NovelToon NovelToon
Muara Hati Azalea

Muara Hati Azalea

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Naik ranjang/turun ranjang / Pengasuh / Tamat
Popularitas:3.3M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

🏆 JUARA 2 YAAW 2026 PERIODE 1 🏆

Seminggu kematian mertuanya, Azalea dijatuhi talak oleh Reza, dengan alasannya tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal selama tiga tahun pernikahan, Reza tinggal di kota, sementara Azalea tinggal di kampung mengurus mertuanya yang sakit-sakitan.

Azalea memutuskan untuk merantau ke kota mencari pekerjaan. Ketika hendak menyebrang, Azalea melihat gadis kecil berlari ke tengah jalan, sementara banyak kendaraan berlalu lalang. Azalea pun berlari menyelamatkan gadis kecil itu.

Siapa sangka gadis kecil itu adalah Elora, putri dari mendiang kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.

Enzo, mantan kakak iparnya meminta Azalea menjadi pengasuh Erza dan Elora yang kekurangan kasih sayang.

Di kota Azalea menemukan banyak kebenaran tentang Reza, mantan suaminya. Lalu, tentang Jasmine, mendiang kakak kandungnya.

Ketika Azalea akan pergi, Enzo mengajaknya nikah. Bukan karena cinta, tetapi karena kedua anaknya agar tidak kehilangan kasih sayan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Sahur pertama di rumah itu terasa berbeda dari biasanya. Sejak pukul tiga dini hari, lampu ruang makan sudah menyala terang. Bi Minah dan Azalea sedang menyiapkan makanan untuk sahur.

Aroma ayam goreng kipas menyebar hingga ke ruang keluarga. Minyak panas yang baru saja diangkat dari wajan masih menyisakan suara berdesis pelan.

Azalea berdiri di dapur dengan apron sederhana, wajahnya sedikit lelah tapi penuh senyum. Ia sengaja memasak sendiri sahur pertama anak-anak. Ini momen yang tak ingin ia lewatkan.

Dari arah kamar, terdengar suara langkah kecil berlarian. “Mommy! Sudah siap?” teriak Elora dengan rambut masih berantakan, memeluk boneka kecilnya.

Erza menyusul di belakangnya, menguap lebar tapi tetap berusaha terlihat kuat. “Aku bangun sendiri, lho, Mom. Tidak dibangunin.”

Azalea tertawa kecil. “Anak-anak Mommy hebat sekali.”

Enzo keluar dari kamarnya bersama Erza tadi, mengenakan kaus sederhana dan celana training. Wajahnya masih setengah mengantuk, tapi ada rasa yang berbeda di hatinya. Rumah terasa hidup.

Di meja makan, ayam goreng kipas tersusun rapi. Ada telur dadar, sup hangat, dan segelas susu untuk anak-anak.

Elora langsung duduk dengan mata berbinar. “Ayam kesukaanku!”

Azalea menoleh ke arah dapur belakang. “Bi Minah, sahurnya bareng kita di sini!”

Wanita paruh baya itu muncul sambil mengusap tangannya pada kain lap. “Bibi di belakang saja, Non. Tidak enak.”

“Di sini saja, Bi,” ucap Enzo tegas namun hangat. “Biar terasa nikmat kalau makan bersama-sama.”

Bi Minah terdiam sejenak. Ia menatap meja makan, lalu wajah keluarga kecil itu. Hatinya terenyuh.

“Kalau begitu, Bibi ikut, ya.”

“Yeaaay!” Elora bertepuk tangan.

Mereka duduk bersama. Tidak ada jarak. Tidak ada sekat majikan dan pembantu. Yang ada hanya kebersamaan.

“Oma tidak ikut sahur?” tanya Erza ketika menyadari satu kursi kosong.

“Oma tidak puasa karena punya penyakit lambung,” jawab Enzo pelan.

Erza mengangguk mengerti. “Berarti kita doakan Oma supaya sehat.”

Azalea tersenyum bangga.

Tawa kecil sesekali terdengar dari mulut kedua anak kecil itu. Elora makan dengan penuh semangat, meski beberapa menit kemudian mulai mengeluh kekenyangan.

“Kalau kekenyangan, nanti hausnya cepat datang,” kata Erza sok bijak.

“Kakak seperti ustaz,” balas Elora sambil mencibir manja.

Enzo memperhatikan anak-anaknya dengan dada hangat. Dulu, rumah ini sering terasa dingin dan sunyi. Kini, bahkan suara sendok beradu dengan piring pun terdengar seperti musik.

Hari pertama puasa, baru pukul sepuluh pagi, Elora sudah duduk lemas di ruang keluarga, menyandarkan kepala di paha Azalea.

