NovelToon NovelToon
Ustadz, I’M In Love

Ustadz, I’M In Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa / Tamat
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

di bawah umur di larang membaca.

Rina adalah definisi dari "anak muda zaman now"—ekspresif, jahil, dan sedikit re-og. Baginya, dunia sosial adalah tempat bermain untuk menggoda siapa saja, termasuk seorang pria misterius di aplikasi HelloTalk yang ia panggil dengan sebutan "Mas Arab". Rina mengira ia sedang memegang kendali, sampai akhirnya takdir membawanya bertemu langsung dengan sosok tersebut.
​Ternyata, "Mas Arab" adalah Rohman, seorang Ustadz muda yang kaku, alim, namun memiliki tingkat kesabaran setebal kamus bahasa Arab. Pertemuan pertama mereka langsung meledak dengan kekonyolan Rina yang mencoba mengetes iman sang Ustadz.
​Namun, Rina salah besar. Di balik sikap tenangnya, Rohman adalah tipe pria "sat-set" yang tidak suka membuang waktu. Saat Rina terus-menerus menguji batasan kesabarannya, Rohman justru membalas dengan sebuah langkah skakmat: Mempercepat akad nikah sore itu juga!
​Kini, Rina terjebak dalam status sebagai istri sah. Niat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21

Rina semakin mengeratkan pelukannya, membenamkan wajahnya di leher Rohman sambil menghirup dalam-dalam aroma tubuh suaminya yang menenangkan. Rasa syukur membuncah di dadanya; pria yang selama ini hanya ia kenal lewat ketikan layar, kini nyata dalam dekapannya.

​"Mas... aku sayang banget sama Mas," bisik Rina tulus, suaranya sedikit teredam oleh kaos putih Rohman.

​Rohman mengelus punggung Rina dengan gerakan teratur, memberikan rasa nyaman yang luar biasa. "Mas jauh lebih sayang sama kamu, Rina. Bahkan sebelum Mas tahu kamu se-ajaib ini."

​Rina tiba-tiba mendongak, menatap Rohman dengan tatapan penuh pengakuan. "Tapi jujur banget ya Mas... aku dulu punya niatan kalau sudah nikah itu mau pura-pura polos. Biar Mas makin cinta, gitu. Eh... malah jadi kebablasan gara-gara Mas Arab yang pancing duluan!"

​Rohman mengangkat alisnya, lalu terkekeh pelan. "Oh, jadi rencananya mau jadi istri kalem yang pemalu? Tapi sepertinya bakat 're-og' kamu itu terlalu natural untuk disembunyikan, Sayang. Baru satu hari ketemu saja, Mas sudah dibilang bau, budek, sampai dituduh tidak normal."

​"Ih, kan refleks!" Rina mencubit pinggang Rohman pelan, membuatnya sedikit meringis. "Lagian siapa suruh pakai akun anonim? Aku kan jadi curiga. Tapi Mas... Mas nggak nyesel kan dapet istri yang nggak bisa diem kayak aku? Yang barusan bilang nggak mau ngasih hak, eh sekarang malah minta peluk terus?"

​Rohman meraih kedua tangan Rina, lalu mencium punggung tangannya satu per satu dengan khidmat. "Sama sekali tidak menyesal. Mas justru butuh warna seperti kamu di hidup Mas yang selama ini isinya cuma buku, bisnis, dan pesantren. Kamu itu... vitamin buat Mas."

​Rina tersipu, wajahnya kembali memanas. Ia kemudian merebahkan tubuhnya di atas lengan Rohman yang dijadikan bantal. "Mas... nanti kalau haidku selesai, Mas beneran mau 'unboxing' aku ya? Mas nggak takut aku gigit?"

​Rohman mematikan lampu utama kamar, menyisakan lampu tidur yang temaram, memberikan suasana yang semakin intim. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.

​"Kalau cuma digigit sedikit sih tidak apa-apa," bisik Rohman tepat di depan wajah Rina. "Tapi Mas peringatkan ya, strategi yang Mas susun selama tujuh hari ini akan sangat berat untuk kamu hadapi. Jadi, mending sekarang kamu tidur, kumpulkan tenaga, karena Mas tidak akan membiarkan kamu protes lagi minggu depan."

​Rina tertawa kecil, ia merasa sangat bahagia sekaligus sedikit berdebar menanti hari itu. "Siap, Ustadz Arab-ku! Tapi malam ini pokoknya Mas harus jadi gulingku, nggak boleh lepas!"

