tomy.
Ia mengangkat panggilan itu dengan santai, berbeda dengan dirinya yang dulu yang pasti ketakutan.
“iya?”
Di seberang sana suara Tomy terdengar tidak sabar. Ia langsung ke topik
“Rahmat. Gimana? Gue tunggu kabar lo, ya awas kalau dalam dua bulan ini enggak lo lunasi! Jangan sampai lewat tempo!”
“Iya-iya aku tahu,” jawab Rahmat santai seolah lawan bicaranya adalah bokap ingetin makan.
Rahmat berjalan menjauh ke sisi rooftop yang lebih tertutup angin.
“Tenang aja. Gue bilang juga bakal bayar, nggak kalau kabur.”
“Anjing! SOMBONG BANGET LO BOCAH SEKARANG! AWAS AJA KALAU KETEMU!”
Suara itu teriak sangat kencang sampai gendang telinga Rahmat sakit dan ia menutup kedua telinganya.
“Jangan banyak gaya sama omong doang! Perusahaan lagi butuh cash flow. Investor lagi pada rewel. Kalau lo gak bisa bayar, gue bakal—”
Rahmat menyipitkan mata. Investor rewel?
Ia hampir tersenyum. Beberapa hari lalu ia memang membeli saham perusahaan Tomy secara diam-diam lewat akun nominee, itu sedang dijual murah karena sedang dalam kondisi buruk. Tidak banyak memang, tapi cukup untuk menyuntikkan sedikit napas agar mereka tidak langsung kolaps.
Dan jelas… Tomy tidak tahu.
Ia berniat menjual lagi karena prediksi sistem saham itu naik kurang lebih beberapa hari lagi, 10 hari dari sekarang.
Rahmat menatap langit siang. Jadi ini alasannya buru-buru, Tomy memang penagih yang galak tapi dia memegang perkataannya. Jika diberi waktu sebulan maka dia akan menghubungi saat itu juga, bukan terburu-buru seperti sekarang.
Artinya dia juga lagi ditekan sama bosnya pasti.
“Gue bayar minggu ini,” ucap Rahmat tenang.
Tomy terdiam beberapa detik. “Minggu ini?” tentu dia terkejut karena nominal hutang itu enggak sedikit.
“ besok aku kabari, kita ketemuan.”
“Lo jangan main-main—”
“Aku nggak main-main om, serius.”
Tomy merasa bahwa Rahmat sedikit berbeda–walau ia hanya mendengarkan lewat telepon. Tapi ia bisa dipercaya.
“Oke, awas aja cuma omong doang, gw hajar lagi lo SAMPAI MAMPUS—”
Klik.
Rahmat mematikan telepon lebih dulu. Menghela napas, inilah kenapa dia tidak suka preman pasar, suka teriak gak jelas dan mengancam.
Ia menyimpan ponsel ke saku, matanya kembali datar.
Satu miliar ya? Ia tertawa, omong kosong.
Angin rooftop terasa berbeda sekarang. Bukan lagi tempat pelarian. Tapi titik balik.
Bel pulang berbunyi. Rahmat tidak langsung pulang. Ia berjalan menuju kelas IPA 1. Tempat Alya berada. Ia punya alasan harus ke sana, alasan sangat penting!
Begitu ia muncul di depan pintu kelas, suasana mendadak sunyi. “Haloo kelas ipa 1, btw Alya ada?”
Beberapa murid langsung berbisik.
“Itu Rahmat, kan?”
“Ngapain dia ke sini?”
“Cari Alya??”
Alya yang sedang membereskan buku mendongak. Tatapan mereka bertemu, dan entah kenapa pipi Alya langsung memerah.
Rahmat berjalan mendekat dengan ekspresi serius.
“halo, Alya.”
“I-iya?” suaranya mendadak kecil. “Kenapa ya?”
Beberapa teman sekelasnya mulai menyenggol-nyenggol.
“Ciee…”
“Bidadari dijemput rakyat jelata…”
“Fix ini gosip minggu ini.”
Rahmat berdiri tepat di depan mejanya.
“Ada yang mau gue minta.”
Alya menelan ludah. Jantungnya berdebar kencang.
“I-itu… di sini aja atau… kita keluar dulu?”
Rahmat mengernyit. Kenapa pula harus keluar?
“Hah? Gak usah. Cepet aja.”
Alya makin salah tingkah. Rahmat sangat tegas berpendirian tinggi, biasanya cowok yang dekat-dekat dengan dia pada salah tingkah, ini membuat dia merasa berkuasa, tapi Rahmat berbeda, dia tidak bisa dia kontrol dan itu membuatnya tertarik. Yang salah tingkah malah dia sendiri.
