NovelToon NovelToon
Muara Hati Azalea

Muara Hati Azalea

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Naik ranjang/turun ranjang / Pengasuh
Popularitas:434.1k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Seminggu kematian mertuanya, Azalea dijatuhi talak oleh Reza, dengan alasannya tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal selama tiga tahun pernikahan, Reza tinggal di kota, sementara Azalea tinggal di kampung mengurus mertuanya yang sakit-sakitan.

Azalea yang hidup sebatang kara pun memutuskan untuk merantau ke kota mencari pekerjaan. Ketika hendak menyebrang, Azalea melihat gadis kecil berlari ke tengah jalan, sementara banyak kendaraan berlalu lalang. Azalea pun berlari menyelamatkan gadis kecil itu.

Siapa sangka gadis kecil itu adalah Elora, putri dari mendiang kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.

Enzo, mantan kakak iparnya meminta Azalea menjadi pengasuh Erza dan Elora yang kekurangan kasih sayang.

Di kota inilah Azalea menemukan banyak kebenaran tentang Reza, mantan suaminya. Lalu, tentang Jasmine, mendiang kakak kandungnya.

Ketika Azalea akan pergi, Enzo mengajaknya nikah. Bukan karena cinta, tetapi karena kedua anaknya agar tidak kehilangan kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Sahur pertama di rumah itu terasa berbeda dari biasanya. Sejak pukul tiga dini hari, lampu ruang makan sudah menyala terang. Bi Minah dan Azalea sedang menyiapkan makanan untuk sahur.

Aroma ayam goreng kipas menyebar hingga ke ruang keluarga. Minyak panas yang baru saja diangkat dari wajan masih menyisakan suara berdesis pelan.

Azalea berdiri di dapur dengan apron sederhana, wajahnya sedikit lelah tapi penuh senyum. Ia sengaja memasak sendiri sahur pertama anak-anak. Ini momen yang tak ingin ia lewatkan.

Dari arah kamar, terdengar suara langkah kecil berlarian. “Mommy! Sudah siap?” teriak Elora dengan rambut masih berantakan, memeluk boneka kecilnya.

Erza menyusul di belakangnya, menguap lebar tapi tetap berusaha terlihat kuat. “Aku bangun sendiri, lho, Mom. Tidak dibangunin.”

Azalea tertawa kecil. “Anak-anak Mommy hebat sekali.”

Enzo keluar dari kamarnya bersama Erza tadi, mengenakan kaus sederhana dan celana training. Wajahnya masih setengah mengantuk, tapi ada rasa yang berbeda di hatinya. Rumah terasa hidup.

Di meja makan, ayam goreng kipas tersusun rapi. Ada telur dadar, sup hangat, dan segelas susu untuk anak-anak.

Elora langsung duduk dengan mata berbinar. “Ayam kesukaanku!”

Azalea menoleh ke arah dapur belakang. “Bi Minah, sahurnya bareng kita di sini!”

Wanita paruh baya itu muncul sambil mengusap tangannya pada kain lap. “Bibi di belakang saja, Non. Tidak enak.”

“Di sini saja, Bi,” ucap Enzo tegas namun hangat. “Biar terasa nikmat kalau makan bersama-sama.”

Bi Minah terdiam sejenak. Ia menatap meja makan, lalu wajah keluarga kecil itu. Hatinya terenyuh.

“Kalau begitu, Bibi ikut, ya.”

“Yeaaay!” Elora bertepuk tangan.

Mereka duduk bersama. Tidak ada jarak. Tidak ada sekat majikan dan pembantu. Yang ada hanya kebersamaan.

“Oma tidak ikut sahur?” tanya Erza ketika menyadari satu kursi kosong.

“Oma tidak puasa karena punya penyakit lambung,” jawab Enzo pelan.

Erza mengangguk mengerti. “Berarti kita doakan Oma supaya sehat.”

Azalea tersenyum bangga.

Tawa kecil sesekali terdengar dari mulut kedua anak kecil itu. Elora makan dengan penuh semangat, meski beberapa menit kemudian mulai mengeluh kekenyangan.

“Kalau kekenyangan, nanti hausnya cepat datang,” kata Erza sok bijak.

“Kakak seperti ustaz,” balas Elora sambil mencibir manja.

Enzo memperhatikan anak-anaknya dengan dada hangat. Dulu, rumah ini sering terasa dingin dan sunyi. Kini, bahkan suara sendok beradu dengan piring pun terdengar seperti musik.