​"Iya, Sayang. Tidurlah," ucap Rohman sambil mengecup kening Rina untuk terakhir kalinya malam itu.

​Di bawah selimut yang sama, dengan detak jantung yang kini mulai berirama senada, Rina memejamkan matanya. Ia menyadari satu hal: hidupnya tidak akan pernah membosankan bersama Rohman.

Rina sedikit menggeliat di dalam pelukan Rohman. Meskipun matanya sudah setengah terpejam dan tubuhnya sudah mulai rileks, rasa ingin tahunya yang "ajaib" itu ternyata belum mau diajak tidur. Ia merasa jawaban Rohman selama ini terlalu kalem, terlalu tenang, dan kurang dramatis untuk ukuran hatinya yang sedang berbunga-bunga.

​"Ayyy..." panggil Rina lirih dengan suara serak khas orang mengantuk.

​Rohman yang baru saja akan hanyut menuju alam mimpi, kembali terjaga. Ia mengeratkan dekapannya pada pundak Rina. "Kenapa, Sayang? Tidurlah, ini sudah malam. Besok kita harus bangun pagi untuk sholat Subuh berjamaah pertama kali."

​Rina malah mendongak, menumpukan dagunya di dada bidang Rohman, menatap suaminya dengan tatapan menyelidik di bawah remang lampu tidur. "Kamu beneran sayang nggak sih sama aku? Jawabnya itu lho... singkat banget! Dari tadi cuma 'iya sayang', 'iya sayang'. Nggak ada puitis-puitisnya dikit apa?"

​Rohman menghela napas panjang, namun bibirnya mengulas senyum sabar. Ia menatap mata Rina yang berkedip-kedip menanti jawaban.

​"Rina, dengerin Mas," ucap Rohman, suaranya kini terdengar lebih rendah dan sungguh-sungguh. "Buat Mas, sayang itu bukan soal berapa banyak kata yang Mas susun. Mas bukan penyair di HelloTalk lagi, Mas sekarang suami kamu yang nyata."

​"Ya tapi kan aku mau denger alasan spesifiknya, Mas Arab!" potong Rina manja.

​Rohman terdiam sejenak, lalu tangannya yang hangat mengusap lembut pipi Rina, menyelipkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah istrinya.

​"Kamu mau jawaban yang panjang? Oke," Rohman menarik napas. "Mas sayang kamu karena kamu itu berani. Mas sayang kamu karena di balik mulutmu yang galak dan omelanmu yang tidak ada habisnya, kamu punya hati yang sangat tulus. Mas sayang kamu karena hanya kamu yang berani manggil Mas 'orang aneh' di depan umum tanpa takut kehilangan wibawa."

​Rohman mendekatkan wajahnya, menempelkan hidungnya ke hidung Rina. "Mas sayang kamu karena kamu adalah jawaban dari istikharah Mas. Mas rela ngebut dari Jawa Tengah ke sini, Mas rela kasih mahar apa pun yang kamu minta, dan Mas rela majuin akad sore ini cuma karena Mas nggak sanggup kalau harus nunggu seminggu lagi buat jagain kamu secara sah. Apa itu masih kurang panjang?"

​Rina tertegun. Jantungnya kembali diserang debaran hebat. Jawaban itu jauh lebih memuaskan daripada puisi mana pun yang pernah ia baca. Ia kembali menyembunyikan wajahnya di dada Rohman karena malu yang luar biasa.

​"Tuh kan... kalau serius gitu malah aku yang takut," gumam Rina pelan. "Makasih ya, Mas. Maaf aku berisik terus."

​"Nggak apa-apa, Mas sudah tanda tangan kontrak buat dengerin keberisikan kamu seumur hidup," canda Rohman sambil terkekeh pelan. "Sekarang benar-benar tidur, ya? Kalau tanya lagi, Mas hukum pakai ciuman sepuluh detik, mau?"

​"Ih! Curang! Ya udah, ini merem!" Rina langsung menutup matanya rapat-rapat, namun tangannya memeluk pinggang Rohman semakin erat, seolah tak mau ada jarak barang se-milimeter pun.

​Rohman tersenyum puas, ia mengecup puncak kepala Rina sekali lagi sebelum akhirnya mereka berdua benar-benar terlelap dalam kehangatan status baru mereka.

1
Putri Lauren
lanjuttt thor KLO bisa double
Putri Lauren
lanjut thor
Moza Tri Utami: lanjut dong thorr
total 2 replies
Putri Lauren
mantap
Putri Lauren
aku suka Thor lanjuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!