NovelToon NovelToon
COLD MAFIA, WILD FLAME

COLD MAFIA, WILD FLAME

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Damian Alveros adalah CEO berwajah dingin yang memimpin jaringan mafia berbahaya di balik kekuasaannya. Hidupnya terkontrol, tanpa emosi, tanpa celah.

Semua berubah ketika ia bertemu Lyra Arsetha—gadis bar-bar yang tak sengaja menyelamatkannya di negara asing dan tanpa sadar terseret ke dunia gelap yang seharusnya tak pernah ia sentuh.

Ia adalah badai yang tak bisa dikendalikan.
Ia adalah es yang tak bisa dicairkan.

Namun di tengah pengkhianatan, kejar-kejaran maut, dan perang mafia internasional, mereka menemukan satu kebenaran berbahaya:

Semakin mereka mencoba menjauh…
semakin takdir memaksa mereka bertahan bersama.

Ketika cinta lahir di medan perang, hanya ada dua pilihan—
hidup berdampingan… atau hancur bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Suara mesin terdengar di luar gudang berhenti bersamaan.

Lyra berdiri di samping meja baja, jari-jarinya mengepal pelan. Ia bisa merasakan getaran halus dari lantai beton—langkah-langkah terukur di luar gedung. Mulai berjalan mendekat.

Draven menatap monitor keamanan.

“Mereka akhirnya bergerak.”

Elena menambahkan cepat, “Empat kendaraan. Formasi pengepungan.”

Orion menarik napas panjang seperti seseorang yang akhirnya menemukan alasan untuk bergerak.

“Aku ambil pintu selatan.”

Kael sudah berdiri di posisi samping Damian. “Perlindungan utama tetap di dalam.”

Aidan tidak berbicara. Ia sudah berada di lantai atas, senjatanya terpasang, tubuhnya menyatu dengan bayangan.

Lucian menepuk bahu Lyra sambil tersenyum santai.

“Kalau kamu panik, anggap saja kau sedang bermain perang-perangan.”

Lyra menoleh datar.

“Kalau kamu panik?”

Lucian tersenyum lebih lebar.

“Aku tidak pernah panik. Aku hanya dramatis.”

Damian mengangkat tangan sedikit.

Semua suara berhenti.

“Posisi bertahan,” ucapnya pelan.

Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang ragu.

Di luar, langkah-langkah berhenti tepat di depan pintu baja.

Lalu—

Dentuman keras mengguncang dinding.

Sierra menahan napas. Raina refleks menggenggam tangan Zaya.

Lyra tidak bergerak.

Dentuman kedua datang lebih kuat.

Baut pengunci bergetar.

Aidan berbicara dari atas, suaranya dingin dan stabil.

“Mereka membawa pemecah lapis baja.”

Draven mengaktifkan pengunci tambahan.

“Pintu akan bertahan dua menit.”

Damian menoleh pada Lyra.

“Sekarang kau menyesal tinggal?”

Lyra menatap lurus ke depan.

“Aku menyesal tidak minum kopi lebih banyak.”

Sudut bibir Damian bergerak tipis.

Dentuman ketiga.

Logam mulai retak.

Orion sudah berdiri tepat di sisi pintu, tubuhnya siap seperti pegas yang ditarik.

Kael menurunkan posisi sedikit, siap melindungi.

Lucian menghitung waktu di perangkat kecilnya.

“Detik ke sepuluh…”

Retakan di pintu melebar.

Cahaya dari luar menembus celah.

Debu jatuh perlahan dari langit-langit.

Aidan menarik napas sekali.

“Kontak visual dalam tiga… dua…”

Pintu baja jebol.

Ledakan suara logam memekakkan telinga.

Sosok bersenjata masuk dengan gerakan cepat dan terkoordinasi.

Dan dunia menjawab dengan peluru.

Aidan menembak pertama.

Suara tembakan tajam memotong udara.

Orion bergerak bersamaan, menjatuhkan penyerang pertama sebelum tubuh itu sempat menyentuh lantai.

Kael menarik Lyra dan kelompoknya ke belakang meja untuk berlindung.