Hari pertama puasa, baru pukul sepuluh pagi, Elora sudah duduk lemas di ruang keluarga, menyandarkan kepala di paha Azalea.

“Mommy … perutku bunyi terus.”

Azalea tersenyum lembut. “Haus atau lapar?”

“Keduanya.”

Erza yang sedang membaca iqra menoleh. “Sabar, Elora.”

Elora menatap kakaknya dengan tatapan campur aduk antara kagum dan kesal.

Azalea mengusap rambut putrinya. “Kalau sudah tidak kuat, tidak apa-apa berbuka. Allah tahu kamu masih kecil.”

Elora berpikir sebentar. Lalu mengangguk pelan.

Saat waktu Zuhur tiba, ia berbuka. Tapi seperti biasa, ia hanya minum segelas air putih, segelas jus, dan satu cup puding.

“Nasinya?” tanya Azalea lembut.

“Tidak mau. Nanti saja pas Magrib sama Daddy,” jawabnya polos.

Azalea tertawa kecil. Anak itu ingin tetap merasa “ikut puasa”.

Berbeda dengan Erza. Menjelang sore selepas Asar, wajahnya mulai pucat. Ia duduk diam di ruang keluarga, memegang perutnya.

“Lapar?” tanya Enzo yang baru saja turun dari lantai atas setelah menyelesaikan pekerjaan daringnya.

Erza mengangguk pelan. “Sedikit.”

Azalea datang membawa mushaf kecil. “Kalau kita mengaji, rasa laparnya biasanya berkurang.”

Mereka duduk bersama di ruang keluarga. Erza membaca pelan, Elora mengikuti dengan suara terbata. Azalea memperhatikan, sesekali membenarkan tajwidnya yang masih salah.

Sore itu, mereka keluar sebentar membeli takjil. Angin sore menyentuh wajah Erza yang terlihat semakin lemas, tetapi matanya tetap berbinar.

“Mommy… azan Magrib masih lama, kah?” tanyanya ketika sudah duduk di meja makan, menatap kurma dan kolak di hadapannya.

Azalea melirik jam dinding. “Sebentar lagi. Mungkin tiga menit lagi. Sabar, ya.”

Tiga menit terasa seperti tiga jam bagi Erza.

Enzo yang baru selesai mandi datang dengan rambut masih basah. Elora langsung menodongnya.

“Daddy, puasanya batal, tidak?”

Enzo tertawa kecil. “Tidak. Daddy, kan, kuat.”

“Pantas tidak kelihatan lemas seperti Kakak,” ucap Elora sambil menutup mulutnya, tertawa kecil.

Erza hendak protes, tapi Enzo lebih dulu merangkulnya. “Kakak juga hebat, kok. Kuat puasa full seharian.”

Wajah Erza langsung berubah cerah. Pujian dari ayahnya terasa seperti hadiah paling mahal.

Terdengar suara azan Magrib dari masjid terdekat.

“Allahu Akbar…”

Erza dan Elora bersorak kecil. Mereka mengambil kurma dan segelas air putih.

“Alhamdulillah, aku bisa puasa full!” seru Erza bangga.

Enzo menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Daddy bangga.”

Azalea menunduk sejenak. Dadanya sesak oleh rasa haru.

***

Ramadan berjalan cepat. Memasuki minggu ketiga, Erza masih puasa penuh tanpa bolong. Elora tetap puasa sampai Zuhur dengan bangga.

Ucapan Mami Elsa yang sempat menyindir bahwa Azalea menyiksa anak-anak tidak pernah ia hiraukan. Azalea tidak pernah memaksa. Ia hanya mengajarkan. Jika anak-anak sakit, ia sendiri yang akan menyuruh mereka berhenti.

Di ruang keluarga suatu sore, Erza bertanya, “Mommy, setelah sebulan puasa itu lebaran, ya?”

“Iya. Nanti kita bebas makan lagi,” jawab Azalea sambil mengikat rambut Elora yang minta dikucir dua.

“Aku sudah mulai terbiasa puasa,” ujar Erza lirih. “Jadi ingin puasa terus.”

Azalea terdiam sesaat. Hatinya tersentuh.

“Kalau mau ikut puasa sunah setelah lebaran, bisa puasa lagi selama enam hari. Pahalanya seperti puasa setahun.”

“Benarkah, Mom?!” Mata Erza membesar. “Aku mau!”

Elora ikut mengangkat tangan. “Aku juga! Tapi sampai Zuhur saja.”

Mereka tertawa bersama.