“Jadi… kamu kesini khusus buat aku?”
“Ya.”
Suara sekelas langsung pecah jadi bisik-bisik heboh. Sementara siswa pria pada ngerumpi, mengeluarkan pandangan kebencian ke arah Rahmat.
Alya menunduk, rambutnya jatuh menutupi pipi merahnya.
Rahmat mengeluarkan ponsel.
“Lo punya nomernya, kan …”
“Iya gw tentu punya nomer—” saat ia terlalu geer, rahmat langsung memotong.
“Sip, kasih nomer bapak kau sini,”
“Ha?” Alya tercengang.
Hening.
“…Hah?” ia bahkan mengatakan itu dua kali macam orang tolol.
“Nomor bapak lo. Yang punya kios itu. Si pak tua maskeran, dan bertopi aneh itu.”
Suasana kelas membeku. Gila ini anak! Teman-temannya yang tadi senyum-senyum langsung berubah ekspresi.
Alya berkedip beberapa kali. “B-bapak?”
“Iya. Yang akun kolektorpremium-id itu. Pak tua itu seleb banget, Chat gue di akun FB lama banget dibales. Gue butuh nomer pribadi biar direspon cepat.”
Ekspresi Alya berubah perlahan. Awalnya malu, ke kosong, lalu ke kesal.
“Oh. Jadi… kamu kesini… buat minta nomor bapak aku?”
“Iya. Emang kenapa?”
Teman-teman sekelasnya mulai menahan tawa. Mereka tertawa karena ini pertama kali terjadi, kalau minta nomer alya banyak cowo yang minta, tapi ini orang jauh-jauh datang malah minta nomer bapaknya.
Ini tentu sangat lucu dan diluar dugaan.
Alya melipat tangan. “Kirain…”
“Kirain apa?”
“Gak jadi.”
Rahmat masih tidak peka? nggak sih lebih tepatnya pura-pura tidak paham, bagi pejuang rupiah sepertinya terlalu cepat main sama cewek, belum tanggungan dia banyak. Takut malah terganggu, terlebih dia benci hal merepotkan kayak gitu, Mending main crypt* bos! Begitu pikirnya
“Cepetan dong. Ini Penting.”
Alya mengambil ponsel dengan gerakan sedikit kasar.
“Nih.”
Rahmat mencatat nomor itu dengan mengabaikan dan pura-pura tidak melihat wajah kecewa itu.
“Thanks.”
Ia berbalik. Belum dua langkah— “Rahmat!”
Ia menoleh. Alya berdiri dengan pipi sedikit merah, kali ini bukan karena malu.
“Kalau mau minta nomor cewek… lain kali jangan pakai wajah serius kayak mau nagih utang!”
Satu kelas meledak tertawa.
Rahmat berkedip. “Hah? Siapa yang—”
“Aduh udah sana!”
Rahmat akhirnya berjalan pergi dengan ekspresi benar-benar bingung.
Di dalam kelas, teman Alya langsung mengerubunginya.
“Lo kegeeran!”
“Udah GR duluan!”
“Parah sih Rahmat polos banget!”
“Dia pura-pura bego gak sih?”
“Kayaknya iya.”
“Gila sigma banget kalau itu benar!”
“BAJINGAN LO RAHMAT, BERANI-BERANI BUAT BIDADARI KITA KECEWA” umpat para siswa cowok yang berkumpul di pojok kelas dengan wajah penuh kedengkian.
Alya menutup wajahnya dengan buku. “Diam kalian!” Tapi sudut bibirnya tetap terangkat.
Sementara di lorong sekolah, Rahmat bergumam pelan. “Dengan gini untung besar bos!”
Ia melihat ponselnya. Nomor sudah di tangan. Dengan cepat dia langsung menghubungi pak tua itu untuk menawarkan sebuah koin voc.
Pak tua itu butuh waktu sekitar 2 menit. Untuk mengirim beberapa pertanyaan tidak penting seperti darimana dia dapat nomer pribadinya dan bla-bla bla. Sampai akhirnya setuju dengan tawaran Rahmat.
Ketika ia mendapatkan foto koin tersebut dari rahmat, pak tua itu langsung mengatakan untuk mari bertemu karena besok hari libur.
Ia ingin langsung melihat barang temuan itu.
Rahmat iya-iya saja, dan membuat janji tamu besok di rumahnya.
***