Damian tidak bergerak dari tempatnya. Dia Tatapannya tenang. Dingin. Dan Mematikan.

Lyra menatapnya sesaat di tengah kekacauan.

Ia baru menyadari sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Damian tidak hanya bertahan hidup di dunia ini. Ia menguasainya.

Ledakan kedua mengguncang sisi dinding.

Draven berteriak dari panel, “Mereka masuk dari titik timur!”

Elena segera mengubah proyeksi jalur pergerakan musuh.

“Mereka menargetkan pusat kontrol!”

Lucian mengeluarkan perangkat kecil dari sakunya dan melemparkannya ke lantai.

Cahaya putih menyilaukan meledak.

Suara tembakan musuh tersendat.

“Sekarang!” teriak Orion.

Kael bergerak maju seperti benteng hidup.

Damian akhirnya melangkah.

Gerakannya tenang, efisien, tanpa ragu. Setiap langkahnya mengubah arah pertempuran.

Lyra merasakan sesuatu bergetar dalam dadanya. Bukan ketakutan. Bukan juga keberanian. Tapi kesadaran bahwa garis antara hidup lamanya dan dunia ini telah benar-benar putus.

Sierra menatapnya cemas.

“Kita harus tetap di sini!”

Lyra mengangguk… namun matanya tetap mengikuti Damian.

Di tengah asap, suara tembakan, dan logam yang beradu, pria itu berdiri seperti pusat badai. Dan untuk pertama kalinya, Lyra tidak ingin menjauh dari badai itu. Ia ingin melangkah masuk.

Di lantai atas, Aidan berbicara tenang melalui komunikator,

“Gelombang pertama selesai. Tapi ini hanya pembuka.”

Damian menjawab pelan,

“Bagus.”

Ia menatap pintu yang kini terbuka lebar ke dunia luar.

“Sekarang giliran kita yang bergerak.”

Di luar gudang, suara kendaraan tambahan terdengar mendekat.

Pertempuran baru saja dimulai.

Dan tidak ada lagi jalan kembali.

Asap mesiu menggantung rendah, menebalkan udara hingga setiap tarikan napas terasa berat.

Lyra menutup hidung dengan lengan, matanya menyipit menembus kabut tipis yang dipenuhi kilatan cahaya tembakan. Suara logam beradu, langkah kaki, dan perintah singkat bercampur menjadi simfoni kekacauan yang teratur.

Teratur—karena tim Damian bergerak seperti satu tubuh.

Kael menahan jalur masuk utama dengan ketenangan yang mengintimidasi. Setiap gerakannya terukur, melindungi area belakang tanpa perlu menoleh. Orion meluncur cepat dari sisi ke sisi, mengunci ruang gerak musuh dengan presisi mematikan.

Di atas, Aidan menyesuaikan sudut tembaknya. Setiap peluru yang ia lepaskan memiliki tujuan pasti. Tidak ada gerakan sia-sia.

Lucian, yang tampak santai sebelumnya, kini bergerak cepat di dekat panel kontrol portabel. Jari-jarinya menari di layar kecil, mengacaukan komunikasi lawan.

“Elena, jalur sinyal mereka sudah aku ganggu. Mereka buta sebagian,” ucapnya.

Elena menjawab sambil memantau peta taktis, “Cukup untuk memecah formasi mereka. Pertahankan.”

Lyra merasakan tangan Sierra mencengkeram lengannya.

“Kita tidak bisa hanya berdiri,” bisik Sierra dengan napas cepat.

Raina menelan ludah, namun suaranya tetap tegas, “Kita bantu dengan cara yang bisa kita lakukan.”

Zaya mengamati situasi dengan mata tajam, lalu menunjuk kotak perlengkapan di sisi dinding. “Pelindung ringan dan alat medis di sana.”

Lyra langsung bergerak. Tanpa ragu.

Ia menarik rompi anti peluru dan mengenakannya dengan cepat. Tangannya gemetar—bukan karena takut, tapi karena tubuhnya dipaksa menyesuaikan diri dengan ritme pertempuran.

Saat ia menoleh kembali ke tengah ruangan, Damian sudah tidak berada di posisi sebelumnya.