Sejak tadi Enzo menyimak dari sofa, menatap keluarganya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. “Bagaimana kalau hari Minggu nanti kita beli baju lebaran sekeluarga?” ajaknya tiba-tiba.

“Mau!” seru Elora langsung. “Nanti kita jalan-jalan, kan?”

“Boleh,” jawab Enzo.

Erza tersenyum lebar. “Kita pakai baju seragam?”

“Boleh juga,” balas Enzo.

Azalea menoleh ke arah suaminya. Di saat bersamaan, Enzo juga melihat ke arahnya.

Tatapan itu lebih dari sekadar rencana membeli baju. Itu tentang perjalanan kecil keluarga mereka.

Tentang rumah yang dulu terasa sepi, kini perlahan dipenuhi tawa. Anak-anak yang tumbuh dengan doa dan kasih sayang.

Tanpa banyak bicara, Azalea dan Enzo saling mengerti. Ramadan tahun ini bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi tentang belajar menjadi lebih baik setiap hari.

Seorang ayah yang mulai kembali mendekat kepada Tuhan. Seorang ibu yang sabar membimbing dengan lembut. Dan dua anak kecil yang membuat rumah itu terasa hidup.

Di ruang keluarga sederhana itu, kebahagiaan terasa begitu dekat. Rumah itu kini benar-benar terasa hangat.

***

Alhamdulillah, retensi bab 20 aman. Terima kasih untuk dukungan kalian semua. Semoga dapat reward bab 20 terbaik. 🤲

1
vania larasati
lanjut
Ipehmom Rianrafa
lnjuut💪💪💪
vania larasati
lanjut
Rahma Inayah
good Lea km ceritakan semua tntg masa lalu mu bersama Reza PD Enzo biar dia tau lelaki tu GK pantas di sebut suami nuduh istri selingk tau nya dia se drumh yg selingkh malah kumpul kebo bertahun tahun tnp ikatan pernikahan
Rahma Inayah
pas ngomg pengakuan drnya dpn Lea ,Nadia pasti dengar semua Krn merk satu divisi betapa kecewa dan sakit hati nya Nadia selmni cuma dijadikan tempat pelampiasan dan sapi perah oleh Reza
ken darsihk
Enzo menegaskan ke Reza kalau Azalea adalah milik nya , dan di sini Enzo lah yang lebih berhak atas Azalea
Esther
Aku pikir Enzo mau bilang, kamu aku pecat Reza karena sudah berani menganggu istriku🤭
Rahma Inayah
semoga Enzo TDK slah faham dan bgtu pun Lea segera menjlskn apa yg terjdi antar dia dan Reza SDH selesai
ken darsihk
Itulah Reza lelaki plinplan lelaki banci yng dngn mudah menjatuh kan talak ke istri yng setia mengurus ibu mertua , setelah nya di campakkan 😠😠😠
V3
si Nadia kmna yaa kak ,, kok gak nongol-nongol dr td 🤣
V3
Alhamdulillah reaksinya Enzo amat sangat positif 🤗
Enzo mau menerima masa lalu nya Lea 🤗
V3
mmg seharusnya Lea bercerita dr awal ttg masa lalu nya PD Enzo ,, biar TDK terjadi seperti ini 😤
V3
Lea yg cerita tp aku yg deg degan menunggu reaksi dr Enzo 🤣🤣
V3
Reza terlalu berani bicara spt itu PD Enzo ,,, gak mikir kalau Enzo adalah atasan nya sndri dan bisa ja memecat Reza gegara menganggu istri nya skrg 😤😤
V3
smg ja setelah kejadian ini ,, Enzo ttp sayang PD Lea ,, dan TDK marah PD Lea atau pun meninggalkan Lea 😔
V3
si Lea jg kurang tegas sama si Reza ,, msh mau ja di ajak ngobrol 🤦
dn akhirnya kini Enzo tahu kalau Reza yg di maksud itu adalah Reza karyawan nya sndri 🤣
V3
heeee ... Reza bloon gsah berharap deh ingin bersama lg dg Lea ,,, ngaca dulu donk 🤣🤣
Arwondo Arni
sudahlah Reza menikahlah dengan Nadia kasihan Nadin butuh ayah yg perhatian. biarkan lea bahagia
Aidil Kenzie Zie
kirain mau dipecat
Ita rahmawati
ngapain sih Enzo pake ngomong bgtu segala,,lgsg pecat aja loh biar dia tau siapa suami azalea sekarang 😏
lagian nih ya walaupun Reza mendekati setengah mati si Lea juga GK bakal peduli maaassss 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!