“Mommy … perutku bunyi terus.”

Azalea tersenyum lembut. “Haus atau lapar?”

“Keduanya.”

Erza yang sedang membaca iqra menoleh. “Sabar, Elora.”

Elora menatap kakaknya dengan tatapan campur aduk antara kagum dan kesal.

Azalea mengusap rambut putrinya. “Kalau sudah tidak kuat, tidak apa-apa berbuka. Allah tahu kamu masih kecil.”

Elora berpikir sebentar. Lalu mengangguk pelan.

Saat waktu Zuhur tiba, ia berbuka. Tapi seperti biasa, ia hanya minum segelas air putih, segelas jus, dan satu cup puding.

“Nasinya?” tanya Azalea lembut.

“Tidak mau. Nanti saja pas Magrib sama Daddy,” jawabnya polos.

Azalea tertawa kecil. Anak itu ingin tetap merasa “ikut puasa”.

Berbeda dengan Erza. Menjelang sore selepas Asar, wajahnya mulai pucat. Ia duduk diam di ruang keluarga, memegang perutnya.

“Lapar?” tanya Enzo yang baru saja turun dari lantai atas setelah menyelesaikan pekerjaan daringnya.

Erza mengangguk pelan. “Sedikit.”

Azalea datang membawa mushaf kecil. “Kalau kita mengaji, rasa laparnya biasanya berkurang.”

Mereka duduk bersama di ruang keluarga. Erza membaca pelan, Elora mengikuti dengan suara terbata. Azalea memperhatikan, sesekali membenarkan tajwidnya yang masih salah.

Sore itu, mereka keluar sebentar membeli takjil. Angin sore menyentuh wajah Erza yang terlihat semakin lemas, tetapi matanya tetap berbinar.

“Mommy… azan Magrib masih lama, kah?” tanyanya ketika sudah duduk di meja makan, menatap kurma dan kolak di hadapannya.

Azalea melirik jam dinding. “Sebentar lagi. Mungkin tiga menit lagi. Sabar, ya.”

Tiga menit terasa seperti tiga jam bagi Erza.

Enzo yang baru selesai mandi datang dengan rambut masih basah. Elora langsung menodongnya.

“Daddy, puasanya batal, tidak?”

Enzo tertawa kecil. “Tidak. Daddy, kan, kuat.”

“Pantas tidak kelihatan lemas seperti Kakak,” ucap Elora sambil menutup mulutnya, tertawa kecil.

Erza hendak protes, tapi Enzo lebih dulu merangkulnya. “Kakak juga hebat, kok. Kuat puasa full seharian.”

Wajah Erza langsung berubah cerah. Pujian dari ayahnya terasa seperti hadiah paling mahal.

Terdengar suara azan Magrib dari masjid terdekat.

“Allahu Akbar…”

Erza dan Elora bersorak kecil. Mereka mengambil kurma dan segelas air putih.

“Alhamdulillah, aku bisa puasa full!” seru Erza bangga.

Enzo menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Daddy bangga.”

Azalea menunduk sejenak. Dadanya sesak oleh rasa haru.

***

Ramadan berjalan cepat. Memasuki minggu ketiga, Erza masih puasa penuh tanpa bolong. Elora tetap puasa sampai Zuhur dengan bangga.

Ucapan Mami Elsa yang sempat menyindir bahwa Azalea menyiksa anak-anak tidak pernah ia hiraukan. Azalea tidak pernah memaksa. Ia hanya mengajarkan. Jika anak-anak sakit, ia sendiri yang akan menyuruh mereka berhenti.

Di ruang keluarga suatu sore, Erza bertanya, “Mommy, setelah sebulan puasa itu lebaran, ya?”

“Iya. Nanti kita bebas makan lagi,” jawab Azalea sambil mengikat rambut Elora yang minta dikucir dua.

“Aku sudah mulai terbiasa puasa,” ujar Erza lirih. “Jadi ingin puasa terus.”

Azalea terdiam sesaat. Hatinya tersentuh.

“Kalau mau ikut puasa sunah setelah lebaran, bisa puasa lagi selama enam hari. Pahalanya seperti puasa setahun.”

“Benarkah, Mom?!” Mata Erza membesar. “Aku mau!”

Elora ikut mengangkat tangan. “Aku juga! Tapi sampai Zuhur saja.”

Mereka tertawa bersama.

Sejak tadi Enzo menyimak dari sofa, menatap keluarganya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. “Bagaimana kalau hari Minggu nanti kita beli baju lebaran sekeluarga?” ajaknya tiba-tiba.

“Mau!” seru Elora langsung. “Nanti kita jalan-jalan, kan?”