Ia berada lebih dekat ke garis depan.

Gerakannya nyaris tak terlihat di antara bayangan, namun setiap langkahnya mengubah arah tekanan pertempuran. Musuh yang mencoba menembus pertahanan seakan selalu bertemu jalur buntu saat mendekat padanya.

Lyra menyaksikan momen singkat ketika tatapan mereka bertemu di antara kilatan cahaya.

Damian tidak berkata apa pun.

Namun sorot matanya menyampaikan satu hal yang jelas:

Tetap hidup.

Tiba-tiba dentuman keras terdengar dari sisi timur. Dinding beton retak, serpihan jatuh ke lantai.

Draven berseru dari panel, “Mereka membuka jalur alternatif!”

Orion berbalik cepat, “Aku ambil sisi itu.”

Kael menoleh pada Lyra dan teman-temannya. “Tetap di belakang perlindungan.”

Namun sebelum ia melangkah jauh, suara rintihan tertahan terdengar dari dekat pintu utama.

Seorang anggota keamanan internal terjatuh, bahunya terluka.

Tanpa berpikir panjang, Lyra berlari mendekat.

“Lyra!” seru Sierra pelan.

Lyra mengabaikan peringatan itu. Ia meraih kotak medis yang tadi dilihat Zaya dan berlutut di samping pria itu.

“Tekan di sini,” katanya tegas, menuntun tangannya sendiri menahan aliran darah.

Pria itu mengangguk lemah.

Raina segera membantu menahan perban, sementara Zaya mengawasi sekitar dengan fokus tinggi.

Aidan melihat pergerakan itu dari atas. Suaranya terdengar di komunikator internal, tenang namun jelas, “Area belakang tidak lagi pasif. Perlindungan tambahan.”

Kael bergeser setengah langkah, memastikan garis tembak tidak mengarah ke posisi Lyra.

Damian mendekat tanpa suara.

Ia berhenti tepat di samping Lyra, menilai situasi dengan satu pandangan cepat.

“Kau seharusnya di belakang,” katanya rendah.

Lyra tidak menoleh. “Dia seharusnya tidak dibiarkan berdarah.”

Hening sepersekian detik.

Lalu Damian berdiri lebih tegak, posisinya berubah—bukan menarik Lyra menjauh, melainkan berdiri melindungi di sisinya.

Pilihan yang tidak perlu kata-kata.

Di sisi timur, Orion berhasil menutup celah baru. Dua penyerang mundur, langkah mereka goyah akibat gangguan sinyal dari Lucian.

“Elena, gelombang pertama benar-benar melemah,” lapor Lucian.

Elena mengangguk sambil memperbesar peta. “Namun ada pergerakan dari radius luar. Mereka mengukur respons kita.”

Draven menambahkan, “Perimeter akan bertahan, tapi tidak selamanya.”

Damian menatap pintu yang rusak, lalu ke arah Lyra yang masih menekan perban dengan tangan tegas.

“Persiapan mobilisasi,” perintahnya.

Kael langsung mengerti. “Evakuasi bertahap?”

“Tidak,” jawab Damian. “Perpindahan penuh.”

Lyra akhirnya mengangkat wajahnya. Napasnya masih cepat, namun matanya jernih.

“Kita tidak akan menunggu mereka datang lagi,” ucapnya pelan.

Damian menatapnya, seolah menilai bukan hanya kata-kata… tapi keberanian di baliknya.

“Benar,” katanya.

Di luar, suara kendaraan tambahan kembali terdengar—lebih jauh, namun semakin banyak.

Pertempuran di dalam gudang mereda, namun ketegangan justru menajam.

Ini bukan akhir.

Ini jeda.

Dan semua orang di ruangan itu memahami satu kebenaran yang sama—

Langkah berikutnya akan menentukan siapa yang berburu… dan siapa yang diburu.

Lyra berdiri perlahan.

Untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, ia tidak merasa seperti penumpang dalam takdir orang lain.

Ia berdiri di tengah pilihan yang berbahaya.

Dan ia memilih tetap di sana. Di sisi Damian.

Di tengah lingkaran hitam. Yang terus memacu adrenalin.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!