“Boleh,” jawab Enzo.

Erza tersenyum lebar. “Kita pakai baju seragam?”

“Boleh juga,” balas Enzo.

Azalea menoleh ke arah suaminya. Di saat bersamaan, Enzo juga melihat ke arahnya.

Tatapan itu lebih dari sekadar rencana membeli baju. Itu tentang perjalanan kecil keluarga mereka.

Tentang rumah yang dulu terasa sepi, kini perlahan dipenuhi tawa. Anak-anak yang tumbuh dengan doa dan kasih sayang.

Tanpa banyak bicara, Azalea dan Enzo saling mengerti. Ramadan tahun ini bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi tentang belajar menjadi lebih baik setiap hari.

Seorang ayah yang mulai kembali mendekat kepada Tuhan. Seorang ibu yang sabar membimbing dengan lembut. Dan dua anak kecil yang membuat rumah itu terasa hidup.

Di ruang keluarga sederhana itu, kebahagiaan terasa begitu dekat. Rumah itu kini benar-benar terasa hangat.

***

Alhamdulillah, retensi bab 20 aman. Terima kasih untuk dukungan kalian semua. Semoga dapat reward bab 20 terbaik. 🤲

1
Someone
👍💪
Someone
💪💪
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
nah inilah kenapa jangan makan uang haram, atau ngambil suami orang, jadi nggak berkah kan idup nya 🙏☺️
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
lah setidaknya lea dr keluarga baik2 bukan hasil anak gundik yg ngerebut kebahagiaan keluarga orang kayak yg ngatain 🙏🙂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
bayangin aja udah sejahat apa dia sm lea tp suami nya lea mutasi dia aja masih baik banget di boyong se-nadia & nadin nya 😊
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
udah kalah di duit kalah juga dr dia ngetreat lea di masalalu, kok bisa semantep itu ngajak rujuknya wkwk
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kenapa ada manusia manusia modelan begini di muka bumi ini sih wkwk suka banget ngasih kesimpulan dr apa yg di liat trus di omong2in ke orang2 😩 capek2 di buat dr debu sm Tuhan masa fungsi nya cuma ghibah 😌
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ih makasih lho mbak nad udah ngambil cowo medhit nan kikir ini wkwk kalo bisa jangan di lepas ya biar jd ladang pahala mbak nad seumur hidup biayain laki medhit ini 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
sumpah ini kalo enzo ketemu sm reza pasti otak dia bayangin sekecil apa punya reza 🤣😂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
random sih tp lucu banget "berdiri mami elsa yg duduk di kursi roda" 😅 bayangin berdiri sambil duduk 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ternyata oma elsa kalo waras bijak banget, bangga deh oma 😊
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
paham sih enzo ngalamin kayak birthday blue karena ngingetin dia sama hr kematin mendiang isteri, tapi di sisi nya si anak dia juga berhak di rayakan walapun hr lahir nya juga harus membersamai hr meninggal nya ibu nya, toh ga ada manusia di dunia ini yg pengen hr lahirnya juga jd hari kematian orang yg di sayang 🙂🙏
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
Aah i see, dia jd trauma sama orang2 dr kampung atau di anggap miskin karena di anggap selalu jadiin "nikah sm orang kaya" sebagai jalan pintas bahkan sampe jd simpenan. Tapi semoga di bisa liat ketulusannya lea sama keluarga dia ☺️
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
yeee bilang aja situ medhit, orang isteri sendiri masa di bilang numpang hidup 😒 lah ibu mu juga numpang idup dong dr bapak mu 😏
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
oalah pantesan, akhirnya terjawab sudah pertanyaan ku wkwk
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
lah jd beneran mertua nya jasmine sm adek nya jasmine ga kenal? 😅 penasaran banget pas nikahan dulu emang si jasmine ga ngenalin keluarga nya apa gimana
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kok kenalan lagi sih emang pas kakak lu dilamar sampe nikahan ni keluarga ga saling kenalan kah? 🤔
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
hah gimana sih bukannya ini mama mertua nya jasmine kakak nya lea kan? emang dia pas nikahan jasmine sm enzo ga ketemu sama keluarga menantu nya sampe adek dr menantu nya ga ngenalin? 🤔
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kalo emang si reza sama nadia selingkuh ya udahlah ya tapi masalahnya ini dia pake jabatan nya dia buat bikin orang yg ga ada masalah personal sm dia jd ga bisa kerja, bener2 ya 😒
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
biarin aja bude, coba dia ganti isteri pengen tau rejeki nya masih sama apa enggak 😏 kata orang kan beda pasangan beda rejeki, nah kalo habis ini dia kere brati bener doa isteri nya yg bikin rejeki dia deres 😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!